Kebingungan
Dalam Kitab Haḿsadūta, ada pernyataan sebagai berikut: “Pada suatu hari, Śrīmatī Rādhārāṇī merasakan derita yang amat berat karena rindu kepada Kṛṣṇa. Pada waktu itu, Rādhārāṇī pergi ke tepi Sungai Yamunā bersama beberapa kawan-Nya. Di sana Rādhārāṇī melihat sebuah pondok, tempat Dia bersama Kṛṣṇa mengalami begitu banyak kesenangan cinta kasih. Mengenang kisah-kisah itu, Rādhārāṇī segera tergugah rasa pusing. Rasa pusing tersebut sangat kentara.” Ini merupakan contoh kebi-ngungan disebabkan oleh rasa rindu.
Seperti itu pula, ada pernyataan yang menguraikan keadaan bingung yang disebabkan oleh rasa takut. Gejala-gejala tersebut diperlihatkan oleh Arjuna pada waktu ia melihat bentuk semesta Śrī Kṛṣṇa di Medan Perang Kurukṣetra. Arjuna sangat bingung hingga busur dan panahnya terlepas dari tangannya dan dia tidak mampu melihat apa-apa dengan jelas.
Kematian
Suatu ketika Rākṣasa Bakāsura menjelma sebagai bebek raksasa dan membuka paruhnya untuk menelan Kṛṣṇa serta semua anak-anak gembala sapi. Pada waktu Kṛṣṇa masuk ke dalam mulut rākṣasa itu, Balarāma dan semua anak gembala sapi lainnya hampir pingsan dan kelihatan seolah-olah mereka tidak ber-nyawa lagi. Meskipun penyembah terilusi oleh suatu peman-dangan yang mengerikan atau musibah, mereka tidak pernah lupa kepada Kṛṣṇa. Para penyembah mampu ingat kepada Kṛṣṇa bahkan di tengah-tengah bahaya yang paling besar sekalipun. Inilah manfaat kesadaran Kṛṣṇa: bahkan pada saat kematian, ketika semua fungsi badan kacau berantakan, seorang penyem-bah mampu ingat kepada Kṛṣṇa dalam kesadarannya yang paling dalam di hati kecilnya, dan ini menyelamatkan dirinya dari bahaya jatuh ke dalam kehidupan material. Dengan cara seperti itu, kesadaran Kṛṣṇa segera membawa seseorang dari tingkat material sampai dunia spiritual.
Berhubungan dengan hal ini, ada pernyataan tentang orang yang meninggal dunia di Mathurā: “Nafas orang-orang itu men-jadi sedikit lebih cepat, matanya membelalak, warna badannya berubah, dan mereka mulai mengucapkan nama suci Kṛṣṇa. Dalam keadaan seperti ini, mereka melepaskan badan-badan jasmaninya.” Gejala-gejala tersebut adalah keadaan-keadaan yang dialami menjelang ajal.
Sifat Malas
Bilamana, karena berpuas hati dalam diri sendiri atau karena tidak suka pekerjaan yang terlalu berat, seseorang tidak mela-kukan kewajibannya walaupun ia mempunyai tenaga, maka ia disebut malas. Sifat malas ini juga terwujud dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa. Misalnya, pada waktu Nanda Mahārāja meminta agar beberapa brāhmaṇa me-ngelilingi Bukit Govardhana, mereka memberitahu beliau bahwa mereka lebih tertarik untuk memberkati orang daripada mengelilingi Bukit Govardhana. Ini merupakan contoh sifat malas disebabkan oleh rasa puas hati dalam diri sendiri.
Suatu ketika Kṛṣṇa bersama kawan-kawan-Nya para anak-anak gembala sapi bermain perang-perangan. Pada waktu itu, Subala memperlihatkan gejala-gejala letih. Kṛṣṇa segera mem-beritahu kawan-kawan lainnya. “Subala merasa letih karena main perang-perangan bersama-Ku. Harap jangan mengganggu dia lagi dengan mengajak dia ikut main perang-perangan.” Ini merupakan contoh sifat malas disebabkan oleh seseorang tidak suka pekerjaan yang terlalu berat.
Tidak Bergerak
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Satu, sloka 13, ada contoh para gopī menghargai keadaan tidak bergerak yang dialami oleh sapi-sapi di Vṛndāvana. Para gopī melihat sapi-sapi itu sedang mendengar lagu-lagu merdu yang ditembangkan oleh seruling Kṛṣṇa sehingga kelihatannya mere-ka sedang meminum nektar suara-suara spiritual itu. Anak-anak sapi terpukau hingga lupa minum susu dari ambing susu induk-nya. Mata anak-anak sapi seolah sedang memeluk Kṛṣṇa, dan matanya penuh air mata. Ini merupakan contoh keadaan tidak bergerak akibat mendengar irama spiritual dari seruling Kṛṣṇa.
Pada waktu Lakṣmaṇā goyah setelah mendengar kata-kata yang menentang Kṛṣṇa, dia diam tidak bergerak, dan kelopak matanya pun tidak bergerak. Ini merupakan contoh lain kea-daan tidak bergerak yang disebabkan oleh mendengar.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tujuhpuluh Satu, sloka 39, ada cerita tentang bingungnya Mahārāja Yudhiṣṭhira setelah beliau membawa Kṛṣṇa ke rumahnya dengan sikap paling hormat. Mahārāja Yudhiṣṭhira sangat bingung akibat kebahagiaan rohaninya yang disebabkan karena Kṛṣṇa berada di rumahnya. Bahkan, Mahārāja Yudhiṣṭhira sampai lupa akan dirinya pada waktu beliau sedang menyambut kedatangan Kṛṣṇa. Ini contoh keadaan tidak bergerak akibat kebahagiaan rohani ketika melihat Kṛṣṇa.
