Sloka

Bab 4: Bhakti Melampaui Segala Pembebasan

Penjelasan

Seseorang dapat mencapai sekadar rasa tertarik kepada Śrī Kṛṣṇa karena pergaulannya dengan para mahātmā, atau insan-insan mulia yang sepenuhnya berada dalam bhakti kepada Tuhan. Tetapi pada waktu yang sama, mungkin ia tetap sangat tetarik kepada kegiatan yang mengharapkan pahala dan kenikmatan indera-indera material dan belum bersedia menjalankan ber-bagai jenis pelepasan ikatan. Kalau orang seperti itu tertarik kepada Śrī Kṛṣṇa dan tidak pernah menyimpang, maka ia menjadi calon yang memenuhi syarat untuk melaksanakan pelayanan bhakti.

Sejauh mana seorang penyembah terikat secara serius terhadap pelayanan bhakti kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dapat dimengerti dari pernyataan Mahārāja Prthu (ṇdi-rāja) yang diuraikan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Empat, Bab Duapuluh, sloka 24. Beliau berdoa kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa sebagai berikut: “Tuhan yang hamba muliakan, jika sesudah mencapai pembebasan hamba tidak mempunyai kesempatan untuk mendengar kebesaran-Mu yang dinyanyikan oleh para penyembah-murni dari hati nuraninya untuk memuliakan kaki-padma-Mu, dan kalau hamba sama sekali tidak mempunyai peluang untuk menikmati nektar kebahagiaan rohani tersebut, maka hamba tidak akan pernah minta pembebasan atau apa yang disebut keselamatan spiritual ini. Hamba akan hanya berdoa kepada-Mu kiranya Engkau memberikan berjuta-juta lidah dan berjuta-juta telinga kepada hamba supaya hamba dapat senantiasa memuji dan mendengar kebesaran spiritual-Mu.”

Orang impersonalis ingin manunggal dalam keberadaan Yang Mahakuasa, tetapi tanpa memiliki individualitasnya mereka tidak sempat mendengar dan memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena mereka tidak mengerti bentuk spiritual Tuhan Yang Maha Esa, tidak mungkin mereka mendengar dan memuji kegiatan spiritual-Nya. Dengan kata lain, kalau se-seorang belum melampaui pembebasan, ia tidak dapat menikmati kebesaran spiritual Tuhan, ataupun mengerti bentuk spiritual Tuhan.

Pernyataan yang serupa terdapat dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Lima, Bab Empatbelas, sloka 44. Dalam sloka itu, Śukadeva Gosvāmī berkata kepada Mahārāja Parīkṣit, “Roh yang mulia bernama Mahārāja Bharata sangat terikat pada pelayanan kepada kaki-padma Kṛṣṇa sehingga dengan mudah sekali ia meninggalkan kekuasaannya atas planet bumi dan kasih sayangnya terhadap anak-anak, masyarakat, kawan-kawan, kekayaan kerajaan dan istri yang cantik. Ia sangat beruntung sehingga dewi keberuntungan berkenan memberikan segala jenis kemudahan material kepadanya tetapi ia tidak pernah mau menerima kekayaan-kekayaan material itu.” Śukadeva Gosvāmī sangat memuji tingkah laku Mahārāja Bharata tersebut. Śukadeva Gosvāmī berkata, “Siapa pun yang hatinya tertarik pada sifat-sifat spiritual Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Madhusūdana, tidak memedulikan pembebasan yang diidam-idamkan oleh banyak resi yang agung, apalagi kekayaan material.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Enam, Bab Sebelas, sloka 25, ada pernyataan yang serupa oleh Vrtrāsura, yang berkata kepada Tuhan sebagai berikut: “Tuhan yang hamba muliakan, kalau hamba meninggalkan pelayanan spiritual kepada-Mu, barangkali hamba diangkat sampai planet bernama Dhruvaloka (bintang kutub), atau mencapai kekuasaan atas semua susunan planet di alam semesta. Tetapi hamba tidak bercita-cita mencapai segala hal ini. Hamba tidak menginginkan kesaktian batin dari latihan yoga, dan hamba juga tidak bercita-cita mencapai pembebasan spiritual. Tuhan yang hamba muliakan, yang hamba inginkan hanyalah pergaulan dengan Engkau dan pelayanan spiritual kepada-Mu selamanya.”

