Ketigapuluh tiga gejala cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental tersebut sebelumnya disebut vyabhicārī, atau menggoyahkan. Segala gejala tersebut menunjukkan keadaan-keadaan yang kelihatannya goyah, tetapi dalam keadaan goyah itu pun ada cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa yang tinggi sekali. Akan tetapi, gejala-gejala ter-sebut dapat dibagi menjadi tiga kelompok: yaitu, kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Ada banyak gejala yang mengoyahkan dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental, misalnya rasa iri, kecemasan, rasa bangga, cemburu, kesimpulan, sifat pengecut, pengampunan, sifat kurang sabar, keinginan men-dapat sesuatu, rasa menyesal, keragu-raguan dan sifat tidak tahu malu. Gejala-gejala tersebut termasuk dalam tigapuluh tiga keadaan cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Śrīla Rūpa Gosvāmī sudah menganalisis berbagai jenis gejala yang menggoyahkan. Walaupun sulit sekali mencari padanan kata yang tepat untuk berbagai kata Sanskerta yang digunakan pada bagian ini, sekarang analisa Śrīla Rūpa Gosvāmī akan disam-paikan.
Apabila seseorang mulai benci ketika melihat kemajuan hidup orang lain, maka keadaan jiwanya disebut rasa iri hati. Apabila seseorang ketakutan ketika melihat petir di langit, maka rasa takut itu menimbulkan kecemasan. Karena itu, rasa takut dan rasa cemas dapat dianggap satu.
Keinginan seseorang untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya disebut avahitthā, atau menyembunyikan sesuatu, sedangkan keinginan untuk memperlihatkan keunggulan disebut rasa bangga. Kedua sifat tersebut dapat digolongkan di bawah sifat mengklaim sesuatu. Avahitthā dan rasa bangga dapat ditemukan dalam sikap mengklaim sesuatu. Kalau seseorang tidak mampu mentolerir kesalahan yang dilakukan orang lain, maka itu disebut amarṣa, sedangkan kalau ia tidak bisa men-tolerir kekayaan atau kehebatan orang lain, maka itu disebut rasa cemburu. Rasa cemburu dan amarṣa kedua-duanya dise-babkan oleh sikap kurang toleransi. Kemampuan seseorang untuk menetapkan makna sebuah kata dengan benar dapat disebut kemampuan menarik kesimpulan. Sebelum menen-tukan makna sebagai kesimpulan, harus ada pertimbangan melalui banyak pikiran. Karena itu, perbuatan memper-timbangkan ada selama penentuan sebuah kesimpulan. Apabila seseorang memperkenalkan diri sebagai orang bodoh, maka sikapnya disebut rendah hati, sedangkan apabila tidak ada semangat, itu disebut sifat pengecut. Karena itu, sifat pengecut kadang-kadang juga terdapat dalam sifat rendah hati. Apabila pikiran setia, itu disebut memiliki daya tahan, sedangkan ke-mampuan seseorang untuk mentolerir kesalahan orang lain juga disebut daya tahan. Cemas agar waktu cepat berlalu disebut kurang sabar, sedangkan apabila seseorang melihat sesuatu yang ajaib, dikatakan ia tergugah rasa heran. Sifat kurang sabar dapat disebabkan karena seseorang sedang tergugah rasa heran. Jadi, sifat kurang sabar dan keadaan tergugah rasa heran dapat mem-punyai arti yang sama. Apabila rasa cemas masih dalam keadaan yang terpendam, itu disebut rasa ingin mendapat sesuatu. Karena itu, rasa cemas dan rasa ingin mendapat sesuatu juga bisa mempunyai arti yang sama. Apabila seseorang menyesalkan suatu kesalahan, maka perasaannya disebut rasa malu. Dengan cara demikian, rasa malu dan rasa menyesal bisa mempunyai arti yang sama. Sifat ragu-ragu adalah salah satu segi argumentasi. Seseorang menjadi gelisah sesudah memperlihatkan sikap tidak tahu malu. Karena itu, sikap gelisah dan sikap tidak tahu malu bisa mempunyai arti yang sama.
Apabila segala gejala tersebut termasuk dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental, maka gejala-gejala itu dise-but sañcārī, atau gejala-gejala kebahagiaan rohani yang ada secara terus-menerus. Segala gejala tersebut bersifat spiritual, diperlihatkan dengan berbagai cara dalam bertindak dan saling mempengaruhi di bawah berbagai keadaan. Gejala-gejala itu bagaikan cinta kasih yang bertimbal balik antara yang mencintai dan kekasihnya.