Ada contoh lain lagi dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tigapuluh Sembilan, sloka 36. Pada waktu Kṛṣṇa akan pergi ke Mathurā, semua gopī berdiri di belakang Kṛṣṇa. Ketika mereka melihat kereta akan berangkat, mereka berdiri di sana dalam keadaan terpukau dan tidak bergerak. Para gopī tetap seperti itu sampai panji kereta serta debu yang bertebaran dari rodanya tidak kelihatan lagi.
Kṛṣṇa pernah disapa oleh kawan-Nya sebagai berikut: “Mukunda (Kṛṣṇa) yang baik hati, oleh karena para anak gem-bala sapi sudah berpisah dari-Mu, mereka berdiri bagaikan Arca-arca yang dialpakan di rumah orang yang berprofesi sebagai brāhmaṇa. Ada segolongan orang yang mencari nafkah sebagai brāhmaṇa. Mereka sembahyang kepada Arca sebagai sarana untuk mencari nafkah. Brāhmaṇa-brāhmaṇa dari golongan ini tidak begitu tertarik kepada Arca; mereka lebih tertarik pada uang yang bisa didapatkannya sebagai orang suci. Jadi, Arca-arca yang disembah oleh orang yang mengambil profesi sebagai brāhmaṇa tersebut tidak dirias sebagaimana mestinya, pakaian Arca tidak diganti dan badan Arca tidak dimandikan. Arca-arca tersebut kelihatan kotor dan tidak begitu menarik. Sebenarnya, sembahyang kepada Arca harus dilakukan dengan teliti sekali: pakaian Arca harus diganti setiap hari, dan sedapat mungkin harus ada perhiasan. Segala sesuatu harus bersih agar Arca menarik bagi semua tamu. Di sini dikemukakan tentang contoh Arca-arca yang ada di rumah orang yang mengambil profesi sebagai brāhmaṇa, sebab Arca-arca seperti itu tidak menarik sama sekali. Kawan-kawan Kṛṣṇa kelihatan seperti Arca-arca yang dialpakan seperti itu, pada waktu Kṛṣṇa tidak ada di sana.
Sifat Pemalu
Pada waktu Rādhārāṇī dikenalkan kepada Kṛṣṇa untuk pertama kalinya, Rādhārāṇī merasa malu sekali. Seorang kawan Rādhārāṇī menyapa kepada Rādhārāṇī sebagai berikut: “Kawanku yang baik hati, Engkau sudah menjual hati-Mu serta segala kecantikan-Mu kepada Kṛṣṇa. Sekarang seharusnya Engkau tidak malu. Ha-rap pandang Kṛṣṇa dengan riang. Orang yang sudah menjual seekor gajah seharusnya jangan bertengkar dengan pelit me-ngenai penjualan tongkat yang dipakai untuk mengendalikan gajah itu.” Sifat pemalu tersebut disebabkan oleh perkenalan baru dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental ber-sama Kṛṣṇa.
Indra, Raja Surga, menjadi malu sekali setelah kalah berperang melawan Kṛṣṇa untuk memiliki bunga pārijāta. Indra berdiri di hadapan Kṛṣṇa sambil menundukkan kepalanya. Kemudian Kṛṣṇa bersabda, “Baiklah, Indra, engkau boleh mengambil bunga pārijāta ini. Kalau tidak, engkau tidak akan bisa memper-lihatkan mukamu di hadapan istrimu, Śacīdevī.” Sifat malu yang diperlihatkan oleh Indra disebabkan oleh kekalahan. Dalam contoh lain, Kṛṣṇa mulai memuji Uddhava karena berbagai kualifikasi tinggi yang dimilikinya. Setelah Uddhava dipuji oleh Kṛṣṇa, ia juga menundukkan kepalanya karena malu.
Dalam Kitab Hari-vaḿa, Satyabhāmā merasa terhina oleh ke-dudukan Rukmiṇī yang tinggi, lalu berkata, “Kṛṣṇa sayang, Gunung Raivataka selalu penuh bunga pada musim semi tetapi kalau aku sudah menjadi orang yang tidak Engkau sukai, apa gunanya aku mengamati bunga-bunga itu?” Ini merupakan contoh sifat pemalu akibat kekalahan.
Sifat Menyembunyikan Sesuatu
Ada gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental yang disebut sifat menyembunyikan sesuatu, atau berusaha menyem-bunyikan keadaan jiwa kita yang sebenarnya dengan cara mem-perlihatkan sikap yang berbeda secara lahiriah. Kalau keadaan jiwa seseorang seperti ini, ia akan berusaha menyembunyikan pikirannya dengan membuang muka ke arah yang lain, dengan usaha yang bukan-bukan untuk sesuatu yang mustahil, atau dengan menggunakan kata-kata yang menyembunyikan pikiran yang sebenarnya. Menurut para ācārya yang ahli kejiwaan, usaha-usaha untuk menyembunyikan rasa sayang kita yang sebenarnya merupakan bagian lain dari perasaan kebahagiaan rohani kepada Kṛṣṇa.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tigapuluh dua, sloka 15, Śukadeva Gosvāmī berkata, “Baginda Mahārāja yang saya hormati, para gopī selalu tampil cantik dan terhias dengan senyuman akrab dan pakaian yang menarik. Dengan tingkah polahnya, yang bertujuan untuk membangkitkan hawa nafsu, kadang-kadang para gopī mengelus-eluskan tangan Kṛṣṇa pada pangkuannya, dan kadang-kadang menaruh kaki padma Kṛṣṇa pada payudaranya. Sesudah para gopī berbuat seperti itu, mereka berbicara dengan Kṛṣṇa seolah-olah mereka marah sekali kepada Dia.”
