Seseorang dapat mencapai sekadar rasa tertarik kepada Śrī Kṛṣṇa karena pergaulannya dengan para mahātmā, atau insan-insan mulia yang sepenuhnya berada dalam bhakti kepada Tuhan. Tetapi pada waktu yang sama, mungkin ia tetap sangat tetarik kepada kegiatan yang mengharapkan pahala dan kenikmatan indera-indera material dan belum bersedia menjalankan ber-bagai jenis pelepasan ikatan. Kalau orang seperti itu tertarik kepada Śrī Kṛṣṇa dan tidak pernah menyimpang, maka ia menjadi calon yang memenuhi syarat untuk melaksanakan pelayanan bhakti.
Rasa tertarik kepada kesadaran Kṛṣṇa dalam pergaulan dengan penyembah-penyembah murni adalah tanda keuntungan yang besar. Dibenarkan oleh Śrī Caitanya bahwa hanya orang yang beruntung yang akan memeroleh benih bhakti atas karunia seorang guru spiritual yang bonafide dan Kṛṣṇa. Berhubungan dengan hal ini, Śrī Kṛṣṇa bersabda dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Duapuluh, sloka 8, “Uddhava yang baik hati, seseorang hanya tertarik kepada-Ku karena keuntungan yang luar biasa. Kalaupun seseorang masih belum bebas sepenuhnya dari kegiatan yang mengharapkan pahala, atau belum terikat sepenuhnya kepada pelayanan bhakti, namun pelayanan yang seperti itu cepat berhasil.”
Para penyembah dapat dibagi menjadi tiga golongan. Penyembah dalam kelas-utama atau kelas tertinggi diuraikan sebagai berikut. Penyembah itu ahli sekali dalam mata pelajaran Kitab Suci yang mempunyai hubungan dengan pelayanan bhakti, dan ia juga ahli sekali dalam mengemukakan argumentasi menurut Kitab-kitab Suci tersebut. Ia mampu menggunakan kebijaksanaan sempurna dalam mengemukakan kesimpulan-kesimpulan dengan baik sekali. Ia dapat mempertimbangkan cara-cara bhakti dengan cara yang dapat mencapai keputusan yang pasti. Ia mengerti secara sempurna bahwa tujuan hidup tertinggi adalah tercapainya pelayanan dalam cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa dan mengetahui bahwa Kṛṣṇa adalah satu-satunya tujuan sembahyang dan tujuan pelayanan bhakti. Penyembah kelas-utama tersebut adalah orang yang sudah mengikuti aturan dan peraturan dengan tegas di bawah bimbingan seorang guru spiritual yang bonafide. Ia sudah mematuhi guru spiritual dengan tulus ikhlas menurut Kitab Suci yang otoritatif. Oleh karena ia sudah dilatih secara sempurna untuk mengajar dan juga menjadi guru spiritual, ia dianggap kelas-utama. Penyembah kelas-utama tidak pernah menyimpang dari prinsip-prinsip otoritas yang lebih tinggi, dan ia mencapai keyakinan yang kuat terhadap Kitab Suci melalui cara mengerti dengan segala logika dan argumentasi. Apabila kita membicarakan argumentasi dan logika, itu berarti argumentasi dan logika yang berdasarkan Kitab Suci yang diwahyukan. Seorang penyembah kelas-utama tidak tertarik pada cara-cara angan-angan yang hambar yang dimaksudkan untuk membuang-buang waktu. Dengan kata lain, orang yang sudah mencapai ketabahan hati yang matang dalam hal pelayanan bhakti dapat diakui sebagai seorang penyembah kelas-utama.
Seorang penyembah kelas-dua sudah didefinisikan menurut tanda-tanda berikut: ia belum ahli sekali berdebat berdasarkan Kitab Suci yang diwahyukan, tetapi ia mempunyai keyakinan yang kuat terhadap tujuan. Arti uraian ini ialah bahwa seorang penyembah kelas-dua mempunyai keyakinan yang teguh terhadap prosedur dan tatacara pelayanan bhakti kepada Kṛṣṇa, tetapi barangkali ia kadang-kadang tidak berhasil menge-mukakan argumentasi dan keputusan berdasarkan Kitab Suci yang diwahyukan kepada pihak yang menentang. Tetapi pada waktu yang sama, di dalam hatinya ia tidak memiliki keraguraguan mengenai keputusannya bahwa Kṛṣṇa adalah tujuan sembahyang tertinggi.
