Sloka

Bab 1: Ciri-Ciri Bhakti Yang Murni

Penjelasan

Ciri-Ciri Bhakti Yang Murni

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Duapuluh Sembilan, sloka 12 dan 13, Śrīla Kapiladeva yang sedang memberikan pelajaran kepada ibu-Nya, telah menyatakan ciri-ciri bhakti yang murni sebagai berikut: “Ibunda yang baik hati, para penyembah-Ku yang murni sama sekali tidak menginginkan keuntungan material maupun spekulasi filosofi menjadikan pikirannya begitu tekun dalam pelayanan kepada-Ku sehingga mereka tidak pernah berminat meminta sesuatu apa pun dari-Ku kecuali kesempatan untuk menekuni pelayanan tersebut. Kesempatan menetap di tempat tinggal-Ku bersama-Ku pun tidak mereka minta.”

Ada lima jenis pembebasan, yaitu, manunggal dengan Tuhan, tinggal bersama Tuhan Yang Maha Esa di planet yang sama, memiliki ciri-ciri badan yang sama seperti Tuhan, menikmati kekayaan yang sama seperti kekayaan Tuhan, dan tinggal bersama Tuhan sebagai rekan-Nya. Jangankan hanya kepuasan indera-indera material, lima jenis pembebasan pun tidak diinginkan oleh seorang penyembah. Ia puas hanya dengan melaksanakan pelayanan bhakti kepada Tuhan. Itulah ciri bhakti yang murni.

Dalam pernyataan Kapiladeva tersebut, dari Śrīmad-Bhāgavatam, kedudukan nyata seorang penyembah-murni diuraikan. Ciri-ciri dasar pelayanan bhakti juga didefinisikan. Ciri-ciri bhakti lebih lanjut diuraikan oleh Rūpa Gosvāmī dengan bukti dari berbagai Kitab Suci. Śrī1a Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa bhakti yang murni mempunyai enam ciri sebagai berikut:

(1) Bhakti yang murni segera membawa rasa lega bebas dari segala jenis kesengsaraan material.

(2) Bhakti yang murni adalah awal dari segala keadaan yang menyejahterakan.

(3) Bhakti yang murni segera menempatkan seseorang dalam kebahagiaan rohani.

(4) Bhakti yang murni jarang dicapai.

(5) Paham pembebasan pun tidak dianggap berharga oleh orang yang mantap dalam bhakti yang murni.

(6) Bhakti yang murni adalah satu-satunya cara untuk menarik hati Kṛṣṇa.

Kṛṣṇa adalah Yang Mahamenarik, tetapi Kṛṣṇa pun tertarik oleh bhakti yang murni. Ini berarti bahwa bhakti yang murni secara spiritual lebih kuat daripada Kṛṣṇa Sendiri, sebab bhakti itu adalah energi internal Kṛṣṇa.

 

Rasa Lega Bebas dari Kesengsaraan Material

Dalam Bhagavad-gītā, Kṛṣṇa mengatakan bahwa kita harus berserah-diri kepada Dia dengan meninggalkan segala dharma lainnya. Dalam sloka itu, Kṛṣṇa juga berjanji bahwa Dia akan melindungi semua orang yang sudah berserah-diri dari reaksi segala kegiatan yang berdosa. Śrīla Rūpa Gosvāmī mengatakan bahwa kesengsaraan dari kegiatan yang berdosa disebabkan oleh dosa itu sendiri dan juga karena kegiatan yang berdosa yang dilakukan dalam penjelmaan kita yang lalu. Pada umumnya, seseorang melakukan kegiatan yang berdosa karena kebodohan. Tetapi kebodohan bukan alasan untuk menghindari reaksi—yaitu kegiatan yang berdosa. Ada dua jenis kegiatan yang berdosa: yang matang dan yang belum matang. Kegiatan berdosa yang menyebabkan kita menderita saat ini disebut matang. Ada banyak kegiatan yang berdosa yang tersimpan di dalam diri kita dan kita masih belum menerima akibatnya. Kegiatan yang berdosa itu disebut belum matang. Misalnya, barangkali seseorang sudah melakukan perbuatan pidana, tetapi dia belum ditahan karena perbuatan itu. Tetapi nasib tahanan menantikan orang itu begitu ia ditemukan oleh pihak yang berwenang. Seperti itu pula, kita sedang menantikan kesengsaraan pada masa yang akan datang karena beberapa kegiatan kita yang berdosa, dan kita sedang menderita saat ini karena kegiatan berdosa yang sudah matang.

Dengan cara demikian, ada rangkaian kegiatan yang berdosa serta kesengsaraan sebagai akibat dari kegiatan itu. Roh yang terikat menderita dalam banyak penjelmaannya sebagai akibat dosa tersebut. Ia sedang menderita hasil kegiatan yang berdosa dari penjelmaan yang lalu dalam kehidupan sekarang, sementara itu dia sedang menciptakan kesengsaraan lebih lanjut untuk penjelmaannya yang akan datang. Kegiatan berdosa yang sudah matang diperlihatkan kalau seseorang sedang menderita penyakit yang kronis, sedang menderita karena terlibat perkara hukum, dilahirkan dalam keluarga yang rendah atau sudah merosot, kurang terdidik atau badannya buruk sekali.

Ada banyak hasil dari kegiatan berdosa yang kita lakukan pada masa lampau. Kita sedang menderita karena kegiatan berdosa itu pada saat ini. Mungkin kita akan menderita pada masa yang akan datang sebagai akibat kegiatan berdosa yang kita lakukan sekarang. Tetapi segala reaksi perbuatan yang berdosa dapat segera dihentikan kalau kita mulai mengikuti Kesadaran Kṛṣṇa. Untuk membuktikan kenyataan ini, Śrīla Rūpa Gosvāmī mengutip dari Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Empatbelas, sloka 19. Sloka ini berhubungan dengan ajaran Śrī Kṛṣṇa kepada Uddhava. Śrī Kṛṣṇa bersabda, “Uddhava yang baik hati, pelayanan bhakti kepada-Ku seperti api yang berkobar. Api bhakti itu dapat membakar bahan bakar yang tidak terhingga hingga menjadi abu.” Penjelasan contoh ini ialah bahwa seperti halnya api yang berkobar dapat membakar jumlah bahan bakar yang tidak terhingga sampai tinggal abu saja, begitu pula bhakti kepada Tuhan dalam kesadaran Kṛṣṇa dapat membakar segala bahan bakar berupa kegiatan yang berdosa. Misalnya, di dalam Bhagavad-gītā, Arjuna berpikir bahwa berperang adalah kegiatan yang berdosa, tetapi Kṛṣṇa menjadikan Arjuna sibuk di medan perang atas perintah-Nya sehingga pertempuran itu menjadi kegiatan pelayanan bhakti. Karena itu, Arjuna tidak menderita reaksi dosa apa pun.

