anyad evāhuhÌŁ sambhavād

anyad āhur asambhavāt

iti ƛuƛruma dhÄ«rānÌŁÄḿ

ye nas tad vicacaksÌŁire

anyat — lain; eva — tentu; ahuh — dikatakan; sambhavat — dengan bersambahyang kepada Tuhan Yang Mahaesa, sebab dari segala sebab; anyat — lain; ahuh — dikatakan; asambhavat — dengan menyembah sesuatu selain Tuhan Yang Mahaesa; iti — demikian; susruma — aku telah mendengar; dhiranam — dari orang yang dapat dipercaya dan tidak tergoyahkan; ye — siapa; nah — kepada kita; tat — mengenai hal itu; vicacaksire — di-jelaskan secara sempurna.


Sloka

Dikatakan bahwa, sesuatu hasil diperoleh dengan bersembahyang kepada Sebab Utama dari segala sebab, dan hasil yang lain diperoleh dengan menyembah sesuatu selain Tuhan Yang Mahaesa. Segala hal tersebut didengar dari orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak tergoyahkan yang telah menguraikan tentang hal-hal itu  dengan jelas.

Penjelasan

Cara mendengar dari sumber yang dapat dipercayai dan tidak tergoyahkan dibenarkan dalam mantra ini. Kalau seseorang tidak mendengar dari seorang acarya yang dapat dipercayai dan tidak pernah merasa tergoyahkan mengenai perubahan yang terjadi di dunia material, maka dia tidak dapat memperoleh kunci yang sebenarnya untuk pengetahuan rohani. Sang guru kerohanian yang dapat diper­cayai, yang juga telah mendengar mantra-mantra sruti, atau pengetahuan Veda, dari acarya-nya yang tidak tergoyahkan, tidak pernah membuat maupun menyampaikan sesuatu yang tidak tercantum dalam Kitab Suci Veda. Dalam Bhagavad-gita (Bg. 9.25) dinyatakan dengan jelas bahwa, mereka yang memuja parapitra atau leluhur, mencapai planet-planet tempat tinggal para leluhur. Begitu juga, orang duniawi yang kasar yang membuat rencana-rencana untuk menetap disini, mereka datang lagi ke bumi ini, dan para penyembah Tuhan yang tidak menyembah sesuatu selain Sri Krsna, Sebab Utama dari segala sebab, mencapai kepada Beliau di tempat tinggalNya di angkasa rohani.

Disini juga dalam Sri Isopanisad dibenarkan bahwa, hasil-hasil yang lain tercapai dengan bermacam-macam cara sembahyang. Kalau kita menyembah Tuhan Yang Mahaesa, tentu saja kita akan mencapai kepada Beliau di tempat tinggalNya yang kekal, dan kalau kita menyembah para dewa, seperti misalnya, dewa matahari dan dewa bulan, maka tentu saja kita dapat mencapai planet-planet mereka masing-masing. Dan kalau kita ingin tetap tinggal di planet ini yang penuh kedukacitaan bersama panitia-panitia perencanaan dan penyesuaian di bidang politis yang bersifat sementara, tentu saja kita juga dapat melakukan demikian.

Tidak ada satu ayat pun dalam Kitab-Kitab Suci yang dapat dipercayai yang menyatakan bahwa, akhirnya se­seorang akan mencapai tujuan yang sama dengan me­lakukan apa saja atau menyembah pada siapa saja. Teori-teori yang bodoh seperti itu ditawarkan oleh orang yang mengangkat diri sebagai guru kerohanian, tetapi tidak ada hubungannya dengan parampara, atau sistem garis per-guruan guru-guru kerohanian yang dapat dipercayai. Seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya tidak dapat menyatakan bahwa segala jalan yang ditempuh menuju tujuan yang sama atau bahwa siapapun dapat mencapai tujuan tersebut dengan cara sembahyang sendiri kepada para dewa atau kepada Yang Paling Utama atau kepada apapun. Bagi orang awam, mudah sekali mengerti bahwa, seseorang hanya dapat mencapai tujuannya kalau dia telah membeli karcis untuk jurusan itu. Orang yang sudah membeli karcis untuk pergi ke kota Calcutta dapat sampai di Calcutta, bukan di Bombay. Akan tetapi, orang yang untuk sementara waktu menjadi guru kerohanian dalam nama saja mengatakan bahwa, semua tiket atau tiket manapun dapat membawa seseorang ke tujuan yang paling tinggi. Tawaran duniawi yang merubah arti yang sebenarnya seperti itu menarik hati banyak makhluk yang bodoh, dan mereka menjadi bangga dengan cara-cara keinsafan rohani buatan sendiri. Akan tetapi, ajaran Veda tidak membenarkan cara-cara tersebut. Kalau seseorang belum menerima pengetahuan dari seorang guru keroha­nian yang dapat dipercaya dari garis perguruan guru-guru kerohanian yang dibenarkan, dia tidak dapat memperoleh sesuatu yang sejati menurut aslinya. Dalam Bhagavad-gita Krsna memberitahukan kepada Arjuna :

