yas tu sarvÄnÌ£i bhÅ«tÄny

Ätmany evÄnupaÅ›yati

sarva-bhÅ«tesÌ£u cÄtmÄnamÌ

tato na vijugupsate

yah — dia yang; tu — tetapi; sarvani — semua; bhutani — para makhluk hidup; atmani — berhubungan dengan Tuhan yang Mahaesa; eva — hanya; anupasyati — meninjau secara sistematis; sarva-bhutesu — dalam setiap makhluk hidup; ca — dan; atmanam — Ron Yang Utama; tatah — kemudian; na — tidak; vijugupsate — benci kepada siapapun;


Sloka

Orang yang melihat segala sesuatu berhubungan dengan Tuhan Yang Mahaesa, dan melihat segala makhluk hidup sebagai bagian-bagian dari Tuhan yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan, dan melihat Tuhan yang Maha­esa di dalam segala sesuatu, ia tidak pernah merasa benci pada sesuatu atau kepada makhluk manapun.

Penjelasan

Sloka ini merupakan uraian tentang seorang maha-bhagavata, kepribadian yang agung yang melihat segala sesuatu berhubungan dengan Kepribadian Tuhan yang Mahaesa. Ada tiga tingkatan keinsafan terhadap adanya Tuhan Yang Mahaesa. Seorang kanistha-adhikari berada pada tingkatan keinsafan yang lebih rendah. Dia pergi ke satu tempat beribadah sesuai dengan keimanannya, dan bersembahyang disana menurut ajaran Kitab Suci. Seorang penyembah seperti itu menganggap bahwa Tuhan berada di tempat beribadah dan tidak berada di tempat yang lain. Dia tidak dapat menentukan siapa yang berada pada kedudukan mana dalam kebaktian, ataupun mengerti siapa yang sudah menginsafi Tuhan yang Maha­esa. Penyembah-penyembah seperti itu mengikuti rumus-. rumus yang biasa dan kadang-kadang bertengkar, dengan menganggap bahwa, suatu cara kebaktian lebih baik daripada cara yang lain. Sebenarnya para kanistha-adhikari tersebut adalah penyembah-penyembah yang duniawi dan hanya berusaha untuk melampaui batasan-batasan duniawi untuk mencapai tingkatan rohani.

Orang. yang sudah mencapai tingkat keinsafan yang kedua disebut madhyama-adhikari. Para penyembah seperti ini mengikuti empat prinsip: yakni, (1) Pertama, mereka memandang Tuhan Yang Mahaesa. (2) Kemudian mereka melihat para penyembah Tuhan. (3) Mereka melihat orang; tak bersalah, yang belum mengetahui tentang Tuhan. 4) Mereka melihat para ateis atau orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan orang yang benci pada mereka yang melakukan kebaktian. Seorang madhya-adhikari bertindak dengan cara-cara yang lain sesuai dengan keadaan. Dia memuji Tuhan dengan menganggap bahwa Tuhan, obyek cinta kasih, dan dia menjadi sahabat dengan nereka yang melakukan kebaktian. Dia berusaha untuk menghidupkan kembali cinta kasih kepada Tuhan yang di dalam hati orang yang tak bersalah, tetapi dia tidak mendekati para ateis (orang yang tidak percaya kepada Tuhan) yang mengejek nama Tuhan. Pada tingkat keinsafan ketiga adalah seorang uttama-adhikari, yang melihat segala sesuatu berhubungan dengan Tuhan Yang Mahaesa. Seorang penyembah seperti itu tidak membedakan antara orang yang tidak percaya kepada Tuhan dan orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi dia melihat semua orang sebagai bagian dari Tuhan yang mempunyai sifat seperti Tuhan. Dia mengetahui bahwa tiada perbedaan antara seorang brahmana yang sangat bijaksana dan seekor anjing di jalan, sebab kedua-duanya berasal dari Tuhan, walaupun mereka mempunyai badan yang berbeda sesuai dengan sifat-sifat alam. Dia melihat bahwa bagian percikan dari Tuhan Yang Mahaesa sebagai  seorang  brahmana  tidak  menyalahgunakan sekedar kebebasan yang telah diberikan kepadanya oleh Tuhan, sedangkan bagian percikan dari Tuhan dalam ben­tuk sebagai anjing telah menyalahgunakan kebebasannya dan karena itu ia di hukum oleh hukum-hukum alam, yaitu dengan dikurung dalam bentuk yang bodoh. Tanpa menghiraukan perbuatan sang brahmana dan si anjing, seorang uttama-adhikari berusaha untuk berbuat baik terhadap keduanya. Seorang penyembah yang bijaksana seperti itu tidak disesatkan oleh badan-badan jasmani tetapi tertarik pada bunga api rohani yang bersemayam di dalam hati makhluk-makhluk itu.

