sambhūtiḿ ca vināśaḿ ca

yas tad vedobhayaḿ saha

vināśena mṛtyuḿ tīrtvā

sambhūtyāmṛtam aśnute

sambhutim — Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa yang kekal, nama rohani, bentuk, kegiatan, sifat-sifat dan perlengkapanNya, keaneka warnaan tempat tinggalNya, dll.; ca — dan; vinasam — manifestasi material yang sementara terdiri dari para dewa, manusia, binatang dan lain-lain dengan nama-namanya, kemasyurannya dan lain-lain yang bersifat palsu; ca — juga; yah — orang yang; tat — itu; veda — mengetahui; ubhayam — kedua-duanya; saha — beserta; vinasena — dengan segala sesuatu yang dapat dimusnahkan; mrtyum — kematian; tirtva — mengatasi; sambhutya — di kerajaan Tuhan yang kekal; amrtam — tidak mati; asnute — menikmati.


Sloka

Hendaknya seseorang mengetahui dengan sempurna tentang Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa dan nama rohaniNya, beserta ciptaan dunia fana dengan dewa-dewa, manusia dan binatangnya yang bersifat sementara. Apabila seseorang mengetahui tentang hal-hal tersebut, maka dia mengatasi kematian dan manifestasi alam semesta lahiriah, dan menikmati kehidupan yang kekal dengan kebahagiaan dan pengetahuan di kerajaan Tuhan yang abadi.

Penjelasan

Dengan apa yang disebut kemajuan pengetahuan, peradaban manusia telah menciptakan banyak benda material, termasuk roket-roket dan tenaga atom. Namun peradaban manusia itu gagal dalam usaha menciptakan pembebasan dari kelahiran, kematian, usia tua dan penyakit. Bilamana orang yang cerdas mengajukan pertanyaan tentang kesengsaraan tersebut kepada orang yang disebut ahli ilmu pengetahuan, maka ahli ilmu pengetahuan itu dengan pandai sekali menjawab bahwa il­mu pengetahuan material sedang maju dan akhirnya akan memungkinkan manusia tidak pernah mati dan tidak per­nah tua. Jawaban-jawaban seperti itu membuktikan bahwa para ahli ilmu pengetahuan sama sekali tidak tabu tentang alam dunia ini. Di dalam alam ini segala sesuatu di bawah kekuasaan hukum-hukum alam yang keras dan harus mengalami enam jenis perubahan; yaitu, kelahiran, pertumbuhan, pemeliharaan, perubahan, kemunduran dan akhirnya kematian. Tiada sesuatupun berhubungan dengan alam ini yang dapat melampaui enam hukum perubahan tersebut; karena itu, tidak ada seorangpun — baik dewa, manusia, binatang maupun pohon — yang dapat hidup untuk selamanya di dunia ini.

Mungkin usia hidup berbeda menurut jenis-jenis kehidupan. Brahma, makhluk yang paling utama di alam semesta ini, dapat hidup selama berjuta-juta tahun, sedangkan kuman yang kecil sekali mungkin hidup selama beberapa jam saja. Tetapi itu tidak menjadi soal. Tidak ada makhluk di dunia ini yang dapat hidup untuk selamanya. Benda-benda dilahirkan atau diciptakan dalam keadaan tertentu, kemudian tahan selama beberapa waktu, dan kalau masih hidup, tumbuh, berketurunan, berangsur-angsur mundur dan akhirnya lenyap. Menurut hukum-hukum tersebut, para Brahma pun, yang jumlahnya sampai berjuta-juta di bermacam-macam alam semesta, semua harus mengalami kematian, baik hari ini maupun besok. Karena itu, seluruh alam semesta ini disebut Mrtyuloka, yang berarti tempat kematian.

Para ahli ilmu pengetahuan material berusaha supaya tempat ini dijadikan bebas dari kematian karena mereka tidak mempunyai keterangan mengenai alam rohani dimana tidak ada kematian. Ini karena mereka tidak tahu I en tang Kitab Suci Veda, yang penuh pengetahuan tentang pengalaman rohani yang matang. Sayang sekali manusia pada zaman modern segan menerima pengetahuan dari Veda, Purana-Purana dan Kitab-Kitab Suci lainnya.

