Tiga golongan bhakti yang diuraikan oleh Śrīla Rūpa Gosvāmī dalam Bhakti-rasāmÂŤta-sindhu adalah latihan pelayanan bhakti, bhakti dalam kebahagiaan rohani, dan bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa. Masing-masing golongan tersebut mem-punyai banyak bagiannya. Pada umumnya, dimengerti bahwa latihan pelayanan bhakti mempunyai dua sifat yang berbeda, bhakti dalam kebahagiaan rohani mempunyai empat sifat, sedangkan bhakti yang murni kepada Tuhan mempunyai enam sifat. Sifat-sifat tersebut akan dijelaskan oleh Śrīla Rūpa Gosvāmī nanti.
Berhubungan dengan hal ini, Śrīla Rūpa Gosvāmī menganjurkan bahwa orang yang memenuhi syarat untuk mencapai kesadaran Kṛṣṇa atau bhakti, dapat digolongkan menurut rasa yang dimilikinya. Śrīla Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa bhakti adalah proses yang berjalan terus-menerus dari penjelmaan yang lalu. Tidak ada seorang pun yang dapat mulai melakukan bhakti kecuali ia pernah mempunyai hubungan dengan bhakti dahulu kala. Misalnya, seandainya dalam kehidupan ini saya berlatih bhakti sampai tingkat tertentu. Walaupun bhakti tersebut belum dilaksanakan secara seratus persen sempurna, namun apa pun yang sudah saya lakukan tidak akan hilang. Dalam penjelmaan yang akan datang, saya akan mulai dari tingkat yang saya capai dalam penjelmaan ini, dan saya akan mulai lagi. Dengan cara demikian proses tersebut selalu berjalan terus-menerus. Tetapi kalaupun itu tidak berjalan terus-menerus, kalau kebetulan seseorang berminat kepada pelajaran dari seorang penyembah-murni, ia dapat diterima dan maju dalam bhakti. Bagaimanapun, bhakti lebih mudah untuk orang yang mempunyai minat yang wajar untuk mengerti buku-buku seperti Bhagavad-gītā dan Śrīmad-Bhāgavatam, daripada untuk orang yang hanya terbiasa berspekulasi dan berargumentasi.
Untuk membenarkan pernyataan ini, ada pernyataan-pernyataan yang otoritatif dari para sarjana yang bijaksana dari zaman dahulu. Menurut pendapat umum mereka, seseorang dapat diatur oleh keyakinan-keyakinan tertentu yang diperoleh dari argumentasi dan keputusannya sendiri. Kemudian orang lain, yang lebih ahli dalam logika, akan membantah kesimpulan-kesimpulan tersebut dan menetapkan teori lain. Dengan cara demikian, jalan argumentasi tidak akan pernah aman ataupun mencapai kesimpulan yang pasti. Karena itu, Śrīmad-Bhāgavatam menganjurkan supaya orang mengikuti jejak langkah para otoritas.
Uraian berikut adalah uraian umum tentang bhakti yang diberikan oleh Śrī Rūpa Gosvāmī dalam Bhakti-rasāmÂŤta-sindhu. Sebelumnya, sudah dinyatakan bahwa bhakti dapat dibagi menjadi tiga golongan—yaitu pelayanan bhakti dalam latihan, pelayanan bhakti dalam kebahagiaan rohani dan bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang Śrīla Rūpa Gosvāmī ingin menguraikan bhakti dalam latihan.
