Sloka

Bab 22.Lanjutan Penjelasan Sifat-Sifat Sri Krsna

Penjelasan

31. Heroik

Orang yang bersemangat sekali dalam kegiatan militer dan ahli dalam melepaskan berbagai jenis senjata disebut heroik. Mengenai sifat heroik Kṛṣṇa dalam pertempuran, ada per-nyataan sebagai berikut: “Wahai pembunuh musuh yang hamba hormati, seperti gajah yang menghancurkan semua tangkai bunga padma di air dengan mengayunkan belalainya sambil mandi di danau, begitu pula hanya dengan menggerakkan lengan-lengan-Mu yang bagaikan belalai gajah Engkau sudah membunuh begitu banyak musuh yang ibarat bunga-bunga padma.”

Mengenai keahlian Kṛṣṇa dalam melepaskan senjata, pada waktu Jarāsandha bersama tiga belas divisi pasukan menyerang tentara Kṛṣṇa, mereka tidak sanggup melukai seorang prajurit pun di pihak Kṛṣṇa. Ini karena latihan militer yang ahli yang diberikan oleh Kṛṣṇa. Ini memang hanya sekali terjadi dalam sejarah ilmu militer.

 

32. Murah hati

Orang yang tidak tahan membiarkan orang lain menderita disebut murah hati. Sifat murah hati yang dimiliki Kṛṣṇa terhadap orang yang menderita diperlihatkan pada waktu Dia mem-bebaskan semua raja yang dipenjarakan oleh Magadhendra. Menjelang ajalnya, Kakek Bhīṣma berdoa kepada Kṛṣṇa dan mengibaratkan Kṛṣṇa sebagai matahari yang menghilangkan kegelapan. Para raja yang dipenjarakan oleh Magadhendra telah dimasukkan dalam sel-sel yang gelap, dan pada waktu Kṛṣṇa muncul, mereka semua dibebaskan. Kṛṣṇa membebaskan raja-raja tersebut atas kemurahan hati-Nya yang tulus terhadap me-reka. Kemurahan hati Kṛṣṇa juga diperlihatkan pada waktu kakek Bhīṣma sedang berbaring di atas panah-panah yang telah menembus tubuhnya. Sambil berbaring dalam kedudukan seperti itu, Bhīṣma ingin sekali melihat Kṛṣṇa, dan karena itu, Kṛṣṇa muncul di sana. Ketika Kṛṣṇa melihat keadaan Bhīṣma yang menyedihkan itu, Kṛṣṇa mulai berbicara sambil keluar air mata. Kṛṣṇa tidak hanya menangis, tetapi juga sampai terharu dalam kemurahan hati-Nya. Karena itu, para penyembah tidak bersujud kepada Kṛṣṇa secara langsung, melainkan bersujud kepada sifat murah hati Kṛṣṇa. Sebenarnya, oleh karena Kṛṣṇa adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, sangat sulit bagi seseorang untuk mendekati Dia secara langsung. Tetapi para penyembah memanfaatkan sifat murah hati Kṛṣṇa, yang ter-wujud sebagai Rādhārāṇī, dan selalu berdoa kepada Rādhārāṇī untuk memohonkan karunia Kṛṣṇa.

 

33. Penuh Rasa Hormat

Orang yang memperlihatkan sikap hormat yang pantas kepada seorang guru spiritual, seorang brāhmaṇa dan kepada orang yang sudah lanjut usia dapat dimengerti sebagai bersikap hormat.

Apabila orang yang menurut tata krama berstatus lebih tinggi berkumpul di hadapan Kṛṣṇa, pertama Kṛṣṇa menghormati guru spiritual-Nya, kemudian ayah-Nya, kemudian kakak-Nya, Balarāma. Dengan cara demikian, Śrī Kṛṣṇa, yang bermata se-perti daun bunga padma, bahagia secara sempurna dan hati-Nya suci dalam segala tingkah laku-Nya.