Ada contoh lain sifat menyembunyikan sesuatu dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental tersebut. Pada waktu Kṛṣṇa, ahli bercanda yang paling utama, menanam pohon pārijāta di halaman Satyabhāmā, Rukmiṇī, putri Raja Vidarbha, menjadi marah sekali, tetapi oleh karena tingkah lakunya sangat lemah lembut secara alami, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tidak seorang pun mampu memahami keadaan jiwa Rukmiṇī yang sebenarnya. Ini merupakan contoh menyem-bunyikan sesuatu dalam persaingan.
Ada contoh lain lagi dalam dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Satu, Bab Sebelas, sloka 32. Sesudah Kṛṣṇa memasuki kota Dvārakā, Dia disambut dengan berbagai cara oleh seluruh ang-gota keluarga-Nya. Ketika para permaisuri Dvārakā melihat suami mereka dari jauh, mereka segera memeluknya dalam pikiran sambil perlahan-lahan menatap Dia. Kṛṣṇa datang se-makin dekat, lalu para permaisuri mendorong putra-putra mereka untuk maju memeluk Kṛṣṇa. Oleh karena sifat pema-lunya, yang lain berusaha supaya tidak menangis, tetapi mereka tetap saja tidak mampu menahan air matanya agar tidak menitik ke bawah. Ini merupakan contoh menyembunyikan sesuatu karena sifat pemalu.
Pada peristiwa lain, ketika Rādhārāṇī berpikir bahwa Kṛṣṇa bergaul dengan wanita lain, Rādhārāṇī menyapa kepada kawan-Nya sebagai berikut: “Kawan-Ku yang baik hati, begitu Aku merenungkan si gembala sapi Kṛṣṇa akrab dengan wanita lain, Aku merasa takut, sehingga bulu roma-Ku merinding. Aku harus berhati-hati sekali jangan sampai Kṛṣṇa melihat-Ku pada saat-saat seperti itu.” Ini merupakan contoh menyembunyikan se-suatu disebabkan oleh rasa pemalu dan tingkah laku diplomatis.
Ada pernyataan sebagai berikut. “Walaupun Śrīmatī Rādhārāṇī mengembangkan rasa sayang kepada Kṛṣṇa yang sangat dalam, Dia berusaha menyembunyikan sikap-Nya dalam hati kecil-Nya agar orang lain tidak dapat mengetahui keadaan yang sebenar-nya.” Ini merupakan contoh menyembunyikan sesuatu dise-babkan oleh sifat lembut.
Pada suatu saat, ketika Kṛṣṇa dan kawan-kawan-Nya, para gembala sapi sedang bercakap-cakap dengan penuh persaha-batan, Kṛṣṇa mulai menyapa kepada rekan-rekan-Nya dengan bahasa yang akrab. Pada waktu itu, pembantu Kṛṣṇa bernama Patrī juga menikmati percakapan tersebut. Kemudian Patrī ingat kedudukannya sebagai pelayan, lalu menundukkan kepalanya di hadapan tuannya, dan menutupi senyumnya dengan sikap hormat yang besar serta pengendalian diri. Menutupi senyum seperti itu merupakan contoh menyembunyikan sesuatu dise-babkan oleh sikap hormat.
Ingatan
Ada banyak contoh gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental disebabkan oleh ingat kepada Kṛṣṇa. Misalnya, seorang kawan Kṛṣṇa memberitahu Dia, “Mukunda yang baik hati, tepat sesudah menikmati awan berwarna kebiru-biruan di langit, Rādhārāṇī yang mata-Nya seperti bunga padma segera mulai ingat kepada-Mu. Hanya dari melihat awan itu, Rādhārāṇī mulai bergairah akan pergaulan-Mu.” Ini merupakan contoh ingat kepada Kṛṣṇa dalam cinta kasih rohani kebahagiaan tran-sendental karena melihat sesuatu yang menyerupai Kṛṣṇa. Warna badan Kṛṣṇa sangat mirip dengan warna awan yang kebiru-biruan, sehingga Śrīmatī Rādhārāṇī ingat Kṛṣṇa hanya dengan melihat awan berwarna kebiru-biruan.
Seorang penyembah mengatakan bahwa bahkan pada waktu ia tidak begitu penuh perhatian, kadang-kadang, seakan-akan karena sifat gila, ia ingat kaki-padma Kṛṣṇa di dalam hatinya. Ini merupakan contoh ingatan sebagai hasil latihan terus mene-rus. Dengan kata lain, penyembah-penyembah yang senantiasa memikirkan kaki-padma Kṛṣṇa bahkan kalau mereka kurang perhatian selama beberapa saat, akan melihat bentuk Śrī Kṛṣṇa muncul di dalam hatinya.
