sa paryagÄc chukram akÄyam avranÌ£am
asnÄviram Å›uddham apÄpa-viddham
kavir manīṣī paribhūḥ svayambhūr
yÄthÄtathyato 'rthÄn vyadadhÄc chÄÅ›vatÄ«bhyahÌ£ samÄbhyahÌ£
sah — kepribadian itu; paryagat — harus mengetahui dengan sebenarnya; sukram — Yang Mahakuasa; akayam — tidak ditutupi oleh badan; avranam — tidak dapat disalahkan; asnaviram — tidak mempunyai urat; suddham — antiseptis; apdpa-viddham — mencegah penyakit; kavih — Mahatahu; manisi — ahli filsafat; paribhuh — yang paling agung dari semua; svayambhuh — melengkapi kebutuhan sendiri; yathatathyatah — hanya dalam usaha mencari; arthan — sesuatu yang di-inginkan; vyadadhat — menganugerahkan; sasvatibyah — lampau; samabyah — masa.
Uraian ini mengenai bentuk rohani yang kekal dari KeÂpribadian Tuhan Yang Mahaesa Yang Mutlak menunjukkan bahwa Tuhan Yang "Mahaesa bukan tanpa bentuk. Beliau mempunyai bentuk rohani Sendiri, yang sama sekali tidak serupa dengan bentuk-bentuk para makhluk hidup di dunia ini. Bentuk-bentuk para makhluk hidup terwujud di dalam alam, dan bentuk-bentuk itu bekerja seperti mesin yang bersifat material. Fisik badan jasmani harus ada konstruksinya seperti mesin dengan urat-urat dan lain sebagainya, tetapi badan rohani Tuhan Yang Mahaesa tidak ada sesuatu seperti urat. Dinyatakan dengan jelas di sini bahwa Beliau tidak ditutupi oleh badan, yang berarti bahwa tidak ada perbedaan antara badanNya dan RohNya. Kita harus menerima badan menurut hukum alam, tetapi Tuhan tidak harus menerima badan menurut hukum alam seperti itu. Dalam pengertian duniawi tentang kehidupan jasmani, roh berbeda dari badan yang kasar dan Pikiran yang halus. Akan tetapi, Tuhan Yang Mahaesa lain daripada susunan yang digolongkan seperti itu. Tidak ada perbedaan antara badan dan Pikiran Tuhan. Tuhan adalah keseluruhan yang lengkap, dan Pikiran , badan dan DiriNya adalah satu dan semuanya sama.
Dalam Brahma-samhita terdapat uraian yang serupa mengenai Tuhan Yang Mahaesa. Dalam Brahma-samhita diuraikan bahwa Tuhan adalah sac-cid-ananda-vigraha, yang berarti bahwa Tuhan adalah bentuk yang kekal yang merupakan perwujudan yang sempurna dari eksistensi rohani, pengetahuan dan kebahagiaan. Dalam Kitab-Kitab Suci Veda dinyatakan dengan jelas bahwa Tuhan memÂpunyai jenis badan yang sama sekali berbeda; karena itu, kadang-kadang diuraikan bahwa Beliau tidak mempunyai bentuk. Sifat tanpa bentuk itu berarti bahwa Beliau tidak mempunyai bentuk seperti bentuk kita, dan bahwa Beliau tidak mempunyai bentuk yang dapat kita pahami. Selanjutnya dalam Brahma-samhita dinyatakan bahwa Tuhan dapat melakukan segala sesuatu dengan setiap anggota badanNya. Dalam Brahma-samhita dinyatakan bahwa, Tuhan dapat melakukan pekerjaan semua indera-indera lainnya dengan setiap anggota badanNya. Ini berarti bahwa Tuhan dapat berjalan dengan tanganNya, meÂnerima sesuatu dengan kakiNya, melihat dengan tangan dan kaki, makan dengan mataNya, dsb. Dalam mantra-mantra sruti juga dinyatakan bahwa, walaupun Tuhan tidak mempunyai tangan dan kaki seperti kita, namun Beliau mempunyai jenis tangan dan kaki yang lain, dan dengan tangan dan kaki itu Beliau dapat menerima segala sesuatu yang kita persembahkan kepadaNya dan berlari lebih cepat daripada semua orang. Kenyataan-kenyataan ini dibenarkan dalam mantra ke-delapan ini dengan kata-kata seperti sukram (Mahakuasa).