Kalau seseorang merasa iri atau namanya dicela, perubahan warna badan bisa terjadi. Ini dapat digolongkan sebagai vibhāva, atau keadaan di bawah kebahagiaan rohani. Kadang-kadang ilusi, keadaan roboh dan rasa cemas yang kuat juga dianggap vibhāva. Apabila ada banyak gejala seperti itu, maka gejala-ge-jala itu dapat digolongkan bersama-sama di bawah cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Śrīla Rūpa Gosvāmī mengatakan bahwa rasa takut, tidur, rasa letih, sifat malas dan keadaan gila mabuk kadang-kadang digo-longkan di bawah gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental yang berjalan secara terus-menerus, dan dise-babkan oleh rasa tertarik yang kuat.
Argumentasi palsu, ketabahan hati, sifat mantap, ingatan, rasa riang, kebodohan, rendah hati, dan keadaan tidak sadarkan diri juga merupakan berbagai gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Ketergantungan juga tergolong di bawah cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Ketergantungan ter-sebut dapat dibagi menjadi ketergantungan utama dan ketergan-tungan bawahan. Berbagai perbedan antara ketergantungan utama dan ketergantungan bawahan ditentukan oleh Rūpa Gosvāmī dan akan dikemukakan nantinya.
Seorang penyembah berseru, “Aduh, aku tidak dapat melihat daerah Mathurā! Walaupun hanya dengan mendengar nama Mathurā bulu romaku merinding, aku tidak dapat melihat tempat itu. Jadi, apa gunanya mataku?” Pernyataan tersebut mengung-kapkan rasa cemas yang kuat dengan keinginan melihat Mathurā sebagai hasil ikatan yang kuat kepada Kṛṣṇa. Ada contoh lain ikatan kuat kepada Kṛṣṇa tersebut, diutarakan oleh Bhīma pada waktu dia mulai berkata dengan geram, “Lengan-lenganku persis seperti petir, tetapi walaupun aku mempunyai lengan-lengan ini, aku tidak bisa menghantam ŚiÂŹupāla pada waktu dia sedang menghina Kṛṣṇa. Jadi, apa gunanya lengan-lengan yang kuat ini?” Pada peristiwa ini, Bhīma menjadi marah, lalu di bawah pengaruh amarah itu, keputusasaannya menjadi penyebab ikatan kuat kepada Kṛṣṇa. Contoh ini dapat diuraikan sebagai ikatan kuat kepada Kṛṣṇa dalam amarah.
Pada waktu Arjuna menyaksikan bentuk semesta Kṛṣṇa, dengan gigi-Nya yang menyilaukan hampir memakan seluruh kehidupan alam semesta, mulut Arjuna menjadi kering. Pada waktu itu, Arjuna lupa-diri sehingga tidak bisa mengerti bahwa dirinya Arjuna, meskipun dia selalu tetap bergantung pada ka-runia Kṛṣṇa. Peristiwa ini merupakan contoh ketergantungan yang bersifat bawahan.
Kadang-kadang kegiatan yang mengerikan juga mendukung cinta kasih rohani kebahagiaan transendental yang kuat untuk Kṛṣṇa. Keadaan jiwa seperti ini disebut rasa takut dalam keba-hagiaan rohani di bawah ilusi. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Tiga, sloka 40, ada pernyataan berikut oleh para brāhmaṇa yang sedang melakukan kurban suci: “Kami semua dilahirkan dalam tiga keadaan yang mengun-tungkan: kami semua berasal dari keluarga-keluarga brāhmaṇa yang ningrat, kami sudah menerima tali suci dalam upacara, dan kami juga sudah diterima sebagai murid oleh seorang guru spiritual sebagaimana mestinya. Tetapi sayang, meskipun ada segala keuntungan tersebut, kami terkutuk. Bahkan kami me-ngikuti tapa brahmacarya pun terkutuk.” Begitulah, para brāhmaṇa mulai mengutuk kegiatannya sendiri. Mereka me-nyadari bahwa walaupun mereka memiliki harkat dan martabat yang tinggi, pendidikan dan kebudayaan, namun mereka masih berada di bawah pesona energi ilusif. Mereka juga mengakui bahwa bahkan yogī-yogī agung yang bukan penyembah Tuhan pun ditutupi oleh pengaruh energi material. Jenis keputusasaan yang dirasakan oleh para brāhmaṇa yang sedang melakukan upacara-upacara ritual tersebut memperlihatkan hampir tidak ada ikatan kepada Kṛṣṇa dalam hati mereka. Pada waktu rākṣasa yang berwujud sapi jantan menyerang para gadis Vraja, mereka mulai berteriak, “Kṛṣṇa sayang—tolong selamatkan kami! Se-karang kami sudah hancur!” Inilah keputusasaan dengan ikatan kepada Kṛṣṇa.