Śrīla Rūpa Gosvāmī mengutip sloka lain lagi dari Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Tigapuluh Tiga, sloka 6. Dalam sloka itu, Devahūti berkata kepada putranya, Kapiladeva, “Tuhan yang hamba muliakan, ada sembilan jenis kegiatan bhakti, yang mulai dari kegiatan mendengar dan memuji. Siapa pun yang mendengar tentang kegiatan-Mu, memuji kebesaran-Mu, bersujud kepada-Mu, berpikir tentang-Mu, dan dengan demikian melakukan salah satu di antara sembilan jenis pelayanan bhakti—bahkan jika ia dilahirkan dalam keluarga orang yang makan daging anjing sekalipun (golongan manusia yang rendah)—dia segera memenuhi syarat untuk melakukan kurban suci.” Karena itu, bagaimana mungkin seseorang yang tekun dalam pelayanan bhakti dan sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya belum disucikan? Itu tidak mungkin. Orang yang tekun dalam kesadaran Kṛṣṇa dan pelayanan bhakti pasti sudah dibebaskan dari segala pengaruh kegiatan material yang berdosa. Jadi, bhakti mempunyai kekuatan untuk membatalkan segala jenis reaksi dari perbuatan yang berdosa. Walau demikian, seorang pe-nyembah selalu waspada supaya tidak melakukan kegiatan yang berdosa lagi; inilah kualifikasinya yang khusus sebagai seorang penyembah. Śrīmad-Bhāgavatam menyatakan bahwa melalui bhakti orang yang dilahirkan dalam keluarga orang yang makan daging anjing sekalipun dapat memenuhi syarat untuk ikut dalam pelaksanaan upacara-upacara ritual yang dianjurkan dalam Veda. Pernyataan tersebut juga mengandung arti bahwa orang yang dilahirkan dalam keluarga pemakan daging anjing pada umumnya tidak memenuhi syarat untuk melakukan yajña, atau kurban suci. Golongan pendeta yang bertugas memimpin pelaksanaan upacara-upacara ritual yang dianjurkan di dalam Veda disebut golongan brāhmaṇa. Kalau seseorang belum menjadi brāhmaṇa, dia tidak boleh melakukan upacara-upacara tersebut.

Seseorang dilahirkan dalam keluarga brāhmaṇa atau keluarga pemakan daging anjing sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan pada masa lampau. Kalau seseorang dilahirkan dalam keluarga pemakan daging anjing, itu berarti kegiatannya pada masa lampau semuanya berdosa. Tetapi kalau orang seperti itu mulai mengikuti jalan bhakti dan mulai mengucapkan nama-nama suci Tuhan—Hare Kṛṣṇa Hare Kṛṣṇa Kṛṣṇa Kṛṣṇa Hare Hare/ Hare Rāma Hare Rāma Rāma Rāma Hare Hare—maka dia segera memenuhi syarat untuk melakukan upacara-upacara ritual. Ini berarti reaksinya yang berdosa sudah segera dinetralisir.

Dalam Padma Purāṇa dinyatakan bahwa ada empat jenis akibat kegiatan yang berdosa sebagai berikut:

(1) Akibat yang belum matang

(2) Akibat yang tersimpan sebagai benih

(3) Akibat yang sudah matang, dan

(4) Akibat yang hampir matang.

Juga dinyatakan bahwa keempat akibat tersebut segera dihilangkan bagi orang yang berserah-diri kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Viṣṇu, dan sudah tekun dalam pelayanan bhakti kepada Dia sepenuhnya.

Akibat yang diuraikan dengan istilah “hampir matang” berarti kesengsaraan yang sedang diderita saat ini, sedangkan akibat yang “tersimpan sebagai benih” ada di dalam hati. Di dalam hati ada sejumlah keinginan berdosa yang tersimpan sebagai biji. Kata kūṭam dalam Bahasa Sanskerta berarti keinginan-keinginan itu hampir siap untuk menghasilkan biji, atau akibat biji. “Akibat yang belum matang” berarti keadaan bibit masih belum mulai. Kita dapat mengerti dari pernyataan Padma Purāṇa tersebut bahwa pencemaran material sangatlah halus. Asal mula pencemaran material, proses pembuahan dan hasilnya dan bagaimana cara seseorang menderita akibat itu dalam bentuk kesengsaraan merupakan bagian dari rangkaian yang panjang. Bila seseorang kena penyakit, seringkali sangat sulit menentukan sebab-musabab penyakit itu, asal mulanya dan bagaimana penyakit itu menjadi matang. Akan tetapi, penderitaan sejenis penyakit tidaklah muncul secara tiba-tiba. Proses berkembangan penyakit memakan waktu. Di bidang ilmu kedokteran, seorang dokter menyuntikkan vaksinasi untuk mencegah perkembangan pencemaran. Seperti itu pula, suntikan yang praktis untuk menghentikan pembuahan benih-benih kegiatan kita yang berdosa ialah kesibukan dalam kesadaran Kṛṣṇa.