Pernyataan ini dibenarkan oleh Dewa Śiva dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Enam, Bab Tujuhbelas, sloka 28. Dalam sloka tersebut, Dewa Śiva berkata kepada Satī sebagai berikut: “Satī yang baik hati, orang yang mempersembahkan pelayanan bhakti kepada Nārāyaṇa (Kṛṣṇa) tidak takut pada apa pun. Jika mereka diangkat sampai susunan-susunan planet yang lebih tinggi, atau jika mereka mencapai pembebasan dari pengaruh material, atau jika mereka didorong ke bawah ke dalam keadaan hidup seperti di neraka—atau dalam keadaan mana pun—mereka tidak takut kepada apa pun. Hanya karena mereka sudah berlindung kepada kaki-padma Nārāyaṇa, kedudukan mana pun di dunia material adalah sebaik kedudukan lain bagi mereka.”

Ada pernyataan yang serupa oleh Indra, Raja Surga, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Enam, Bab Delapanbelas, sloka tujuhpuluh empat. Dalam sloka tersebut, Indra berkata kepada Ibu Diti sebagai berikut: “Ibunda yang ananda muliakan, orang yang sudah meninggalkan segala jenis keinginan dan hanya tekun dalam pelayanan bhakti kepada Tuhan mengetahui apa sebenarnya kepentingan diri mereka. Orang seperti itu sungguh-sungguh mengabdi kepada kepentingan dirinya dan diakui sebagai ahli kelas-utama dalam hal kemajuan sampai tingkat kesempurnaan hidup.” Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tujuh, Bab Enam, sloka 25, Mahārāja Prahlāda berkata, “Hai kawan-kawan yang dilahirkan dalam keluarga-keluarga ateis, jika kalian dapat memuaskan hati Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Kṛṣṇa, maka tiada sesuatu yang seberharga itu di dunia ini. Dengan kata lain, kalau Tuhan Yang Maha Esa Kṛṣṇa senang dengan kalian, maka keinginan apa pun yang ada di hati kalian dapat dipenuhi tanpa keragu-raguan. Karena itu, apa gunanya kalian diangkat melalui hasil kegiatan yang mengharapkan pahala, yang dicapai dengan sendirinya dalam segala hal melalui sifat-sifat alam material? Dan apa gunanya kalian mencapai pembebasan spiritual atau pembebasan dari ikatan material? Kalau kalian selalu tekun memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dan selalu menikmati kaki-padma Tuhan, maka segala hal tersebut tidak diperlukan.” Dari pernyataan Prahlāda Mahārāja tersebut, dimengerti dengan jelas bahwa orang yang senang memuji dan mendengar kebesaran spiritual Tuhan sudah melampaui segala jenis berkat material, termasuk hasil kegiatan saleh yang mengharapkan pahala, kurban suci, dan bahkan pembebasan dari ikatan material sekalipun.

