Ada beberapa gejala jasmani yang mengungkapkan cinta kasih rohani kebahagiaan transendental yang mengharukan (vyabhicāri-bhāva). Gejala-gejala tersebut berjumlah tigapuluh tiga yaitu sebagai berikut: rasa kecewa, menyesal, rendah hati, rasa bersalah, rasa lelah, keadaan mabuk, bangga, keragu-raguan, rasa was-was, emosi yang sangat kuat, sifat lupa, pe-nyakit, kebingungan, kematian, sifat malas, tidak bergerak, sifat pemalu, sifat menyembunyikan sesuatu, ingatan, sifat suka berdebat, rasa cemas, sifat banyak berpikir, daya tahan, keba-hagiaan, kekerasan, sifat sombong, rasa iri, sifat tidak tahu malu, sifat pusing, sifat mengantuk dan kewaspadaan.
Rasa Kecewa
Apabila seseorang terpaksa bertindak dengan cara yang ter-larang, atau menghindar bertindak dengan cara yang pantas, maka ia akan menyesal dan menganggap dirinya hina. Pada waktu itu, timbullah rasa kecewa. Rasa kecewa seperti ini mem-buat seseorang cemas, meneteskan air mata, badan berubah warna, merasa rendah hati dan bernafas berat.
Pada waktu Kṛṣṇa sedang menghukum Naga Kāliya, dimana Kṛṣṇa nampak telah menenggelamkan Diri-Nya ke dalam air Sungai Yamunā yang beracun, Nanda Mahārāja mengeluh kepada YaÂodā-devi sebagai berikut: “Istriku sayang, Kṛṣṇa su-dah menyelam dalam sekali, jadi kita tidak perlu lagi memelihara badan kita yang penuh dosa! Marilah kita sama-sama terjun ke dalam air Yamunā yang beracun itu dan menebus kegiatan hidup kita yang berdosa!†Ini adalah contoh rasa kecewa yang amat berat, yang membuat penyembah yang mengalaminya menjadi sangat kecewa.
Pada waktu Kṛṣṇa meninggalkan Vṛndāvana, Subala, kawan dekat Kṛṣṇa, memutuskan ikut pergi. Sambil bersiap-siap untuk berangkat, Subala sedang merenungkan bahwa tanpa Kṛṣṇa, tidak ada lagi kebahagian yang dapat ditemukan di Vṛndāvana. Perumpamaan yang diberikan ialah ibarat lebah yang mening-galkan bunga yang tidak bermadu, Subala meninggalkan Vṛndāvana setelah ia merasakan tidak ada kebahagian spiritual lagi yang dapat dinikmati di sana.
Dalam sastra Dāna-keli-kaumudī, Śrīmatī Rādhārāṇī menyapa kepada salah seorang kawan-Nya sebagai berikut: Kawanku yang baik hati, kalau Aku tidak dapat mendengar kegiatan Kṛṣṇa yang mulia, lebih baik Aku tuli. Dan karena sekarang Aku tidak dapat melihat Dia, lebih baik Aku jadi wanita buta.†Ini meru-pakan contoh rasa kecewa yang disebabkan oleh rasa rindu kepada Kṛṣṇa.
Ada pernyataan dalam Kitab Hari-vaḿÂa yang menceritakan dimana Satyabhāmā, seorang permaisuri Kṛṣṇa di Dvārakā, memberitahu suaminya, “Kṛṣṇa tersayang, semenjak aku mendengar Nārada memuji Rukmiṇī di hadapan-Mu, aku dapat mengerti pembicaraan apa pun tentang diriku tidak diperlukan lagi!†Ini merupakan contoh rasa kecewa yang disebabkan oleh rasa iri hati. Rukmiṇī dan Satyabhāmā sama-sama menjadi per-maisuri Kṛṣṇa, dan oleh karena Kṛṣṇa adalah suami mereka berdua, sewajarnya ada sedikit rasa iri sifat wanita di antara mereka. Jadi, ketika Satyabhāmā mendengar kemuliaan Rukmiṇī, ia menjadi iri hati sehingga merasa kecewa.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Limapuluh satu, sloka 47, terdapat pernyataan sebagai berikut: “Kṛṣṇa yang hamba muliakan, hamba tidak bisa mengatakan bahwa hanya orang lain yang terlibat dalam kehidupan material, sebab hamba terlalu terjerat dalam paham hidup jasmani. Hamba terlalu cemas tentang keluarga, rumah, istri, kekayaan, tanah dan kerajaan hamba. Dan oleh karena hamba sudah dibuat gila oleh suasana material ini, kini hamba berpikir hidup hamba sia-sia.†Pernyataan ini adalah contoh rasa kecewa yang disebabkan oleh penye-salan.
Menurut Bharata Muni, rasa kecewa ini tidak menyejah-terakan. Tetapi ada juga sarjana-sarjana terpelajar yang mengakui rasa kecewa tersebut sebagai termasuk dalam rasa netral dan bersifat melestarikan cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental.