Sifat Suka Berdebat
Madhumańgala adalah sahabat karib Kṛṣṇa dari golongan brāh-maṇa. Kawan-kawan Kṛṣṇa kebanyakan anak-anak gembala sapi dari masyarakat vaiya, tetapi ada juga kawan-kawan lain yang menjadi anggota masyarakat brāhmaṇa. Di Vṛndāvana, sebe-narnya masyarakat vaiya dan brāhmaṇa dianggap terkemuka. Pada suatu hari Madhumańgala menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Kawanku yang hati, aku dapat melihat Engkau tidak menyadari bulu-bulu burung merak berjatuhan di tanah. Pada waktu yang sama Engkau tidak memperhatikan berbagai ka-lungan bunga yang dipersembahkan kepada-Mu, aku kira aku bisa menebak apa yang menyebabkan Engkau linglung ketika aku melihat dua belah mata-Mu terbang menuju mata Śrīmatī Rādhārāṇī, bagaikan dua ekor kumbang hitam terbang menuju bunga-bunga padma.” Ini merupakan contoh usul bersifat suka berdebat dalam cinta kasih rohani kebahagian transendental.
Suatu saat, Kṛṣṇa pernah keluar untuk berjalan-jalan, lalu seorang rekan Rādhārāṇī memberitahu Rādhārāṇī, “Kawanku yang tersayang, apakah Engkau pikir sosok yang sedang berjalan ini adalah pohon tamāla? Kalau Dia pohon tamāla, maka bagai-mana mungkin Dia dapat berjalan dan begitu tampan? Jadi, mungkin sosok ini adalah sebuah awan. Tetapi kalau Dia awan, maka di mana bulan indah yang ada di dalamnya? Karena keadaannya demikian, aku bisa menduga sosok ini tidak lain dari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa yang sama, yang irama seruling-Nya memikat hati ketiga dunia. Pasti Dia adalah Mukunda yang sama yang berdiri di hadapan Bukit Govardhana.” Ini merupakan contoh lain penyampaian cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental yang bersifat suka berdebat.
Rasa Cemas
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Sembilan, sloka 29, pada waktu Kṛṣṇa meminta agar semua gopī pulang ke rumahnya, mereka tidak menanggapi permintaan itu. Para gopī sedih sekali mendengar permintaan tersebut, sehingga mereka mendesah dengan berat sekali, dan wajah-wajah mereka yang cantik kelihatannya menjadi kering. Dalam keadaan seperti itu mereka tetap membisu, tanpa bersuara sama sekali. Mereka mulai membuat garis-garis di tanah dengan jari kakinya, dan air matanya melarutkan maskara hitam dari matanya hingga mene-tes ke payudaranya, yang telah diolesi bedak kuḿkum. Ini meru-pakan contoh rasa cemas dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Seorang kawan Kṛṣṇa pernah memberitahu Dia, “Pembunuh. Rākṣasa Mura yang tersayang, ibu-Mu yang murah hati dan lemah lembut sangat cemas karena Engkau belum pulang ke rumah, dan dengan penuh kesulitan beliau meliwati malam hari dengan terus menunggu di teras rumah-Mu. Tentunya meng-herankan bagaimana Engkau bisa melupakan ibu-Mu sementara Engkau pergi ke suatu tempat dan asyik bermain-main!” Ini me-rupakan contoh lain rasa cemas yang sangat dalam dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Pada waktu Ibu Yaodā sangat cemas menantikan kedatangan Kṛṣṇa dari Mathurā, Mahārāja Nanda mencoba menghiburnya sebagai berikut: “Yaodā sayang, janganlah khawatir. Hapuslah air mata di wajahmu yang secantik bunga padma. Engkau tidak perlu bernafas sepanas itu. Aku akan segera pergi ke istana Kaḿsa bersama Akrūra dan membawa putramu pulang untuk-mu.” Ini merupakan contoh rasa cemas dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental disebabkan oleh kedudukan Kṛṣṇa yang canggung.
Sifat Banyak Berpikir
Dalam Kitab Padma Purāṇa, bagian Vaiākha-māhātrnya, seorang penyembah menyatakan bahwa walaupun dalam beberapa bagian dari kedelapanbelas Purāṇa proses memuji keagungan Śrī Viṣṇu tidak disebutkan dan pemujian terhadap beberapa dewa-dewa dianjurkan, akan tetapi pemujian seperti itu harus berlanjut selama berjuta-juta tahun. Kalau seseorang memelajari Purāṇa-Purāṇa dengan teliti sekali, ia dapat melihat bahwa pada hakikatnya Śrī Viṣṇu adalah Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Ini merupakan contoh cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental yang berkembang dari sifat banyak berpikir.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Enampuluh, sloka 39, ada cerita tentang Rukmiṇīdevī menulis surat kepada Kṛṣṇa untuk memohon agar Kṛṣṇa menculik dirinya sebelum pernikahannya berlangsung dengan orang lain. Pada waktu itu, Rukmiṇī mengutarakan ikatan khusus kepada Kṛṣṇa yang ada di dalam hatinya sebagai berikut: “Śrī Kṛṣṇa yang aku cintai, keagungan spiritual-Mu dipuji oleh resi-resi mulia yang bebas dari pencemaran material. Sebagai balasan pemujian tersebut, Engkau begitu murah hati sehingga Engkau membagikan Diri-Mu secara cuma-cuma kepada penyembah-penyembah seperti itu. Seseorang bisa mengangkat dirinya hanya atas karunia-Mu. Seperti itu pula, atas perintah-Mu seseorang juga bisa kehila-ngan segala berkat, di bawah perintah waktu yang kekal. Karena itu, aku sudah memilih Baginda sebagai suamiku, dengan me-ngesampingkan tokoh-tokoh seperti Brahmā dan Indra—apalagi orang lain.” Rukmiṇī menambah rasa cintanya kepada Kṛṣṇa hanya dengan berpikir tentang Kṛṣṇa. Ini merupakan contoh sifat banyak berpikir dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Daya Tahan
Apabila seseorang puas sepenuhnya dari hasil pengetahuan yang diperolehnya, sebagai hasil melampaui segala dukacita atau karena mencapai tujuan hidup yang diinginkannya dalam bhakti yang transendental kepada Tuhan, maka keadaan ber-tahan atau kemantapan pikirannya disebut dhṛti. Pada tahap ini, seseorang tidak goyah oleh kerugian berapa pun jumlahnya, dan tiada sesuatu yang kelihatannya belum dicapainya.