Seorang penyembah pemula atau penyembah kelas-tiga ialah penyembah yang belum mempunyai keyakinan kuat dan pada waktu yang sama belum mengakui keputusan Kitab Suci yang diwahyukan. Keyakinan seorang murid yang baru mulai belajar barangkali diubah oleh orang lain dengan argumentasi yang kuat atau dengan keputusan yang membantah. Seorang murid yang baru mulai belajar belum mempunyai keyakinan yang kuat terhadap tujuan, sedangkan penyembah kelas-dua sudah mempunyai segala keyakinan terhadap tujuan, meskipun ia juga belum dapat mengemukakan argumentasi dan bukti dari Kitab Suci. Karena itu, penyembah kelas-tiga disebut penyembah pemula.
Penggolongan lebih lanjut tentang para penyembah pemula dikemukakan dalam Bhagavad-gītā. Dalam Bhagavad-gītā dinyatakan bahwa empat golongan manusia—yaitu, orang yang menderita, orang yang memerlukan uang, orang yang ingin tahu dan orang yang bijaksana—mulai melakukan pelayanan bhakti dan mendekati Tuhan supaya merasa lega dalam kepuasan diri masing-masing. Mereka pergi ke suatu tempat sembahyang dan berdoa kepada Tuhan untuk menghilangkan kesengsaraan material, atau demi perkembangan ekonomi, atau untuk memuaskan keinginannya untuk mengetahui sesuatu. Orang bijaksana yang hanya menginsafi kebesaran Tuhan juga termasuk pemula. Para pemula seperti itu dapat diangkat sarnpai tingkat kelas-dua atau tingkat kelas-utama jika mereka bergaul dengan para penyembah-murni.
Contoh lain tentang golongan pemula ialah Mahārāja Dhruva. Dhruva menginginkan kerajaan ayahnya. Karena itu, Dhruva menekuni pelayanan bhakti kepada Tuhan. Kemudian pada akhirnya, setelah Dhruva disucikan sepenuhnya, ia menolak menerima berkat material apa pun dari Kṛṣṇa. Begitu pula, Gajendra menderita dan berdoa kepada Kṛṣṇa untuk memohon perlindungan. Sesudah itu, Gajendra menjadi penyembah-murni. Begitu pula Sanaka, Sanātana, Sananda dan Sanat-kumāra semua termasuk golongan orang suci yang bijaksana, dan mereka juga tertarik kepada pelayanan bhakti. Hal yang serupa terjadi terhadap sidang resi-resi di hutan Naimiṣāraṇya, yang dipimpin oleh Resi Śaunaka. Mereka ingin tahu dan selalu bertanya ke-pada Sūta Gosvāmī tentang Kṛṣṇa. Dengan demikian mereka mencapai pergaulan dengan seorang penyembah-murni se-hingga mereka sendiri menjadi penyembah-murni. Itulah cara untuk maju. Kalau seseorang cukup beruntung hingga bergaul dengan para penyembah-murni, biar bagaimanapun keadaannya, maka dengan cepat sekali ia diangkat sampai tingkat kelas-dua atau kelas-utama.
Empat jenis penyembah tersebut sudah diuraikan dalam Bab Tujuh Bhagavad-gītā dan mereka semua diakui sebagai orang saleh. Tanpa menjadi saleh, tidak ada seorang pun yang dapat mencapai pelayanan bhakti. Dijelaskan dalam Bhagavad-gītā bahwa hanya orang yang sudah melaksanakan kegiatan saleh secara terus-menerus dan yang reaksi dosa dalam kehidupannya sudah dihentikan sepenuhnya yang dapat mulai melakukan kesadaran Kṛṣṇa. Orang lain tidak dapat mulai. Para penyembah pemula digolongkan menjadi empat golongan—orang yang menderita, orang yang memerlukan uang, orang yang ingin tahu dan orang bijaksana—menurut tingkat kegiatannya yang saleh. Tanpa kegiatan saleh, kalau orang sedang menderita, ia mulai tidak percaya kepada Tuhan, atau mengikuti paham yang tidak mengakui Tuhan, atau sesuatu seperti itu. Oleh karena ia belum percaya kepada Tuhan dengan mantap, ia berpikir bahwa ia dapat menyesuaikan keadaan penderitaannya dengan cara sama sekali tidak percaya kepada Tuhan.