 

34. Lembut

Siapa pun yang tidak kurang ajar dan tidak memperlihatkan sifat sombong disebut lembut. Contoh tingkah laku Kṛṣṇa yang lembut diperlihatkan pada waktu Dia datang ke arena kurban suci Rājasūya yang diselenggarakan oleh Mahārāja Yudhiṣṭhira, saudara misan Kṛṣṇa yang lebih tua dari Kṛṣṇa. Mahārāja Yudhiṣṭhira mengetahui bahwa Kṛṣṇa adalah Personalitas Ter-tinggi Tuhan Yang Maha Esa, dan beliau sedang mencoba turun dari keretanya untuk menyambut kedatangan Kṛṣṇa. Tetapi sebelum Yudhiṣṭhira turun, Śrī Kṛṣṇa sudah turun dari kereta-Nya Sendiri lebih dahulu dan segera bersujud di kaki Raja. Walaupun Kṛṣṇa adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Dia tidak pernah lupa meperlihatkan etika masyarakat dalam tingkah laku-Nya.

 

35. Liberal

Siapa pun yang menurut tingkah lakunya yang wajar bersikap sangat lunak di sebut liberal. Sebuah pernyataan oleh Uddhava sesudah permata Syamantaka dirampas membenarkan bahwa Kṛṣṇa begitu murah hati dan baik hati sehingga walaupun seorang hamba dituduh telah melakukan kesalahan yang besar sekalipun Kṛṣṇa tidak pernah mempertimbangkan kesalahan-kesalahan itu, Kṛṣṇa hanya mempertimbangkan pelayanan yang telah dilakukan oleh penyembah-Nya.

 

36. Pemalu

Orang yang kadang-kadang memperlihatkan sifat rendah hati dan sifat pemalu disebut pemalu. Sebagaimana diuraikan dalam kitab Lalita-mādhava, sifat pemalu Kṛṣṇa diperlihatkan pada waktu Dia Mengangkat Bukit Govardhana dengan kelingking tangan kiri-Nya. Semua gopī sedang mengamati perbuatan Kṛṣṇa yang ajaib, dan Kṛṣṇa pun sedang tersenyum pada waktu Dia melihat Para gopī. Ketika Kṛṣṇa melihat payudara para gopī, tangan-Nya mulai gemetaran. Ketika semua gembala sapi yang sedang berlindung di bawah bukit itu melihat tangan Kṛṣṇa bergetar, mereka agak goyah. Kemudian terdengar suara me-ngaum yang besar sekali dan mereka semua mulai berdoa kepada Kṛṣṇa untuk keselamatan mereka. Pada waku ini, Śrī Balarāma tersenyum, dengan berpikir bahwa para gembala sapi ketakutan karena bukit Gorvadhana goyang. Tetapi ketika Kṛṣṇa melihat Balarāma tersenyum Kṛṣṇa berpikir Balarāma telah mengerti pikiran-Nya dalam melihat payudara para gopī, se-hingga Dia segera menjadi malu.

 

37. Pelindung Insan-insan yang Berserah-diri

Kṛṣṇa adalah Pelindung semua insan yang berserah-diri.

Seorang musuh Kṛṣṇa merasa bersemangat dengan berpikir dirinya tidak perlu takut pada Kṛṣṇa sebab kalau dia hanya ber-serah-diri kepada Kṛṣṇa, Kṛṣṇa akan memberi segala per-lindungan kepadanya. Kṛṣṇa kadang-kadang diumpamakan sebagai bulan, yang tidak segan memancarkan sinarnya yang melegakan bahkan di atas rumah-rumah kaum caṇāla dan orang lain dari golongan rendah lainnya.

 

38. Bahagia

Siapa pun yang selalu riang dan tidak disentuh oleh dukacita mana pun disebut bahagia. Mengenai kebahagiaan Kṛṣṇa, dinyatakan bahwa perhiasan yang merias badan-badan Kṛṣṇa dan para permaisuri-Nya melampaui impian Kuvera, bendahara Surga, sekalipun. Tarian-tarian yang senantiasa dipentaskan di hadapan berbagai pintu gerbang istana-istana Kṛṣṇa tidak dapat dibayangkan bahkan oleh para dewa di kerajaan surga sekalipun. Di kerajaan surga, Indra senantiasa menyaksikan tarian-tarian para bidadari. Tetapi Indra pun tidak mampu membayangkan betapa indahnya tarian-tarian yang sedang dipentaskan di gerbang-gerbang istana-istana Kṛṣṇa. Gaurī berarti “wanita putih”, dan istri Śiva bernama Gaurī. Wanita-wanita cantik yang tinggal di dalam istana-istana Kṛṣṇa jauh lebih putih daripada Gaurī sehingga mereka diumpamakan sebagai sinar bulan, dan mereka senantiasa nampak bagi Kṛṣṇa. Karena itu, tiada seorang pun yang dapat menikmati lebih daripada Kṛṣṇa. Paham kenikmatan adalah menyangkut wanita-wanita cantik, perhiasan dan kekayaan. Segala unsur tersebut ada secara megah di istana-istana Kṛṣṇa, yang bahkan mengalahkan apa yang dapat di-bayangkan oleh Kuvera, Dewa Indra atau Dewa Śiva.