Rasa Menyesal
Apabila seseorang tidak berhasil mencapai tujuan hidupnya, tidak menemukan kepuasan dalam pekerjaannya saat ini, berada dalam keadaaan terbalik dari keadaan biasa, dan merasa ber-salah—pada waktu itu dikatakan ia berada dalam keadaan menyesal.
Dalam keadaan penyesalan tersebut, seseorang mulai ber-tanya-tanya, banyak berpikir, suka menangis, berduka cita, dan bernafas berat. Warna badannya berubah, dan mulutnya menjadi kering.
Seorang penyembah Kṛṣṇa yang sudah lanjut usia menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Kṛṣṇa yang hamba cintai, Wahai Pembunuh Rākṣasa Agha, badanku kini sudah sakit-sakitan karena usia tua. Hamba tidak mampu bicara dengan lancar, suaraku tersendat-sendat, pikiranku tidak kuat, dan sering ter-serang penyakit cepat lupa. Tetapi Engkau laksana sinar rem-bulan, wahai Tuhan yang hamba cintai. Satu-satunya yang hamba sesalkan ialah bahwa karena hamba kekurangan minat terhadap sinar-Mu yang menyejukkan, hamba tidak mampu memajukan diri hamba dalam kesadaran Kṛṣṇa.†Pernyataan tersebut adalah contoh rasa menyesal akibat seseorang tidak mampu mencapai tujuan yang diinginkannya.
Seorang penyembah berkata, “Malam ini aku bermimpi sedang mengumpulkan berbagai jenis bunga dari taman, dan aku berpikir untuk menguntai sebuah kalungan bunga untuk dipersembahkan kepada Kṛṣṇa. Tetapi nasibku begitu malang sehingga tiba-tiba mimpiku berakhir, dan aku tidak mencapai tujuan yang kuinginkan!†Pernyataan tersebut adalah contoh rasa menyesal akibat kewajiban seseorang tidak selesai dengan sempurna.
Pada waktu Nanda Mahārāja melihat anak angkatnya, Kṛṣṇa, dipermalukan pada arena kurban suci Kaḿsa, beliau berkata, “Betapa sialnya nasibku sehingga aku tidak mengurung putraku di dalam sebuah kamar yang terkunci rapat. Sayang sekali, aku sudah membawa Dia ke Mathurā, dan sekarang aku melihat Dia dibuat malu oleh gajah raksasa yang bernama Kuvalaya ini. Kini seakan-akan bulan Kṛṣṇa ditutupi oleh gerhana bayangan bumi.†Ini merupakan contoh rasa menyesal yang disebabkan oleh kea-daan berkebalikan.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Empatbelas, sloka 9, ada pernyataan oleh Brahmā: “Tuhan yang hamba cintai, lihatlah sikap hamba yang tidak tahu malu! Engkau tidak ter-hingga, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Yang Asli, Roh Yang Utama—dan Engkau berkuasa atas energi-energi ilusif yang paling sempurna! Lihatlah bagaimana hamba tidak tahu malu! Hamba ingin melangkahi-Mu dengan kekuatan diri hamba sendiri, dan hamba sangat sombong atas kekuatan kecil yang hamba miliki. Bagaikan bunga api kecil dari api yang besar ti-dak akan mampu menggoyahkan api yang besar itu, begitu pula kekuatan ilusi hamba gagal sama sekali untuk merintangi energi ilusif-Mu yang lebih perkasa. Karena itu, hamba melihat diri hamba paling remeh dan hamba kira diri hamba adalah orang yang paling tidak berguna.†Pernyataan Brahmā tersebut di atas adalah contoh rasa menyesal yang disebabkan oleh perbuatan yang salah.
Rendah Hati
Rasa tidak berdaya yang disebabkan oleh duka cita, rasa takut atau telah berbuat kesalahan disebut rendah hati. Dalam keadaan rendah hati seperti itu seseorang mulai banyak bicara, kecil hati, pikirannya kotor, penuh rasa cemas dan tidak bergairah.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Limapuluh Satu sloka 57, terdapat pernyataan berikut dari Raja Mucukunda: “Tuhan yang hamba muliakan, oleh karena perbuatan hamba yang buruk pada masa lampau, hamba bersedih hati selamanya. Hamba selalu menderita karena keinginan hamba, namun indera hamba tidak pernah puas dengan berbagai kenikmatan material. Entah bagaimana, atas karunia-Mu, hamba sekarang berada da-lam keadaan damai karena hamba sudah berlindung pada kaki padma-Mu, yang selalu bebas dari segala rasa menyesal, rasa takut dan kematian. Wahai Pelindung Tertinggi, Wahai Roh Yang Utama! Wahai Yang Mahakuasa. Tolong berikan perlindungan-Mu kepada hamba. Hamba sudah merasa malu.†Pernyataan dari Mucukunda tersebut adalah contoh rendah hati akibat keadaan kehidupan material yang amat sengsara.