Pada waktu Rākṣasa KeÂŹī dibunuh oleh Kṛṣṇa, Kaḿsa putus asa. Kaḿsa berkata, “Aku sayang pada KeÂŹī-daitya sama seperti aku sayang pada nyawaku sendiri, tetapi dia sudah dibunuh oleh gembala sapi yang kasar, tidak sekolah dan bodoh tentang hal bertempur. Walaupun aku sudah mengalahkan Raja Surga tanpa kesulitan, aku masih tidak mengetahui makna hidup.” Oleh karena keputusasaan tersebut berisi segelintir rasa tertarik kepada Kṛṣṇa, maka dianggap sebagai bayangan cinta kasih rohani kebahagiaan transendental dalam keputusasaan.
Kaḿsa pernah mencela Akrūra dengan berkata, “Kamu begitu bodoh sehingga kamu mengakui seorang gembala sapi sebagai Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa hanya karena Dia mengalahkan seekor ular air yang tidak jahat ataupun berbahaya! Anak itu barangkali pernah mengangkat sebuah batu kerikil bernama Bukit Govardhana, tetapi yang lebih mengherankan lagi daripada kejadian itu adalah pernyataanmu bahwa anak ini adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa!” Ini meru-pakan contoh unsur yang melawan dengan rasa benci, dise-babkan oleh keputusasaan dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa.
Seorang penyembah mencoba menghibur sebatang pohon kadamba pada waktu pohon itu sedang menyesalkan bahwa bayangannya pun belum disentuh oleh Kṛṣṇa. Penyembah itu berkata, “Pohon kadamba sayang, jangan khawatir. Tepat setelah Kṛṣṇa mengalahkan naga Kāliya di Sungai Yamunā, Dia akan datang dan memuaskan keinginanmu.” Ini merupakan contoh keputusasaan yang kurang sesuai dengan keadaan dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa.
Garuda, burung tunggangan Viṣṇu, pernah berkata, “Siapa yang bisa lebih suci dari pada aku? Di mana ada burung kedua seperti aku, yang begitu mampu dan ahli. Barangkali Kṛṣṇa tidak suka padaku, dan mungkin tidak mau ikut kelompokku, tetapi Dia masih harus memanfaatkan sayap-sayapku!” Ini merupakan contoh keputusasaan dalam perasaan netral cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kadang-kadang digolongkan di bawah empat judul—yakni, penciptaan, persendian, pengumpulan dan kepuasan.
Suatu ketika Kṛṣṇa memberitahu Rādhārāṇī, “Temanku ter-sayang, pada waktu Engkau mencoba menemui-Ku sendirian di pagi hari, kawan-Mu Mekhalā tetap lapar dengan rasa iri. Lihat saja dia!” Pada waktu Kṛṣṇa sedang bergurau dengan Rādhārāṇī dengan cara seperti ini, Rādhārāṇī menggerakkan alis matanya yang cantik dengan sebal. Rūpa Gosvāmī berdoa semoga semua orang dikaruniai oleh gerak alis mata Śrīmatī Rādhārāṇī tersebut. Ini merupakan contoh penciptaan rasa benci dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa.Pada suatu malam, sesudah Rākṣasi Pūtanā terbunuh, Kṛṣṇa yang masih bayi kelihatan sedang bermain di atas payudara jasad Pūtanā. Ketika YaÂŹodā melihat kejadian ini, beliau terpukau selama beberapa saat. Ini merupakan contoh perpaduan berba-gai gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Perpaduan dapat bersifat menyejahterakan atau tidak menyejah-terakan. Rākṣasi Pūtanā terbunuh bersifat menyejahterakan, tetapi Kṛṣṇa bermain di atas payudara Pūtanā di tengah malam, tanpa ada orang yang menolongnya andaikata ada kesulitan, bersifat tidak menyejahterakan. YaÂŹodā terjepit antara hal-hal yang menyejahterakan dan tidak menyejahterakan.