Dukacita yang paling kecil sekalipun tidak dapat menyentuh Kṛṣṇa. Beberapa gopī pernah pergi ke tempat para brāhmaṇa sedang mempersembahkan kurban-kurban suci dan berkata, “Istri-istri para brāhmaṇa yang kami hormati, ketahuilah bahwa bau dukacita yang paling kecil sekalipun tidak dapat menyentuh Kṛṣṇa. Kṛṣṇa tidak mengenal kerugian, Dia tidak mengenal penghinaan, Dia tidak pernah takut, tidak pernah cemas, dan tidak mengenal musibah. Kṛṣṇa hanya diiringi oleh lingkaran para penari Vraja dan sedang menikmati pergaulan mereka dalam tarian rāsa.”

 

39. Mengharapkan Kesejahteraan Para Penyembah-Nya

Dikatakan tentang para penyembah Kṛṣṇa bahwa kalau mereka mempersembahkan air sedikit atau sehelai daun tulasī kepada Śrī Viṣṇu, maka Śrī Viṣṇu begitu murah hati sehingga Dia ber-sedia menyerahkan Diri-Nya kepada mereka. Sikap Kṛṣṇa mengistimewakan para penyembah-Nya diperlihatkan dalam pertempuran Dia melawan Bhīṣma. Ketika kakek Bhīṣma sedang berbaring di atas panah-panah dalam keadaan sekarat, Kṛṣṇa hadir di hadapannya, dan Bhīṣma sedang ingat betapa murah hatinya Kṛṣṇa kepada dirinya di medan perang. Kṛṣṇa telah berjanji bahwa dalam Perang Kurukṣetra Dia tidak akan me-nyentuh senjata mana pun untuk menolong kedua belah pihak; Dia akan tetap netral. Walalaupun Kṛṣṇa bereperan sebagai kusir kereta Arjuna, Kṛṣṇa sudah bersumpah tidak akan membantu Arjuna dengan memakai senjata apa pun. Tetapi pada suatu hari, untuk membuat Kṛṣṇa mengingkari janji-Nya, Bhīṣma mem-perlihatkan semangat tempurnya dengan begitu perkasa melawan Arjuna sehingga terpaksa Kṛṣṇa turun dari kereta-Nya. Kṛṣṇa mengangkat roda kereta yang sudah patah dan lari mendekati Kakek Bhīṣma bagaikan singa lari mendekati gajah untuk membunuhnya. Kakek Bhīṣma ingat adegan tersebut, dan kemudian beliau memuji Kṛṣṇa karena sikap sayang istimewa yang diperlihatkan oleh Dia kepada Arjuna, bahkan dengan mengambil risiko mengingkari janji-Nya Sendiri sekalipun.

 