Ketika Uttarā diserang oleh senjata brahmāstra milik AÂvatthāmā, ia takut kehilangan putranya, yakni Mahārāja Parīkṣit, yang masih ada dalam kandungannya, Uttarā segera berserah-diri kepada Kṛṣṇa dan berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, tolong selamatkan anak hamba! Hamba tidak peduli kalau hamba sendiri harus terbunuh oleh senjata brahmāstra milik AÂvatthāmā.†Ini merupakan contoh rendah hati yang disebab-kan oleh rasa takut.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Empatbelas sloka 10, Dewa Brahmā berkata, “Wahai Insan yang tidak pernah gagal. Hamba lahir dalam sifat nafsu. Karena itu, hamba bangga secara palsu bahwa hamba adalah pencipta dunia material ini. Rasa bangga yang semu ini ibarat kegelapan yang pekat, dan karena kegelapan ini hamba sudah menjadi buta. Dalam kea-daan buta hamba menganggap diri hamba sebagai tandingan-Mu, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Oh Tuhan yang hamba cintai, walaupun hamba dianggap pencipta alam semesta, namun hamba adalah abdi-Mu untuk selamanya. Ka-rena itu, mohon selalu bermurah hati kepada hamba dan maafkan hamba dengan cara seperti itu.†Pernyataan Brahmā tersebut di atas adalah contoh lain dari sifat rendah hati akibat berbuat kesalahan.
Kadang-kadang ada sifat rendah hati akibat rasa malu. Misal-nya, ketika Kṛṣṇa mencuri semua pakaian para gopī pada waktu mereka sedang mandi di sungai, semuanya memohon kepada Kṛṣṇa agar Dia jangan bertindak tidak adil seperti itu kepada mereka. Para gopī memohon kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Kṛṣṇa yang kami cintai, kami tahu Engkau adalah putra Nanda Mahārāja dan Engkaulah yang paling disayangi di seluruh Vṛndāvana. Kami pun sangat mencintai-Mu. Tetapi mengapa Engkau mempersulit kami seperti ini? Tolong kembalikan pa-kaian kami. Lihatlah bagaimana kami menggigil karena udara amat dingin!†Rendah hati tersebut disebabkan oleh rasa malu para gopī karena mereka sedang tanpa busana di hadapan Kṛṣṇa.
Rasa Bersalah
Apabila orang menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan yang kurang pantas, maka itu disebut rasa bersalah.
Pada suatu hari, Śrīmatī Rādhārāṇī sedang mengocok susu asam untuk Kṛṣṇa. Pada waktu itu, gelang-gelang yang terhias permata pada pergelangan tangan Rādhārāṇī berputar-putar, dan Dia juga sedang menyanyikan nama suci Kṛṣṇa. Tiba-tiba Rādhārāṇī berpikir, “Aku sedang menyanyikan nama suci Kṛṣṇa, dan atasan-Ku—ibu mertua dan kakak ipar-Ku—barangkali akan mendengar-Ku!†Pikiran ini membuat Rādhārāṇī merasa cemas. Ini merupakan contoh rasa bersalah karena bhakti kepada Kṛṣṇa.
Pada suatu hari, Śrīmatī Rādhārāṇī masuk ke hutan dengan maksud mengumpulkan bunga buat menguntai kalungan bunga untuk Kṛṣṇa. Sambil mengumpulkan bunga, Rādhārāṇī mulai ketakutan jangan-jangan ada orang yang melihat Dia, maka Dia merasa lelah dan letih. Ini merupakan contoh rasa bersalah yang disebabkan oleh pekerjaan untuk Kṛṣṇa.
Ada pernyataan dalam Rasa-sudhākara bahwa sesudah ber-malam bersama Kṛṣṇa, Rādhārāṇī menjadi begitu lemah hingga tidak bisa bangun dari tempat tidur. Pada waktu Kṛṣṇa me-megang Rādhārāṇī untuk menolong-Nya, Rādhārāṇī merasa bersalah karena habis bermalam bersama Kṛṣṇa.
Rasa Lelah
Seseorang merasa lelah sesudah berjalan kaki jauh sekali, sehabis menari, dan sehabis hubungan suami istri. Dalam rasa lelah jenis ini, ada rasa pusing, keluar keringat, lengan dan kaki tidak bergerak, menguak, dan bernafas berat sekali.
Pada suatu hari, YaÂodā mengejar Kṛṣṇa di halaman setelah Kṛṣṇa berbuat kesalahan pada ibu-Nya. Sesudah beberapa waktu, YaÂodā letih sekali, sehingga badannya berpeluh dan rambutnya yang disanggul tergerai. Ini merupakan contoh rasa lelah akibat bekerja terlalu banyak.
Kadang-kadang semua anak gembala sapi, kawan-kawan Kṛṣṇa, bersama Balarāma, menari bersama-sama dalam suatu upacara. Pada waktu-waktu ini, kalungan bunga pada leher anak-anak itu bergoyang, dan mereka mulai berpeluh. Seluruh ba-dannya menjadi basah karena mereka menari dalam keba-hagiaan rohani. Ini merupakan contoh rasa lelah disebabkan oleh menari.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tigapuluh Tiga, sloka 20, dikatakan bahwa sehabis menikmati kegiatan percintaan rohani bersama Kṛṣṇa dengan menari, berpeluk-pelukan dan berciuman, para gopī kadang-kadang letih sekali, lalu Kṛṣṇa, atas karunia dan kemurahan hati-Nya yang tiada bersebab, membelai wajah mereka dengan tangan-padma-Nya. Ini merupakan contoh rasa lelah yang disebabkan oleh pe-kerjaan keras dalam tarian rāsa.