Berhubungan dengan hal ini, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda enam, Bab Dua, sloka 17, Śukadeva Gosvāmī membicarakan sejarah Ajāmila. Pada awal kehidupannya, Ajāmila adalah seorang brāhmaṇa yang baik dan selalu menekuni ke-wajibannya. Tetapi pada waktu Ajāmila baru dewasa, dirinya dirusakkan sepenuhnya karena pergaulan dengan seorang wanita tuna susila. Pada akhir riwayatnya yang penuh kejahatan, hanya dengan memanggil nama “Nārāyaṇa [Kṛṣṇa],” Ajāmila diselamatkan, meskipun dosa yang dipikulnya banyak sekali. Śukadeva menunjukkan bahwa pertapaan, kedermawanan dan pelaksanaan upacara-upacara ritual adalah proses-proses yang dianjurkan untuk menebus kegiatan yang berdosa, tetapi seseorang tidak dapat menghilangkan biji keinginan yang berdosa dari hatinya dengan melaksanakan proses-proses itu. Itulah yang terjadi terhadap Ajāmila pada usia mudanya. Bibit keinginan yang berdosa hanya dapat dihilangkan oleh tercapainya Kesadaran Kṛṣṇa: Kesadaran Kṛṣṇa mudah sekali dicapai dengan cara mengucapkan mahā-mantra, atau mantra Hare Kṛṣṇa se-bagaimana dianjurkan oleh Śrī Caitanya Mahāprabhu. Dengan kata lain, seseorang tidak dapat disucikan seratus persen dari segala reaksi kegiatan yang berdosa kecuali ia mulai mengikuti jalan bhakti.

Seseorang dapat dibebaskan dari reaksi-reaksi kegiatan yang berdosa untuk sementara waktu dengan cara melakukan kegiatan ritual Veda, kedermawanan dan menjalankan pertapaan, tetapi pada saat berikutnya dia sudah harus sibuk lagi dalam kegiatan yang berdosa. Misalnya, orang yang sedang menderita penyakit kelamin karena terlalu banyak menikmati hubungan kelamin harus menderita rasa nyeri yang amat berat pada waktu dia sedang diobati, kemudian dia sembuh untuk sementara waktu. Tetapi oleh karena dia belum berhasil menghilangkan hawa nafsu dari hatinya, sekali lagi dia harus melakukan kegiatan yang sama hingga ia menjadi korban penyakit yang sama. Jadi, pengobatan barangkali memberikan kelegaan sementara dari penderitaan penyakit kelamin, tetapi kalau seseorang belum dididik untuk mengerti bahwa hubungan kelamin adalah hal yang menjijikkan, tidak mungkin ia diselamatkan sehingga penderitaan itu tidak diulangi lagi. Seperti itu pula, pelaksanaan kegiatan ritual, kedermawanan dan pertapaan yang dianjurkan di dalam Veda barangkali memungkinkan seseorang berhenti melakukan perbuatan yang berdosa untuk sementara waktu, tetapi selama hatinya masih belum bening, ia terpaksa mengulangi kegiatan yang berdosa berkali-kali.

Contoh lain yang dikemukakan dalam Śrīmad-Bhāgavatam adalah menyangkut gajah yang mandi di dalam kolam, yang mandi dengan serius sekali dan membersihkan badannya dengan teliti. Kemudian begitu si gajah naik ke tepi kolam, ia melempari seluruh badannya dengan debu dan tanah. Begitu pula, orang yang belum terlatih dalam kesadaran Kṛṣṇa tidak dapat dibebaskan sepenuhnya dari keinginan untuk melakukan kegiatan yang berdosa. Baik proses yoga, spekulasi filosofi maupun kegiatan yang mengharapkan pahala tidak dapat menyelamatkan seseorang dari bibit-bibit keinginan yang berdosa. Seseorang hanya dapat diselamatkan dari bibit keinginan yang berdosa kalau ia menjadi tekun dalam pelayanan bhakti.

Ada bukti lagi dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Empat, Bab Dua Puluh Dua, sloka 39. Dalam sloka itu, Sanat-kumāra berkata, “Wahai Raja yang saya hormati, keakuan palsu di dalam hati manusia begitu kuat sehingga hal itu menahan dirinya dalam kehidupan material seolah-olah dia diikat dengan tali yang kuat. Hanya para penyembah yang dapat memotong ikatan tali yang kuat tersebut dengan mudah sekali, yaitu dengan cara menekuni kesadaran Kṛṣṇa. Orang lain, yang sedang berusaha menjadi ahli-ahli mistik yang hebat atau hebat dalam melakukan ritual-ritual mereka tidak dapat maju seperti para penyembah. Karena itu, kewajiban semua orang ialah menekuni kegiatan kesadaran Kṛṣṇa supaya dibebaskan dari ikatan ego palsu yang ketat dan dibebaskan dari kesibukan dalam kegiatan material.”

Ikatan ego palsu yang ketat disebabkan oleh kebodohan. Selama seseorang belum mengetahui tentang identitasnya, ia pasti bertindak dengan cara yang salah, dan dengan demikian ia terikat dalam pencemaran material. Kebodohan terhadap pengetahuan yang nyata tersebut juga dapat dihilangkan oleh kesadaran Kṛṣṇa. Ini dibenarkan dalam Padma Purāṇa sebagai berikut: “Bhakti yang murni dalam kesadaran Kṛṣṇa adalah pembebasan tertinggi dari kebodohan. Apabila pembebasan itu sudah tercapai, pembebasan itu seperti kebakaran yang berkobar di hutan dan membunuh segala ular keinginan yang tidak menguntungkan.” Berhubungan dengan hal ini, contoh sedang dikemukakan bahwa apabila kebakaran berkobar di hutan, api yang menjadi besar dengan sendirinya membunuh semua ular di hutan. Banyak ular tinggal di dalam tanah di hutan. Kalau ada kebakaran, segala daun-daunan yang kering terbakar sehingga ular-ular segera terancam. Binatang yang berkaki empat dapat lari dari api, atau sekurang-kurangnya mencoba lari, tetapi ular-ular segera terbunuh. Begitu pula, api kesadaran Kṛṣṇa berkobar sangat kuat sehingga ular-ular kebodohan segera terbunuh.