Dalam Visnu Purana (V.P. 6.7.61) kita mendapatkan keterangan bahwa, Sri Visnu, Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, memiliki bermacam-macam tenaga, yang di­sebut para (utama) dan apara atau avidya (tenaga rendah). Tenaga alam dimana kita terikat saat ini disebut tenaga avidya atau tenaga rendah. Ciptaan alam dimungkinkan karena tenaga tersebut. Namun ada tenaga yang lain, yaitu tenaga utama yang disebut para-sakti, yang berbeda dengan tenaga material yang rendah ini. Tenaga utama itu merupakan ciptaan yang kekal dan tidak pernah mati dari Tuhan. (Bg. 8.20).

Semua planet material — tinggi, rendah, dan pertengahan, termasuk matahari, bulan dan Venus — tersebar di seluruh alam semesta. Planet-planet tersebut hanya berada selama kehidupan Brahma. Akan tetapi, beberapa di antara planet-planet yang rendah dilebur pada akhir satu. hari bagi Brahma dan kemudian diciptakan lagi selama hari yang berikutnya bagi Brahma. Di planet-planet yang lebih tinggi, cara perhitungan waktu berbeda. Satu tahun bagi kita sama dengan dua puluh empat jam sa­ja, yaitu, satu hari dan satu malam, di banyak planet yang lebih tinggi. Empat zaman di bumi ini (yaitu, Satya, Treta, Dvapara, dan Kali) hanya sama dengan 12.000 tahun menurut ukuran waktu di planet-planet yang lebih tinggi. Jangka waktu sepanjang itu kali seribu sama dengan satu hari bagi Brahma, dan satu malam bagi Brahma, juga sama dengan seribu kali jangka waktu sepanjang itu. Siang hari dan malam hari seperti itu dijumlah menjadi bulan-bulan dan tahun-tahun, dan Brahma hidup selama seratus tahun seperti itu. Pada akhir riwayat Brahma, seluruh manifestasi alam semesta dilebur.

Para makhluk hidup yang tinggal di matahari dan bulan, beserta mereka yang tinggal di susunan planet ber-nama Martyaloka — termasuk bumi ini dan banyak planet di bawah bumi — semuanya dilebur di dalam air peleburan selama malam hari bagi Brahma. Selama masa itu, tidak ada makhluk hidup maupun jenis kehidupan yang tetap berwujud, walaupun secara rohani mereka tetap berada. Tingkatan tak berwujud itu disebut avyakta. Sekali lagi, ketika seluruh alam semesta dilebur pada waktu Brahma tutup usia, terjadi keadaan avyakta. Akan tetapi, di luar ke-dua keadaan tak berwujud tersebut adapun angkasa rohani atau alam rohani. Jumlah planet-planet rohani di alam rohani tersebut sangat besar sekali, dan planet-planet itu berada untuk selamanya, malah tetap berada waktu semua planet di alam semesta ini dilebur. Manifestasi alam di bawah kekuasaan beberapa Brahma hanyalah merupa-kan seperempat dari tenaga Tuhan. Inilah yang disebut tenaga rendah. Di luar kekuasaan Brahma ada alam rohani, yang disebut tri-pada-vibhuti, yang berarti tiga perempat dari tenaga Tuhan. Ini merupakan tenaga utama, atau para-prakrti.

Kepribadian Yang Mahakuasa yang tinggal di alam rohani ialah Sri Krsna. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita (Bg. 8.22), Sri Krsna hanya dapat didekati dengan cara bhakti yang murni, dan tidak dapat didekati hanya dengan cara-cara jnana (filsafat), yoga (kebatinan) atau karma (pekerjaan yang membuahkan hasil atau pahala). Para karmi atau orang yang bekerja untuk mem­buahkan hasil atau pahala dapat naik tingkat sampai planet-planet Svargaloka, termasuk matahari dan bulan. Para jnani dan yogi dapat mencapai planet-planet yang lebih tinggi lagi, seperti misalnya Brahmaloka, dan apabila mereka memiliki sifat yang lebih baik lagi, melalui kebaktian, mereka diperkenankan masuk alam rohani, baik dalam suasana alam yang bercahaya di angkasa rohani (Brahman) maupun di planet-planet Vaikuntha, menurut kwalifikasinya. Akan tetapi, pasti tidak ada orang yang dapat masuk planet-planet rohani bernama Vaikuntha kalau dia belum dilatih dalam kebaktian.