Sifat Mabuk
Apabila seseorang menjadi sombong dengan gengsi palsu akibat minum minuman yang bisa memabukkan atau karena hawa nafsu yang terlalu besar, maka suaranya keluar dengan banyak kesa-lahan, mata membengkak dan ada gejala-gejala warna kemerah-merahan pada badan. Ada pernyataan dalam Kitab Lalita-mādhava bahwa Śrī Baladeva, dalam keadaan mabuk akibat minum madu yang berlebihan, mulai menyapa kepada semut-semut, “Hai kau raja kaum semut! Kenapa kalian ngumpet dalam lubang-lubang ini?†Baladeva juga menyapa kepada Raja Surga, “Hai Raja Indra! Kau hanyalah mainan Śaci! Kenapa kau ketawa? Aku sekarang siap menghancurkan seluruh jagat dan Aku tahu Kṛṣṇa tidak akan marah pada-Ku.â€* Kemudian Śrī Balarāma, menyapa kepada Kṛṣṇa, “Kṛṣṇa-Ku yang baik hati, Engkau segera beritahu Aku kenapa seluruh dunia mengalami gempa dan kenapa bulan jadi panjang! Hai kalian para anggota dinasti Yadu, kenapa kalian tertawa melihat Aku? Kembalikan mi-numan-Ku yang terbuat dari madu bunga kadamba!†Śrīla Rūpa Gosvāmī berdoa kiranya Śrī Balarāma akan berpuas hati dengan kita semua saat Dia berbicara persis seperti orang mabuk.
Dalam keadaan mabuk itu, Balarāma merasa letih sehingga Dia berbaring untuk istirahat. Pada umumnya, personalitas-personalitas yang mulia akan berbaring kalau mereka merasa mabuk, sedangkan orang biasa akan tertawa dan menyanyi pada waktu mabuk, dan orang kelas rendah mengeluarkan bahasa yang kasar dan kadang-kadang menangis. Sifat mabuk tersebut terwujud menurut berbagai usia dan jiwa. Śrī Rūpa Gosvāmī tidak menguraikan lebih lanjut ke arah ini, sebab pembahasan seperti itu tidak dibutuhkan.
Ada uraian lain tentang gejala-gejala mabuk pada diri Śrīmatī Rādhārāṇī sesudah Dia melihat Kṛṣṇa. Kadang-kadang Rādhārāṇī berjalan mondar-mandir, kadang-kadang tertawa, kadang-kadang menutupi wajah-Nya, kadang-kadang berbicara tidak keruan dan kadang-kadang Dia berdoa kepada rekan-rekan-Nya, para gopī. Setelah para gopī melihat gejala-gejala tersebut pada Rādhārāṇī, mereka mulai bicara satu sama lain: “Lihatlah bagaimana Rādhārāṇī menjadi mabuk hanya dengan melihat Kṛṣṇa di hadapan-Nya!†Ini merupakan contoh cinta kasih rohani kebahagiaan transendental dalam sifat mabuk.
Rasa Bangga
Ungkapan-ungkapan cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental dalam rasa bangga mungkin terjadi akibat kekayaan ber-lebihan, kecantikan atau ketampanan yang memikat, rumah ke-las-utama atau tercapainya cita-cita yang diidamkan. Seseorang juga dianggap bangga apabila ia tidak peduli kalau dialpakan orang lain. Bilvamańgala µhākura berkata, “Kṛṣṇa yang kucintai, Engkau meninggalkan aku, Engkau memaksa keluar dari pe-lukanku. Tetapi aku hanya akan terkesan dengan kekuatan-Mu seandainya Engkau mampu memaksa keluar dari lubuk hatiku.†Ini merupakan contoh seseorang merasa bangga dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa.
Selama tarian rāsa, ketika Rādhārāṇī meninggalkan arena lalu Kṛṣṇa pergi mencari Dia, seorang kawan kesayangan Rādhārāṇī pergi mencari Rādhārāṇī, dan berkata kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Kṛṣṇa sayang Engkau sudah berhutang budi dengan melayani bentuk Śrī Rādhārāṇī kami, dan sekarang Engkau telah meninggalkan semua gopī lainnya hanya untuk mencari Dia. Sekarang, izinkan saya bertanya Engkau ingin Dia memper-lakukan-Mu dengan cara bagaimana?†Ini merupakan contoh rasa bangga akibat kecantikan yang memikat.