Bentuk Tuhan yang dapat dipuja (arca-vigraha), yang ditempatkan di tempat-tempat beribadah oleh acarya-acarya yang telah dikuasakan dan sudah menginsafi Tuhan sesuai dengan mantra ke-tujuh, juga tidak berbeda dari bentuk Tuhan Yang Asli Bentuk Tuhan Yang Asli ialah bentuk Sri Krsna, dan Sri Krsna mewujudkan DiriNya menjadi bentuk-bentuk yang jumlahnya tidak dapat dihitung, seperti misalnya, Baladeva, Rama, Nrsimha, Varaha, dll. Semua bentuk tersebut adalah satu dan sama dengan Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa.
Begitu juga, arca-vigraha yang dipuja ditempat-tempat beribadah juga merupakan suatu bentuk yang telah menjelma dari Tuhan. Dengan cara sembahyang kepada arca-vigraha, seseorang dapat mendekati Tuhan dengan segera. Tuhan menerima kebaktian seorang penyembah dengan tenagaNya yang Mahakuasa. Arca-vigraha dari Tuhan menurun atas permohonan para Acarya, yaitu para guru yang suci, dan bertindak dengan cara yang persis sama seÂperti cara asli Tuhan karena tenaga Tuhan Yang Mahakuasa. Orang yang kurang berpengetahuan tentang Sri Isopanisad atau mantra-mantra sruti lainnya menganggap bahwa, arca-vigraha yang dipuja oleh para penyembah yang murni, terbuat dari unsur-unsur alam. Barangkali bentuk tersebut dianggap material oleh mata yang kurang sempurna bagi orang yang bodoh atau para kanistha-adhikari, tetapi orang seperti itu belum mengetahui bahwa Tuhan sebagai Yang Mahakuasa dan Mahatahu, dapat merubah alam menjadi rohani dan rohani menjadi alam sesuai dengan kehendakNya.
Dalam Bhagavad-gita (Bg. 9.11-12) Tuhan menyesal akan keadaan merosot yang dialami orang yang kurang berpengetahuan yang menganggap bahwa badan Tuhan adalah material hanya karena Tuhan menurun seperti manusia ke dunia ini. Orang yang kurang berpengetahuan seperti itu belum tahu tentang KeMahakuasaan Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan tidak memperlihatkan DiriNya dengan sepenuhnya kepada orang yang berangan-angan pikiran. Tuhan hanya dapat dimengerti sesuai dengan sejauh mana seseorang sudah menyerahkan diri kepadaNya. Keadaan merosot yang dialami para makhluk hidup di-sebabkan semata-mata karena mereka telah lupa pada hubungannya dengan Tuhan.
Dalam mantra ini, maupun dalam banyak mantra Veda lainnya, dinyatakan dengan jelas bahwa Tuhan telah menyediakan barang-barang untuk makhluk hidup sejak masa lampau. Makhluk hidup ingin mendapatkan sesuatu, dan Tuhan menyediakan obyek keinginan itu sesuai |dengan kwalifikasi makhluk itu. Kalau ada orang yang ingin menjadi hakim di pengadilan tinggi, bukan hanya kwalifikasi yang dibutuhkan yang harus diperolehnya, tetapi dia harus mendapatkan persetujuan dari penguasa yang berwenang memberikan gelar hakim di pengadilan tinggi. Kwalifikasi dengan sendirinya tidaklah cukup unÂtuk menduduki jabatan. Jabatan itu harus diberikan oleh penguasa yang menduduki jabatan yang lebih tinggi. Begitu juga, Tuhan memberikan kenikmatan kepada para makhluk hidup sesuai dengan kwalifikasi-kwalifikasinya. Dengan kata yang lain, mereka dianugerahkan sesuatu menurut hukum karma. Kwalifikasi-kwalifikasi dengan sendirinya tidaklah cukup untuk memungkinkan seseorang menerima anugerah. Karunia Tuhan juga dibutuhkan.
Pada umumnya makhluk hidup tidak mengetahui apa yang hams dimintanya kepada Tuhan ataupun jabatan mana yang harus dicarinya. Akan tetapi, apabila makhluk hidup mengetahui tentang kedudukannya yang dasar, maka dia memohonkan kiranya dia dapat diterima ke dalam hubungan rohani dengan Tuhan supaya dia dapat melakukan kebaktian rohani dengan cinta kasih kepada Tuhan. Sayang sekali, para makhluk hidup di bawah pengaruh alam minta banyak benda yang lain, dan dalam Bhagavad-gita (Bg. 2.41) diuraikan bahwa sikap mental mereka adalah kecerdasan yang dibagikan atau kecerdasan yang merenggang. Kecerdasan rohani adalah satu tetapi kecerdasan duniawi beraneka ragamnya. Dalam Srimad-Bhagavatam dinyatakan bahwa, orang yang hatinya terpikat dengan keindahan sementara dari tenaga luar lupa akan tujuan hidup yang sejati, yaitu tujuan kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa. Kalau seseorang sudah lupa akan tujuan tersebut, maka dia berusaha untuk menyesuaikan hal-hal dengan bermacam-macam rencana dan acara, tetapi hal ini adalah seperti hal memamah sesuatu yang sudah dimamah. Walaupun demikian, alangkah murah hatiNya Tuhan sehingga Beliau memperbolehkan makhluk hidup yang telah lupa akan diriNya unÂtuk melanjutkan kegiatannya dengan cara demikian tanpa campur tangan. Kalau makhluk hidup ingin masuk neraka, maka Tuhan memperbolehkan dia melakukan demikian tanpa campur tangan, dan kalau makhluk ingin pulang kembali kepada Tuhan yang Mahaesa, maka Tuhan membantu makhluk itu.