Menurut pendapat Bhartṛhari, seorang sarjana yang terpelajar, apabila seseorang diangkat sampai keadaan bertahan tersebut, ia berpikir sebagai berikut: “Aku tidak ingin memangku jabatan yang tinggi sekali. Aku bahkan lebih suka tanpa busana yang bagus. Aku lebih suka tidur di tanah tanpa kasur. Walaupun ada segala keadaan yang mempersulit seperti itu, Aku tidak mau bekerja untuk orang biasa.” Dengan kata lain, apabila seseorang sudah berada dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, ia mampu menahan jenis kesulitan manapun menurut paham hidup material.
Nanda Mahārāja, ayah Kṛṣṇa, selalu berpikir, “Dewi Lakṣmī sendiri hadir di padang rumputku, dan aku memiliki lebih dari satu juta ekor sapi, yang mengembara ke sana ke mari. Terutama sekali, aku mempunyai putra seperti Kṛṣṇa, yang bekerja dengan begitu perkasa dan ajaib. Karena itu, walaupun aku be-rumah tangga, aku merasa begitu puas!” Ini merupakan contoh daya tahan mental sebagai hasil kebebasan dari segala jenis dukacita.
Pada contoh lain, seorang penyembah berkata, “Aku selalu berenang dalam lautan manisnya kegiatan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, dan karena itu, aku tidak tertarik lagi pada ritual-ritual keagamaan, perkembangan ekonomi, kepua-san indera maupun pembebasan tertinggi berupa manunggal ke dalam keberadaan Brahman.” Ini merupakan contoh daya tahan pikiran sebagai hasil tercapainya hal terbaik dalam seluruh dunia. Hal yang terbaik di seluruh dunia ialah menjadi khusuk dalam kesadaran Kṛṣṇa.
Kebahagiaan
Diuraikan dalam Viṣṇu Purāṇa bahwa pada waktu Akrūra datang untuk mengantar Kṛṣṇa dan Balarāma ke Mathurā, dia menjadi riang hanya dengan melihat wajah-wajah Mereka sehingga gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental ter-pancar pada seluruh badannya. Keadaan ini disebut keba-hagiaan.
Dinyatakan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepluh, Bab Tigapuluh Tiga, sloka 11, “Ketika seorang gopī yang sedang ikut tarian rāsa melihat bahwa lengan Kṛṣṇa telah tersandar pada bahunya, dia menjadi begitu bahagia dalam kebahagiaan rohani sehingga ia mencium pipi Kṛṣṇa.” Ini merupakan contoh mera-sakan kebahagiaan karena mencapai cita-cita yang diidamkan.
Semangat
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tujuhpuluh Satu, sloka 11, dinyatakan, “Pada waktu Kṛṣṇa datang dari ke-rajaan-Nya, Dvārakā, ke Indraprastha* untuk pertama kalinya, para wanita muda dikota itu begitu bersemangat untuk melihat Kṛṣṇa sehingga bahkan malam hari, pada waktu mereka sedang tidur bersama suaminya sekalipun, mereka tidak mampu mena-han semangatnya. Walaupun mereka belum berbusana lengkap, rambutnya masih terurai dan banyak tugas rumah tangga yang harus diselesaikan, mereka tetap tidak menghiraukan semuanya itu dan segera pergi ke jalan untuk melihat Kṛṣṇa.” Ini merupakan contoh semangat dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental.
Dalam karya sastranya yang berjudul Stavāvalī, Śrī Raghunātha dāsa Gosvāmī berdoa untuk memohon karunia Rādhārāṇī, yang begitu terpikat oleh irama seruling Kṛṣṇa sehingga Dia segera meminta keterangan kepada para penduduk di hutan Vṛndāvana tentang di mana Kṛṣṇa berada pada waktu itu. Ketika Rādhārāṇī melihat Kṛṣṇa pertama kalinya, hati Rādhārāṇī penuh dengan cinta kasih rohani kebahagiaan transendental sehingga Dia se-gera menggaruk telinga-Nya. Para gadis Vraja dan Rādhārāṇī sangat ahli berbicara secara lihai, jadi begitu mereka melihat Kṛṣṇa mereka memulai perbincangannya. Kemudian Kṛṣṇa pura-pura ingin mengambil bunga untuk mereka dan segera meninggalkan tempat itu lalu memasuki goa di gunung. Ini merupakan contoh pertukaran cinta antara para gopī dan Kṛṣṇa.