 

Kesadaran Kṛṣṇa Serba Menyejahterakan

Śrīla Rūpa Gosvāmī memberikan definisi keadaan yang menyejahterakan. Śrīla Rūpa Gosvāmī mengatakan bahwa keadaan yang sungguh-sungguh menyejahterakan berarti kegiatan untuk kesejahteraan semua orang di dunia. Saat ini ada kelompok-kelompok yang sibuk dalam kegiatan demi kesejahteraan orang menurut masyarakat, suku atau bangsa. Bahkan ada usaha dalam bentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk kegiatan bantuan seluruh dunia. Tetapi oleh karena adanya kelemahan-kelemahan dalam kegiatan di tingkat bangsa yang terbatas, program untuk kesejahteraan umum secara massal di seluruh dunia tidak mungkin dilakukan secara praktis. Akan tetapi, perkumpulan Kesadaran Kṛṣṇa begitu bagus sehingga dapat memberi manfaat tertinggi kepada seluruh masyarakat manusia. Semua orang bisa tertarik kepada perkumpulan ini, dan semua orang dapat merasakan hasilnya. Karena itu, Rūpa Gosvāmī dan sarjana-sarjana lain yang memiliki pengetahuan tinggi sependapat bahwa acara menyebarkan keterangan ten-tang perkumpulan Kesadaran Kṛṣṇa secara luas di seluruh dunia adalah kegiatan perikemanusiaan tertinggi demi kesejahteraan umat manusia.

Bagaimana perkumpulan kesadaran Kṛṣṇa dapat menarik perhatian seluruh dunia dan bagaimana tiap-tiap orang dapat merasakan kebahagiaan dalam kesadaran Kṛṣṇa dinyatakan dalam Padma Purāṇa sebagai berikut: “Harus dimengerti bahwa orang yang sibuk dalam pelayanan bhakti dan sadar akan Kṛṣṇa sepenuhnya sedang mengabdikan diri kepada seluruh dunia dengan cara yang paling baik dan menyenangkan hati semua makhluk hidup di dunia. Selain masyarakat manusia, ia juga meyenangkan pohon dan binatang, karena mereka pun tertarik kepada perkumpulan seperti itu.” Śrī Caitanya memperlihatkan contoh nyata tentang hal ini pada waktu Dia sedang berjalan meliwati hutan Jharikhanda di India bagian tengah untuk menyebarkan gerakan sańkīrtana. Harimau, gajah, rusa dan semua satwa lainnya mengikuti Śrī Caitanya dan ikut menari dan me-nyanyi Hare Kṛṣṇa dengan cara masing-masing. Di samping itu, orang yang tekun dalam kesadaran Kṛṣṇa dan bertindak dalam pelayanan bhakti dapat mengembangkan segala sifat yang baik yang pada umumnya dimiliki oleh para dewa. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Lima, Bab Delapanbelas, sloka 12, Śukadeva Gosvāmī berkata, “Wahai Baginda Raja yang saya hormati, orang yang yakin kepada Kṛṣṇa tanpa menyimpang dan bebas dari segala kepalsuan dapat mengembangkan segala sifat yang baik yang dimiliki oleh para dewa. Oleh karena nilai tinggi kesadaran Kṛṣṇa yang dimiliki oleh seorang penyembah, dewa pun senang tinggal bersama penyembah itu. Karena itu, dapat dimengerti bahwa sifat-sifat para dewa sudah berkembang di dalam badannya.”

Di pihak lain, orang yang belum sadar-Kṛṣṇa tidak memiliki sifat-sifat yang baik. Mungkin dia terdidik sampai tingkat tinggi di perguruan tinggi, tetapi di bidang kegiatannya yang nyata, dapat dilihat bahwa dia lebih kasar daripada binatang. Walaupun seseorang sudah terdidik sampai tingkat yang tinggi di perguruan tinggi, kalau ia tidak dapat melampaui lingkungan kegiatan mental, pasti dia hanya akan melakukan kegiatan material dan dengan demikian ia tetap tidak suci. Ada banyak orang di dunia modern yang sudah dididik sampai tingkat yang tinggi di universitas-universitas duniawi, tetapi dilihat bahwa mereka tidak sanggup mulai mengikuti perkumpulan kesadaran Kṛṣṇa dan mereka tidak mengembangkan sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh para dewa.

Misalnya, walaupun orang yang sadar-Kṛṣṇa belum terdidik menurut taraf universitas, ia dapat segera menghentikan segala bentuk hubungan kelamin yang tidak sah, perjudian, makanan yang berisi daging dan mabuk-mabukan, sedangkan orang yang belum sadar-Kṛṣṇa sering menjadi pemabuk, pemakan daging, suka main perempuan dan pecandu perjudian, meskipun me-reka sudah terdidik sampai tingkat tinggi. Ini bukti yang nyata tentang bagaimana orang yang sadar-Kṛṣṇa berkembang hingga memiliki sifat-sifat yang mulia, sedangkan orang yang belum sadar-Kṛṣṇa tidak dapat memiliki sifat-sifat seperti itu. Kita sudah mengalami bahwa para pemuda dalam kesadaran Kṛṣṇa juga tidak terikat pada bioskop, klab malam, tarian yang cabul, restoran, toko minuman keras, dsb. Ia menjadi bebas sepenuhnya dari hal-hal itu. Ia menghemat waktunya yang sangat berharga sehingga tidak disia-siakan dalam kegiatan merokok, minum-minuman keras, menonton di bioskop dan menari gaya Barat.

Orang yang belum sadar-Kṛṣṇa biasanya tidak mampu duduk berdiam bahkan selama setengah jam saja. Sistem yoga mengajarkan bahwa kalau seseorang bertapa tanpa bicara, ia akan menginsafi bahwa dirinya adalah Tuhan. Barangkali sistem itu bagus untuk orang materialistik, tetapi berapa lama mereka sanggup menjaga diri tanpa bicara? Barangkali mereka duduk dengan cara yang tidak wajar dan melakukan apa yang hanya namanya saja meditasi, tetapi setelah selesai beryoga, mereka segera menjadi sibuk lagi dalam kegiatan seperti hubungan kelamin yang tidak sah, perjudian, makan daging dan banyak kegiatan lain yang tidak masuk akal. Tetapi orang yang sadar akan Kṛṣṇa segera mengangkat dirinya tanpa berusaha melakukan apa yang disebut-sebut meditasi tanpa bicara seperti itu. Hanya karena ia tekun dalam kesadaran Kṛṣṇa, dengan sendirinya ia meninggalkan segala kegiatan yang bukan-bukan ter-sebut dan mengembangkan watak yang halus. Watak paling halus dikembangkan dengan cara menjadi penyembah-murni Kṛṣṇa. Kesimpulannya ialah bahwa seseorang tidak bisa benar-benar memiliki sifat-sifat yang baik kalau ia tidak berkesadaran Kṛṣṇa.