Begitu pula, dalam Skanda Tujuh yang sama, Bab Delapan, sloka 42, pada waktu para dewa sedang mempersembahkan doa pujian kepada Śrī Nrsiḿha, Indra, Raja Surga, berkata, “Wahai Yang Mahakuasa, rākṣasa-rākṣasa ini membicarakan jatah kami ikut serta dalam pelaksanaan kurban-kurban ritual, tetapi hanya dengan Engkau muncul sebagai Śrī Nrsiḿhadeva, Engkau sudah menyelamatkan kami dari rasa takut yang sangat mengerikan. Sebenarnya, jatah-jatah kami dalam pelaksanaan kurban suci seharusnya hanya diberikan kepada-Mu, sebab Engkaulah Personalitas Tertinggi Yang menikmati segala kurban suci. Engkaulah Roh Yang Utama di dalam hati setiap makhluk hidup. Karena itu, Engkaulah yang sesungguhnya memiliki segala sesuatu. Hati kami sudah lama sekali selalu penuh rasa takut karena Rākṣasa Hiraṇyakaṣipu ini. Tetapi Engkau sangat murah hati kepada kami, sehingga dengan membunuh dia Engkau sudah menghilangkan rasa takut dari hati kami dan memberi kami kesempatan untuk menyemayamkan Engkau di dalam hati kami sekali lagi. Segala kekayaan yang diambil dari kami oleh para rākṣasa dianggap tidak berarti oleh orang yang tekun dalam pelayanan bhakti kepada-Mu. Para penyembah juga tidak memedulikan pembebasan, apalagi kekayaan material ini. Sebenarnya, bukan kami yang menikmati hasil kurban-kurban suci. Satu-satunya kewajiban kami ialah untuk selalu menekuni pelayanan kepada-Mu, sebab Engkaulah yang menikmati segala sesuatu.” Penjelasan pernyataan Indra tersebut ialah bahwa dari Brahmā sampai dengan semut yang kecil sekali, tidak ada makhluk hidup yang dimaksudkan untuk menikmati kekayaan material. Mereka hanya dimaksudkan untuk mempersembahkan segala sesuatu kepada Yang Mahapemilik, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Kalau mereka berbuat demikian, dengan sendirinya mereka menikmati manfaatnya. Contoh dapat dikutip sekali lagi mengenai berbagai anggota badan yang mengumpulkan bahan makanan dan memasak bahan itu supaya akhirnya makanan dapat diberikan kepada perut. Sesudah makanan dikirim ke perut, maka segala anggota badan menikmati manfaat makanan itu secara merata. Jadi, dengan cara yang serupa, kewajiban semua orang ialah memuaskan Tuhan Yang Maha Esa, kemudian dengan sendirinya semua orang akan puas.

Sloka yang serupa terdapat dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Delapan, Bab Tiga, sloka 20. Dalam sloka tersebut, Gajendra berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, hamba belum mempunyai pengalaman tentang kebahagiaan rohani yang diperoleh dari pelayanan bhakti kepada-Mu, dan karena itu, hamba telah minta berkat dari-Mu. Tetapi hamba mengetahui bahwa para penyembah-murni yang sudah dibebaskan dari segala keinginan material melalui cara mengabdi kepada kaki-padma insan-insan mulia selalu hanyut dalam lautan kebahagiaan rohani, dan karena itu mereka selalu puas hanya dengan memuji sifat-sifat-Mu yang menyejahterakan. Tidak ada sesuatu yang lain yang harus diidam-idamkan atau didoakan oleh mereka.”

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sembilan, Bab Empat, sloka 67, Penguasa Vaikuṇṭha menjawab kepada Durvāsā Muni sebagai berikut: “Para penyembah-Ku yang murni selalu puas dengan menekuni pelayanan bhakti. Karena itu, mereka tidak bercita-cita mencapai lima tahap pembebasan, yaitu (1) Ma-nunggal dengan Diri-Ku, (2) Mencapai tempat tinggal di planet-Ku, (3) Memiliki kehebatan-Ku, (4) Memiliki ciri-ciri badan yang mirip dengan badan-Ku, dan (5) Mencapai pergaulan pribadi dengan-Ku. Kalau mereka tidak berminat terhadap kedudukan pembebasan seperti itu, engkau dapat mengerti betapa kecilnya perhatian mereka terhadap kekayaan material atau pembebasan material.”

Ada doa pujian yang serupa yang dipanjatkan oleh para nāga-patnī (para istri naga Kāliya), dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Enambelas, sloka 37. Dalam sloka tersebut, para nāga-patnī berkata, Tuhan yang kami muliakan, debu dari kaki padma-Mu sangat ajaib. Siapa pun yang cukup beruntung hingga mencapai debu ini tidak memedulikan planet-planet surga, kekuasaan atas susunan-susunan planet, kesaktian batin dari yoga, ataupun pembebasan dari kehidupan material. Dengan kata lain, siapa pun yang memuji debu dari kaki-padma-Mu sama sekali tidak memedulikan tingkat-tingkat kesempurnaan yang lain.”

