yasmin sarvāṇi bhūtāny

ātmaivābhūd vijānataḥ

tatra ko mohaḥ kaḥ śoka

ekatvam anupaśyataḥ

yasmin — dalam keadaan; sarvani — semua; bhutani para makhluk hidup; atma — bunga api rohani; eva hanya; abhut — berada sebagai; vijanatah — dari orang yang mengetahui; tatra — dalam itu; kah — apa; mohah — khayalan; kah — apa; sokah — kecemasan; ekatvam — persatuan sifat; anupasyatah — orang yang melihat melalui penguasa, atau orang yang melihat senantiasa seperti itu.


Sloka

Orang yang selalu melihat semua makhluk hidup se­bagai bunga, api rohani, dalam persatuan sifat dengan Tuhan, dia benar-benar mengetahui tentang pelbagai hal. Dengan demikian apakah yang dapat menjadi khayalan atau kecemasan bagi orang itu?

Penjelasan

Selain madhyama-adhikari dan uttama-adhikari yang diuraikan diatas, tidak ada orang yang dapat melihat kedudukan rohani makhluk hidup dengan cara yang benar. Ada persatuan sifat antara para makhluk hidup dan Tuhan yang Mahaesa, seperti halnya ada persatuan sifat antara bunga-bunga api dan sifat api itu. Namun bunga-bunga api bukanlah api dalam hal kwantitas, sebab jumlah panas dan cahaya dalam bunga-bunga api tidaklah sama dengan jumlah dalam api yang pokok. Seorang maha-bhagavata, seorang penyembah yang agung, melihat persatuan dalam arti dia melihat segala sesuatu sebagai tenaga dari Tuhan yang Mahaesa. Oleh karena tidak ada, perbedaan antara tenaga dan sumber tenaga, ada rasa per­satuan. Walaupun panas dan cahaya berbeda dari api dari  segi  analisa,   namun  kata  "api"   tiada  artinya tanpa adanya panas dan cahaya. Tetapi dalam campuran, panas, cahaya dan api semuanya sama saja.

Kata-kata   bahasa   Sansekerta   ekatvam   anupasyatah menunjukkan bahwa, sebaiknya seseorang melihat persatuan semua makhluk hidup dari segi pemandangan Kitab-Kitab Suci. Bunga-bunga api yang individual dari keseluruhan yang paling utama memiliki hampir delapan puluh persen dari sifat-sifat keseluruhan yang diketahui, tetapi secara kwantitas mereka tidak sejajar dengan Tuhan Yang Mahaesa. Makhluk hidup mempunyai sifat-sifat itu dalam jumlah kecil sekali, sebab makhluk hidup hanyalah bagian percikan dari keseluruhan yang paling utama yang mempunyai sifat yang sama seperti keseluruhan yang pa­ling utama itu. Dengan contoh yang lain, jumlah garam dalam setetes air tidak pernah sama dengan jumlah garam yang ada di seluruh laut, namun kadar garam dalam setetes air mempunyai sifat yang sama dalam komposisi kimia dengan seluruh garam di lautan. Kalau makhluk hidup yang individual memang sama dengan Tuhan Yang Mahaesa baik dalam arti kwalitas maupun dalam arti kwantitas, maka tiada soal makhluk hidup dipengaruhi oleh tenaga alam. Dalam mantra-mantra sebelumnya sudah diuraikan bahwa tidak ada makhluk hidup, termasuk pula para dewa yang perkasa, yang dapat melampaui Kepribadian Yang Paling Utama dalam suatu hal; karena itu ekatvam tidak berarti bahwa makhluk hidup se­jajar dalam segala hal dengan Tuhan Yang Mahaesa. Akan tetapi, kata itu menunjukkan bahwa dalam arti yang lebih luas ada satu keinginan, seperti halnya dalam keluarga keinginan semua anggotanya satu, atau dalam satu bangsa keinginan bangsa itu adalah satu, walaupun ada banyak warga negara yang individual dan berbeda. Semua makhluk hidup adalah bagian-bagian yang mempunyai sifat yang sama dari keluarga utama yang sama. Keinginan Kepribadian Yang Paling Utama dan keinginan para bagi­an yang mempunyai sifat yang sama tidaklah berbeda. Setiap makhluk adalah seperti anak dari Kepribadian Yang Paling Utama. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita (Bg. 14.3-4), semua makhluk hidup di seluruh alam semesta — termasuk burung, binatang yang merayap , semut, ikan, pohon, dan lain sebagainya — semuanya berasal dari tenaga pinggir dari Tuhan Yang Mahaesa. Karena itu, semuanya termasuk keluarga Kepribadian Yang Paling Utama. Tidak ada perselisihan keinginan dalam kehidupan rohani.