 

Kebahagiaan dalam Kesadaran Kṛṣṇa

Śrīla Rūpa Gosvāmī sudah menganalisis berbagai sumber kebahagiaan. Beliau membagi kebahagiaan menjadi tiga golongan, yaitu: (1) kebahagiaan yang diperoleh dari kenikmatan material, (2) kebahagiaan yang diperoleh dengan cara mempersamakan diri dengan Brahman Yang Paling Utama, dan (3) kebahagiaan yang diperoleh dari kesadaran Kṛṣṇa.

Dalam tantra-ṣāstra Dewa Śiva berkata kepada istrinya, Satī, sebagai berikut: “Istriku yang baik hati, orang yang sudah berserah-diri pada kaki-padma Govinda dan sudah mengembangkan kesadaran Kṛṣṇa yang murni dapat dianugerahi segala kesempurnaan yang diinginkan oleh orang impersonalis de-ngan mudah sekali. Ia juga dapat menikmati kebahagiaan yang dicapai oleh para penyembah-murni, yang lebih tinggi daripada semua kesempurnaan tersebut.”

Kebahagiaan yang diperoleh dari bhakti yang murni adalah kebahagiaan tertinggi, karena kebahagiaan itu bersifat kekal. Kebahagiaan yang diperoleh seseorang dari kesempurnaan material atau pemahaman bahwa dirinya adalah Brahman adalah lebih rendah karena kebahagiaan itu bersifat sementara. Tidak ada jaminan bahwa seseorang tidak akan jatuh dari keadaan kebahagiaan material. Kemungkinan besar seseorang akan jatuh dari kebahagiaan rohani yang diperoleh dari mempersamakan diri dengan Brahman yang impersonal sekalipun.

Sudah dilihat bahwa para sannyāsī Māyāvādī (orang impersonalis) yang hebat sekali—sudah terdidik sampai tingkat yang tinggi sekali dan sudah hampir insaf-diri—kadangkala mulai melakukan kegiatan politik atau kegiatan sosial. Ini karena mereka tidak memeroleh kebahagiaan tertinggi apa pun dari paham impersonal sehingga mereka terpaksa turun ke tingkat material dan mulai melakukan kegiatan material tersebut. Ada banyak contoh para sannyāsī Māyāvādī yang kembali turun ke tingkat material, khususnya di India. Tetapi orang yang sadar-Kṛṣṇa sepenuhnya tidak akan pernah kembali lagi ke tingkat material mana pun. Walaupun kegiatan kesejahteraan material sangat memikat dan menarik hati, orang yang sadar-Kṛṣṇa selalu mengetahui bahwa kegiatan itu sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan kegiatan kesadaran Kṛṣṇa.

Ada delapan jenis kesaktian yang dicapai oleh para yogī yang benar-benar sukses. Aṇimā-siddhi berarti kesaktian yang memungkinkan seseorang menjadi kecil sekali sehingga dapat masuk ke dalam batu. Kemajuan ilmiah modern juga memungkinkan kita masuk ke dalam batu, sebab kemajuan itu memungkinkan kita menggali terowongan, menembus bukit-bukit, dan sebagainya. Jadi, aṇimā-siddhi, kesaktian yang menyangkut usaha masuk ke dalam batu, juga sudah dicapai oleh ilmu pengetahuan material. Seperti itu pula, semua yoga-siddhi, atau berbagai kesaktian, adalah ilmu yang bersifat material. Misalnya, salah satu yoga-siddhi memungkinkan dicapainya kekuatan untuk menjadi ringan sekali hingga seseorang dapat melayang di udara atau mengapung di atas permukaan air. Itu juga sedang dilakukan oleh para ilmuwan modern. Mereka terbang di udara, mereka mengapung di atas permukaan air, dan mereka menyelam dan berjalan di dalam air. Sesudah kita membandingkan semua yoga-siddhi mistik tersebut dengan berbagai kesaktian material, ditemukan bahwa para ilmuwan material berusaha untuk mencapai kesaktian yang sama. Jadi, sebenarnya tidak ada perbedaan antara kesaktian mistik dan kesaktian material. Seorang sarjana dari Jerman pernah mengatakan bahwa semua kesaktian yoga sudah dicapai oleh para ilmuwan modern, dan karena itu dia tidak memedulikan kesaktian-kesaktian itu. Sarjana itu mengambil kebijaksanaan yang cerdas: dia berangkat ke India untuk memelajari tentang hubungannya yang kekal dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui bhakti-yoga, atau pelayanan bhakti. Tentu saja dalam golongan-golongan kesaktian batin ada proses-proses tertentu yang belum dikembangkan oleh para ilmuwan material. Misalnya, seorang yogī ahli mistik dapat memasuki Planet Matahari hanya dengan memanfaatkan sinar matahari. Kesaktian ini disebut laghimā. Begitu pula seorang yogī dapat menyentuh bulan dengan jarinya. Walaupun para antariksawan modern pergi ke bulan dengan bantuan pesawat antariksa, mereka mengalami banyak kesulitan, sedangkan orang yang memiliki kekuatan mistik dapat mengulurkan tangannya dan menyentuh bulan dengan jarinya. Siddhi ini disebut prāpti, atau cara untuk memeroleh berbagai benda. Seorang yogī yang sempurna dalam ilmu mistik tidak hanya dapat menyentuh bulan dengan menggunakan prāpti-siddhi tersebut. Tetapi dia juga dapat mengulurkan tangannya di mana-mana dan mengambil segala sesuatu yang diingi-kannya. barangkali dia sedang duduk beribu-ribu kilometer dari suatu tempat, dan jika dia menginginkan, dia dapat mengambil buah dari kebun di tempat yang jauh itu. Inilah yang disebut prāpti-siddhi.