Sesudah Kṛṣṇa baru belajar berjalan, Dia sering sekali keluar masuk rumah. YaÂŹodā heran dan berkata, “Anak ini terlalu gelisah dan tidak dapat dikendalikan! Dia terus menerus keliling desa Gokula [Vṛndāvana], kemudian masuk lagi ke dalam rumah. Aku lihat anak ini sama sekali tidak takut, tetapi walaupun Dia berani, aku semakin takut jangan-jangan Dia jatuh ke dalam suatu ba-haya.” Sekali lagi ini merupakan contoh perpaduan dua unsur yang berlawanan: anak itu sangat bebas dari rasa takut, tetapi pada waktu yang sama, YaÂŹodā ketakutan terhadap suatu bahaya. Di sini bahaya adalah sebab, dan perasaan YaÂŹodā berada dalam perpaduan antara dua gejala yang berlawanan. Dengan kata lain, YaÂŹodā merasakan kebahagiaan dan keragu-raguan, atau rasa takut semakin besar.
Pada waktu Devakī, ibu Kṛṣṇa, melihat putranya riang sekali di hadapan para jago gulat di arena Kaḿsa, dua jenis air mata sekaligus meleleh dan membasahi pipinya: kadang-kadang air matanya hangat, dan kadang-kadang dingin. Ini merupakan contoh persendian rasa riang dan dukacita karena berbagai penyebab cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Suatu ketika Śrīmatī Rādhārāṇī berdiri di tepi Sungai Yamunā di hutan Vṛndāvana. Pada waktu itu, Kṛṣṇa, yang lebih kuat daripada Rādhārāṇī, menyergap Rādhārāṇī. Walaupun secara lahiriah Rādhārāṇī memperlihatkan rasa terganggu atas peris-tiwa ini, namun di dalam hatinya Rādhārāṇī tersenyum dan merasa sangat puas. Secara lahiriah Rādhārāṇī mengerakkan alis mata-Nya dan pura-pura menolak Kṛṣṇa. Dengan perasaan se-perti ini, Rādhārāṇī kelihatan cantik sekali, dan Śrīla Rūpa Gosvāmī memuji kecantikan-Nya. Ini merupakan contoh se-seorang memperlihatkan berbagai perasaan yang berubah-ubah dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental, meskipun sebabnya satu saja—yaitu Kṛṣṇa.
Kadang-kadang ada perayaan-perayaan besar di rumah Nanda Mahārāja, dan seluruh warga Vṛndāvana berkumpul untuk pera-yaan itu. Pada waktu salah satu perayaan tersebut sedang ber-langsung, Śrīmatī Rādhārāṇī kelihatan memakai kalung emas yang diberikan kepada Dia oleh Kṛṣṇa. Ini segera diamati oleh Ibu YaÂŹodā dan juga oleh ibu Rādhārāṇī, sebab kalung tersebut terlalu panjang untuk leher Rādhārāṇī. Pada waktu yang sama, Rādhārāṇī dapat melihat Kṛṣṇa di dekat-Nya, dan juga suami Rādhārāṇī Sendiri, yaitu Abhimanyu. Segala hal tersebut ber-gabung hingga membuat Rādhārāṇī merasa malu sekali. Dengan wajah-Nya yang mengkerut, Rādhārāṇī terlihat amat menawan. Pada kejadian ini, terdapat gabungan antara rasa malu, amarah, rasa riang dan dukacita. Ini merupakan contoh pengumpulan gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Kaḿsa pernah berkata, “Bagaimana mungkin anak ini bisa menyakiti aku? Dia tidak berdaya.” Pada saat berikutnya, Kaḿsa diberitahu bahwa semua kawannya sudah dibunuh oleh anak itu. Kemudian Kaḿsa mulai berpikir dalam keadaan bingung, “Apakah aku segera pergi dan menyerahkan diri kepada Dia? Tetapi bagaimana mungkin kṣatriya yang gagah perkasa bisa berbuat begitu?” Pada saat berikutnya, Kaḿsa berpikir, “Menga-pa Aku harus takut pada Dia? Masih begitu banyak jago gulat berdiri untuk mendukungku.” Tetapi pada saat berikutnya lagi, dia mulai mempertimbangkan, “Anak ini pasti bukan anak biasa, sebab Dia sudah mengangkat Bukit Govardhana dengan tangan kiri-Nya. Jadi, apa yang bisa kulakukan berhubungan dengan hal ini? Lebih baik aku pergi ke Vṛndāvana dan menyakiti semua penduduk di sana. Tetapi keluar rumah pun aku tidak bisa, sebab jantungku berdebar-debar karena takut terhadap anak ini!” Keadaan jiwa Kaḿsa tersebut memperlihatkan contoh rasa bangga, dukacita, rendah hati, ketabahan hati, ingatan, keragu-raguan, amarah dan rasa takut. Sebenarnya keadaan jiwa Kaḿsa terdiri dari delapan gejala yang berbeda. Ini merupakan contoh lain penghimpunan gejala-gejala cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental yang bersifat putus asa.