Ada pernyataan serupa dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Delapanpuluh Tujuh, sloka 21. Dalam sloka tersebut, para Śruti, kepribadian-kepribadian Veda, berdoa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Tuhan yang kami muliakan, sangat sulit mengerti pengetahuan spiritual. Engkau muncul di sini, dalam kedudukan-Mu yang sebenarnya, untuk menjelaskan kepada kami tentang mata pelajaran yang paling sulit tersebut, yaitu pengetahuan tentang Sang roh. Karena itu, penyembah-penyembah-Mu yang sudah meninggalkan kesenangan rumah tangganya untuk bergaul dengan para ācārya (guru-guru suci) yang sudah mencapai pembebasan sekarang sudah hanyut sepenuhnya dalam pelayanan bhakti kepada-Mu. Karena itu, mereka tidak memedulikan apa yang namanya pembebasan.”

Dalam menjelaskan sloka tersebut, harus diperhatikan bahwa pengetahuan spiritual berarti mengerti tentang Sang diri dan Roh Yang Utama, atau Diri Yang Utama. Roh individual dan Roh Yang Utama mempunyai sifat yang sama. Karena itu, kedua-duanya disebut Brahman, atau transenden. Tetapi pengetahuan tentang Brahman sangat sulit dimengerti. Ada banyak filosof yang sibuk dalam hal mengerti tentang Sang roh, tetapi mereka tidak sanggup mencapai kemajuan nyata. Dibenarkan dalam Bhagavad-gītā bahwa di antara berjuta-juta orang, hanya satu yang dapat berusaha mengerti apa itu pengetahuan spiritual, dan di antara banyak orang seperti itu yang berusaha mengerti, hanya satu atau beberapa barangkali yang mengetahui apa arti Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, sloka tersebut menyatakan bahwa pengetahuan spiritual sangat sulit dicapai. Supaya pengetahuan spiritual tersebut lebih mudah dicapai, Tuhan Yang Maha Esa Sendiri datang dalam bentuk-Nya yang asli sebagai Śrī Kṛṣṇa dan memberi pelajaran-Nya secara langsung kepada rekan-Nya seperti Arjuna. Ini dilakukan agar rakyat umum dapat memanfaatkan pengetahuan spiritual tersebut. Sloka tersebut juga menjelaskan bahwa pembebasan berarti keadaan setelah meninggalkan segala kesenangan hidup yang bersifat material sama sekali. Orang impersonalis puas hanya dengan mencapai pembebasan dari keadaan material, tetapi para penyembah dengan sendirinya dapat meninggalkan kehidupan material dan juga dapat menikmati kebahagiaan rohani dari mendengar dan memuji kegiatan Śrī Kṛṣṇa yang ajaib.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Duapuluh, sloka 34, Śrī Kṛṣṇa berkata kepada Uddhava, “Uddhava yang baik hati, para penyembah yang sudah berlindung sepenuhnya pada pelayanan kepada-Ku sangat mantap dalam pelayanan bhakti sehingga mereka tidak mempunyai keinginan lain lagi. Kalaupun mereka ditawarkan empat jenis kehebatan spiritual, mereka tidak akan bersedia menerimanya.* Karena itu, tentu saja mereka tidak akan menginginkan apa-apa di dunia material!” Seperti itu pula, Śrī Kṛṣṇa menyatakan dalam sloka lain dari Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Empatbelas, sloka 14, “Uddhava yang baik hati, orang yang kesadarannya sudah khusuk sepenuhnya dalam berpikir tentang Aku dan kegiatan-Ku ia tidak bercita-cita menduduki jabatan sebagai Brahmā, atau jabatan Indra, atau jabatan kekuasaan atas semua planet, atau delapan jenis kekekuatan mistik, ataupun pembebasan diri sendiri.” Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Duabelas, Bab Sepuluh, sloka 6, Dewa Śiva berkata kepada Devī, “Devī ter-sayang, resi brāhmaṇa yang mulia yang bernama Mārkaṇeya ini sudah mencapai keyakinan dan bhakti yang tidak pernah menyimpang terhadap Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, ia tidak bercita-cita mencapai berkat-berkat apa pun, termasuk berkat pembebasan dari dunia material.