Latihan berarti menggunakan indera-indera kita dalam jenis pekerjaan tertentu. Karena itu, pelayanan bhakti dalam latihan berati menggunakan berbagai indera kita dalam pelayanan kepada Kṛṣṇa. Beberapa indera dimaksudkan untuk memeroleh pengetahuan, dan indera yang lain dimaksudkan untuk melaksanakan kesimpulan pikiran, perasaan dan keinginan kita. Jadi, latihan berarti mempergunakan pikiran dan indera-indera dalam pelayanan bhakti yang nyata. Latihan tersebut dimaksudkan bukan untuk mengembangkan sesuatu yang tidak wajar. Misalnya, seorang anak belajar atau berlatih untuk berjalan. Kegiatan berjalan tersebut bukanlah sesuatu yang tidak wajar. Kesanggupan untuk berjalan kaki sudah ada pada anak itu sejak awal. Dan kalau ia hanya berlatih sedikit saja maka ia dapat berjalan kaki dengan baik sekali. Begitu pula, bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah perasaan yang wajar untuk setiap makhluk hidup. Manusia yang tidak beradab seperti suku-suku yang primitif juga bersujud dengan hormat kepada sesuatu yang ajaib yang diperlihatkan oleh alam, dan mereka menghargai bahwa di belakang suatu pertunjukan atau perbuatan yang ajaib itu, ada sesuatu yang bersifat Mahakuasa. Jadi, meskipun kesa-daran tersebut masih terpendam di dalam hati orang yang dipengaruhi secara material, namun kesadaran tersebut ada di dalam hati setiap makhluk hidup. Apabila kesadaran tersebut sudah disucikan, maka itu disebut kesadaran Kṛṣṇa.
Ada cara-cara tertentu yang dianjurkan untuk menggunakan indera-indera dan pikiran kita dengan cara sedemikian rupa agar kesadaran yang terpendam di dalam hati kita untuk mencintai Kṛṣṇa akan dibangkitkan, seperti halnya seorang anak dapat mulai berjalan kaki dengan latihan kecil. Orang yang tidak mempunyai kesanggupan dasar untuk berjalan kaki tidak akan bisa berjalan meskipun ia berlatih. Begitu pula, kesadaran Kṛṣṇa tidak dapat dibangkitkan hanya melalui latihan saja. Sebenarnya, tidaklah ada apa yang namanya latihan. Apabila kita ingin mengembangkan kesanggupan yang terpendam di dalam hati kita untuk melakukan pelayanan bhakti, ada proses-proses tertentu yang akan menyebabkan kesanggupan terpendam itu di-bangkitkan kalau kita menerima dan melaksanakan proses-proses itu. Latihan tersebut disebut dengan istilah sādhana-bhakti.
Setiap makhluk yang hidup di bawah pesona energi material dianggap berada dalam keadaan gangguan jiwa yang tidak normal. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam dinyatakan, “Pada umum-nya, roh yang terikat mengalami gangguan jiwa, sebab dia selalu sibuk dalam kegiatan yang menyebabkan ikatan dan penderitaan.” Sang roh dalam kedudukannya yang asli adalah penuh kebahagiaan, riang, kekal dan penuh pengetahuan. Hanya keterlibatan dalam kegiatan material yang menyebabkan ia menderita, bersifat sementara dan penuh kebodohan. Ini disebabkan vikarma. Vikarma berarti “perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan”. Karena itu, kita harus berlatih sādhana-bhakti—yang berarti mempersembahkan mańgala-ārati (sembahyang kepada Arca) pagi-pagi, berpantang kegiatan material tertentu, bersujud kepada guru spiritual dan mengikuti banyak aturan dan peraturan lain yang akan dibicarakan di sini satu demi satu. Latihan tersebut akan membantu seseorang supaya gangguan jiwanya sembuh. Seperti halnya penyakit jiwa disembuhkan oleh petunjuk seorang psikiater, begitu pula sādhana-bhakti ini menyembuhkan penyakit jiwa yang dialami oleh roh terikat di bawah pesona māyā, atau khayalan material.