Disini Tuhan disebut paribhuh, yang berarti yang Mahabesar. Tidak ada orang lebih agung atau sejajar dengan Beliau. Disini diuraikan bahwa para makhluk yang lain adalah seperti pengemis yang meminta benda-benda dari Tuhan. Tuhan menyediakan benda-benda yang di-inginkan oleh para makhluk hidup. Kalau para makhluk hidup memang mempunyai kekuatan yang sama seperti Tuhan, atau kalau para makhluk hidup adalah Mahakuasa atau Mahatahu, maka tidak ada soal mengemis dari Tuhan, bahkan untuk mendapatkan apa yang disebut pembebasan pun tidak ada soal mengemis seperti itu. Pembebasan yang sejati berarti kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa. Pembebasan sebagaimana dipahami oleh orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan merupakan dongeng saja, dan mengemis untuk minta kepuasan indera-indera harus berlangsung terus untuk selamanya sampai si pengemis menjadi sadar secara rohani dan menjadi insaf akan kedudukannya yang dasar.
Satu-satunya Tuhan Yang Mahaesa yang dapat melengkapi kebutuhanNya Sendiri. Waktu Sri Krsna muncul di bumi ini 5.000 tahun yang lalu, Beliau memperlihatkan manifestasiNya yang sepenuhNya sebagai Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa melalui bermacam-macam kegiatan-Nya. Waktu Sri Krsna masih anak-anak beliau telah membunuh banyak raksasa yang perkasa, dan tidak mungkin Beliau telah mendapatkan kewibawaan seperti itu melalui suatu usaha luar biasa. Sri Krsna mengangkat bukit Govardhana tanpa latihan angkat besi. Beliau menari dengan para gopi tanpa aturan sosial dan tanpa disalahkan. Walaupun para gopi mendekati Krsna dengan rasa cinta kasih, hubungan antara para gopi dan Sri Krsna juga dipuja oleh Sri Caitanya, seorang sannyasi yang tegas yang selalu mengikuti aturan disiplin dengan tepat. Dalam Sri Isopanisad juga diuraikan bahwa Tuhan adalah suddham (antiseptis) dan apapa-viddham (memiliki sifat pencegahan terhadap penyakit), atau suci dan tidak dipengaruhi oleh hal-hal tidak suci. Tuhan bersifat antiÂseptis, yang berarti bahwa hal yang tidak suci pun dapat disucikan hanya dengan menyentuh Beliau. Kata apapa-viddham, yang berarti "bersifat pencegahan penyakit", menunjukkan kekuatan hubungan dengan Beliau. Se-bagaimana disebut dalam Bhagavad-gita (Bg. 9.30-31), barangkali kelihatannya seorang penyembah adalah suduracara, yang berarti bahwa perilakunya kurang baik, yaitu pada permulaan, tetapi dia harus dianggap suci karena dia menempuh jalan yang benar. Ini disebabkan sifat pencegahan dalam hubungan dengan Tuhan. Tuhan juga disebut apapa-viddham karena Beliau tidak dapat disentuh oleh dosa. Kalaupun Tuhan bertindak dengan cara yang kelihatannya berdosa, tindakan seperti itu semuanya baik, sebab tidak mungkin Tuhan dipengaruhi oleh dosa. Oleh karena dalam segala keadaan Tuhan adalah suddham, yang berarti Mahasuci, Beliau seringkali diumpamakan sebagai matahari. Matahari menguap air dari banyak tempat yang kotor pada muka bumi, namun matahari itu tetap murni. Sebenarnya matahari itu menyucikan benda-benda yang busuk dengan kekuatan-nya untuk membersihkan. Kalau matahari, yang merupakan benda material, begitu perkasa, maka kita hampir tidak dapat mulai membayangkan kesucian dan kekuatan Tuhan Yang Mahakuasa.