Kadang-kadang Rādhārāṇī merasa bangga di dalam hatinya dan berkata, “Walaupun anak-anak gembala sapi menguntai kalungan bunga yang bagus untuk Kṛṣṇa, namun apabila Aku mempersembahkan kalungan bunga-Ku kepada Dia, Dia terharu, lalu segera menerima kalungan bunga itu dan merang-kulnya dekat hati-Nya.â€
Begitu pula, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Dua, sloka 33, Dewa Brahmā berkata, “Madhusūdana yang hamba muliakan, para penyembah murni-Mu sungguh-sungguh merasakan persahabatan-Mu yang penuh kebahagiaan rohani, dan karena itu, mereka tidak pernah binasa oleh musuh. Mereka tahu bahwa mereka selalu mendapat perlindungan-Mu, sehing-ga dalam kenyataan mereka dapat melangkahi kepala-kepala para musuhnya tanpa rasa takut.†Dengan kata lain, orang yang sudah berlindung sepenuhnya di bawah kaki-padma Tuhan selalu bangga bahwa dirinya mampu berjaya atas segala mu-suh.
Seorang tukang tenun di Mathurā menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Raja Vṛndāvana yang hamba hormati, hamba sudah begitu bangga atas karunia yang tiada bersebab yang telah Engkau limpahkan kepada hamba sehingga hamba tidak mengandalkan karunia Tuhan Penguasa Vaikuṇṭha, yang dicari oleh banyak resi yang mulia dalam meditasi yang khusuk.†Dengan kata lain, walaupun para yogī dan resi-resi yang mulia duduk dan khusuk bermeditasi pada Śrī Viṣṇu, yang tinggal di Vaikuṇṭha, seorang penyembah Kṛṣṇa begitu bangga sampai ia menganggap meditasi tersebut tidak berharga sama sekali. Rasa bangga tersebut disebabkan karena yang bersangkutan sudah mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu Kṛṣṇa.
Keragu-raguan
Setelah Dewa Brahmā mencuri semua anak-anak sapi, sapi-sapi dan anak gembala sapi dari Kṛṣṇa, beliau berusaha pergi. Tetapi tiba-tiba beliau ragu tentang pencurian yang telah dilakukanya, dan mulai melihat-lihat ke segala sisi dengan kedelapan matanya. Dewa Brahmā berkepala empat, dan karena itu, beliau bermata delapan. Ini merupakan contoh cinta kasih rohani kebahagiaan transendental dalam keragu-raguan, disebabkan oleh mencuri.
Begitu pula, hanya untuk menyenangkan Kṛṣṇa, Akrūra men-curi maṇi Syamantaka, sebuah permata yang mampu meng-hasilkan emas yang jumlahnya tidak terhingga, tetapi kemudian dia menyesali dirinya telah mencuri. Ini merupakan contoh lain cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa dalam keragu-raguan disebabkan oleh mencuri.
Pada waktu Indra, Raja Surga, membuat hujan deras turun di tanah Vraja, beliau dinasihati supaya berserah-diri pada kaki-padma Kṛṣṇa. Pada waktu itu, wajah Indra menjadi gelap sekali karena ragu-ragu.
Rasa Was-was
Apabila seseorang merasa risau dalam hatinya dengan melihat petir di langit, melihat binatang buas atau mendengar suara yang menggemparkan, maka keadaan jiwanya disebut was-was. Dalam keadaan was-was seperti itu, seseorang mencoba ber-lindung pada sesuatu yang memberi keselamatan. Barangkali bulu roma merinding, badan gemetar, dan kadang-kadang orang yang bersangkutan berbuat kesalahan. Kadang-kadang pula badan bisa terpukau.
Dalam Kitab Padyāvalī, ada pernyataan sebagai berikut: “Kawanku yang baik hati, karena Kṛṣṇa tinggal di lingkungan orang-orang jahat di Mathurā, di bawah kekuasaan raja kaum iblis, Kaḿsa, menyebabkan aku khawatir sekali.†Ini salah satu contoh orang was-was dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa mengenai suatu bahaya yang dihadapi oleh Kṛṣṇa.
Pada waktu Vṛṣāsura muncul di Vṛndāvana sebagai sapi jantan, semua gopī sangat tergugah rasa rakut. Oleh karena pikiran para gopī seperti itu, mereka mulai memeluk pohon-pohon tamāla. Ini merupakan contoh rasa takut yang disebabkan oleh binatang buas dan usaha mencari perlindungan sambil ingat kepada Kṛṣṇa dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental. Ketika Ibu YaÂodā mendengar serigala mendengking di hutan Vṛndāvana, beliau kadang-kadang menjadi waspada sekali untuk menjaga Kṛṣṇa di bawah pengawasannya, karena takut jangan-jangan Kṛṣṇa diserang oleh serigala-serigala itu. Ini merupakan contoh cinta kasih rohani kebahagiaan transendental dalam rasa takut yang disebabkan oleh suara yang meng-gemparkan. Rasa takut jenis ini agak berbeda daripada sungguh-sungguh merasa takut. Apabila seseorang takut terhadap sesuatu, ia masih mampu berpikir tentang masa lampau dan masa yang akan datang. Tetapi apabila ada rasa was-was keba-hagiaan transendental jenis ini, tidak ada kemungkinan berpikir seperti itu.