Nārada Muni menyebutkan tentang sādhana-bhakti tersebut dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tujuh, Bab Satu, sloka 32. Nārada menyatakan kepada Mahārāja Yudhiṣṭhira dalam sloka itu, “Wahai Baginda Raja yang saya hormati, seseorang harus memusatkan pikirannya kepada Kṛṣṇa dengan segala upaya.” Itu disebut kesadaran Kṛṣṇa. Kewajiban seorang ācārya atau guru spiritual, ialah mencari cara dan sarana supaya muridnya dapat memusatkan pikiran kepada Kṛṣṇa. Itulah awal dari sādhana-bhakti. Śrī Caitanya Mahāprabhu sudah memberikan cara yang dibenarkan kepada kita untuk tujuan tersebut. Proses tersebut berdasarkan pada kegiatan mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa. Ucapan mantra tersebut mempunyai kekuatan yang begitu besar sehingga segera mengikat seseorang kepada Kṛṣṇa. Itulah awal sādhana-bhakti. Entah dengan cara apa pun, seseorang harus memusatkan pikirannya kepada Kṛṣṇa. Walaupun Ambarīṣa Mahārāja, orang suci yang mulia, menjadi raja yang memikul tanggung jawab yang besar, beliau berhasil memusatkan pikirannya kepada Kṛṣṇa. Seperti itu pula, siapa pun yang berusaha memusatkan pikirannya dengan cara seperti yang tersebut di atas akan maju dengan cepat sekali dan berhasil menghidupkan kembali kesadaran Kṛṣṇa yang asli yang ada di dalam hatinya.
Sekarang sādhana-bhakti, atau latihan pelayanan bhakti, juga dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama disebut pelayanan menurut prinsip-prinsip aturan: seseorang harus mengikuti berbagai prinsip-prinsip aturan tersebut atas perintah guru spiritual atau berdasarkan Kitab Suci yang otoritatif, dan ia tidak boleh menolak. Itu disebut vaidhi, atau teratur. Ia harus melakukannya tanpa membantah. Bagian lain sādhana-bhakti disebut rāgānugā. Rāgānugā adalah tingkat yang dicapai dengan cara mengikuti prinsip-prinsip aturan. Kalau seseorang sudah mencapai tingkat rāgānugā, ia sedikit lebih terikat kepada Kṛṣṇa dan ia melaksanakan pelayanan bhakti karena rasa cinta kasih yang wajar. Misalnya, barangkali orang yang tekun dalam pelayanan bhakti disuruh bangun pagi-pagi dan memper-sembahkan ārati, yang berarti sejenis sembahyang kepada Arca. Pada permulaan, atas perintah guru spiritualnya, seseorang ba-ngun pagi-pagi dan mempersembahkan ārati, tetapi kemudian ia mengembangkan ikatan yang sejati. Apabila ia memeroleh ikatan tersebut, dengan sendirinya ia berusaha menghiasi Arca, menyiapkan berbagai jenis pakaian dan berpikir tentang ber-bagai rencana untuk melaksanakan pelayanan bhakti-nya de-ngan baik. Walaupun ini termasuk golongan latihan pelayanan bhakti, namun persembahan pelayanan bhakti tersebut bersifat spontan. Jadi, latihan pelayanan bhakti, sādhana-bhakti dapat dibagi menjadi dua bagian—yakni, yang teratur dan yang bersifat spontan.
Rūpa Gosvāmī mendefinisikan bagian pertama latihan pelayanan bhakti atau vaidhi-bhakti, sebagai berikut: “Apabila belum ada ikatan atau cinta kasih rohani yang spontan kepada Tuhan, dan seseorang tekun dalam pelayanan kepada Tuhan hanya karena mematuhi perintah guru spiritual atau mengikuti Kitab Suci, maka pelayanan yang wajib seperti itu disebut vaidhi-bhakti.”
Prinsip-prinsip vaidhi-bhakti tersebut juga diuraikan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Dua, Bab Satu sloka 5. Dalam sloka tersebut, Śukadeva Gosvāmī memberikan pelajaran mengenai jalan perbuatannya kepada Mahārāja Parīkṣit yang sebentar lagi akan meninggal dunia. Mahārāja Parīkṣit bertemu dengan Śukadeva Gosvāmī hanya satu minggu sebelum bertemu ajalnya, dan Sang Raja bingung tentang apa yang harus dilakukannya sebelum meninggal dunia. Banyak resi lain juga tiba di sana, tetapi tidak ada seorang pun di antaranya yang dapat memberi petunjuk yang benar kepada Mahārāja Parīkṣit. Akan tetapi, Śukadeva Gosvāmī memberikan pengarahan kepada Mahārāja Parīkṣit sebagai berikut: “Wahai Baginda Raja yang saya hormati, kalau Baginda ingin bebas dari rasa takut dalam menghadapi maut minggu depan (sebab semua orang sesungguhnya merasa takut pada saat akan meninggal dunia), maka Baginda harus segera memulai proses mendengar, memuji dan ingat kepada Tuhan. Kalau seseorang dapat memuji dan mendengar Hare Kṛṣṇa dan selalu ingat kepada Śrī Kṛṣṇa maka ia pasti bebas dari rasa takut pada maut, yang dapat datang pada setiap saat.