Orang yang meniru seorang uttama-adhikari dengan menonjolkan rasa persatuan atau persahabatan tetapi ber-tindak pada tingkat jasmani sebenarnya merupakan dermawan yang palsu. Pengertian persahabatan sesama makhluk hidup harus dipelajari dari seorang uttama-adhikari bukan dari orang yang bodoh yang belum mengerti secara benar tentang roh yang individual dan Roh Yang Utama sebagai penjelmaan dari Tuhan Yang Maha­esa yang berada dimana-mana.

Dinyatakan dengan jelas dalam mantra ke-enam ini bahwa sebaiknya seseorang meninjau, atau melihat. Ini berarti bahwa seseorang harus mengikuti acarya dari dahulu atau guru yang telah disempurnakan. Kata Bahasa Sansekerta yang dipergunakan berhubungan dengan hal ini adalah kata anupasyati. Pasyati berarti meninjau. Ini tidak berarti bahwa seseorang harus berusaha untuk melihat sesuatu dengan cara seperti dia melihat sesuatu dengan matanya sendiri. Oleh karena mata ada kekurangan yang bersifat material, mata dengan sendirinya tidak dapat melihat sesuatu dengan cara yang benar. Seseorang tidak dapat melihat dengan benar kalau dia belum mendengar dari sumber yang lebih sempurna, dan sumber yang paling sempurna adalah pengetahuan Veda yang disabdakan oleh Tuhan Sendiri. Kebenaran dalam Veda turun melalui garis perguruan guru-guru kerohanian dari Tuhan kepada Brahma, dari Brahma kepada Narada, dari Narada kepada Vyasa dan dari Vyasa kepada banyak murid lainnya. Dahulu kala amanat-amanat Veda tidak perlu dicatat sebab orang pada zaman dahulu lebih cerdas dan ingatannya lebih tajam. Mereka dapat mengikuti ajaran hanya dengan mendengar sekali saja dari sang guru kerohanian yang dapat dipercaya.

Saat ini ada banyak tafsiran Kitab-Kitab Suci, tetapi kebanyakan antara tafsiran-tafsiran itu tidak menurut garis perguruan guru-guru kerohanian yang berasal dari Srila Vyasadeva, yang mengajarkan pengetahuan Veda pada  permulaan.  Hasil  karya Srila Vyasadeva yang terakhir,   paling  sempurna  dan  luhur  ialah  Srimad-Bhagavatam  yang  merupakan  penjelasan  yang  telah dibenarkan mengenai Vedanta-Sutra. Adapun Bhagavad-Gita yang merupakan sabda dari Tuhan Sendiri yang ditulis oleh Vyasadeva. Srimad-Bhagavatam dan Bhagavad-gita merupakan Kitab-Kitab Suci yang paling penting, dan tafsiran manapun yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dari Bhagavad-gita atau   Srimad-Bhagavatam   tidak dibenarkan. Antara Kitab-Kitab Upanisad-Upanisad, Vedanta, Veda, Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam persetujuan yang sempurna, dan hendaknya seseorang — berusaha untuk menarik kesimpulan tentang Veda tanpa menerima ajaran dari para anggota garis perguruan dari Vyasadeva, atau sekurang-kurangnya dari mereka yang percaya kepada Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa dan bermacam-macam jenis tenaga Tuhan.

Menurut Bhagavad-gita, (Bg. 6.9) hanya orang yang sudah mencapai tingkatan dimana dia telah dibebaskan dapat menjadi seorang penyembah pada tingkat uttama-adhikari dan melihat setiap makhluk hidup sebagai saudaranya. Penglihatan ini tidak dapat dicapai oleh orang yang selalu mencari keuntungan yang bersifat duniawi. Apabila seseorang meniru ciri-ciri seorang uttama-adhikari, barangkali dia dapat melayani badan jasmaninya demi kemasyuran atau keuntungan yang ber­sifat duniawi, tetapi dia tidak dapat melayani roh. Orang yang meniru seperti itu tidak dapat memperoleh keterangan tentang dunia rohani. Seorang uttama-adhikari melihat roh di dalam had makhluk hidup dan melayaninya sebagai roh. Dengan melayani makhluk hidup sebagai roh, aspek material dipenuhi secara otomatis.