hiranÌ£mayena pÄtrenÌ£a
satyasyÄpihitamÌ mukham
tat tvamÌ pÅ«sÌ£ann apÄvrÌ£nÌ£u
satya-dharmÄya drÌ£sÌ£tÌ£aye
hiranmayena — dengan cahaya yang berwarna emas; patrena — dengan penutup yang menyilaukan; satyasya-— dari Kebenaran Yang Paling Utama; apihitam — ditutupi; mukham — wajah; tat — penutup itu; tvam — Anda Sendiri; pusan — O Sang Pemelihara; apavrnu — mohon menghilangkan; satya — suci; dharmaya — kepada seorang penyembah; drstaye — untuk memperlihatkan.
Dalam Bhagavad-gita, Tuhan menjelaskan tentang cahaya pribadiNya (brahmajyoti), yaitu cahaya yang menyilaukan dari bentuk pribadiNya, sebagai berikut:
brahmaṇo hi pratiṣṭhāham
amṛtasyāvyayasya ca
śāśvatasya ca dharmasya
sukhasyaikāntikasya ca
"Aku adalah dasar Brahman yang tidak berbentuk pribadi, yang merupakan kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi, dan bersifat kekal, tidak termusnah-kan dan tidak pernah mati." (Bg. 14.27)
Brahman, Paramatma dan Bhagavan adalah tiga aspek dari Kebenaran Mutlak yang sama. Brahman adalah aspek yang paling mudah dimengerti oleh orang yang baru mulai belajar. Paramatma, Roh Yang Utama, diinsafi oleh mereka yang lebih maju, dan keinsafan Bhagavan merupaÂkan keinsafan yang tertinggi mengenai Kebenaran Yang Mutlak. Kenyataan ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita, dimana Tuhan menyatakan bahwa, Beliau adalah pengertian yang paling tinggi tentang Kebenaran Yang Paling Utama, sumber brahmajyoti, dan sumber Paramatma yang berada dimana-mana. Dalam Bhagavad-gita Krsna menyatakan bahwa Beliau adalah sumber utama brahmaÂjyoti, yaitu pengertian tentang Kebenaran Mutlak yang tidak mengakui bentuk pribadi Kebenaran Mutlak, dan bahwa tidak perlu dijelaskan tentang kekuatan Beliau yang tidak terhingga.
atha vā bahunaitena
kiḿ jñātena tavārjuna
viṣṭabhyāham idaḿ kṛtsnam
ekāḿśena sthito jagat
"O Arjuna, mengapa segala pengetahuan yang terperinci ini diperlukan? Dengan bagian percikan saja dari DiriKu Aku berada dimana-mana dan memperkokoh seluruh alam semesta ini." (Bg. 10.42)
Demikian dengan satu penjelmaan yang berkuasa penuh dari DiriNya, yakni Paramatma yang berada dimana-mana, Tuhan Yang Mahaesa memelihara seluruh ciptaan alam semesta material. Tuhan juga memelihara semua manifestasi, di dunia rohani; karena itu, dalam mantra sruti dari, Tuhan disebut pusan, yang berarti Pemelihara Yang Paling Utama.
Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, Sri Krsna, selalu berada dalam kebahagiaan rohani (anandamayo 'bhyasat). Waktu Krsna tinggal di Vrndavana di India 5.000 tahun yang lalu, Beliau selalu berada dalam kebahagiaan rohani, bahkan sejak permulaan kegiatan-Nya sebagai anak-anak. Pembunuhan terhadap beberapa jenis raksasa — seperti misalnya, Agha, Baka, Putana dan Pralamba — merupakan permainan untuk bersenang-senang saja bagi Krsna. Di desa Vrndavana, Krsna bersenang-senang bersama ibu, kakak dan kawan-kawanNya, dan ketika Beliau mengambil peranan sebagai pencuri mentega yang nakal, semua rekan-rekanNya menikmati kebahagiaan rohani dengan melihat Krsna mencuri mentega. Kemasyhuran Sri Krsna sebagai pencuri mentega sama sekali tidak dapat disalahkan, sebab dengan mencuri mentega Sri Krsna menyenangkan hati para penyembahNya yang murni. Segala sesuatu yang di-lakukan oleh Sri Krsna di Vrndavana dilakukan untuk meÂnyenangkan hati rekan-rekanNya disana. Tuhan menciptakan kegiatan tersebut untuk menarik hati para jnani dan orang-orang yang mempraktekkan cara hatha-yoga yang telah datang untuk mencari Kebenaran Yang Mutlak.