Emosi yang Sangat Kuat
Emosi disebabkan oleh sesuatu yang sangat dicintai, oleh sesuatu yang sangat dibenci, oleh api, oleh angin besar, oleh hujan lebat, oleh bencana alam, oleh melihat gajah besar atau musuh. Apabila ada emosi yang disebabkan oleh melihat sesuatu yang sangat disenangi, seseorang bisa bicara cepat sekali dan memakai kata-kata yang sangat sopan.
Apabila terjadi emosi disebabkan oleh sesuatu yang dibenci, seseorang berteriak dengan suara yang keras sekali. Apabila emosi disebabkan oleh melihat api, seseorang mencoba mela-rikan diri. Badan mungkin juga gemetar, mata terpejam dan air mata keluar. Apabila seseorang emosi akibat angin besar, ia mencoba lari dengan cepat sekali dan mengucek matanya. Apa-bila seseorang emosi karena hujan, ia mengambil payung, dan badan tegang. Apabila emosi terjadi karena bencana yang terjadi secara tiba-tiba, maka wajah orang menjadi pucat, ia terharu, dan badan gemetar. Kalau ada emosi disebabkan karena melihat gajah, mungkin orang yang sedang emosi itu akan melompat dan memperlihatkan berbagai gejala rasa takut, dan kadang-kadang terus menoleh ke belakangnya. Apabila emosi disebab-kan oleh kehadiran seorang musuh, seseorang mencari senjata yang dapat membunuh dan mencoba untuk melarikan diri.
Pada waktu Kṛṣṇa kembali dari hutan Vṛndāvana, Ibu YaÂodā begitu merasa emosi melihat putranya sampai air susu mulai keluar dari puting susunya. Ini merupakan contoh emosi dise-babkan oleh melihat obyek yang dicintai.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Tiga, sloka 18, Śukadeva Gosvāmī memberitahu Mahārāja Parīkṣit, “Baginda Mahārāja yang saya hormati, para istri brāh-maṇa sangat terikat pada kegiatan memuji kebesaran Kṛṣṇa, dan mereka selalu ingin sekali mendapat kesempatan melihat Kṛṣṇa. Karena ini, pada waktu mereka mendengar bahwa Kṛṣṇa ada di suatu tempat yang dekat, mereka ingin sekali melihat Dia dan segera meninggalkan rumahnya.†Ini merupakan contoh kegiatan emosi disebabkan oleh kehadiran orang yang dicintai.
Pada waktu Pūtanā, rākṣasi dan penyihir perempuan, diro-bohkan dan dibunuh oleh Kṛṣṇa, Ibu YaÂodā terharu dan mulai menangis dengan penuh emosi, “Aduh, apa ini? Apa ini?†Ketika Ibu YaÂodā melihat bayi kesayangannya, Kṛṣṇa, sedang bermain di atas dada mayat rākṣasi itu, beliau kehilangan akal tentang apa yang harus dilakukan, lalu beliau mulai berjalan mondar-mandir. Ini merupakan contoh orang emosi akibat melihat se-suatu yang mengerikan.
Pada waktu Kṛṣṇa menumbangkan dua batang pohon arjuna dan Ibu YaÂodā mendengar suara pohon-pohon itu roboh, beliau tergugah emosi dan hanya memandang ke atas, karena terlalu bingung untuk mengetahui apa lagi yang harus dilakukan. Ini merupakan contoh emosi karena mendengar suara yang ber-gemuruh.
Pada waktu terjadi kebakaran di hutan Vṛndāvana, semua para gembala sapi berkumpul dan dalam keadaan yang putus asa mereka memohon perlindungan kepada Kṛṣṇa. Ini merupakan contoh emosi yang disebabkan oleh kebakaran.
Iblis yang berwujud angin topan bernama Tṛṇāvarta pernah menerbangkan Kṛṣṇa dari tanah dan meniup Kṛṣṇa kesana kemari bersama beberapa pepohonan yang besar-besar. Pada waktu itu Ibu YaÂodā tidak bisa melihat putranya, sehingga beliau sangat bingung dan mulai berjalan mondar-mandir. Ini meru-pakan contoh emosi yang disebabkan oleh angin besar.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Lima, sloka 11, terdapat uraian peristiwa dimana Indra menye-babkan hujan lebat di Vṛndāvana. Semua sapi dan anak gembala sapi begitu menderita karena angin dan suhu yang dingin sehingga mereka berkumpul bersama-sama untuk berlindung di bawah kaki-padma Kṛṣṇa Ini merupakan contoh emosi disebabkan oleh hujan lebat.
Hujan es yang lebat turun pada waktu Kṛṣṇa berada di hutan Vṛndāvana. Seorang yang sudah tua memohon kepada Kṛṣṇa, “Kṛṣṇa, Kau jangan bergerak sekarang! Bahkan orang yang lebih kuat dan lebih tua dari-Mu tidak bisa bergerak, sedangkan Eng-kau masih kecil. Jadi, harap diam saja di tempat!†Ini merupa-kan contoh emosi yang disebabkan oleh hujan es yang lebat.