Dalam pernyataan Śukadeva Gosvāmī, dinyatakan bahwa Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa adalah Kṛṣṇa. Karena itu, Śukadeva menganjurkan supaya orang selalu mendengar tentang Kṛṣṇa. Beliau tidak menganjurkan supaya orang mendengar dan memuji tentang para dewa. Para Māyāvādī (orang impersonalis) menyatakan bahwa orang boleh mengucapkan nama mana pun, baik nama Kṛṣṇa maupun nama-nama para dewa, dan hasilnya sama saja. Tetapi pendapat ini tidaklah benar. Menurut keputusan yang dibenarakan dari Śrīmad-Bhāgavatam, seseorang harus mendengar dan memuji hanya tentang Śrī Viṣṇu (Kṛṣṇa).
Jadi, Śukadeva Gosvāmī menganjurkan kepada Mahārāja Parīkṣit supaya orang harus mendengar, memuji dan ingat kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Kṛṣṇa dengan segala upaya, agar ia bebas dari rasa takut pada maut. Śukadeva juga menyebutkan bahwa Personalitas Tuhan Yang Maha Esa adalah sarvātmā. Sarvātmā berarti “Roh Yang Utama di dalam hati setiap orang.” Kṛṣṇa juga disebut sebagai īṣvara, yang berarti Yang Mahakuasa yang bersemayam di dalam hati semua orang. Karena itu, kalau kita menjadi terikat kepada Kṛṣṇa dengan sesuatu cara, maka Kṛṣṇa akan membebaskan kita dari segala bahaya. Dalam Bhagavad-gītā, dinyatakan bahwa siapa pun yang menjadi penyembah Tuhan tidak pernah dibinasakan. Akan tetapi, orang lain selalu dibinasakan. “Dibinasakan” berarti sesudah mencapai bentuk kehidupan manusia ini, seseorang tidak keluar dari ikatan kelahiran dan kematian sehingga ia menyalahgunakan peluang emas yang diperolehnya. Orang seperti itu tidak mengetahui ke mana dirinya akan dilemparkan oleh hukum-hukum alam.
Andaikata seseorang tidak mengembangkan kesadaran Kṛṣṇa dalam kehidupan manusia ini ia akan dilemparkan ke dalam peredaran kelahiran dan kematian, yang meliputi 8.400.000 jenis kehidupan, dan identitas spiritualnya akan tetap hilang. Seseorang tidak mengetahui apakah ia akan menjadi tanaman, binatang, burung, atau sesuatu sejenis itu, sebab jumlah jenis-jenis kehidupan begitu besar. Guna menghidupkan kembali kesadaran Kṛṣṇa yang asli yang ada di dalam hati kita, Śrīla Rūpa Gosvāmī menganjurkan supaya dengan sesuatu cara kita harus menggunakan pikiran kita berhubungan dengan Kṛṣṇa dengan sikap yang sangat serius, dan dengan demikian kita juga menjadi bebas dari rasa takut pada maut. Sesudah kematian, kita tidak mengetahui tujuan kita, sebab kita sepenuhnya berada di bawah pengendalian hukum-hukum alam. Hanya Kṛṣṇa, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, yang mengendalikan hukum-hukum alam. Karena itu, kalau kita berlindung kepada Kṛṣṇa dengan sikap yang serius, maka kita tidak perlu takut bahwa kita akan dilempar kembali ke dalam peredaran yang terdiri dari begitu banyak jenis kehidupan. Seorang penyembah yang tulus ikhlas pasti akan dipindahkan ke tempat tinggal Kṛṣṇa sebagaimana dibenarkan dalam Bhagavad-gītā.