evaḿ paramparā-prāptam

imaḿ rājarṣayo viduḥ

sa kāleneha mahatā

yogo naṣṭaḥ parantapa

 "Ilmu pengetahuan yang paling utama ini diterima dengan cara demikian melalui rangkaian garis perguruan guru-guru kerohanian, dan para raja yang suci mengerti ilmu pengetahuan itu dengan cara demikian. Tetapi sesudah beberapa waktu, garis perguruan terputus, dan karena itu rupanya ilmu pengetahuan itu menurut aslinya telah hilang” (Bg. 4.2)

Waktu Sri Krsna berada di bumi ini, prinsip-prinsip bhakti-yoga yang telah didefinisikan dalam Bhagavad-gita telah dirubah; karena itu, Krsna harus mendirikan kembali sistem garis perguruan guru-guru kerohanian memulai dengan Arjuna, kawan dan penyembah paling dekat dengan Tuhan. Krsna memberitahukan kepada Arjuna dengan jelas (Bg. 4,3) bahwa, oleh karena Arjuna adalah penyembah dari kawanNya, prinsip-prinsip Bhagavad-gita dapat dimengerti oleh Arjuna. Dengan kata yang lain, tidak ada orang yang dapat mengerti Bhagavad-gita kalau dia bukan penyembah dan kawan Tuhan. Ini juga berarti bahwa, hanya orang yang mengikuti jalan yang ditempuh Arjuna aapat mengerti Bhagavad-gita.

Saat ini ada banyak orang yang menafsirkan dan menterjemahkan percakapan rohani antara Krsna dan Ar­juna. Dalam tafsiran seperti itu ayat-ayat Bhagavad-gita dijelaskan dengan cara mereka sendiri tanpa percaya kepada Krsna maupun tempat tinggalNya yang kekal. Kalau demikian, bagaimana mungkin mereka dapat menjelaskan tentang Bhagavad-gita sebagaimana Bhagavad-gita itu dimengerti oleh Arjuna?

Dalam Bhagavad-gita dinyatakan dengan jelas (Bg. 7.20) bahwa, hanya orang yang kehilangan kecerdasannya menyembah para dewa. Akhirnya Krsna menasehatkan (Bg. 18.66) supaya seseorang meninggalkan segala cara dan jenis pemujaan yang lain dan menyerahkan diri dengan sepenuhnya kepada Krsna saja. Hanya orang yang segala dosanya telah ditebus dapat mempunyai keyakinan yang tidak pernah menyimpang terhadap Tuhan yang Mahaesa seperti itu. Orang yang lain akan terus terkatung-katung pada tingkatan material, dan dengan demikian akan disesatkan dari jalan yang benar dengan kesan yang palsu bahwa segala jalan menuju tujuan yang sama.

Dalam mantra ini kata sambhavat, yang berarti, dengan sembahyang kepada sebab yang paling utama, sangat bermakna. Sri Krsna adalah Kepribadian Tuhan yang Maha­esa Yang Pertama, dan segala sesuatu yang ada berasal dari Beliau. Dalam Bhagavad-gita (Bg. 10.8) Tuhan menjelaskan bahwa Beliau menciptakan semua orang, termasuk Brahma, Visnu dan Siva. Oleh karena tiga kepribadian utama yang berkuasa di dunia ini diciptakan oleh Tuhan, maka Tuhan adalah pencipta segala sesuatu yang ada di dunia ini dan di dunia rohani. Dalam Atharva Veda juga dinyatakan:

yo brahmanam vidadhati purvaih yo vai vedams ca gapayati sma krsnah

"Beliau yang sudah ada sebelum Brahma diciptakan, yang memberikan pengetahuan Veda yang, membebaskan Brahma dari kebodohan, ialah Sri Krsna."

atha puruso ha vai narayano

'kamayata prajah srjeya toy upakramya

'Kepribadian Yang Paling Utama ingin menciptakan para makhluk hidup, demikian Narayana menciptakan segala makhluk hidup.

narayanad brahma jayate narayanad prajapatih prajayate

narayanad indro jayate narayanad astau vasavo jayante

narayanad ekadasa rudra jayante narayanad dvadasadityah

"Dari Narayana Brahma dilahirkan. Narayana menciptakan para Prajapati. Narayana menciptakan Indra. Narayana menciptakan delapan Vasu. Narayana mencip­takan sebelas Rudra. Narayana menciptakan dua belas Aditya."