Para ilmuwan modern sudah menciptakan senjata-senjata nuklir yang memungkinkan mereka menghancurkan sebagian kecil dari planet ini. Tetapi yoga-siddhi yang bernama īṣitā memungkinkan seseorang menciptakan dan menghancurkan sebuah planet atas kehendak sendiri. Kesaktian yang lain lagi disebut vaṣitā. Kesaktian ini memungkinkan seseorang mengendalikan semua orang lain. Ini merupakan sejenis hipnotis yang hampir tidak dapat dilawan. Kadangkala dilihat bahwa seorang yogī yang sudah mencapai sedikit kesempurnaan dalam kesaktian vaṣitā ini terjun di tengah masyarakat dan membicarakan segala sesuatu yang bukan-bukan, mengendalikan pikiran orang, memeras energi mereka, mengambil uang mereka, kemudian kabur.

Ada kesaktian mistik lain lagi, yang disebut prākāmya (ilmu sihir). Melalui kesaktian prākāmya seseorang dapat mencapai segala sesuatu yang diinginkannya. Misalnya, ia dapat membuat air masuk ke dalam matanya kemudian sekali lagi keluar dari mata. Ia dapat melakukan kegiatan yang ajaib seperti itu hanya atas kehendak sendiri.

Kesempurnaan tertinggi kekuatan mistik disebut kāmāvasāyitā Ini juga merupakan ilmu mistik. Kekuatan prākāmya bertindak untuk menciptakan efek-efek yang ajaib di dalam lingkungan alam, sedangkan kekuatan kāmāvasāyitā memungkinkan seseorang melanggar hukum-hukum alam—dengan kata lain, ia dapat melakukan sesuatu hal yang mustahil. Tentu saja, seseorang dapat memeroleh kesenangan sementara yang besar sekali dengan mencapai kesaktian yoga yang bersifat material seperti itu.

Orang bodoh yang terpikat karena gemilangnya kemajuan material berpikir bahwa perkumpulan kesadaran Kṛṣṇa dimaksudkan bagi orang yang kurang cerdas. “Saya lebih baik sibuk dengan kesenangan material—memelihara rumah yang bagus, keluarga dan hubungan suami istri.” Orang ini tidak mengetahui bahwa pada setiap saat mereka dapat ditendang keluar dari keadaan materialnya. Akibat kebodohan, mereka tidak mengetahui bahwa kehidupan yang sejati bersifat kekal. Kesenangan badan yang bersifat sementara bukanlah tujuan hidup, dan hanya karena kebodohan yang paling gelap saja hati orang terpikat dengan kemajuan kesenangan material yang berkedip-kedip. Karena itu, Śrīla Bhaktivinoda Ṭhākura menyatakan bahwa kemajuan pengetahuan material menyebabkan orang menjadi semakin bodoh, sebab kemajuaan itu menyebabkan orang melupakan identitasnya yang sejati hanya karena cahaya kecil yang dihasilkan dari pengetahuan itu. Keadaan ini menyebabkan ia terkutuk, sebab kehidupan manusia ini di-maksudkan untuk keluar dari pengaruh material. Oleh karena kemajuan pengetahuan material, orang semakin terikat dalam kehidupan material. Mereka tidak mempunyai harapan untuk dibebaskan dari kemalangan ini.

Dalam Hari-bhakti-sudhodaya dinyatakan bahwa Prahlāda Mahārāja, seorang penyembah-agung Tuhan, berdoa kepada Nsiḿhadeva (inkarnasi Tuhan dalam bentuk setengah singa, setengah manusia) sebagai berikut: “Tuhan yang hamba muliakan, hamba berdoa berulang kali kepada kaki-padma-Mu kiranya hamba dapat lebih kuat dalam pelayanan bhakti. Hamba hanya berdoa agar hamba lebih kuat dan mantap dalam kesadaran Kṛṣṇa sebab kebahagiaan yang diperoleh dari kesadaran Kṛṣṇa dan pelayanan bhakti begitu kuat sehingga kalau seseorang sudah memilikinya, ia dapat memeroleh segala kesempurnaan lainnya dari kegiatan keagamaan, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera dan bahkan tercapainya pembebasan dari kehidupan material sekalipun.”

Sebenarnya, seorang penyembah-murni tidak bercita-cita mencapai kesempurnaan seperti ini sebab kebahagiaan yang diperoleh dari pelayanan bhakti dalam kesadaran Kṛṣṇa sangat suci dan tiada berbatas sehingga tiada kebahagian lain lagi yang dapat dibandingkan dengannya. Dinyatakan bahwa setetes pun kebahagian dalam kesadaran Kṛṣṇa jauh lebih tinggi sehingga tidak dapat dibandingkan dengan lautan kebahagiaan yang diperoleh dari kegiatan lain. Karena itu, siapa pun yang sudah mengembangkan bhakti yang murni bahkan baru pada tingkat yang kecil sekalipun ia dengan mudah sekali dapat menendang keluar segala jenis kebahagiaan lainnya yang diperoleh dari kegiatan keagamaan, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera dan pembebasan.

Ada seorang penyembah-agung Śrī Caitanya yang bernama Kholāvecā Śrīdhara. Kholāvecā Śrīdhara miskin sekali. Kholāvecā mempunyai usaha kecil menjual cangkir terbuat dari daun pisang, dan pendapatannya hampir tidak ada. Namun, ia me-ngeluarkan limapuluh persen dari pendapatannya yang kecil itu untuk memuja sungai Gangga, dan entah bagaimana dia hidup dengan limapuluh persen sisanya. Śrī Caitanya suatu kali pernah mengungkapkan Diri-Nya kepada penyembah yang dekat ini, dan menawarkan kepadanya kemewahan apa pun yang diingin-kannya. Tetapi Śrīdhara memberitahu Śrī Caitanya bahwa dirinya tidak menginginkan kehebataan material apa pun. Ia sudah bahagia dalam kedudukannya yang sekarang karena ia ingin mencapai keyakinan dan pelayanan kepada kaki-padma Śrī Caitanya dan tidak pernah menyimpang dari hal itu. Itulah kedudukan para penyembah-murni. Kalau mereka tekun duapuluh empat jam setiap hari dalam pelayanan bhakti, mereka tidak menginginkan sesuatu yang lain. Kebahagiaan pembebasan atau manunggal dengan Yang Mahakuasa pun tidak mereka iinginkan.