40. Dikendalikan oleh Rasa Cinta Kasih Rohani

Kṛṣṇa berutang budi kepada rasa cinta kasih rohani seorang penyembah, bukan kepada jasa yang dipersembahkannya. Tidak ada orang yang mampu melayani Kṛṣṇa secara sempurna. Kṛṣṇa begitu sempurna dan melengkapi kebutuhan-Nya Sendiri se-hingga Dia tidak membutuhkan jasa apa pun dari penyembah. Adalah sikap pelayanan bhakti dan rasa sayang terhadap Kṛṣṇa dari seorang penyembah yang membuat Kṛṣṇa berutang budi. Contoh tingkah laku berutang budi tersebut yang baik sekali diperlihatkan pada waktu Sudāmā Vipra pergi ke istana Kṛṣṇa. Sudāmā Vipra dahulu adalah kawan sekelas Kṛṣṇa pada masa sekolah. Oleh karena Sudāmā miskin sekali, istrinya me-nyuruhnya supaya menemui Kṛṣṇa dan minta bantuan. Setibanya Sudāmā di istana Kṛṣṇa, Kṛṣṇa menyambut kedatangannya dengan baik sekali. Baik Kṛṣṇa maupun istri-Nya mencuci kaki Sudāmā, dengan menghormati seorang brāhmaṇa. Mengingat kegiatannya yang penuh rasa sayang bersama Sudāmā pada masa kecil mereka, Kṛṣṇa mulai keluar air mata sambil me-nyambut kedatangan Sudāmā. Contoh lain Kṛṣṇa merasa berutang budi kepada penyembah-Nya diuraikan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Sembilan, sloka 18. Dalam sloka tersebut, Śukadeva Gosvāmī memberitahu Mahārāja Parīkṣit, “Baginda Raja yang saya hormati, pada waktu Ibu Yaodā keluar keringat dan letih karena usahanya mengikat Kṛṣṇa dengan tali, Kṛṣṇa setuju mengizinkan Ibu Yaodā mengikat-Nya.” Kṛṣṇa yang masih anak-anak sedang mengganggu ibu-Nya dengan kegiatan-Nya yang nakal sehingga Ibu Yaodā ingin mengikat Kṛṣṇa. Ibu Yaodā membawa tali dari rumah dan mencoba mengikat anaknya, tetapi tali tidak bisa diikat karena terlalu pendek. Ibu Yaodā menyambung banyak utas tali, tetapi setelah selesai disambung, tali itu masih tetap terlalu pendek. Sesudah beberapa waktu, Ibu Yaodā merasa lelah sekali sampai keluar keringat. Pada waktu itu, Kṛṣṇa berkenan diikat oleh ibu-Nya. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang mampu me-ngikat Kṛṣṇa melalui cara apa pun selain cinta kasih rohani. Kṛṣṇa hanya diikat oleh utang budi kepada penyembah-Nya, karena cinta kasih rohani kebahagiaan transendental mereka kepada Dia.

 

41. Serba Menyejahterakan

Orang yang selalu tekun dalam kegiatan untuk kesejahteraan semua orang dikenal sebagai orang yang serba menye-jahterakan.

Sesudah Śrī Kṛṣṇa menghilang dari planet ini, Uddhava mulai ingat kegiatan Kṛṣṇa. Uddhava berkata, “Kṛṣṇa memuaskan semua resi yang mulia melalui kegiatan-Nya yang ajaib. Dia menghancurkan segala kegiatan jahat golongan raja yang kejam, melindungi semua orang saleh dan membunuh semua kesatria yang kejam di medan perang. Karena itu, Kṛṣṇa serba menyejah-terakan bagi semua orang.”

 

42. Paling Perkasa

Orang yang selalu mampu membuat musuhnya berada dalam kesulitan disebut perkasa.

Pada waktu Kṛṣṇa hadir di planet ini, bagaikan matahari perkasa yang mengusir segala kegelapan hingga berlindung di dalam goa-goa, Kṛṣṇa mengusir segala musuhnya, dan mereka lari seperti burung hantu untuk bersembunyi di luar penglihatan Kṛṣṇa.

 

43. Serba Termasyhur

Orang yang menjadi terkenal karena wataknya yang suci dan tidak ternoda disebut termasyhur.

Dinyatakan bahwa kemasyhuran Kṛṣṇa tersebar bagaikan sinar bulan, yang mengubah kegelapan menjadi cahaya. Dengan kata lain, kalau kesadaran Kṛṣṇa disebarkan di seluruh dunia, maka kegelapan kebodohan serta rasa cemas kehidupan material akan diubah menjadi putih kesucian, kedamaian dan kemakmuran.

Pada waktu resi-agung Nārada sedang memuji kebesaran Kṛṣṇa, garis berwarna kebiru-biruan di leher Śiva hilang. Ketika Gaurī, istri Dewa Śiva, melihat kejadian ini, beliau mencurigai Dewa Śiva adalah orang lain yang sedang menyamar sebagai suaminya, sehingga beliau ketakutan dan segera meninggalkan pergaulan Dewa Śiva. Ketika Śrī Balarāma mendengar nama Kṛṣṇa dinyanyikan, Dia melihat pakaian-Nya sudah berubah warna menjadi putih, padahal Dia biasanya memakai pakaian berwarna kebiru-biruan. Semua gadis gembala sapi melihat se-luruh air Sungai Yamunā berubah menjadi susu, sehingga mereka mulai mengocoknya menjadi mentega. Dengan kata lain, segala sesuatu menjadi putih dan suci melalui penyebaran kesadaran Kṛṣṇa.

