andhaḿ tamahÌŁ praviƛanti

ye 'vidyām upāsate

tato bhƫya iva te tamo

ya u vidyāyām ratāhÌŁ

andham — kebodohan yang kasar; tamah — kegelapan; pravisanti — masuk kedalam; ye — mereka yang; widyam — kebodohan; upasate — bersembahyang; tatah - daripada itu; bhuyah — lebih-lebih; iva — seperti; te — mereka; tamah — kegelapan; ye — mereka yang; u — juga; vidyayam — dalam mengembangkan pengetahuan; ratah — sibuk.


Sloka

Orang yang menjadi sibuk dalam mengembangkan kegiatan yang bersifat kebodohan akan masuk daerah kebodohan yang paling gelap. Lebih buruk lagi mereka yang sibuk dalam mengembangkan sesuatu yang hanya namanya saja pengetahuan.

Penjelasan

Mantra ini memberikan pelajaran yang berupa perbandingan antara vidya dan avidya. Avidya, atau kebodohan, tentu saja berbahaya, tetapi vidya, atau pengetahuan, lebih berbahaya lagi apabila pengetahuan itu salah atau disesatkan. Mantra ini dari Sri Isopanisad lebih cocok lagi untuk diterapkan dewasa ini daripada masa-masa lainnya. Peradaban modern sudah mencapai banyak kemajuan pada bidang pendidikan untuk umum, tetapi hasilnya adalah bahwa manusia menjadi lebih sedih daripada sebelumnya, karena kemajuan materiallah yang dipentingkan dengan menyingkirkan bagian yang paling penting dalam kehidupan; yaitu, aspek rohani.

Mengenai vidya, sudah' diuraikan dengan jelas sekali dalam mantra pertama bahwa, Tuhan Yang Mahaesa memiliki segala sesuatu dan bahwa kalau seseorang lupa akan kenyataan ini, maka itu disebut kebodohan. Makin seseorang lupa pada kenyataan tersebut dalam kehidupan, makin dia berada dalam kegelapan. Mengingat kenyataan tersebut, peradaban yang tidak percaya kepada Tuhan dan diarahkan menuju sesuatu yang hanya namanya saja kemajuan pendidikan lebih berbahaya daripada peradaban di mana rakyat pada umumnya kurang begitu maju pada bidang material.

Di antara bermacam-macam golongan manusia — yaitu, para karmi, para jnani dan para yogi— para karmi ialah orang yang sibuk dalam kegiatan untuk memuaskan indera-indera. Hampir 99,9 persen rakyat dalam per­adaban modern sibuk dalam kegiatan kepuasan indera-indera atas nama industrialisme, perkembangan ekonomi, kedermawanan, kegiatan pada bidang politik dan lain sebagainya. Namun segala kegiatan tersebut kurang lebih berdasarkan kepuasan indera-indera dengan menyingkirkan jenis kesadaran pada Tuhan Yang Mahaesa yang di-uraikan dalam mantra pertama.

Menurut Bhagavad-gita (Bg. 7.15) orang yang sibuk dalam kepuasan indera-indera secara kasar disebut mudha, yang berarti keledai. Keledai adalah lambang kebodohan. Menurut Sri Isopanisad, orang yang hanya sibuk dalam usaha mencari kepuasan indera-indera yang tidak bermanfaat, mereka menyembah avidya. Orang yang mengambil peranan untuk membantu jenis peradaban tersebut atas nama kemajuan pendidikan, sebenarnya lebih merugikan daripada orang yang berada pada tingkat kepuasan indera-indera secara kasar. Kemajuan pengetahuan orang yang tidak percaya kepada Tuhan sebahaya permata yang berharga pada kepala seekor ular sendok. Ular sendok dihiasi dengan permata yang berharga lebih berbahaya daripada ular sendok yang tidak dihiasi seperti itu. Dalam Kitab Hari-bhakti-sudhodaya, kemajuan pendidikan oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan diumpamakan sebagai hiasan pada mayat. Di India, maupun di banyak negara yang lain, ada orang yang mengikuti adat memimpin arak-arakan dengan membawa mayat yang telah dihiasi untuk menyenangkan hati para sanak keluarga yang berkabung. Dalam arti yang sama, peradaban modern merupakan himpunan kegiatan yang dimaksudkan untuk menutupi kesengsaraan yang selalu dialami dalam kehidupan duniawi. Kegiatan seperti itu ber-tujuan untuk kepuasan indera-indera, tetapi pikiran lebih halus daripada indera-indera, kecerdasan lebih halus daripada pikiran, dan roh lebih halus lagi daripada kecer­dasan. Demikian, seharusnya tujuan pendidikan yang sejati ialah keinsafan diri, keinsafan akan nilai-nilai rohani dari roh. Pendidikan manapun yang tidak menuju kein­safan seperti itu harus dianggap avidya, atau kebodohan. Dengan mengembangkan kebodohan seperti itu, seseorang menurun masuk daerah kebodohan yang paling gelap.