Para makhluk yang bersifat rohani dimaksudkan untuk kenikmatan. Dengan sifat dan kedudukan dasarnya, setiap makhluk hidup — termasuk Tuhan Yang Mahaesa dan setiap bagian dari Tuhan Yang Mahaesa yang mempunyai sifat   yang   sama   seperti  Tuhan  Yang   Mahaesa  — dimaksudkan   untuk   kenikmatan   yang   kekal.   Para makhluk hidup yang terkurung dalam badan jasmani senantiasa mencari kenikmatan, tetapi mereka mencari kenikmatan itu pada tingkatan yang salah. Selain dunia ini adapun tingkatan rohani dimana Kepribadian Yang Paling Utama menikmati bersama rekan-rekanNya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Pada tingkatan rohani tidak ada corak sifat-sifat material; karena itu, tingkatan rohani disebut nirguna. Pada tingkatan nirguna tidak pernah terjadi perselisihan mengenai obyek kenikmatan. Di dunia ini selalu terjadi perselisihan antara para makhluk yang individual, sebab disini titik pusat kenikmatan yang sebenar-nya tidak dipahami. Pusat kenikmatan yang sejati ialah Tuhan Yang Mahaesa, yang menjadi pusat tarian rasa yang luhur dan rohani. Kita semua dimaksudkan untuk ikut beserta Beliau dan menikmati kehidupan dengan satu keinginan rohani tanpa perselisihan apapun. Itulah tingkatan tinggi keinginan rohani, dan selekas seseorang menginsafi bentuk persatuan yang sempurna ini, maka tidak mungkin ada khayalan atau penyesalan.

Peradaban yang tidak berdasarkan KeTuhanan Yang Mahaesa berasal dari maya atau khayalan, dan akibat dari peradaban seperti itu adalah penyesalan. Peradaban yang tidak berdasarkan KeTuhanan Yang Mahaesa, seperti halnya peradaban yang didukung oleh beberapa tokoh politis pada zaman modern, selalu penuh kecemasan; demikianlah hukum alam. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita (Bg. 7.14), selain mereka yang menyerahkan diri pada kaki-padma Tuhan Yang Mahaesa, tidak ada orang yang dapat melampaui hukum-hukum alam yang keras. Demikian kalau kita ingin men-jadi lepas dari segala jenis khayalan dan kecemasan dan menciptakan persatuan dari keanekawarnaan keinginan kita, maka kita harus menyisipkan Tuhan Yang Mahaesa dalam segala kegiatan kita.

Hasil kegiatan kita haruslah dipergunakan untuk melayani keinginan Tuhan, dan tidak dipergunakan untuk maksud yang lain. Hanyalah dengan melayani keinginan Tuhan kita dapat mengerti keinginan atma-bhuta yang disebut disini. Keinginan atma-bhuta yang disebut dalam mantra ini dan keinginan brahma-bhuta yang disebut dalam Bhagavad-gita (Bg. 18.54) adalah satu dan sama saja. Atma atau Roh Yang Paling Utama ialah Tuhan Sendiri, dan atma yang kecil sekali ialah makhluk hidup. Atma Yang Paling Utama atau Paramatma Sendiri memelihara segala makhluk kecil yang individual, sebab Tuhan Yang Mahaesa ingin mendapatkan kesenangan hati dari kasih sayang mereka. Seorang ayah memperluas dirinya melalui anak-anaknya dan memelihara mereka supaya dia dapat bersenang hati. Kalau anak-anak patuh terhadap keinginan ayah, maka kegiatan keluarga akan berjalan dengan lancar dengan satu keinginan dan suasana yang menyenangkan hati. Keadaannya yang sama diatur secara rohani dalam keluarga yang mutlak dari Parabrahman atau Roh Yang Utama.

Seperti halnya para makhluk hidup yang individual ada­lah kepribadian-kepribadian, begitu juga Parabrahman pun adalah Kepribadian. Tuhan dan para makhluk hidup bukanlah tanpa sifat pribadi. Kepribadian-kepribadian rohani seperti itu penuh kebahagian rohani, pengetahuan dan kehidupan yang kekal. Itulah kedudukan eksistensi rohani yang sejati, dan selekas seseorang menjadi sadar dengan sepenuhnya akan kedudukan rohani tersebut, dia menyerahkan diri dengan segera pada kaki-padma Ke­pribadian Yang Paling Utama, yaitu Sri Krsna. Tetapi seorang mahatma atau roh yang agung seperti itu jarang sekali ditemukan, sebab keinsafan rohani seperti yang tersebut hanya dicapai setelah menjelma berulang kali (Bg.7.19). Akan tetapi, kalau keinsafan rohani seperti itu sudah dicapai, maka khayalan, kesukacitaan, kesengsaraan kehidupan duniawi, ataupun kelahiran dan kematian yang merupakan hal-hal yang semua dialami dalam kehidupan kita sekarang ini, semuanya tidak ada lagi. Itulah keterangan yang kita terima dari mantra ini dalam Sri Isopanisad.