 

44. Populer

Siapa pun yang sangat digemari oleh rakyat umum disebut orang populer.

Mengenai popularitas Kṛṣṇa, ada pernyataan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, Bab Sebelas, sloka 9, yang me-nyangkut Kṛṣṇa pulang dari ibukota Hastināpura. Pada waktu Kṛṣṇa tidak berada di Dvārakā selama Perang Kurukṣetra, semua warga Dvārakā telah menjadi murung. Kemudian, ketika Kṛṣṇa pulang, para warga menyambut kedatangan-Nya dan berkata, “Wahai Śrī Kṛṣṇa yang kami cintai, selama Engkau tidak ada di kota, hari-hari berlalu bagaikan kami berada dalam kegelapan malam hari. Dalam kegelapan pada waktu malam, setiap saat terasa seperti kurun waktu yang panjang sekali, begitu pula selama Engkau pergi, setiap saat terasa bagaikan berjuta-juta tahun bagi kami. Kami sama sekali tidak mampu menahan rasa rindu kepada-Mu.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Kṛṣṇa populer sekali di seluruh negeri.

Peristiwa yang serupa terjadi pada waktu Kṛṣṇa memasuki arena kurban suci yang diselenggarakan oleh Raja Kaḿsa supaya Kṛṣṇa menemui ajal-Nya. Begitu Kṛṣṇa memasuki istana, semua resi mulai berseru, “Jaya! Jaya! Jaya!” Kṛṣṇa masih anak-anak pada waktu itu, dan semua resi memberikan restunya dengan hormat kepada Kṛṣṇa. Para dewa yang hadir juga mulai meman-jatkan doa-doa yang indah kepada Kṛṣṇa. Para ibu dan gadis yang hadir mengutarakan rasa riangnya dari segala sudut arena itu. Dengan kata lain, Kṛṣṇa populer bagi semua orang di tempat itu tanpa kecuali.

 

45. Menyayangi Para Penyembah

Walaupun Kṛṣṇa adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dan karena itu tidak mengistimewakan siapa pun namun dinyatakan dalam Bhagavad-gītā bahwa Kṛṣṇa tertarik secara istimewa kepada penyembah yang menyembah nama-Nya dalam cinta kasih rohani dan rasa sayang. Pada waktu Kṛṣṇa berada di planet ini, seorang penyembah mengutarakan pera-saannya sebagai berikut: “Tuhan yang hamba cintai, seandainya Engkau tidak muncul di planet ini, maka para asura [iblis] dan ateis pasti sudah menciptakan kekacauan melawan kegiatan para penyembah. Hamba tidak bisa membayangkan besarnya kehancuran yang dicegah oleh kehadiran-Mu.” Sejak awal in-karnasi-Nya, Kṛṣṇa adalah musuh terbesar bagi semua orang jahat, walaupun rasa benci Kṛṣṇa terhadap orang jahat sebe-narnya dapat disamakan dengan persahabatan-Nya terhadap para penyembah. Ini karena semua orang jahat yang dibunuh oleh Kṛṣṇa segera menerima pernbebasan.

 

46. Sangat Menarik bagi Semua Wanita

Siapa pun yang memiliki kualifikasi istimewa segera sangat menarik bagi kaum wanita.