Begitu pula, ada pernyataan dalam Padma Purāṇa yang menguraikan tentang upacara ritual selama bulan Kārttika (Oktober-November). Selama bulan ini, di Vndāvana ada prinsip aturan supaya orang berdoa kepada Śrī Kṛṣṇa setiap hari dalam bentuk-Nya sebagai Dāmodara. Bentuk Dāmodara berarti Kṛṣṇa selama masa kanak-kanak-Nya pada waktu Dia diikat dengan tali oleh ibu-Nya, Yaṣodā. Dāma berarti “tali-tali”, dan udara berarti “pinggul”. Jadi, Ibu Yaṣodā, yang merasa sangat terganggu karena kenakalan Kṛṣṇa, mengikat pinggul Kṛṣṇa dengan tali. Karena itu, Kṛṣṇa bernama Dāmodara. Selama bulan Kārttika, orang berdoa kepada Dāmodara sebagai berikut: “Tuhan yang hamba cintai, Engkau Penguasa segala sesuatu, Yang memberikan segala berkat.” Ada banyak Dewa, misalnya Dewa Brahmā dan Dewa Śiva, yang kadangkala memberikan berkat-berkat kepada penyembah-penyembahnya masing-masing. Misalnya, Rāvaṇa dianugerahi banyak berkat oleh Dewa Śiva, dan Hiraṇyakaṣipu menerima berkat dari Dewa Brahmā. Tetapi Dewa Śiva dan Dewa Brahmā tergantung pada berkat-berkat dari Śrī Kṛṣṇa. Karena itu, Śrī Kṛṣṇa disebut sebagai Penguasa segala kepribadian yang memberi berkat. Jadi, Śrī Kṛṣṇa dapat memberikan segala sesuatu yang diinginkan oleh para penyembah-Nya, namun doa pujian seorang penyembah dilanjutkan sebagai berikut, “Hamba tidak minta pembebasan maupun fasilitas material dari-Mu bahkan sampai tingkat pembebasan sekalipun. Yang hamba inginkan sebagai karunia-Mu ialah kira-nya hamba selalu dapat berpikir tentang bentuk-Mu yang hamba lihat sekarang, sebagai Dāmodara. Engkau sangat tampan dan menarik sehingga pikiran hamba tidak menginginkan sesuatu selain bentuk yang ajaib ini.” Dalam doa pujian yang sama, ada bagian lain, yang berbunyi, “Śrī Dāmodara yang hamba mu-liakan, pernah pada waktu Engkau sedang bermain sebagai anak nakal di rumah Nanda Mahārāja Engkau memecahkan tempayan berisi susu asam, sehingga Ibu Yaṣodā menganggap Engkau bersalah dan mengikat Engkau dengan tali pada lesung di rumah. Pada waktu itu, Engkau menyelamatkan dua putra Kuvera, Nalakūvara dan Maṇigrīva, yang sedang tinggal di sana sebagai pohon kembar arjuna di halaman Nanda Mahārāja. Yang hamba mohonkan hanyalah supaya Engkau berkenan menyelamatkan hamba dengan cara yang serupa melalui kegiatan-Mu yang penuh karunia.”