Oleh karena Narayana merupakan manifestasi yang berkuasa penuh dari Sri Krsna, Narayana dan Krsna adalah satu dan sama saja. Selanjutnya ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan Yang Mahaesa yang sama adalah putra Devaki (brahmanyo devaki-putrah). Masa Sri Krsna sebagai anak-anak bersama Devaki dan Vasudeva dan identitasnya sebagai Narayana juga telah diakui dan dibenarkan oleh Sripada Sankaracarya, walaupun Sanhkara tidak termasuk golongan Vaisnava atau golongan yang mengakui bentuk pribadi Tuhan. Dalam Atharva Veda juga dinyatakan:

eko vai narayana asin na brahma na isano napo nagni samau neme dyav-aprthivi na naksatrani na suryah sa ekaki na ramate tasya dhyanantah sthasya yatra chan-dogaih kriyamanastakadi-samjnaka stuti-stomah stomam ucyate.

Pada permulaan yang ada hanyalah Narayana. Pada waktu itu belum ada Brahma atau Siva, ataupun api, air, bintang-bintang, matahari dan bulan. Tuhan tidak tetap sendirian, tetapi menciptakan sesuai dengan kehendakNya." Dinyatakan dalam Kitab Moksa dharma:

prajapatim ca rudram copy aham eva srjami vai tau hi mam na vijanito mama maya-vimohitau

"Aku menciptakan para prajapati dan para Rudra. Mereka tidak mempunyai pengetahuan yang lengkap ten-tang DiriKu karena mereka ditutupi oleh tenagaKu yang mengkhayalkan." Juga dinyatakan dalam Varaha Purana:

narayanah paro devas tasmaj jatas caturmukhah

tasmad rudro 'bhavad devah sa ca sarvajnatam gatah.

''Narayana adalah Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Brahma yang berkepala empat berwujud dari Narayana. Begitu pula Rudra, yang kemudian mengetahui segala sesuatu, juga berwujud dari Narayana."

Demikian dalam segala Kitab Suci Veda dibenarkan bahwa Narayana, atau Krsna, adalah sebab dari segala sebab. Dalam Brahma-samhita juga dinyatakan bahwa Tuhan Yang Mahaesa adalah Sri Krsna, Govinda, yang menyenangkan hati setiap makhluk hidup dan bahwa Beliau adalah sebab utama dari segala sebab.

isvarah paramah krsnah

sac-cid-ananda vigrahah

anadir adir govindah

sarva-karana-karanam

"Krsna adalah Kepribadian Yang Paling Utama, dan badanNya bersifat kekal penuh pengetahuan, dan kebahagiaan. Beliau adalah Sri Govinda yang pertama dan Beliau adalah sebab dari segala sebab." (Brahma-samhita 5.1)

Orang yang benar-benar bijaksana mengetahui tentang hal tersebut dari bukti yang diberikan oleh para resi yang luhur dan bukti dari Veda. Demikian, orang yang bijaksana itu mengambil keputusan untuk bersembahyang kepada Sri Krsna sebagai segala sesuatu.

Seseorang disebut budha, atau orang yang benar-benar bijaksana, kalau dia hanya mengikat dirinya dalam sembahyang kepada Krsna. Keyakinan tersebut menjadi man-tap apabila seseorang mendengar dengan kepercayaan dan cinta kasih amanat rohani dari seorang acarya yang tidak tergoyahkan. Orang yang tidak percaya kepada Sri Krsna maupun mencintai Sri Krsna tidak dapat diyakini tentang kenyataan yang sederhana tersebut. Dalam Bhagavad-gita orang yang tidak beriman disebut dengan istilah mudha, yang berarti orang bodoh atau keledai (Bg. 9.11). Dinyatakan bahwa para mudha mengejek Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa karena mereka belum memiliki pengetahuan yang lengkap dari seorang acarya yang tidak tergoyahkan. Orang yang tergoyahkan karena tenaga alam yang diumpamakan sebagai pusaran air tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang acarya.