Pada waktu Kṛṣṇa sedang menghukum Naga Kāliya dalam air Sungai Yamunā yang sudah tercemar hingga menjadi racun, Ibu YaÂodā mulai bicara dengan penuh emosi: “Aduh, lihat bagai-mana bumi kelihatannya bergetar! Rūpanya akan ada gempa bumi, dan air mata terbang kesana kemari di langit! Anak kesayanganku sudah hanyut dalam air Yamunā yang beracun. Apa yang akan kulakukan sekarang?†Ini merupakan contoh emosi akibat bencana alam.
Ketika Kṛṣṇa diserang oleh gajah-gajah raksasa di arena Kaḿsa, semua ibu yang hadir mulai menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Anakku sayang—tinggalkan tempat ini segera! Tinggalkan tempat ini segera! Apakah Kau tidak melihat gajah-gajah raksasa datang untuk menyerang-Mu? Engkau begitu po-los memandang gajah-gajah itu membuat kami terlalu cemas!†Kṛṣṇa kemudian memberitahu Ibu YaÂodā, “Ibunda tersayang, harap jangan cemas dengan munculnya gajah-gajah dan kuda-kuda yang datang dengan begitu kuat hingga membuat debu beterbangan dan membuat mata ibu-ibu yang seperti bunga padma kelilipan sampai tidak bisa melihat. Biarlah Rākṣasa Kesi pun datang di handapan Ku; lengan-lengan-Ku masih kuat untuk berjaya. Jadi bunda harap jangan cemas.â€
Dalam sastra Lalita-mādhava, seorang kawan memberitahu Ibu YaÂodā, “Betapa ajaibnya, pada waktu Rākṣasa ŚańkhacūÂa–yang sebesar dan sekuat bukit besar—menyerang putra Ibu yang setampan Dewa Asmara, tidak ada seorang pun yang berada di Vṛndāvana datang untuk menolong. Namun putra Ibu yang masih bocah membunuh rākṣasa itu. Rupanya karena hasil dari per-tapaan dan kesederhanaan Ibu dan Bapak dalam penjelmaan-penjelmaan lalu sehingga putra Ibu diselamatkan dengan cara seperti itu.â€
Dalam sastra Lalita-mādhava yang sama, terdapat cerita sejarah Kṛṣṇa menculik Rukmiṇī pada upacara pernikahannya yang sedang diadakan dengan adat kerajaan. Pada waktu itu, semua pangeran yang hadir mulai bercakap-cakap satu sama lain, de-ngan berkata, “Kita mempunyai banyak gajah, kuda, kereta, busur, panah dan pedang, jadi mengapa kita harus takut pada Kṛṣṇa? Marilah kita menyerang Dia! Dia hanya anak gembala sapi yang bernafsu besar! Dia tidak boleh melarikan putri raja seperti ini!†Ini contoh emosi yang disebabkan oleh kehadiran musuh.
Melalui contoh-contoh tersebut di atas, ŚrīIa Rūpa Gosvāmī sedang mencoba membuktikan bahwa tidak mungkin ada filsafat impersonal. Segala kegiatan personal ada dalam hubungan dengan Kṛṣṇa.
Sifat Gila
Śrīla Bilvamańgala µhākura berdoa dalam karya sastranya sebagai berikut: “Semoga Śrīmatī Rādhārāṇī mensucikan seluruh dunia, sebab Dia telah berserah-diri sepenuhnya kepada Kṛṣṇa. Disebabkan oleh cinta kasih rohani kebahagiaan transendental-Nya pada Kṛṣṇa, Rādhārāṇī kadang-kadang berperilaku persis seperti orang yang pikirannya kacau dan mencoba mengocok susu asam, padahal tidak ada susu asam dalam tempayan-Nya. Sesudah melihat kejadian ini, Kṛṣṇa begitu terpesona oleh Rādhārāṇī hingga Dia mencoba memerah susu dari sapi jantan, bukan dari sapi betina.†Ini beberapa contoh sifat kurang waras atau gila berhubungan dengan kegiatan cinta kasih Rādhā dan Kṛṣṇa. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, dikatakan bahwa pada waktu Kṛṣṇa terjun ke dalam air Sungai Yamunā yang sudah beracun, Śrīmatī YaÂodā-devi menjadi tidak waras. YaÂodā tidak mencari ramuan yang dapat menyembuhkan keracunan, melainkan dia mulai berbicara kepada pepohonan seolah-olah pepohonan itu adalah pawang ular. Ibu YaÂodā mencakupkan tangannya dan mulai bersujud kepada pohon-pohon itu, dan bertanya kepa-danya, “Apa kira-kira ramuan yang bisa mencegah Kṛṣṇa mati dari air yang beracun ini?†Ini adalah contoh keadaan tidak waras yang disebabkan oleh bahaya besar.