Cerita yang melatarbelakangi sloka tersebut adalah sebagai berikut. Dua putra Kuvera (bendahara para dewa) pernah sombong karena kekayaan ayahnya, sehingga di planet surga mereka berfoya-foya di dalam danau bersama beberapa bidadari surga yang tidak berbusana. Pada waktu itu, Nārada Muni, seorang resi yang mulia, sedang melintas di jalan, dan beliau menyesal melihat tingkah laku dua putra Kuvera itu. Sewaktu melihat Nārada sedang lewat, para bidadari surga menutupi badannya dengan kain. Tetapi dua putra Kuvera itu tidak sesopan para bidadari karena mereka berada dalam keadaan mabuk. Nārada marah atas tingkah laku dua putra Kuvera sehingga be-liau mengutuk mereka sebagai berikut: “Kalian tidak mempunyai otak. Karena itu lebih baik kalian menjadi pohon daripada sebagai putra-putra Kuvera.” Sesudah mendengar kutukan tersebut, dua putra itu sadar dan minta maaf kepada Nārada atas kesalahannya. Kemudian Nārada berkata, “Ya, kalian tetap akan menjadi pohon, yaitu pohon-pohon arjuna, dan kalian akan berdiri di halaman Nanda Mahārāja. Tetapi Kṛṣṇa Sendiri akan muncul sebagai anak angkat Nanda sesudah beberapa waktu, dan Dia akan menyelamatkan kalian.” Dengan kata lain, kutukan Nārada adalah berkat kepada putra-putra Kuvera, sebab secara tidak langsung diramalkan bahwa mereka akan dapat menerima karunia dari Śrī Kṛṣṇa. Sesudah itu, dua putra Kuvera berdiri sebagai pohon-pobon arjuna yang besar di halaman Nanda Mahārāja sampai Śrī Dāmodara, untuk memenuhi keinginan Nārada, menarik lumpang tempat Dia diikat hingga menyangkut di tengah-tengah antara dua batang pohon tersebut. Dua pohon itu kemudian roboh dengan keras. Dari dua pohon yang roboh itu, keluarlah Nalakūvara dan Maṇigrīva, yang pada waktu itu sudah menjadi penyembah-penyembah Kṛṣṇa yang mulia.

Ada sloka dalam Hayaṣīrsa-pañcarātra, yang menyatakan, “Tuhan yang hamba muliakan, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, hamba tidak menginginkan berkat apa pun sebagai hasil kehidupan keagamaanku, dan hamba tidak menginginkan perkembangan ekonomi apa pun, atau kenikmatan indera-indera maupun pembebasan. Hamba hanya berdoa kiranya hamba dapat menjadi pelayan yang kekal di kaki-padma-Mu. Mohon bermurah hati dan menganugerahkan berkat ini kepada hamba.”

Dalam kitab Hayaṣīrsa-pañcarātra yang sama, Nrsiḿhadeva ingin memberi berkat-berkat kepada Prahlāda Mahārāja. Tetapi Prahlāda tidak mau menerima berkat material apa pun dan hanya memohonkan karunia Tuhan supaya dirinya bisa tetap sebagai abdi-abadi Nrsiḿhadeva. Berhubungan dengan hal ini Prahlāda Mahārāja mengutip contoh tentang Hanumān, abdi-abadi Śrī Rāmacandra, yang juga memberikan teladan dengan tidak per-nah meminta berkat material apa pun dari Tuhan. Hanumān selalu tetap tekun dalam pelayanan kepada Śrī Rāma. De-mikianlah watak Hanumān yang teladan, dan karena itulah Hanumān masih tetap dipuja oleh semua penyembah. Prahlāda Mahārāja juga bersujud dengan hormat kepada Hanumān. Ada sloka terkenal yang diucapkan oleh Hanumān. Dalam sloka itu, Hanumān berkata, “Tuhan Śrī Rāma yang hamba muliakan, kalau Engkau mau Engkau dapat menganugerahkan pembebasan dari kehidupan material ini kepada hamba, atau menganugerahkan berkat manunggal ke dalam keberadaan-Mu, tetapi hamba tidak menginginkan hal-hal seperti itu. Hamba tidak menginginkan sesuatu pun yang mengurangi hubungan hamba dengan Engkau sebagai hubungan abdi dengan atasan, bahkan sesudah pembebasan sekalipun.