Sebelum Arjuna mendengar Bhagavad-gita, dia tergoyahkan karena keduniawian yang diumpamakan se­bagai pusaran air; yaitu, oleh rasa kasih sayang terhadap keluarga, kelompok dan masyarakatnya. Karena itu, Ar­juna ingin menjadi orang yang berperikemanusiaan yang tidak melakukan kekerasan di dunia ini. Akan tetapi, ketika Arjuna menjadi budha dengan mendengar pengetahuan Veda dalam Bhagavad-gita dari Kepribadian Yang Paling Utama, dia merubah keputusannya dan men­jadi seorang penyembah Sri Krsna. Sebenarnya Krsna Sendiri telah merencanakan perang di Kuruksetra. Arjuna menyembah Tuhan dengan cara bertempur terhadap mereka yang disebut sanak keluarganya. Dengan cara demikian dia menjadi seorang penyembah Tuhan yang murni. Mencapai sesuatu seperti itu hanyalah dimungkinkan apabila seseorang bersembahyang kepada Krsna yang sejati, bukanlah kepada seorang "Krsna" tiruan yang diciptakan oleh prang-orang bodoh yang tidak mengetahui tentang perincian ilmu pengetahuan mengenai Krsna yang diuraikan dalam Bhagavad-gita dan Srimad-Bhagavatam.

Menurut Vedanta-sutra, sambhuta adalah sumber kelahiran dan pemeliharaan, dan juga merupakan sumber yang .tetap ada setelah peleburan. Dalam Srimad-Bhagavatam, yang merupakan penjelasan yang wajar ten­tang Vedanta-sutra oleh pengarang yang sama, dinyatakan bahwa, sumber segala sesuatu tidaklah seperti batu yang mati, melainkan bersifat abhijna atau; sadar dengan sepenuhnya. Tuhan Yang Mahaabadi Sri Krsna juga menyatakan dalam Bhagavad-gita'(Bg. 7.26) bahwa", Beliau sadar dengan sepenuhnya akan masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang, bahwa tiada seorangpun, termasuk para dewa seperti misalnya Siva dan Brahma, yang mengenai DiriNya dengan sepenuhnya. Ten-tu saja mereka yang tergoyahkan karena pasang surutnya kehidupan duniawi tidak dapat mengenai Diri Krsna dengan sepenuhnya. Para guru kerohanian yang(masih setengah terdidik berusaha untuk melakukan kompromi dengan menjadikan keseluruhan manusia sebagai obyek pemujaan, tetapi mereka belum mengetahui bahwa pemujaan seperti itu tidak mungkin dilakukan, ataupun mengetahui bahwa rakyat pada umumnya kurang sempurna. Usaha mereka adalah seperti halnya menyiram air pada daun-daun sebatang pohon tetapi tidak menyiram air pada akarnya. Cara yang wajar ialah meyiram air kepada akar, tetapi para pemimpin dewasa ini yang merasa tergoyahkan lebih terikat dengan daun-daunnya. Meskipun mereka menyiram air pada daun-daun untuk selamanya, namun segala sesuatu menjadi kering karena kurang gizi.

Sri Isopanisad menasehatkan agar kita menyiram air kepada akar, yaitu sumber segala ciptaan. Pemujaan kepada keseluruhan manusia dengan melakukan pengabdian jasmani yang tidak pernah menjadi sempurna merupakan tindakan yang kurang penting dibandingkan dengan pengabdian kepada sang roh. Sang roh adalah akar yang menghasilkan bermacam-macam jenis badan menurut hukum karma, atau hukum reaksi yang bersifat material. Melayani manusia dengan bantuan pengobatan, bantuan sosial dan sarana pendidikan sambil memotong leher hewan-hewan yang tidak bersalah pada waktu yang sama di tempat penyembelihan tidak merupakan pengabdian yang sebenarnya kepada para makhluk hidup.