Dalam Padma Purāṇa, proses yang sama dianjurkan. Dalam Padma Purāṇa, dinyatakan bahwa orang harus selalu ingat kepada Śrī Viṣṇu. Ini disebut dhyāna, atau meditasi—yang berarti selalu ingat kepada Kṛṣṇa. Dinyatakan bahwa seseorang harus bermeditasi dengan pikirannya dipusatkan kepada Viṣṇu. Dalam Padma Purāṇa, dianjurkan supaya orang selalu memusatkan pikirannya kepada bentuk Viṣṇu melalui meditasi dan jangan lupa pada Viṣṇu pada saat mana pun. Tingkat kesadaran ini disebut samādhi, atau keadaan trance rohani.
Kita harus selalu berusaha membentuk kegiatan kehidupan kita dengan cara sedemikian rupa supaya kita selalu ingat kepada Viṣṇu, atau Kṛṣṇa. Itulah kesadaran Kṛṣṇa. Baik seseorang memusatkan pikirannya pada bentuk Viṣṇu yang berlengan empat maupun bentuk Kṛṣṇa yang berlengan dua, itu sama saja. Dalam Padma Purāṇa dianjurkan: selalu berpikir tentang Viṣṇu dengan suatu cara, tanpa melupakan Dia dalam keadaan mana pun. Sebenarnya ini merupakan prinsip yang paling mendasar di antara segala prinsip aturan. Sebab, apabila ada perintah dari atasan tentang cara melakukan sesuatu, pada saat yang sama ada larangan. Apabila ada perintah bahwa orang harus selalu ingat kepada Kṛṣṇa, maka larangannya ialah bahwa orang tidak boleh lupa kepada Kṛṣṇa. Segala prinsip aturan ditemukan secara lengkap di dalam perintah dan larangan yang sederhana tersebut.
Prinsip aturan tersebut berlaku bagi semua varṇa dan āṣrama, semua golongan dan tahap hidup. Ada empat varṇa, yaitu brāhmaṇa (rohaniwan dan cendekiawan), kṣatriya (angkatan bersenjata dan pejabat pemerintah), vaiṣya (pedagang dan petani) dan ṣūdra (buruh dan pekerja). Ada pula empat āṣrama yang baku, yaitu brahmacarya (hidup sebagai siswa), gÂŤhastha (orang yang berumah tangga), vānaprastha (orang yang sudah mengundurkan diri dari kehidupan berkeluarga) dan sannyāsa (orang yang sudah melepaskan ikatan material). Prinsip-prinsip aturan dimaksudkan bukan hanya untuk diikuti oleh para brahmacārī (siswa-siswa yang berpantang hubungan seks), tetapi berlaku untuk semua orang. Tidak menjadi soal apakah seseorang baru mulai belajar—seorang brahmacārī—atau sudah maju sekali—seorang sannyāsī. Prinsip berupa senantiasa ingat kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa dan jangan lupa kepada Dia pada saat mana pun dimaksudkan untuk diikuti oleh semua orang tanpa kecuali.