Menurut Veda, para pendidik material yang keliru disebut (1) veda-vada-rata (2) mayaya-pahrta-jnana, (3) asuram bhavam asrita, dan (4) naradhama. Para veda-vada-rata memperlakukan diri seolah-olah mereka banyak berpengetahuan tentang Kitab-Kitab Veda, tetapi sayang sekali mereka sama sekali menyimpang dari maksud Veda. Dalam Bhagavad-gita dinyatakan (Bg. 15.18-20) bahwa tujuan dalam Veda ialah untuk mengetahui tentang Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, tetapi para veda-vada-rata tersebut sama sekali tidak tertarik kepada Kepri­badian Tuhan Yang Mahaesa. Sebaliknya, hati mereka terpikat dengan hasil-hasil atau pahala-pahala, seperti misalnya, mencapai surga, dan lain sebagainya.

Sebagaimana dinyatakan dalam mantra pertama, sebaiknya kita mengetahui bahwa Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa memiliki segala sesuatu dan bahwa kita harus berpuas hati dengan jatah kebutuhan yang telah disediakan bagi kita. Maksud segala Kitab Suci Veda ialah untuk membangkitkan kesadaran pada Tuhan seperti itu dalam hati makhluk hidup yang telah lupa akan dirinya, dan tujuan yang sama disampaikan dengan pelbagai cara dalam bermacam-macam Kitab Suci di dunia untuk membawa orang kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa.

Tetapi para veda-vada-rata tidak menginsafi maksud Veda, melainkan mereka menganggap bahwa hal-hal sampingan seperti misalnya, mencapai kebahagian di surga demi kepuasan indera-indera dan sebagainya — keinginan untuk hal-hal seperti itulah yang telah menyebabkan ikatan mereka di dunia ini pada permulaannya — merupakan tujuan utama dari Veda. Orang seperti itu menyesatkan orang lain dengan menyalah tafsirkan Kitab Suci Veda. Kadang-kadang mereka menyalahkan Purana-Purana yang merupakan Kitab-Kitab berisi penjelasan yang dapat dipercaya tentang Veda untuk orang a warn. Para veda-vada-rata memberikan ulasan sendiri tentang Veda, tanpa menghiraukan kekuasaan para mahaguru (para acarya). Mereka juga kecenderungan mengangkat seseorang yang tidak mempunyai prinsip-prinsip moril dari kelompok mereka dan menonjolkan orang itu sebagai ahli pengetahuan Veda yang paling terkemuka. Orang-orang seperti itu khususnya dinyatakan salah dalam man­tra ini dengan kata Bahasa Sanskerta vidya-rata, yang merupakan kata yang sangat cocok sekali. Vidya berarti Veda, sebab Veda adalah sumber pengetahuan, dan rata berarti sibuk. Demikian vidya-rata berarti, "sibuk dalam mempelajari Veda". Orang yang hanya namanya saja vidya-rata dinyatakan salah di sini karena mereka tidak mengetahui apa maksud yang sebenarnya dari Veda sebab mereka tidak mematuhi para acarya. Para veda-vada-rata seperti itu kebiasaan mengartikan setiap kata dari Veda sesuai dengan maksud-maksud pribadi. Mereka belum mengetahui bahwa pengetahuan Veda bukanlah himpunan buku-buku biasa, dan karena itu Veda tidak dapat dimengerti kecuali melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian.

Seseorang harus mendekati seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya supaya dia dapat mengerti amanat rohani dari Veda. Itulah petunjuk yang terdapat dalam Katha Upanisad. Akan tetapi, para veda-vada-rata tersebut mempunyai acarya sendiri, yang tidak termasuk rangkaian garis perguruan rohani. Demikian mereka maju masuk daerah kebodohan yang paling gelap dengan menyalah tafsirkan Kitab Suci Veda. Mereka masuk lebih jauh lagi ke dalam kebodohan daripada orang yang sama sekali tidak mengetahui tentang Veda.

Mayayapahrta-jnana adalah suatu golongan orang yang mengangkat diri sendiri sebagai "dewa-dewa". Orang seperti itu menganggap bahwa mereka sendiri adalah Tuhan dan bahwa mereka tidak perlu sembahyang kepada Tuhan selain mereka sendiri. Mereka setuju memuja orang biasa kalau kebetulan orang itu adalah orang kaya, tetapi mereka tidak akan pernah sembahyang kepada Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Orang seperti itu tidak dapat mengakui kebodohannya sendiri, dan tidak pernah ber-fikir tentang bagaimana mungkin Tuhan dapat diikat oleh khayalan. Andaikata Tuhan pernah diikat oleh khayalan, maka itu berarti bahwa khayalan lebih perkasa daripada Tuhan.  Orang seperti itu mengatakan bahwa Tuhan adalah Yang Mahakuasa, tetapi mereka tidak berfikir bahwa, kalau memang Tuhan adalah yang Mahakuasa, maka tidak mungkin Tuhan dipengaruhi oleh khayalan. Orang tersebut yang mengangkat diri sendiri sebagai Tuhan tidak dapat menjawab segala pertanyaan tersebut dengan jelas sekali; mereka hanya berpuas hati dengan membayangkan bahwa mereka sendiri sudah menjadi Tuhan.