Ada sloka yang serupa dalam Nārada-pañcarātra, yang berbunyi, “Tuhan yang hamba muliakan, hamba tidak menginginkan tingkat kesempurnaan apa pun dengan melakukan upacara-upacara ritual keagamaan, perkembangan ekonomi, kepuasan indera maupun pembebasan. Hamba hanya berdoa kiranya Engkau menganugerahkan berkat kepada hamba agar hamba tetap berada di bawah kaki-padma-Mu. Hamba tidak menginginkan jenis pembebasan mana pun, misalnya sālokya (tinggal di planet-Mu) atau sārūpya (memiliki ciri-ciri badan yang sama seperti Engkau). Hamba hanya berdoa mohon karunia-Mu supaya hamba selalu tekun dalam pelayanan bhakti kepada-Mu.”

Begitu pula, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Enam, Bab Empatbelas, sloka 5, Mahārāja Parīkṣit bertanya kepada Sukudeva Gosvāmī, “Wahai brāhmaṇa yang saya hormati, saya mengerti bahwa Rākṣasa Vrtrāsura adalah orang yang sangat berdosa dan pikirannya hanyut sepenuhnya dalam sifat-sifat nafsu dan kebodohan. Bagaimana Vrtrāsura berkembang sampai tingkat kesempurnaan pelayanan bhakti kepada Nārāyaṇa? Saya dengar bahwa orang-orang mulia yang sudah melakukan perta-paan keras dan sudah mencapai pembebasan dengan penge-tahuan yang sempurna pun harus berjuang untuk menjadi penyembah-penyembah Tuhan. Dimengerti bahwa orang se-perti itu jarang sekali ditemukan dan hampir tidak pernah kelihatan. Karena itu, saya heran bahwa Vrtrāsura sudah menjadi penyembah yang seperti itu!”

Dalam sloka tersebut di atas, yang paling penting dan harus diperhatikan ialah bahwa mungkin ada banyak orang yang sudah mencapai pembebasan dan sudah manunggal dalam keberadaan Brahman yang impersonal, tetapi seorang penyembah Perso-nalitas Tuhan Yang Maha Esa Nārāyaṇa jarang sekali ditemukan. Di antara berjuta-juta orang yang sudah mencapai pembebasan sekalipun hanya satu orang yang cukup beruntung hingga dapat menjadi penyembah.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, Bab Delapan, sloka 20, Dewi Kuntī berdoa kepada Śrī Kṛṣṇa pada saat Kṛṣṇa akan berangkat, “Kṛṣṇa yang hamba muliakan, Engkau begitu agung sehingga tidak dapat dipahami bahkan oleh sarjana-sarjana yang sangat hebat dan paramahaḿsa (insan-insan yang sudah mencapai pembebasan sepenuhnya) sekalipun. Jadi, apabila resi-resi mulia yang sudah melampaui segala reaksi kehidupan material tersebut tidak dapat mengenal Engkau, maka bagaimana mungkin kami sebagai kaum perempuan yang bersahaja dapat mengetahui kebesaran-Mu? Bagaimana mungkin kami dapat mengerti tentang Engkau?” Dalam sloka tersebut, yang perlu diperhatikan ialah bahwa Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dimengerti bukan oleh orang-orang besar yang sudah mencapai pembebasan, melainkan oleh para pe-nyembah seperti Dewi Kuntī dengan sikapnya yang rendah hati. Walaupun Dewi Kuntī adalah seorang wanita dan dianggap kurang cerdas dibanding laki-laki, namun ia menginsafi kesadaran Kṛṣṇa. Itulah makna sloka ini.

Sloka lain yang sangat penting terdapat dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, Bab Tujuh, sloka 10, yang disebut “sloka ātmārāma”. Dalam sloka ātmārāma disebutkan bahwa orang yang sudah mencapai pembebasan sepenuhnya dari pencemaran hal-hal material tertarik oleh sifat-sifat spiritual Śrī Kṛṣṇa yang melampaui keduniawian.* Makna sloka tersebut ialah bahwa insan yang sudah mencapai pembebasan sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk kenikmatan material; ia bebas sepenuhnya dari segala jenis keinginan material, namun ia sangat tertarik oleh keinginan untuk mendengar dan mengerti kegiatan Tuhan. Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa kegiatan Tuhan tidaklah bersifat material. Kalau tidak demikian, bagaimana mungkin orang yang sudah mencapai pembebasan dan dikenal sebagai para ātmārāma tertarik kepada kegiatan tersebut? Itulah kenyataan penting dalam sloka tersebut.