Kalau aturan tersebut diikuti, maka segala aturan dan peraturan lainnya dengan sendirinya akan menyusul. Segala aturan dan peraturan lainnya harus dianggap sebagai unsur-unsur yang membantu atau melayani prinsip dasar yang satu ini. Hukum-hukum aturan dan peraturan serta reaksi-reaksi sebagai hasilnya disebutkan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Lima, sloka 2 dan 3. Camasa Muni, salah seorang di antara sembilan resi yang datang untuk memberi pelajaran kepada Mahārāja Nimi, menyapa kepada Raja dan berkata, “Empat golongan ma-syarakat, yaitu para brāhmaṇa, para kṣatriya, para vaiṣya dan para ṣūdra keluar dari berbagai badan bentuk-semesta Tuhan Yang Maha Esa sebagai berikut: para brāhmaṇa keluar dari kepala, para kṣatriya keluar dari lengan, para vaiṣya keluar dari pinggang dan para ṣūdra keluar dari kaki. Begitu pula, para sannyāsī keluar dari kepala, para vānaprastha dari lengan, para gÂŤhastha dari pinggang dan para brahmacārī dari kaki.” Berbagai golongan masyarakat dan tingkat kemajuan spiritual tersebut dipahami menurut kualifikasi. Dibenarkan dalam Bhagavad-gītā bahwa empat golongan masyarakat dan empat tingkatan spiritual diciptakan oleh Tuhan Sendiri, menurut berbagai sifat pribadi. Seperti halnya berbagai anggota badan mempunyai berbagai jenis kegiatan, begitu pula golongan-golongan masyarakat dan tingkatan-tingkatan spiritual juga mempunyai berbagai kegiatan menurut kualifikasi dan kedudukannya. Akan tetapi, sasaran segala kegiatan tersebut selalu adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana dibenarkan dalam Bhagavad-gītā, “Dialah yang Mahamenikmati.” Jadi, baik se-seorang menjadi brāhmaṇa maupun ṣūdra ia harus memuaskan Tuhan Yang Maha Esa dengan kegiatannya. Ini juga dibenarkan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, dengan sloka yang berbunyi, “Semua orang harus sibuk dalam tugasnya yang khusus, tetapi kesempurnaan pekerjaan tersebut harus diuji dengan melihat sejauh mana Tuhan dipuaskan dengan kegiatan itu.” Hukum yang diberikan di sini ialah bahwa seseorang harus bertindak menurut kedudukannya, dan ia harus memuaskan Personalitas Yang Paling Utama dengan kegiatan itu, kalau tidak, dia akan jatuh dari kedudukannya.
Misalnya, seorang brāhmaṇa yang dilahirkan dari kepala Tuhan, wajib mengajarkan suara-suara rohani Veda, atau ṣabda-brahma. Oleh karena brāhmaṇa adalah kepala, ia harus mengajarkan tentang suara spiritual, dan ia juga harus makan atas nama Tuhan Yang Maha Esa. Menurut aturan Veda, bila seorang brāhmaṇa makan, harus dimengerti bahwa Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sedang makan melalui brāhmaṇa itu. Akan tetapi, tidak dimaksudkan bahwa seorang brāhmaṇa hanya makan atas nama Tuhan namun tidak mengajarkan amanat Bhagavad-gītā kepada penduduk dunia. Sebenarnya orang yang mengajarkan amanat Bhagavad-gītā sangat dicintai oleh Kṛṣṇa sebagaimana dibenarkan dalam Bhagavad-gītā sendiri. Orang yang mengajar seperti itu sungguh-sungguh seorang brāhmaṇa, dan dengan memberikan makanan kepada dia, orang memberikan makanan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara langsung.
Begitu pula, seorang kṣatriya harus melindungi rakyat dari serangan māyā. Itulah kewajiban seorang kṣatriya. Misalnya, begitu Mahārāja Parīkṣit melihat bahwa ada orang hitam mencoba membunuh seekor sapi, ia segera menghunus pedangnya, dan ingin membunuh orang hitam itu, yang bernama Kali.* Itulah kewajiban seorang kṣatriya. Kekerasan diperlukan untuk memberi perlindungan. Dalam Bhagavad-gītā, Śrī Kṛṣṇa memberikan perintah-Nya secara langsung kepada Arjuna untuk melakukan kekerasan di medan perang Kurukṣetra hanya untuk memberi perlindungan kepada rakyat umum.
Para vaiṣya dimaksudkan untuk menghasilkan hasil pertanian, berdagang dengan hasil bumi itu, dan membagikannya. Golongan buruh, yaitu para ṣūdra, adalah orang yang tidak memiliki kecerdasan brāhmaṇa, kṣatriya maupun vaiṣya. Karena itu, mereka dimaksudkan untuk membantu golongan-golongan yang lebih tinggi tersebut dengan pekerjaan jasmani. Dengan cara demikian, ada kerjasama dan kemajuan spiritual sepenuhnya di dalam semua golongan masyarakat. Apabila tidak ada kerja sama seperti itu, maka para anggota masyarakat akan jatuh. Itulah kedudukan sekarang pada zaman Kali-yuga, atau zaman kekalutan ini. Semua orang tidak melakukan kewajibannya, dan semua orang hanya sombong dengan menganggap dirinya brāhmaṇa (cendekiawan), atau kṣatriya (anggota angkatan bersenjata atau pegawai pemerintah). Tetapi sebenarnya orang seperti itu tidak mempunyai status. Mereka tidak mempunyai hubungan dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa karena mereka tidak sadar akan Kṛṣṇa. Karena itu, perkumpulan kesadaran Kṛṣṇa dimaksudkan untuk memulihkan masyarakat manusia kepada keadaan yang sebenarnya, agar semua orang akan berbahagia dan mendapat manfaat dari perkembangan kesadaran Kṛṣṇa.