Akan tetapi, Śrī Kṛṣṇa sudah menjelaskan dalam Bhagavad-gītā bahwa di antara empat jenis pemula, orang bijaksanalah yang sangat dicintai oleh Dia. Ini karena kalau orang bijaksana terikat kepada Kṛṣṇa, ia tidak mencari balasan keuntungan material. Orang bijaksana yang terikat kepada Kṛṣṇa tidak menginginkan pamrih sebagai balasan dari Kṛṣṇa, baik dalam bentuk rasa lega dari penderitaan maupun keuntungan uang. Ini berarti bahwa sejak permulaan prinsip dasar ikatannya kepada Kṛṣṇa kurang lebih adalah cinta kasih rohani. Di samping itu, oleh karena kebijaksanaannya dan pelajaran ṣastra (Kitab Suci) yang ditekuninya, ia dapat juga mengerti bahwa Kṛṣṇa adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Bhagavad-gītā dibenarkan bahwa apabila seseorang menjadi benar-benar bijaksana sesudah dilahirkan berulangkali, ia berserah-diri kepada Vāsudeva, dengan mengetahui secara sempurna bahwa Kṛṣṇa (Vāsudeva) adalah asal mula dan sebab dari segala sebab. Karena itu, ia berpegang teguh pada kaki-padma Kṛṣṇa dan berangsur-angsur mengembangkan rasa cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa. Walaupun orang bijaksana seperti itu sangat dicintai oleh Kṛṣṇa, golongan yang lain juga diakui sebagai orang yang sangat murah hati, sebab walaupun mereka menderita atau memerlukan uang, mereka sudah mendekati Kṛṣṇa untuk kepuasan mereka. Karena itu mereka diakui sebagai mahātmā-mahātmā yang murah hati dan berpandangan luas. Seseorang tidak dapat berpegang teguh pada prinsip sembahyang kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa tanpa dirinya diangkat sampai kedudukan seorang jñānī, atau orang bijaksana. Orang yang kurang cerdas atau orang yang kecerdasannya sudah dicuri oleh pesona māyā terikat pada berbagai dewa karena pengaruh sifat-sifat alam. Orang bijaksana adalah orang yang sudah mengerti sepenuhnya bahwa dirinya adalah roh dan bukan badan. Oleh karena ia mengerti bahwa dirinya adalah roh dan Kṛṣṇa adalah Roh Yang Paling Utama, ia mengetahui bahwa hubungannya yang dekat seharusnya adalah dengan Kṛṣṇa, bukan dengan badan ini. Orang yang menderita dan orang yang kekurangan uang masih mempunyai paham hidup yang bersifat material, sebab penderitaan dan kebutuhan uang kedua-duanya berhubungan dengan badan ini. Barangkali orang yang ingin tahu sedikit lebih maju daripada orang yang menderita dan orang yang memerlukan uang, tetapi ia masih berada pada tingkat material. Tetapi orang bijaksana yang mencari Kṛṣṇa mengetahui secara sempurna bahwa dirinya adalah roh atau Brahman, dan Kṛṣṇa adalah Roh Yang Paling Utama, atau Parabrahman. Ia mengetahui bahwa oleh karena Sang roh lebih rendah dan bersifat terbatas, seyogyanya ia selalu menggabungkan dirinya dengan Roh Yang tidak terhingga dan Paling Utama, yaitu Kṛṣṇa. Itulah hubungan antara orang bijaksana dan Kṛṣṇa.
Dapat disimpulkan bahwa orang yang sudah dibebaskan dari paham hidup jasmani adalah calon yang memenuhi syarat untuk mencapai bhakti yang murni. Juga dibenarkan dalam Bhagavad-gītā bahwa apabila seseorang sudah dibebaskan dari kecemasan material sesudah ia menginsafi Brahman, dan ia dapat melihat setiap makhluk hidup pada tingkat yang sama, ia memenuhi syarat untuk memasuki pelayanan bhakti.