Kekerasan
Pada waktu Kṛṣṇa sedang bertempur melawan naga Kāliya dengan menari di atas kepala-kepalanya, Kāliya menggigit kaki Kṛṣṇa. Pada waktu itu, Garua menjadi marah dan mulai berkata dengan geram, “Kṛṣṇa begitu perkasa sehingga para istri Kāliya keguguran hanya dengan mendengar suara Kṛṣṇa yang bagaikan guntur. Tuanku sudah dihina oleh naga ini, sehingga aku ingin makan dia saat ini juga, tetapi aku tidak bisa berbuat begitu di hadapan Tuanku, sebab mungkin Dia bisa marah kepadaku.” Ini merupakan contoh semangat bertindak dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental sebagai akibat penghinaan terhadap Kṛṣṇa.
Pada waktu Śiupāla mengatakan berkeberatan untuk memuja Kṛṣṇa di arena kurban suci Rājasūya yang diselenggarkan oleh Mahārāja Yudhiṣṭhira, Sahadeva, adik Arjuna, berkata, “Orang yang tidak bisa menghargai pemujaan kepada Kṛṣṇa adalah musuhku dan dia mempunyai watak yang jahat. Karena itu, aku ingin menendang kepalanya yang besar dengan kaki kiriku, hanya untuk menghukumnya dengan lebih keras dibandingkan dengan hukuman tongkat Yamarāja!” Kemudian Baladeva mulai menyesal sebagai berikut: “Aduh, segala kesejahteraan untuk Śrī Kṛṣṇa! Aku heran sekali melihat orang yang terkutuk dari keturunan dinasti Kuru, yang mencaplok takhta kerajaan Kuru dengan cara yang sangat melanggar hukum, yang kini mengkritik Kṛṣṇa dengan berbagai kelicikan. Aduh, ini tidak bisa dibiarkan!” Ini merupakan contoh lain lagi semangat disebabkan oleh peng-hinaan terhadap Kṛṣṇa.
Sifat Sombong, yang Mengakibatkan Kata-kata yang Kurang Hormat
Dalam Kitab Vidagdha-mādhava, Jaṭilā, ibu mertua Rādhārāṇī, mulai mengkritik Kṛṣṇa sebagai berikut: “Kṛṣṇa, Engkau berdiri di sini, dan Rādhārāṇī, yang baru saja menikah dengan putraku, juga berdiri di sini. Nah, ibu sudah mengenal Kalian dengan baik sekali, jadi, mengapa ibu tidak harus cemas untuk melin-dungi putri menantuku dari mata-Mu yang menari?” Ini meru-pakan contoh kata-kata yang kurang hormat digunakan untuk mengkritik Kṛṣṇa secara tidak langsung.
Begitu pula, beberapa gopī pernah menyapa kepada Kṛṣṇa dengan kata-kata kurang hormat sebagai berikut: “Kṛṣṇa sayang-ku, Engkau maling kelas-satu. Jadi, segera tinggalkan tempat ini. Kami tahu Engkau lebih mencintai Candrāvalī daripada kami, tetapi tidak ada gunanya Engkau memuji dia di hadapan kami! Harap jangan mencemari nama Rādhārāṇī di tempat ini!” Ini adalah contoh lain tentang kata-kata kurang hormat yang dilon-tarkan kepada Kṛṣṇa dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Ada pernyataan lagi dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Se-puluh, Bab Tigapuluh Satu, sloka 16. Pada waktu semua gopī keluar dari rumahnya untuk menemui Kṛṣṇa di hutan Vṛndāvana, Kṛṣṇa menolak menerima mereka dan meminta agar mereka pulang ke rumah, dan sekalian memberikan beberapa pelajaran moral kepada mereka. Pada waktu itu, para gopī berkata sebagai berikut: “Kṛṣṇa tercinta, tidak berada di hadapan-Mu membuat dukacita yang amat besar, dan berada di hadapan-Mu berarti kebahagiaan yang tinggi sekali. Karena itulah, kami semua sudah meninggalkan suami, sanak keluarga, saudara dan kawan-kawan kami dan hanya datang kepada-Mu, karena kami terpikat oleh irama seruling spiritual-Mu. Wahai Yang tidak pernah gagal, lebih baik Engkau mengetahui apa sebabnya kami datang ke-mari. Terus terang, kami di sini semata-mata karena hati kami terpikat oleh irama seruling-Mu yang merdu. Kami semua wanita-wanita cantik, sedangkan Engkau begitu bodoh sehingga Engkau menolak pergaulan kami. Kami tidak mengenal siapa pun selain Engkau yang mau kehilangan peluang ini untuk bergaul dengan wanita-wanita muda di tengah malam!” Ini contoh lain lagi penghinaan tidak langsung yang digunakan terhadap Kṛṣṇa da-lam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Rasa Iri
Dalam Kitab Padyāvalī, dikatakan bahwa seorang kawan Rādhārāṇī pernah menyapa kepada Rādhārāṇī sebagai berikut: “Hai kawanku yang manis, jangan terlalu sombong karena Kṛṣṇa sudah merias dahi-Mu dengan tangan-Nya Sendiri. Mungkin saja Kṛṣṇa masih tertarik oleh gadis cantik lain lagi. Aku melihat perhiasan pada dahi-Mu dibuat dengan indah sekali, sehingga kelihatannya Dia tidak goyah pada waktu melukisnya. Kalau tidak demikian, Dia tidak akan mampu melukis garis-garis yang begitu tepat!” Ini merupakan contoh rasa iri disebabkan oleh nasib Rādhā yang baik.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tigapuluh, sloka 30, ada pernyataan sebagai berikut: “Pada waktu para gopī sedang mencari Rādhā dan Kṛṣṇa seusai tarian rāsa, mereka mulai berbicara satu sama lain sebagai berikut: “Kami sudah melihat jejak telapak kaki Kṛṣṇa dan Rādhā di tanah Vṛndāvana. Jejak telapak kaki itu sangat melukai hati kami, sebab walaupun Kṛṣṇa segala-galanya bagi kami, namun wanita itu sangat lihai hingga membawa Dia pergi berduaan dan menikmati ciuman-Nya tanpa membagikan-Nya kepada kami!” Ini merupakan con-toh lain rasa iri terhadap nasib baik Śrīmatī Rādhārāṇī.