Makhluk hidup senantiasa menderita dalam bermacam-macam jenis badan karena kesengsaraan material yang berupa kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian. Kehidupan sebagai manusia memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengeluarkan diri dari ikatan tersebut hanya dengan mendirikan kembali hubungan yang telah hilang antara makhluk hidup dan Tuhan Yang Mahaesa. Tuhan Sendiri menjelma untuk mengajarkan filsafat tersebut; yaitu, penyerahan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa, yang disebut sambhuta. Pengabdian yang sebenarnya kepada sesama manusia dilakukan apabila seseorang mengajarkan cara menyerahkan diri dan bersembahyang kepada Tuhan Yang Mahaesa dengan cinta kasih dan tenaga yang sepenuhnya. Itulah ajaran Sri Isopanisad dalam mantra ini.

Cara yang sederhana untuk sembahyang kepada Tuhan yang Mahaesa pada zaman kekalutan ini ialah, cara mendengar dan memuji tentang kegiatan yang mulia yang dilakukan Tuhan. Akan tetapi, orang yang berangan-angan Pikiran menganggap bahwa kegiatan Tuhan merupakan bayangan saja; karena itu, mereka segan mendengar tentang kegiatan tersebut, dan mereka membuat suatu teka-teki kata-kata tanpa unsur kebenaran un­tuk mengalihkan perhatian orang-orang awam yang tidak bersalah.

Dalam Upanisad-Upanisad perhatian kita ditarik secara tidak langsung menuju Tuhan Yang Mahaesa Sri Krsna, tetapi Bhagavad-gita, yang merupakan ikhtisar segala Upanisad, menunjukkan Sri Krsna secara langsung. Kalau kita mendengar tentang Sri Krsna dengan sebenarnya dari Bhagavad-gita atau Srimad-Bhagavatam, Pikiran  kita berangsur-angsur disucikan dari segala hal yang kotor. Dalam Srimad-Bhagavatam dinyatakan: "Dengan mendengar tentang kegiatan Tuhan yang Mahaesa, seseorang menarik perhatian Tuhan terhadap penyembahNya. Dengan demikian Tuhan, yang bersemayam di-dalam hati setiap makhluk hidup, membantu penyembah itu dengan memberikan petunjuk yang benar kepadanya." Kenyataan ini juga dibenarkan dalam Bhagavad-gita(Bg. 10.10).

Petunjuk dari Tuhan di dalam hati menyucikan hati seorang penyembah dari segala hal yang kotor yang dihasilkan dari sifat-sifat rajas (nafsu) dan tamas (kebodohan). Orang yang bukan penyembah dikuasai oleh nafsu dan kebodohan. Orang yang berada dalam sifat naf­su (rajas) tidak dapat menjadi lepas dari keinginan yang bersifat material, dan orang yang berada dalam kebodohan (tamas) tidak dapat mengetahui siapa dirinya maupun siapa itu Tuhan. Karena itu, kalau seseorang berada dalam nafsu atau kebodohan, maka tidak mungkin dia mencapai keinsafan diri. Bagi seorang penyembah, sifat-sifat nafsu dan kebodohan dihilangkan atas berkah karunia dari Tuhan. Dengan cara demikian, seorang penyembah menjadi mantap dalam sifat kebaikan, yang merupakan tanda seorang brahmana yang sempurna. Setiap orang dapat memenuhi syarat sebagai seorang brahmana, asalkan dia mengikuti jalan kebaktian di bawah bimbingan seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya. Dalam Srimad-Bhagavatam (2.4.18) juga dinyatakan:

kirāta-hūṇāndhra-pulinda-pulkaśā

ābhīra-śumbhā yavanāḥ khasādayaḥ

ye 'nye ca pāpā yad-apāśrayāśrayāḥ

śudhyanti tasmai prabhaviṣṇave namaḥ

"Makhluk apapun yang dilahirkan dalam keadaan yang rendah dapat disucikan dengan bimbingan dari seorang penyembah Tuhan yang murni, sebab Tuhan memiliki kekuatan luar biasa."

Apabila seseorang mendapatkan sifat-sifat seorang brahmana, dia menjadi bahagia dan semangat untuk melakukan kebaktian kepada Tuhan. Ilmu pengetahuan tentang Tuhan diungkapkan kepadanya secara otomatis. Dengan mengetahui ilmu pengetahuan tentang Tuhan, berangsur-angsur seseorang dibebaskan dari ikatan duniawi, dan Pikiran nya yang ragu-ragu menjadi sebening kaca atas berkah karunia dari Tuhan. Apabila seseorang mencapai tingkatan tersebut, dia dapat menjadi roh yang dibebaskan dan melihat Tuhan pada setiap langkah dalam kehidupan. Inilah kesempurnaan dari sambhavat, se-bagaimana diuraikan dalam mantra ini.