Dalam Nārada-pañcarātra juga dinyatakan bahwa siapa pun yang sudah mengembangkan bhakti bahkan pada tingkat yang kecil sekalipun tidak memedulikan jenis kebahagiaan apa pun yang diperoleh dari kegiatan dharma, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera maupun lima jenis pembebasan. Jenis kebahagiaan apa pun yang diperoleh dari kegiatan dharma, perkembangan ekonomi, pembebasan, maupun kepuasan indera-indera tidak berani masuk ke dalam hati seorang penyembah-murni. Dinyatakan bahwa seperti halnya para pelayan pribadi dan pembantu seorang ratu mengikuti Sang ratu dengan segala hormat dan sembah sujud, begitu pula kebahagiaan dari kegiatan dharma, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera dan pembebasan mengikuti bhakti kepada Tuhan. Dengan kata lain, seorang penyembah-murni tidak kekurangan segala jenis kebahagiaan yang diperoleh dari sumber lain. Ia tidak menginginkan sesuatu selain pelayanan kepada Kṛṣṇa, tetapi seandainya ia mempunyai keinginan lain lagi, Tuhan Śrī Kṛṣṇa memenuhi keinginan ini tanpa Sang penyembah memintanya.

 

Bhakti Jarang Dicapai

 Pada tahap pendahuluan dalam kehidupan spiritual ada berbagai jenis pertapaan, kesederhanaan dan proses-proses yang serupa untuk mencapai keinsafan-diri. Akan tetapi, bahkan jika praktisi proses-proses tersebut tidak mempunyai keinginan material apa pun, ia masih tidak dapat mencapai bhakti. Bercita-cita sendirian untuk mencapai bhakti juga tidak memberi harapan yang begitu besar, sebab Kṛṣṇa tidak berkenan menganugerahkan bhakti kepada sembarang orang. Kṛṣṇa dengan mudah dapat menawarkan kebahagian material ataupun pembebasan kepada seseorang, tetapi Dia tidak begitu mudah berkenan menganugerahkan kepada seseorang kesempatan untuk pelayanan bhakti kepada Dia. Pelayanan bhakti sebenarnya hanya dapat dicapai atas karunia seorang penyembah-murni. Dalam Caitanya-caritāmta (Madhya 19, 151) dinyatakan, “Atas karunia seorang guru spiritual yang sudah menjadi penyembah-murni dan atas karunia Kṛṣṇa seseorang dapat mencapai tingkat bhakti. Tiada cara lain.”

Tantra-ṣāstra juga membenarkan bahwa bhakti jarang dicapai. Dalam tantra-ṣāstra, dinyatakan Dewa Śiva bersabda kepada Satī, “Satī yang baik hati, kalau seseorang menjadi filosof yang ahli sekali, dan menganalisis berbagai proses pengetahuan, ia dapat mencapai pembebasan dari ikatan material. Melalui pelaksanaan kurban-kurban suci ritual yang dianjurkan dalam Veda seseorang dapat diangkat sampai tingkat kegiatan saleh dan dengan de-mikian menikmati kesenangan material dalam kehidupan sam-pai tingkat tertinggi. Tetapi segala usaha seperti itu tidak dapat memberikan kepada siapa pun kesempatan melakukan pelayanan bhakti kepada Tuhan , walaupun ia berusaha menca-painya melalui proses-proses tersebut selama beribu-ribu ke-lahirannya.”

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam juga dibenarkan oleh Prahlāda Mahārāja bahwa hanya melalui usaha-usaha pribadi atau pelajaran dari penguasa yang lebih tinggi seseorang tidak dapat mencapai tingkat pelayanan bhakti. Ia harus dikaruniai oleh debu dari kaki-padma seorang penyembah-murni, yang bebas sepenuhnya dari pengaruh keinginan material.

Dalarn Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Lima, Bab Enam, sloka 18, Nārada juga berkata kepada Yudhiṣṭhira, “Baginda Raja yang saya hormati, Śrī Kṛṣṇa yang bernama Mukunda, adalah pelindung yang kekal untuk para Pāṇava dan para Yadu. Śrī Kṛṣṇa juga adalah guru spiritual dan penuntun Baginda dalam segala hal. Dialah satu-satunya Tuhan yang patut Baginda sembah. Dia sangat murah hati dan penuh kasih sayang, dan Dialah yang mengatur segala kegiatan Baginda, baik secara pribadi maupun secara keluarga. Disamping itu, kadang-kadang Dia melak-sanakan perintah-perintah Baginda seolah-olah Dia utusan Baginda! Baginda Raja yang saya hormati, Baginda beruntung sekali, sebab segala berkat tersebut yang diberikan kepada Baginda oleh Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat diimpikan oleh orang lain.” Arti sloka ini ialah bahwa Kṛṣṇa menganugerahkan pembebasan dengan mudah sekali, tetapi Dia jarang berkenan menganugerahkan bhakti kepada seseorang, sebab Tuhan Sendiri dibeli oleh seorang penyembah melalui bhakti.

 

 Kebahagiaan Manunggal Dengan Yang Mahakuasa

Śrī Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa kalau brahmānanda, atau kebahagiaan yang diperoleh dari manunggal dengan Yang Mahakuasa dikalikan satu triliun, masih tidak dapat dibanding-kan dengan bagian yang sekecil atom dari kebahagiaan yang diperoleh dari lautan bhakti.

Dalam Hari-bhakti-sudhodaya Prahlāda Mahārāja, yang sedang memuaskan hati Nrsiḿhadeva dengan doa pujiannya, berkata, “Wahai Penguasa jagat yang hamba hormati, hamba merasakan kebahagiaan transendental di hadirat-Mu dan hamba sudah ha-nyut dalam lautan kebahagiaan. Sekarang hamba menganggap kebahagiaan brahmānanda tidak lebih dari pada air dalam bekas jejak kaki anak sapi, dibandingkan dengan lautan kebahagiaan ini.” Begitu pula, dibenarkan dalam Bhāvārtha-dīpikā, karya Śrīdhara Svāmī, yaitu ulasan atas Śrīmad-Bhāgavatam, “Tuhan yang hamba muliakan, beberapa di antara orang yang beruntung yang sedang berenang dalam lautan manisnya bhakti-Mu, dan sedang menikmati manisnya kisah kegiatan-Mu, pasti mengetahui kebahagiaan rohani yang segera menyebabkan nilai kebahagiaan yang diperoleh dari kegiatan dharma, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera dan pembebasan berkurang. Seorang penyembah yang transendental tersebut menganggap jenis kebahagiaan selain bhakti tidak lebih dari rumput di jalanan.” 