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, ada tiga jenis kebahagiaan—material, spiritual dan pelayanan bhakti. Pelayanan bhakti dan kebahagiaan hasil pelaksanaan bhakti tidak dimungkinkan selama seseorang masih dipengaruhi oleh hal-hal material. Kalau seseorang ingin menikmati secara material atau ingin manunggal dengan Yang Mahakuasa, maka kedua hal ini dianggap paham-paham material. Oleh karena orang impersonalis tidak dapat menghargai kebahagiaan spiritual pergaulan dan balasan kegiatan cinta kasih rohani dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, tujuannya yang tertinggi ialah manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa. Paham ini hanya merupakan perluasan paham material. Di dunia material, semua orang berusaha menjadi pemimpin tertinggi di kalangan sesama manusia atau tetangganya. Baik pada tingkat kelompok, masyarakat maupun tingkat bangsa, semua orang bersaing untuk melebih orang lain, karena paham hidup yang bersifat material. Hal itu dapat diperluas sampai yang tidak terhingga, sehingga seseorang benar-benar ingin bersatu dengan Yang Mahabesar, Tuhan Yang Maha Esa. Ini juga merupakan paham hidup ma-terial, meskipun sedikit lebih maju.
Akan tetapi, paham hidup spiritual yang sempurna ialah pengetahuan yang lengkap tentang kedudukan dasar kita. Menurut pengetahuan itu, seseorang mengetahui secara cukup yang memungkinkan dia menghubungkan dirinya dalam cinta kasih rohani kepada Tuhan. Seseorang harus mengetahui bahwa dirinya terbatas dan Tuhan tidak terhingga. Karena itu, tidak mungkin seseorang benar-benar bersatu dengan Tuhan meskipun ia bercita-cita demikian. Itu tidak mungkin. Karena itu, siapa pun yang ingin atau bercita-cita memuaskan indera-indera-nya dengan menjadi semakin besar, baik dalam arti material maupun dalam arti spiritual, ia tidak dapat benar-benar menikmati rasa pelayanan bhakti yang manis. Karena itu, Śrīla Rūpa Gosvāmī membandingkan keinginan bhukti (material) dan mukti (pembebasan) seperti keadaan seseorang dipengaruhi oleh ilmu hitam seorang dukun: dalam kedua keadaan tersebut seseorang mengalami kesulitan. Bhukti berarti kenikmatan material, dan mukti berarti pembebasan dari kecemasan material dan bersatu dengan Tuhan. Keinginan-keinginan tersebut diumpamakan sebagai keadaan kesurupan disebabkan oleh setan dan dukun, sebab selama seseorang masih mempunyai cita-cita untuk kenikmatan material atau bersatu secara spiritual dengan Yang Mahakuasa, dia tidak dapat menikmati rasa spiritual yang sejati dari pelayanan bhakti.
Seorang penyembah-murni tidak pernah memedulikan pembebasan. Śrī Caitanya Mahāprabhu berdoa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Putra Nanda yang hamba cintai, hamba tidak menginginkan kebahagiaan material apa pun berupa banyak pengikut, kekayaan yang besar sekali, maupun istri yang cantik, dan hamba tidak ingin supaya kehidupan material hamba berakhir. Mungkin hamba akan dilahirkan berkali-kali, tetapi yang hamba minta dari Engkau ialah supaya pelayanan bhakti hamba kepada-Mu selalu tetap tidak pernah menyimpang.” Perhatian seorang penyembah-murni sangat tertarik kepada pemujian kegiatan, nama, sifat-sifat, bentuk-bentuk Tuhan, dan sebagainya, sehingga penyembah itu tidak memedulikan mukti. Śrī Bilvamańgala Ṭhākura berkata, “Jika hamba sibuk dalam pelayanan bhakti kepada-Mu, maka dengan mudah sekali hamba dapat merasakan kehadiran-Mu di mana-mana. Mengenai pembebasan, hamba pikir pembebasan berdiri di depan pintu hamba dengan sikap mencakupkan tangannya, dan menunggu untuk melayani hamba.” Karena itu, pembebasan dan keselamatan spiritual bukan hal-hal yang penting bagi penyembah-penyembah murni. Berhubungan