Seorang penyembah yang berumah tangga suatu ketika berkata, “Tuhanku, hamba begitu hina sehingga kedua mata ini tidak pernah bercita-cita melihat kota Mathurā yang mulia. Ka-rena itu, mataku sungguh-sungguh terkutuk. Aku berpendidikan baik sekali, tetapi pendidikanku hanya digunakan dalam pela-yanan kepada pemerintah. Aku tidak pernah mempertim-bangkan kala (Sang waktu) yang perkasa, lebih kuat daripada apa pun juga, yang menciptakan dan meleburkan segala sesuatu. Aku akan mewariskan segala kekayaan dan harta bendaku kepada siapa? Aku semakin tua. Apa yang akan kulakukan? Apakah aku akan melakukan pelayanan bhakti dari sini di rumah? Aku tidak bisa berbuat begitu, sebab pikiranku sedang tertarik oleh tanah suci Vṛndāvana.”
Contoh tersebut merupakan contoh keputusasaan, rasa bang-ga, keragu-raguan, kesabaran, ketabahan hati dan semangat—penghimpunan tujuh gejala yang berbeda dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa.
Ada pepatah dalam bahasa Sanskerta yang berbunyi, “Rasa putus asa melahirkan kepuasan paling besar.” Dengan kata lain, apabila perasaan atau cita-cita seseorang terlalu besar dan tidak terpenuhi sampai melalui penderitaan dan cobaan yang nyaris menyebabkan putus asa, maka itu dianggap kepuasan terbesar. Anak-anak gembala sapi di Vṛndāvana suatu ketika mencari-cari Kṛṣṇa sampai lama sekali, tetapi tidak berhasil menemukan Dia. Karena itu, wajah mereka menjadi hitam dan pucat. Tepat pada saat itu, mereka dapat mendengar irama seruling Kṛṣṇa dari atas bukit. Mereka semua segera merasa senang sekali. Ini merupakan contoh kepuasan di tengah-tengah kekecewaan.
Śrīla Rūpa Gosvāmī mengatakan walaupun beliau tidak memiliki pengetahuan yang ahli tentang berbagai suara, arti dan rasa gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental, beliau sudah mencoba mengemukakan beberapa contoh keanekawarnaan pelayanan bhakti kepada Kṛṣṇa. Selanjutnya, Śrīla Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa ketigapuluh tiga gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental yang meng-goyahkan, ditambah delapan gejala lainnya, semuanya ber-jumlah empat puluh gejala dasar cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Gejala-gejala tersebut menciptakan perubahan-perubahan kegiatan jasmani serta gerak indera. Semuanya dapat diakui sebagai perasaan-perasaan dalam hati. Kadang-kadang beberapa perasaan tersebut bersifat alamiah sekali. Kadang-kadang beberapa perasaan itu hanya muncul untuk sementara. Gejala-gejala yang sangat alamiah selalu tetap ada, baik secara lahiriah maupun dalam batin penyembah.