Sifat Tidak Tahu Malu
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Limapuluh Dua, sloka 41, Rukmiṇī menulis sepucuk surat kepada Kṛṣṇa yang isinya sebagai berikut: “Kṛṣṇa sayang yang tidak pernah ditaklukkan, hari pernikahanku sudah ditetapkan besok. Aku mohon kiranya Engkau datang ke kota Vidarbha tanpa memak-lumkan Diri. Kemudian aturlah sedemikian rupa supaya pasukan dan para panglima-Mu tiba-tiba mengepung dan me-ngalahkan seluruh kekuatan Raja Magadha, dan dengan meng-gunakan cara-cara yang biasanya dipakai oleh orang jahat, harap melarikan Aku dan menikahi Aku.”
Menurut sistem Veda, ada delapan jenis pernikahan. Salah satu di antara jenis-jenis pernikahan itu disebut rākṣasa-vivāha. Rākṣasa-vivaha berarti melarikan seorang gadis dan meni-kahinya secara paksa. Cara tersebut dianggap cara yang jahat. Pada waktu Rukmiṇī akan dijodohkan dengan Śiupāla atas pilihan kakaknya, Rukmiṇī menulis surat di atas kepada Kṛṣṇa dengan memohon agar Kṛṣṇa menculik dirinya. Ini merupakan contoh sifat tidak tahu malu dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa.
Seorang gopī berkata, “Semoga seruling Kṛṣṇa yang manis dihanyutkan oleh ombak-ombak sungai Yamunā sampai jatuh ke dalam lautan! Suara manis dari seruling itu sangat tidak tahu malu sehingga membuat kami kehilangan segala ketenangan di hadapan para atasan kami.”
Sifat Pusing
Saat senjakala di sore hari, Kṛṣṇa biasa pulang dari padang rumput tempat Dia menggembalakan sapi-sapi. Kadang-kadang pada waktu Ibu Yaodā tidak bisa lagi mendengar irama merdu seruling Kṛṣṇa, ia menjadi cemas hingga merasa pusing. Jadi rasa pusing yang disebabkan oleh rasa cemas dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa mungkin saja terjadi.
Suatu ketika Yaodā mengikat Kṛṣṇa, lalu beliau mulai berpikir, “Badan Kṛṣṇa begitu lembut dan halus. Bagaimana aku sampai mengikatnya dengan tali?” Pada waktu Yaodā sedang berpikir seperti itu, otaknya bingung, dan dia merasa pusing.
Para gopī dinasihati oleh atasannya agar menyangga pintu malam hari, tetapi mereka begitu bebas dari rasa cemas sehingga mereka tidak melaksanakan perintah ini dengan tegas sekali. Kadang-kadang mereka yakin bahwa mereka akan luput dari segala bahaya dengan cara berpikir tentang Kṛṣṇa sehingga mereka berbaring di halaman rumahnya pada malam hari. Ini merupakan contoh pusing dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental akibat rasa sayang alamiah kepada Kṛṣṇa.
Mungkin ada yang bertanya mengapa penyembah-pe-nyembah Kṛṣṇa terserang rasa pusing, yang umumnya dianggap tanda sifat kebodohan. Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, Śrī Jiva Gosvāmī mengatakan bahwa penyembah-penyembah Śrī Kṛṣṇa selalu rohani dan melampaui segala sifat alam material; apabila mereka merasa pusing atau tidur, mereka tidak dianggap tidur di bawah sifat-sifat alam, melainkan mereka diakui sedang berada dalam keadaan trance dalam pelayanan bhakti. Ada per-nyataan otoritatif dalam Kitab Garua Purāṇa mengenai para yogī ahli mistik yang langsung berada di bawah perlindungan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa: “Pada tiga tahap kesadarannya—yakni terjaga, mimpi dan tidur nyenyak—para penyembah khusuk berpikir tentang Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, dalam keadaan khusuk sepenuhnya ber-pikir tentang Kṛṣṇa, mereka tidaklah tidur.”