dengan hal ini, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Duapuluh Lima, sloka 36, Kapiladeva menasehati ibu-Nya, Devahūti, sebagai berikut: “Ibunda yang baik hati, penyembah-penyembah-Ku yang murni terpikat dengan melihat berbagai bentuk-Ku, ketampanan wajah-Ku, dan bentuk badan-Ku yang sangat menarik, tawa-Ku, kegiatan-Ku dan lirik mata-Ku kelihatan sangat indah bagi mereka sehingga pikiran mereka selalu khusuk berpikir tentang-Ku dan kehidupan mereka sudah dipersembahkan sepenuhnya kepada-Ku. Walaupun orang seperti itu tidak bercita-cita mencapai jenis pembebasan mana pun atau jenis kebahagiaan material mana pun, namun Aku memberi mereka tempat di tengah-tengah rekan-rekan-Ku di tempat tinggal yang paling utama.” Bukti dari Śrīmad-Bhāgavatam tersebut memberi keyakinan kepada penyembah-murni bahwa dirinya akan diangkat sampai pergaulan dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Śrīla Rūpa Gosvāmī menyatakan berhubungan dengan hal ini bahwa orang yang sungguh-sungguh tertarik kepada indahnya kaki-padma Śrī Kṛṣṇa atau pelayanan kepada Kṛṣṇa dan hatinya selalu penuh kebahagiaan rohani karena rasa tertarik itu, sewajarnya tidak akan pernah bercita-cita mencapai pembebasan yang sangat dihargai oleh orang impersonalis.
Penjelasan yang serupa juga dapat ditemukan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Empat, sloka 15. Dalam sloka tersebut, Uddhava berkata kepada Śrī Kṛṣṇa, “Tuhan yang hamba muliakan, tiada sesuatu yang dianggap perlu diperoleh dari kegiatan dharma, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera maupun pembebasan bagi orang yang tekun dalam pelayanan bhakti kepada-Mu—walaupun kebahagiaan dari berbagai sumber tersebut dengan mudah sekali dapat diperoleh oleh mereka. Wahai Tuhan yang hamba muliakan, walaupun ada segala jenis fasilitas tersebut, hamba tidak bercita-cita mencapai hasil-hasil seperti itu. Hamba hanya berdoa agar hamba dapat mempunyai keyakinan dan pelayanan bhakti yang tidak pernah menyimpang terhadap kaki-padma-Mu.”
Penjelasan yang serupa itu juga terdapat dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Duapuluh Lima, sloka 34. Dalam sloka tersebut, Kapiladeva memberi pelajaran kepada ibu-Nya, dan bersabda, “Ibunda yang baik hati, penyembah-penyembah yang hatinya selalu penuh dalam pelayanan kepada kaki padma-Ku dan bersedia melakukan apa pun untuk kepuasan-Ku, khususnya penyembah-penyembah beruntung yang berkumpul bersama-sama untuk memahami sifat-sifat, kegiatan dan bentuk-Ku dan dengan demikian memuji kebesaran-Ku secara bersama-sama sehingga memeroleh kebahagiaan rohani dari hal itu, tidak pernah bercita-cita bersatu dengan-Ku. Jangankan bersatu dengan-Ku, kalau mereka ditawari jabatan seperti jabatan-Ku di tempat tinggal-Ku, atau kekayaan seperti kekayaan-Ku, ataupun pergaulan pribadi dengan-Ku dengan ciri-ciri badan yang serupa, mereka menolak, sebab mereka puas hanya dengan menekuni pelayanan bhakti kepada-Ku.”
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Empat, Bab Sembilan, sloka 10, Mahārāja Dhruva berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, kebahagiaan rohani yang diperoleh dari meditasi pada kaki padma-Mu, yang dinikmati oleh penyembah-penyembah murni, tidak dapat didekati oleh kebahagiaan rohani yang diperoleh oleh orang impersonalis melalui keinsafan-diri. Orang yang bekerja untuk mencapai hasil atau pahala dapat bercita-cita diangkat paling tinggi hanya sampai planet-planet surga yang lebih tinggi saja. Jadi, bagaimana mungkin mereka mengerti tentang Engkau? Dan bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa mereka menikmati kebahagiaan yang mirip dengan kebahagiaan para penyembah?”