Śrī Kṛṣṇa memberi pelajaran kepada Uddhava bahwa dengan mengikuti aturan tingkatan masyarakat dan tingkatan spiritual dalam masyarakat manusia, seseorang dapat memuaskan Per-sonalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagai hasil kepuasan tersebut, seluruh masyarakat memeroleh segala kebutuhan hidup secara berlimpah tanpa kesulitan. Ini karena Tuhan Yang Maha Esa memelihara semua mahluk hidup lainnya. Kalau seluruh masyarakat melaksanakan tugasnya masing-masing dan tetap sadar-Kṛṣṇa maka tidak dapat diragukan bahwa semua anggota masyarakat akan hidup dengan sangat damai dan berbahagia. Masyarakat tidak akan kekurangan kebutuhan hidup, dan seluruh dunia akan diubah menjadi Vaikuṇṭha, suatu tempat tinggal spiritual. Seluruh masyarakat manusia akan berbahagia dalam segala hal, bahkan tanpa harus dipindahkan ke kerajaan Tuhan, dengan mengikuti aturan Śrīmad-Bhāgavatam dan melaksanakan kewajiban kesadaran Kṛṣṇa.
Ada pernyataan yang serupa oleh Śrī Kṛṣṇa Sendiri kepada Uddhava dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Duapuluh Tujuh, sloka 19. Dalam sloka tersebut, Śrī Kṛṣṇa bersabda, “Uddhava yang baik hati, semua orang sibuk dalam kegiatan, baik kegiatan yang ditunjukkan dalam Kitab-kitab Suci yang diwahyukan maupun dalam kegiatan material biasa. Kalau mereka menyembah-Ku dalam kesadaran Kṛṣṇa dengan hasil salah satu di antara dua jenis kegiatan tersebut, maka dengan sendirinya mereka akan bahagia sekali di dunia ini, dan juga berbahagia dalam penjelmaan yang akan datang. Hal ini tidak dapat diragu-ragukan. Kita dapat menyimpulkan dari pernyataan Kṛṣṇa ini bahwa kegiatan dalam kesadaran Kṛṣṇa akan memberikan kesempurnaan segala keinginan kepada semua orang.
Jadi, perkumpulan kesadaran Kṛṣṇa sangatlah bagus sehingga seseorang tidak perlu menjuluki dirinya brāhmaṇa, kṣatriya, vaiṣya, ṣūdra, brahmacārī, grhastha, vānaprastha maupun sannyāsī. Sebaiknya semua orang menekuni pencaharian yang ditekuninya sekarang. Sebaiknya mereka menyembah Śrī Kṛṣṇa dalam kesadaran Kṛṣṇa dengan hasil kegiatannya. Itu akan mem-perbaiki seluruh keadaan, dan semua orang akan berbahagia dan damai di dunia ini. Dalam Nārada-pañcarātra, prinsip-prinsip aturan bhakti diuraikan sebagai berikut: “Kegiatan mana pun yang dibenarkan dalam Kitab-kitab Suci dan bertujuan untuk memuaskan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa diakui oleh guru-guru suci sebagai prinsip-prinsip aturan bhakti. Kalau seseorang melaksanakan pelayanan tersebut kepada Perso-nalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa di bawah bimbingan seorang guru spiritual yang bonafide, maka berangsur-angsur ia naik sampai tingkat pelayanan dalam cinta kasih yang murni kepada Tuhan.”