Dari pernyataan tersebut di atas, dimengerti bahwa seorang penyembah tidak mencari satu pun di antara tahap-tahap pembebasan. Ada lima tahap pembebasan, yang sudah dijelaskan sebagai (1) bersatu dengan Tuhan, (2) tinggal di planet yang sama dengan Tuhan, (3) mencapai ciri-ciri badan yang sama seperti Tuhan, (4) memiliki kekayaan yang sama seperti Tuhan dan (5) senantiasa bergaul dengan Tuhan. Di antara lima tahap pembebasan tersebut, pembebasan yang disebut sāyujya, atau manunggal ke dalam keberadaan Tuhan, adalah yang paling tidak mau diterima oleh seorang penyembah. Empat jenis pembebasan lainnya, walaupun tidak diinginkan oleh para penyembah, tidak bertentangan dengan cita-cita pelayanan bhakti. Beberapa orang yang sudah mencapai pembebasan dalam empat tahap pembebasan tersebut barangkali juga mengembangkan rasa kasih sayang terhadap Kṛṣṇa dan diangkat sampai planet Goloka Vndāvana di angkasa spiritual. Dengan kata lain, orang yang sudah diangkat sampai planet-planet Vaikuṇṭha dan sudah memiliki empat jenis pembebasan barangkali juga mengembangkan pelayanan bhakti kepada Kṛṣṇa sehingga diangkat sampai Kṛṣṇaloka.

Jadi, orang yang sudah mencapai empat tingkat pembebasan mungkin masih sedang melalui berbagai tahap kehidupan. Pada permulaan, barangkali mereka menginginkan kehebatan Kṛṣṇa, tetapi pada tahap matang, pelayanan bhakti kepada Kṛṣṇa yang diperlihatkan di Vndāvana dominan di dalam hatinya. Karena itu, para penyembah-murni tidak pernah menerima pembebasan sāyujya, yang berarti bersatu dengan Yang Mahakuasa, walaupun kadang-kadang mereka menerima empat keadaan pembebasan lainnya sebagai sesuatu yang menguntungkan.

Di antara banyak jenis penyembah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, penyembah yang tertarik kepada bentuk Tuhan Yang Asli, yaitu Kṛṣṇa di Vndāvana, dianggap paling maju, atau penyembah kelas-utama. Seorang penyembah yang seperti itu tidak pernah tertarik kepada kekayaan dan kehebatan Vaikuṇṭha, ataupun Dvārakā, ibu kota kerajaan Kṛṣṇa. Kesimpulan Śrī Rūpa Gosvāmī ialah bahwa para penyembah yang tertarik kepada kegiatan Tuhan di Gokula, atau Vṛndāvana* adalah penyembah-penyembah yang tertinggi.

Seorang penyembah yang tertarik pada bentuk Tuhan yang khusus tidak ingin mengalihkan pelayanan bhakti-nya kepada bentuk-bentuk lain. Misalnya, Hanumān, penyembah Śrī Rāmacandra yang mulia, mengetahui bahwa tidak ada per-bedaan antara Śrī Rāmacandra dan Śrī Nārāyaṇa, namun masih Hanumān ingin mengabdikan diri hanya kepada Śrī Rāmacandra. Itulah rasa tertarik khusus di dalam hati penyembah tertentu. Ada banyak bentuk Tuhan, tetapi Kṛṣṇa tetap merupakan bentuk yang asli walaupun semua penyembah yang memuja berbagai bentuk Tuhan termasuk golongan yang sama, namun dikatakan bahwa para penyembah Śrī Kṛṣṇa adalah yang tertinggi dalam daftar semua penyembah.