 

Cara Menarik Perhatian Kṛṣṇa

Śrī Rūpa Gosvāmī telah menyatakan bahwa bhakti juga menarik hati Kṛṣṇa. Kṛṣṇa menarik hati semua orang, tetapi pelayanan bhakti menarik hati Kṛṣṇa. Lambang pelayanan bhakti tertinggi ialah Rādhārāṇī. Kṛṣṇa disebut Madana-mohana, yang berarti Dia sangat menarik hati sehingga daya tarik beribu-ribu Dewa asmara dapat dikalahkan oleh-Nya. Tetapi Rādhārāṇī lebih menarik hati lagi, sebab Rādhārāṇī juga mampu menarik hati Kṛṣṇa. Karena itu, para penyembah menjuluki Rādhārāṇī dengan nama Madana-mohana-mohinī—yang menarik hati Dia yang menarik hati Dewa Asmara.

Melakukan pelayanan bhakti berarti mengikuti jejak langkah Rādhārāṇī dan para penyembah di Vndāvana yang menempatkan diri di bawah bimbingan Rādhārāṇī untuk mencapai kesempurnaan dalam pelayanan bhakti-nya. Dengan kata lain, pelayanan bhakti bukanlah aktivitas dunia material. Pelayanan bhakti langsung berada di bawah pengendalian Rādhārāṇī. Dalam Bhagavad-gītā dibenarkan bahwa para mahātmā, atau insan-insan yang mulia, berada di bawah perlindungan daivī prakti, energi internal—yaitu Rādhārāṇī. Jadi, oleh karena pelayanan bhakti berada langsung di bawah pengendalian energi internal Kṛṣṇa, maka pelayanan bhakti juga menarik hati Kṛṣṇa Sendiri.

Kenyataan ini dibenarkan oleh Kṛṣṇa dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Empatbelas, sloka 20. Dalam sloka tersebut, Kṛṣṇa bersabda, “Uddhava yang baik hati, ketahuilah dari-Ku bahwa rasa tertarik dalam hati-Ku terhadap pelayanan bhakti yang dipersembahkan oleh para penyembah-Ku tidak dapat dicapai bahkan melalui pelaksanaan yoga mistik, spekulasi filosofi, kurban suci ritual, pelajaran Vedānta, pelaksanaan pertapaan yang keras maupun dengan cara menyumbangkan segala sesuatu sebagai derma. Kegiatan tersebut tentu saja kegiatan yang baik sekali, namun kurang menarik hati-Ku dibandingkan dengan pelayanan bhakti yang dipersembahkan oleh para penyembah-Ku.”

Nārada menguraikan bagaimana Kṛṣṇa tertarik oleh bhakti para penyembah-Nya dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tujuh, Bab Sepuluh, sloka 48 dan 49. Dalam sloka-sloka tersebut, Nārada berbicara kepada Mahārāja Yudhiṣṭhira pada waktu Sang Raja sedang menghargai kemuliaan watak Prahlāda Mahārāja. Seorang penyembah selalu menghargai kegiatan penyembah lainnya. Yudhiṣṭhira Mahārāja sedang menghargai sifat-sifat Prahlāda, dan itulah salah satu ciri penyembah-murni. Seorang penyembah-murni tidak pernah menganggap dirinya hebat; ia selalu berpikir penyembah lain lebih darinya. Mahārāja Yudhiṣṭhira sedang berpikir sebagai berikut: “Prahlāda Mahārāja sungguh-sungguh penyembah Tuhan, sedangkan saya remeh sekali.” Sambil ia berpikir seperti itu, Nārada menyapa kepadanya sebagai berikut: “Baginda Mahārāja Yudhiṣṭhira yang saya hormati, Baginda dan saudara-saudara Baginda (Pāṇava Lima) satu-satunya orang yang beruntung di dunia ini. Per-sonalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sudah muncul di dunia ini dan sedang menampakkan Diri di hadapan Baginda seperti manusia biasa. Dia seperti manusia biasa. Dia selalu bersama Baginda dalam segala keadaan. Dia hidup bersama Baginda dan menutupi Diri-Nya dari pandangan mata orang lain. Orang lain tidak dapat mengerti bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi Dia masih tinggal bersama Baginda sebagai misan, kawan, bahkan sebagai duta Baginda. karena itu Baginda harus me-ngetahui bahwa tiada orang pun yang lebih beruntung daripada Baginda di dunia ini.”

Dalam Bhagavad-gītā ketika Kṛṣṇa muncul dalam bentuk semesta-Nya, Arjuna berdoa, “Kṛṣṇa yang hamba hormati, tadinya hamba menganggap Engkau saudara misan hamba, sehingga hamba kurang menghormati-Mu dengan berbagai cara, dengan memanggil Engkau ‘Kṛṣṇa’ atau ‘kawan’. Tetapi Engkau begitu agung sehingga hamba tidak dapat mengerti.” Demi-kianlah kedudukan Pāṇava Lima meskipun Kṛṣṇa adalah Per-sonalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Yang Mahabesar di atas segala tokoh besar, Dia tetap tinggal bersama lima saudara kerajaan tersebut, karena tertarik oleh bhakti mereka, per-sahabatan serta cinta kasih bhakti mereka. Demikianlah bukti betapa mulianya proses pelayanan bhakti ini. Pelayanan bhakti bahkan dapat menarik hati Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sekalipun. Tuhan Mahabesar, tetapi pelayanan bhakti lebih besar daripada Tuhan karena bhakti menarik hati Tuhan Orang yang tidak berada dalam jalan bhakti tidak pernah dapat mengerti betapa tingginya nilai pelaksanaan pelayanan kepada Tuhan.