Bagaimana seorang penyembah bisa berada dalam keadaan kurang waras akibat cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental diuraikan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tigapuluh, sloka 4. Dalam sloka tersebut, para gopī sedang mencari Kṛṣṇa di hutan sekitar Vṛndāvana. Para gopī menya-nyikan keagungan Kṛṣṇa dengan suara keras sambil mengem-bara dari satu hutan ke hutan lain untuk mencari Kṛṣṇa. Para gopī mengetahui bahwa Kṛṣṇa tidak hanya berada di tempat-tempat khusus, melainkan Dia berada di mana-mana. Kṛṣṇa berada di langit, Kṛṣṇa berada di dalam air, Kṛṣṇa berada di udara, dan Kṛṣṇa adalah Roh Utama yang bersemayam di dalam hati semua insan. Jadi, para gopī mulai bertanya kepada segala jenis pepohonan dan tetumbuhan tentang Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Ini merupakan contoh keadaan gila dalam kebahagiaan rohani yang dialami oleh para penyembah.
Seperti itu pula, ada gejala-gejala penyakit-penyakit yang disebabkan oleh cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Keadaan ini diakui sebagai mahābhāva. Kondisi yang sangat mulia tersebut juga disebut divyonmāda, keadaan gila yang bersifat transendental.
Pelupaan
Pada waktu Kṛṣṇa tidak ada di Vṛndāvana dan sedang tinggal di Mathurā, Śrīmatī Rādhārāṇī mengirim berita kepada Kṛṣṇa bahwa, ibu-Nya, Ratu Vṛndāvana, sedang rindu kepada Dia sehingga keluar buih dari mulutnya, bagaikan buih-buih di tepi pantai. Kadang-kadang Ibu Kṛṣṇa mengangkat lengan-lengan-nya bagaikan ombak-ombak lautan, dan oleh karena rasa rindu yang amat berat di hatinya, beliau berguling-guling di tanah dan mengeluarkan suara gemuruh yang menggemparkan. Kadangkala beliau membisu seribu kata, ibarat laut yang tenang. Gejala-gejala rasa rindu pada Kṛṣṇa ini disebut apasmāra, atau pelupaan. Seseorang melupakan kedudukan dirinya sepe-nuhnya apabila ia memperlihatkan gejala-gejala tersebut dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.
Berita lain pernah dikirim kepada Kṛṣṇa yang menyatakan bahwa setelah Dia membunuh Kaḿsa, seorang rākṣasa yang menjadi kawan Kaḿsa telah menjadi tidak waras. Rākṣasa tersebut mengeluarkan busa dari mulutnya, mengayun-ayunkan lengannya dan berguling-guling di tanah. Pertunjukan yang bersifat rākṣasa tersebut berhubungan dengan Kṛṣṇa dalam rasa mengerikan. Perasaan atau rasa tersebut adalah salah satu hu-bungan yang tidak langsung dengan Kṛṣṇa. Lima jenis hubungan pertama disebut langsung, sedangkan tujuh hubungan lainnya disebut tidak langsung. Rākṣasa tersebut pasti sudah mempunyai suatu hubungan dengan Kṛṣṇa, entah dengan cara bagaimana, sebab gejala-gejala tersebut berkembang ketika ia mendengar bahwa Kṛṣṇa sudah membunuh Kaḿsa. Śrīla Rūpa Gosvāmī memberi ulasan bahwa kemuliaan spiritual juga terdapat dalam gejala jenis ini.
Penyakit
Pada waktu Kṛṣṇa tidak ada di Vṛndāvana dan sedang tinggal di Mathurā, beberapa kawan-Nya memberitahu Dia, “Kṛṣṇa yang baik hati, para penduduk Vraja begitu menderita karena rasa rindunya pada-Mu sehingga kelihatannya mereka mengidap suatu penyakit. Badan mereka demam dan mereka tidak mampu bergerak dengan baik. Mereka hanya berbaring di tanah dan bernafas dengan berat.â€
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duabelas, sloka 44, Mahārāja Parīkṣit bertanya tentang Śrī Ananta. Setelah mendengar pertanyaannya, Śukadeva Gosvāmī mulai memper-lihatkan gejala-gejala akan tidak sadarkan diri. Tetapi Śukadeva Gosvāmī mampu menguasai diri dan menjawab pertanyaan Mahārāja Parīkṣit dengan suara lembut. Keadaan tidak sadarkan diri atau pingsan tersebut diuraikan sebagai keadaan demam akibat kesenangan kebahagiaan rohani.
Ada pernyataan lain dalam Śrīmad-Bhāgavatam yang men-ceritakan bagaimana para gadis Vraja berjumpa dengan Kṛṣṇa di tempat suci Kurukṣetra, bertahun-tahun sesudah kegiatan mereka sebagai anak-anak. Pada waktu mereka berjumpa di tempat suci tersebut, semua gopī terpukau karena terjadi gerhana matahari. Nafas mereka, kedip mata dan segala kegiatan yang serupa terhenti, dan mereka berdiri di hadapan Kṛṣṇa seperti patung-patung. Ini contoh lain keadaan sakit akibat kebahagian spiritual yang penuh semangat.