Mengenai permainan anak-anak antara Sri Krsna dengan kawan-kawanNya, yaitu para anak gembala sapi, Sukadeva Goswami bersabda dalam Srimad-Bhagavatam:
itthaḿ satāḿ brahma-sukhānubhūtyā
dāsyaḿ gatānāḿ para-daivatena
māyāśritānāḿ nara-dārakeṇa
sākaḿ vijahruḥ kṛta-puṇya-puñjāḥ
"Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, yang dipahami sebagai Brahman yang tidak berbentuk pribadi dan penuh kebahagiaan, yang disembah sebagai Tuhan Yang Mahaesa oleh para penyembah, dan dianggap sebagai manusia biasa oleh orang-orang duniawi, bermain-main bersama para anak gembala sapi, yang telah mencapai kedudukannya setelah melakukan banyak kegiatan yang saleh." (Bhag. 10.12.11)
Seperti itu Tuhan selalu sibuk dalam kegiatan cinta kasih rohani bersama rekan-rekan rohaniNya dalam bermacam-macam hubungan; yaitu, santa (hubungan netral), dasya (hubungan sebagai hamba), sakhya (hubungan sebagai kawan), vatsalya (kasih sayang ayah dan ibu), dan madhurya (cinta kasih).
Telah dikatakan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Vrndavana-dhama. Karena itu, mungkin dapat ditanyakan bagaimana cara Beliau mengurus kegiatan dalam ciptaan. Pertanyaan ini dijawab dalam Bhagavad-gita (Bg. 13.14): Tuhan berada dimana-mana di seluruh ciptaan alam dengan bagianNya yang berkuasa penuh yang disebut penjelmaan purusa. Walaupun Tuhan Sendiri tidak ada hubungan dengan penciptaan alam, maupun pemeliharaan dan peleburannya, namun Beliau menyebabkan segala hal tersebut dilakukan oleh penjelmaan-Nya yang berkuasa penuh, yaitu Paramatma atau Roh Yang Utama. Setiap makhluk hidup disebut atma, atau roh, dan atma Yang Paling Utama yang mengendalikan semuanya ialah Paramatma atau Roh Yang Utama.
Cara ini untuk menginsafi Tuhan merupakan ilmu pengetahuan yang tinggi sekali. Orang duniawi hanya dapat menganalisa dan berenung tentang dua puluh unsur ciptaan alam, sebab pengetahuan mereka sedikit sekali tentang purusa, Tuhan Yang Mahaesa. Para rohaniawan yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan hanya dibingungkan oleh cahaya yang menyilaukan dan brahma-jyoti. Kalau seseorang ingin melihat Kebenaran Yang Mutlak dengan sepenuhnya, maka dia harus menembus sampai ke luar dua puluh empat unsur alam dan juga ke luar cahaya yang menyilaukan. Sri Isopanisad menunjukkan arah tersebut, dengan berdoa agar hiranmaya-patra, atau penutup yang menyilaukan, dihilangkan. Kalau peÂnutup tersebut belum dihilangkan supaya seseorang dapat mengerti tentang Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa dengan sebenarnya, keinsafan yang sejati tentang Kebenaran Yang Mutlak tidak akan pernah tercapai.
Aspek Paramatma dari Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa merupakan salah satu di antara tiga penjelmaan yang berkuasa penuh, yang bersama-sama disebut visnu-tattva. Visnu-tattva di dalam alam semesta (salah satu di antara tiga Kepribadian Utama yang berkuasa — yaitu Brahma, Visnu dan Siva) disebut Ksirodakasayi Visnu. Beliau adalah Paramatma yang berada dimana-mana di-dalam setiap makhluk hidup yang individual. Garbhodakasayi Visnu adalah Roh Yang Utama bersama yang bersemayam di dalam hati setiap makhluk hidup. Di-samping kedua penjelmaan tersebut adapun Karano-dakasayi Visnu yang berbaring di lautan penyebab. Beliaulah yang menciptakan semua alam semesta. Dalam sistem yoga murid yang tulus hati diajarkan cara menemui para visnu-tattva setelah mengatasi dua puluh empat unsur alam dalam ciptaan alam semesta. Perkembangan filsafat yang berdasarkan percobaan membantu seseorang agar dia dapat menginsafi brahmajyoti yang tidak berbentuk pribadi, yang merupakan cahaya yang menyilaukan dari badan rohani Sri Krsna. Kenyataan ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita (Bg. 14.27) dan Brahma-samhita (5.40):
yasya prabhā-prabhavato jagad-aṇḍa-koṭi-
koṭiṣv aśeṣa-vasudhādi vibhūti-bhinnam
tad brahma niṣkalam anantam aśeṣa-bhūtaḿ
govindam ādi-puruṣaḿ tam ahaḿ bhajāmi
"Di dalam berjuta-juta alam semesta, ada planet-planet yang jumlahnya tidak dapat dihitung, dan setiap planet itu lain daripada yang lain dengan kedudukannya di alam semesta. Semua planet tersebut terletak di satu sudut dalarn brahmajyoti. Brahmajyoti tersebut tidak lain daripada cahaya pribadi dari Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa yang kusembah." (Bs. 5.40)
Mantra ini dari Brahma-samhita disabdakan dari tingkat keinsafan yang sejati tentang Kebenaran Yang Mutlak, dan mantra sruti dari Sri Isopanisad membenarkan mantra tersebut sebagai suatu cara keinÂsafan. Mantra ini merupakan doa pujian yang sederhana kepada Tuhan kiranya Beliau berkenan menghilangkan brahmajyoti supaya seseorang dapat melihat wajahNya yang sebenarnya.