Di planet-planet material, semua makhluk dari Brahma sampai dengan semut berusaha untuk berkuasa atas alam, dan inilah penyakit keduniawian. Selama penyakit duniawi tersebut berlangsung, makhluk hidup harus mengalami pergantian badan. Baik makhluk berwujud dalam bentuk manusia, dewa, maupun binatang, akhirnya ia harus mengalami keadaan tak berwujud selama ke-dua peleburan — yaitu, peleburan pada waktu malam bagi Brahma dan peleburan waktu Brahma tutup usia. Kalau kita ingin mengakhiri kelahiran dan kematian yang terjadi berulang kali seperti yang tersebut, dan sekalian meng­akhiri hal-hal yang berkaitan dengan kelahiran dan kema­tian, yaitu usia tua dan penyakit, maka kita harus berusaha untuk masuk planet-planet rohani. Sri Krsna dalam penjelmaan-penjelmaan yang berkuasa penuh dari DiriNya berkuasa di setiap planet rohani tersebut.

Tidak ada orang yang dapat menguasai Krsna. Roh yang terikat yang berusaha untuk berkuasa atas alam tidak dapat berkuasa atas alam; melainkan, dia sendiri harus takluk pada hukum-hukum alam dan penderitaan kela­hiran dan kematian yang terjadi berulang kali. Tuhan datang kesini untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip agama, dan prinsip pokok ialah perkembangan sikap penyerahan diri kepada Tuhan. Itulah ajaran Tuhan yang terakhir dalam Bhagavad-gita (Bg. 18.66), tetapi orang yang bodoh telah menyalah tafsirkan ajaran pokok tersebut secara halus dan telah menyesatkan orang-orang awam dengan pelbagai 'cara. Telah dianjurkan supaya orang membuka rumah sakit dan lain sebagainya, tetapi belum dianjurkan agar mereka mendidik diri supaya dapat masuk kerajaan rohani dengan cara kebaktian. Mereka telah diajarkan supaya hanya tertarik dengan pekerjaan yang membawa rasa lega yang bersifat sementara saja dan tidak pernah dapat membawa kebahagiaan yang sejati bagi makhluk hidup. Mereka mendirikan bermacam-macam jenis lembaga untuk menanggulangi kekuatan alam yang menghancurkan, tetapi tidak tahu bagaimana cara mendiamkan alam yang tidak dapat ditaklukkan. Banyak orang dimaklumkan sebagai sarjana-sarjana yang hebat di bidang Bhagavad-gita, tetapi mereka tidak menghiraukan amanat Bhagavad-gita yang dapat men­diamkan alam. Alam yang perkasa hanya dapat di-diamkan dengan membangkitkan kesadaran pada Tuhan, sebagaimana ditunjukkan dengan jelas dalam Bhagavad-gita (BG. 7.14)

Dalam mantra ini dari Sri Isopanisad diajarkan bahwa, seseorang harus mengetahui tentang sambhuti (Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa) dan vinada (manifestasi material yang sementara) secara sempurna, kedua-duanya saling berdampingan. Dengan hanya mengetahui tentang manifestasi alam saja, seseorang tidak dapat menyelamatkan sesuatupun, sebab dalam perkembangan alam terjadi peleburan pada setiap saat. Tidak ada orang yang dapat diselamatkan dari peleburan-peleburan tersebut hanya dengan cara membuka rumah sakit saja. Seseorang hanya dapat diselamatkan dengan pengetahuan yang lengkap tentang kehidupan yang kekal dengan ke­bahagiaan dan kesadaran. Seluruh bagan dari Veda dimaksudkan untuk mendidik manusia tentang ilmu pengetahuan tersebut yang menyangkut cara mencapai kehidupan yang kekal. Seringkali orang disesatkan oleh hal-hal yang sementara yang menarik hatinya berdasarkan kepuasan indera-indera, tetapi pengabdian pada obyek-obyek indera-indera menyesatkan dan merusakkan.

Karena itu, kita harus menyelamatkan sesama manusia dengan cara yang benar. Tidak ada soal senang atau tidak senang terhadap kebenaran. Kebenaran itu ada. Kalau kita ingin diselamatkan dari kelahiran dan kematian yang ter­jadi berulang kali, maka kita harus mulai berbakti kepada Tuhan. Dalam hal ini tidak dapat diadakan kompromi, sebab ini merupakan soal kebutuhan.