Seperti halnya kita dapat mengetahui warna zat pewarna yang dipakai untuk mewarnai sehelai kain dengan cara melihat kain itu, begitu pula, hanya dengan mengerti berbagai tanda dari gejala-gejala tersebut, seseorang dapat mengerti kedudukan yang sebenarnya. Dengan kata lain, ikatan kepada Kṛṣṇa adalah satu, tetapi oleh karena ada berbagai jenis penyembah, ikatan itu terwujud dalam pelbagai keanekawarnannya. Ibarat kain yang telah dicelup merah kelihatan merah, munculnya jenis perasaan tertentu untuk sementara waktu dapat dideteksi atau diamati melalui gejala kebahagiaan rohani khusus yang timbul. Memang, semua jenis hubungan dan perasaan penyembah-penyembah menghasilkan berbagai rasa khusus di dalam pikiran. Menurut perbedaan itu, gejala-gejala cinta kasih rohani kebahagiaan transendental muncul dalam pelbagai bentuk dan derajat. Kalau hati seseorang sangat mulia, tenang, serius dan dermawan, atau kalau hatinya kasar dan sederhana, maka gejala-gejala kebaha-giaan rohani yang berbeda akan muncul, karena dipengaruhi oleh keadaan hatinya. Sebenarnya, orang pada umumnya belum mampu mengerti berbagai sifat jiwa tersebut. Tetapi kalau hati seseorang sangat lembut atau halus, maka gejala-gejala tersebut mudah sekali kelihatan, dan ia dapat mengerti gejala-gejala itu dengan jelas sekali. Hati orang yang sangat mulia, tenang dan serius diumpamakan sebagai emas. Kalau hati seseorang sangat lembut dan halus, maka hatinya diumpamakan sebagai kapas. Apabila perasaan kebahagiaan rohani timbul dalam pikiran, maka hati emas atau hati yang tenang dan serius tidak akan goyah, tetapi hati yang lembut akan segera goyah.
Sebagai contoh lain lagi, hati yang tenang, serius dan der-mawan diumpamakan sebagai kota yang besar, sedangkan hati lembut diumpamakan sebagai pondok kecil. Barangkali ada banyak lampu, atau bahkan banyak gajah di kota yang besar itu, tetapi tidak ada orang yang memberi perhatian khusus pada lampu-tampu atau gajah-gajah itu. Tetapi kalau lampu-lampu atau gajah-gajah itu kelihatan di dekat pondok kecil, maka semua orang dapat menunjukkannya dengan jelas.
Hati yang keras diumpamakan sebagai petir, emas dan sirlak. Petir sangat kuat dan tidak pernah menjadi lembut. Begitu pula, hati orang yang selalu sibuk menjalankan pertapaan dan kese-derhanaan yang keras tidak mudah menjadi lembut. Hati emas luluh pada suhu tinggi, seperti halnya dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Hati sirlak mudah luluh bahkan pada suhu yang tidak terlalu tinggi sekalipun.
Hati lembut diumpamakan sebagai madu, mentega dan nektar, sedangkan keadaan pikiran diumpamakan sebagai sinar mata-hari. Seperti halnya madu dan mentega meleleh bahkan kalau kena sinar matahari yang kecil sekalipun, begitu juga hati yang lembut mudah luluh. Akan tetapi, nektar menurut sifatnya selalu cair. Hati orang yang berada dalam cinta kasih rohani keba-hagiaan transendental yang murni bersama Kṛṣṇa menurut sifatnya selalu cair, bagaikan nektar.
Penyembah-murni Kṛṣṇa selalu memiliki kualifikasi istimewa, yaitu kualifikasi sifat nektar, dan kadang-kadang kualifikasi sifat-sifat mentega dan madu. Secara keseluruhan, hati orang dalam semua keadaan tersebut di atas bisa luluh dalam keadaan ter-tentu, seperti halnya batu berlian keras kadang-kadang dapat dilumerkan oleh campuran zat kimia tertentu. Dalam Kitab Dāna-keli-kaumudī dinyatakan, “Apabila bhakti berkembang di dalam hati seorang penyembah, maka ia tidak mampu mencegah pe-rubahan perasaannya. Hati penyembah itu persis seperti lautan pada waktu bulan terbit, tatkala arus air surut tidak bisa dihen-tikan: gerak ombak besar niscaya segera terjadi.” Walaupun dalam keadaannya yang wajar lautan selalu tenang dan kedala-mannya tidak terhingga, namun pada saat bulan terbit, tiada sesuatu pun yang dapat mencegah lautan bergelora. Begitu pula, penyembah-penyembah murni tidak mampu mencegah gerak perasaan dalam hatinya dengan cara apa pun.