Pengetahuan yang sempurna berarti mengetahui tentang Krsna sebagai sumber Brahman. Sumber Brahman ialah Sri Krsna, dan dalam Kitab-Kitab Suci, seperti misalnya Srimad-Bhagavatam, ilmu pengetahuan tentang f Krsna diuraikan dengan teliti secara sempurna. Dalam Srimad-Bhagavatam, pengarang Srimad-Bhagavatam, yaitu Srila Vyasadeva, telah membuktikan bahwa Kebenaran Yang Paling Utama diuraikan sebagai Brahman, Paramatma atau Bhagavan sesuai dengan keinsafan seseorang terhadap Beliau. Srila Vyasadeva tidak pernah menyatakan bahwa Kebenaran Yang paling Utama ialah seorang jiva, atau makhluk hidup biasa. Hendaknya makhluk hidup jangan dianggap sebagai Kebenaran Yang Paling Utama dan Mahakuasa. Andaikata makhluk hidup biasa adalah Kebenaran Yang Paling Utama dan Mahakuasa, maka itu berarti bahwa, makhluk hidup tidak perlu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menghilangkan penutupNya yang menyilaukan supaya makhluk hidup dapat melihat bentuk Tuhan yang sejati.
Kesimpulannya ialah bahwa, apabila manifestasi-manifestasi yang mempunyai kekuatan rohani dari Kebenaran Yang Paling Utama tidak ada, maka Brahman yang tidak berbentuk pribadi diinsafi. Begitu juga, apabila seseorang menginsafi kekuatan-kekuatan material dari Tuhan, dan hanya mempunyai sekedar keterangan atau tidak mempunyai keterangan sama sekali tentang kekuatan rohani, maka dia mencapai keinsafan pada Paramatma. Demikian, keinsafan akan Brahman dan Paramatma dari Kebenaran Yang Mutlak merupakan keÂinsafan sebagian saja. Akan tetapi, apabila seseorang menginsafi Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, yaitu Sri Krsna, dengan kekuatanNya yang sepenuhnya setelah hiranmaya-patra dihilangkan, maka dia menginsafi bahwa vasudevah sarvam iti: Sri Krsna, yang bernama Vasudeva, adalah segala sesuatu — Brahman, Paramatma dan Bhagavan. Sri Krsna adalah Bhagavan, yang diumpamakan sebagai akar, dan Brahman dan Paramatma merupakan cabang-cabangNya.
Dalam Bhagavad-gflaterdapat analisa perbandingan antara tiga jenis rohaniwan, yaitu para penyembah Brahman yang tidak berbentuk pribadi (para jnani) para penyembah aspek Paramatma (para yogi), dan para penyembah Sri Krsna (para bhakta). Dinyatakan dalam Bhagavad-gita (Bg. 6.46-47) bahwa, di antara segala jenis rohaniwan, seorang jnani, yaitu orang yang telah mengembangkan pengetahuan Veda, adalah rohaniwan yang paling utama, Namun para yogi lebih maju daripada para jnani dan jauh lebih maju daripada orang yang bekerja untuk hasil atau pahala. Di antara semua yogi, orang ya.ng senantiasa ber-bakti kepada Tuhan dengan segala tenaganya, dialah yang paling unggul. Sebagai ikhtisar, seorang ahli filsafat lebih maju daripada orang yang bekerja, dan seorang rohaniawan (orang yang mempraktekkan kebatinan) lebih maju daripada seorang ahli filsafat. Di antara semua orang yang melakukan yoga kebatinan, orang yang mengikuti bhakti-yoga, senantiasa sibuk dalam berbakti kepada Tuhan, dialah yang paling maju. Sri Isopanisad mengarahkan kita menuju kesempurnaan tersebut.