Mengantuk
Śrī Baladeva mulai mengigau sebagai berikut: “Oh Kṛṣṇa yang bermata seperti bunga padma; petualangan-Mu sebagai anak-anak terwujud hanya menurut kehendak-Mu Sendiri. Karena itu, harap segera menghilangkan rasa bangga dan keras kepala pada naga Kāliya ini.” Dengan berkata demikian, Śrī Baladeva mem-buat sidang para Yadu heran dan tertawa selama beberapa saat. Kemudian, Śrī Baladeva, pembawa alat bajak, menguap begitu keras sampai perut-Nya bagian bawah mengkerut, dan kembali tidur nyenyak. Ini merupakan contoh mengantuk dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Kewaspadaan
Seorang penyembah pernah berkata, “Aku sudah menaklukkan sifat kebodohan, dan kini aku berada pada tahap pengetahuan transendental. Karena itu aku akan tekun hanya dalam usaha mencari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Ini meru-pakan contoh kewaspadaan dalam cinta kasih rohani keba-hagiaan transendental. Kewaspadaan spiritual hanya dimung-kinkan apabila keadaan ilusi sudah diatasi sepenuhnya. Pada tahap itu, apabila seorang penyembah berhubungan dengan reaksi apa pun dari unsur-unsur alam, misalnya suara, bau, rabaan maupun rasa, ia menginsafi kehadiran transendental Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Dalam keadaan tersebut, gejala kebahagiaan rohani (misalnya, bulu roma merinding, bola mata berputar-putar dan terjaga dari keadaan tidur) kelihatan terus-menerus.
Pada waktu Śrīmatī Rādhārāṇī melihat Kṛṣṇa untuk pertama kalinya, tiba-tiba Rādhārāṇī menyadari segala kebahagiaan rohani; dan fungsi-fungsi berbagai anggota badan-Nya kejang. Pada waktu Lalitā, yang senantiasa menemani Rādhārāṇī, mem-bisikkan nama suci Kṛṣṇa ke telinga-Nya, Rādhārāṇī segera membuka matanya lebar-lebar. Ini merupakan contoh kewas-padaan disebabkan oleh mendengar suara nama Kṛṣṇa.
Pada suatu hari, dengan maksud untuk bergurau, Kṛṣṇa mem-beritahu Rādhārāṇī, “Rādhārāṇī tersayang, Aku akan mening-galkan pergaulan-Mu.” Setelah mengatakan demikian, Kṛṣṇa segera menghilang. Karena itu, Rādhārāṇī menjadi terharu hingga warna badan-Nya berubah, dan Dia segera jatuh pingsan di tanah Vṛndāvana. Nafas Rādhārāṇī hampir berhenti, tetapi ketika Dia mencium aroma bunga di tanah, Dia segera sadar dalam keba-hagiaan rohani lalu bangun. Ini merupakan contoh kewaspadaan disebabkan oleh mencium aroma.
Pada waktu Kṛṣṇa sedang menyentuh badan seorang gopī, gopī itu berkata kepada kawannya sebagai berikut: “Kawanku yang baik hati, tangan siapa yang sedang menyentuh badanku? Tadinya aku takut sekali setelah melihat hutan gelap di tepi sungai Yamunā. Tetapi tiba-tiba sentuhan tangan ini menye-lamatkan diriku dari gejala kumat histeris.” Ini merupakan contoh kewaspadaan disebabkan oleh sentuhan.
Seorang gopī memberitahu Kṛṣṇa, “Kṛṣṇa yang baik hati, pada waktu Engkau menghilang dari arena tarian rāsa, kawan yang paling kami sayangi, Rādhārāṇī, segera jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Tetapi sesudah ini, ketika aku menyuapi Dia dengan beberapa sisa sirih yang sudah Engkau kunyah, Dia segera sadar kembali dengan gejala-gejala riang pada badan-Nya.” Ini merupakan contoh kewaspadaan disebabkan oleh mencicipi rasa.
Pada suatu malam, Śrīmatī Rādhārāṇī sedang mengigau dalam mimpi. “Kṛṣṇa sayang,” kata-Nya, “harap jangan bercanda lagi terhadap Diri-Ku! Berhentilah! Dan harap jangan pula me-nyentuh pakaian-Ku. Kalau tidak, Aku akan memberitahu orang yang sudah tua, dan Aku akan mengatakan segala tingkah laku-Mu yang nakal.” Ketika Rādhārāṇī mengigau dalam mimpi seperti ini, tiba-tiba Dia bangun dan melihat beberapa atasan-Nya sedang berdiri di hadapan-Nya jadi, Rādhārāṇī merasa malu dan menundukkan kepada-Nya. Ini merupakan contoh kewas-padaan sehabis bangun tidur.
Ada contoh kewaspadaan lain lagi. Seorang utusan Kṛṣṇa datang kepada Śrīmatī Rādhārāṇī pada waktu Rādhārāṇī sedang tidur, lalu Rādhārāṇī segera bangun. Begitu pula, saat Kṛṣṇa mulai meniup seruling-Nya pada malam hari, semua gopī, gadis-gadis cantik para gembala sapi, segera bangun dari tidurnya. Ada perumpamaan yang indah sekali berhubungan dengan hal ini: “Bunga padma kadangkala dikerumuni oleh burung-burung angsa yang putih, dan kadang-kadang dikerumuni oleh kum-bang-kumbang hitam yang mengumpulkan madunya. Apabila guntur berbunyi di langit, burung angsa pergi, tetapi kumbang-kumbang hitam tetap tinggal di sana untuk menikmati bunga-bunga padma itu.” Keadaan tidur para gopī diumpamakan se-bagai burung-burung angsa yang putih, sedangkan irama seruling Kṛṣṇa diibaratkan sebagai kumbang hitam. Pada waktu seruling Kṛṣṇa berbunyi, burung-burung angsa putih, yang melambangkan keadaan tidur para gopī, segera takluk, lalu irama seruling yang diumpamakan sebagai kumbang hitam mulai menikmati kecantikan bunga padma para gopī.”