Seorang penyembah memberi pernyataan berikut mengenai para permaisuri Dvārakā: “Bagaimana saya dapat menguraikan kemuliaan para permaisuri Dvārakā? Mereka tekun dalam pelayanan kepada Śrī Kṛṣṇa secara pribadi. Śrī Kṛṣṇa begitu mulia sehingga semua resi agung seperti Nārada dapat me-nikmati kebahagiaan transendental hanya dengan menyanyikan nama-Nya. Jadi, apa yang dapat dikatakan tentang para per-maisuri itu, yang melihat Śrī Kṛṣṇa setiap saat dan mengabdi kepada-Nya secara pribadi?” Kṛṣṇa beristri 16.108 orang di Dvārakā. Setiap istri Kṛṣṇa tertarik kepada Kṛṣṇa seperti besi tertarik oleh magnet. Ada pernyataan oleh seorang penyembah: “Tuhan yang hamba cintai, Engkau persis seperti sebuah mag-net, dan semua gadis Vraja bagaikan besi: ke mana pun Engkau bergerak mereka mengikuti-Mu, ibarat besi tertarik oleh daya magnet.”

 

47. Patut Disembah oleh Semua Insan

Orang yang dihormati dan disembah oleh segala jenis manusia dan dewa disebut sarvārādhya, atau patut disembah oleh semua insan.

Kṛṣṇa tidak hanya disembah oleh semua makhluk hidup, termasuk dewa-dewa yang mulia seperti Dewa Śiva dan Dewa Brahmā, tetapi juga oleh inkarnasi-inkarnasi Viṣṇu (bentuk-bentuk Tuhan Yang Maha Esa) seperti Baladeva dan Śeṣa. Baladeva adalah ekspansi Kṛṣṇa secara langsung, namun Baladeva masih mengakui bahwa Kṛṣṇa patut Dia puja. Pada waktu Kṛṣṇa muncul dalam arena kurban suci Rājasūya yang diselenggarakan oleh Mahārāja Yudhiṣṭhira, Kṛṣṇa menjadi buah mata, pusat perhatian, dan semua hadirin memberi hormat kepada Dia.

 

48.Mahakaya

Kṛṣṇa sempurna dalam segala kehebatan—yakni kekuatan, kekayaan, masyhuran, ketampanan, pengetahuan dan pe-lepasaan ikatan. Pada waktu Kṛṣṇa hadir di Dvārakā, keluarga Kṛṣṇa, yang bernama Dinasti Yadu, terdiri dari 560 juta anggota. Semua anggota keluarga tersebut sangat patuh dan setia kepada Kṛṣṇa. Ada lebih dari 900.000 istana besar sebagai permukiman rakyat, dan semuanya menghormati Kṛṣṇa sebagai yang paling patut disembah. Para penyembah heran melihat kekayaan Kṛṣṇa.

Kenyataan tersebut dibenarkan oleh Bilvamańgala ”hākura dalam karyanya berjudul Kṛṣṇa-karnāmṛta. Dalam karya tersebut, Bilvamańgala ”hākura menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Tuhan yang hamba cintai, apa yang dapat hamba katakan ten-tang kekayaan Vṛndāvana-Mu? Perhiasan pada kaki gadis-gadis Vṛndāvana pun lebih berharga dari cintāmaṇi, dan pakaiannya sebaik bunga-bunga pārijāta dari surga. Sapi-sapi di sana persis menyerupai sapi-sapi surabhi di tempat tinggal spiritual. Karena itu, kekayaan-Mu persis seperti lautan yang tidak dapat diukur oleh siapa pun.”

 

49. Mahaterhormat

Orang yang paling terkemuka di antara semua tokoh penting disebut mahaterhormat.

Pada waktu Kṛṣṇa tinggal di Dvārakā, dewa-dewa seperti Dewa Śiva, Dewa Brahma, Raja surga bernama Indra, dan banyak dewa lainnya suka datang untuk menghadap Kṛṣṇa. Pengawal pintu, yang bertugas mengurus masuknya segala dewa tersebut, pada suatu hari yang sibuk sekali, berkata, “Dewa Brahmā dan Dewa Śiva yang saya hormati, harap duduk di bangku ini dan menunggu. Dewa Indra yang saya hormati, harap berhenti mem-bacakan doa-doamu. Ini mengganggu. Harap duduk dengan ber-diam. Varuna yang saya hormati, harap pulang saja. Dan dewa-dewa yang baik hati, jangan menyia-nyiakan waktumu. Kṛṣṇa repot sekali; Dia tidak sempat menemui Anda semua!”

50. Mahakuasa

 

Ada dua jenis kepribadian yang mengendalikan, atau penguasa: orang yang bebas dan merdeka disebut penguasa, dan orang yang perintah-Nya tidak dapat dialpakan oleh siapa pun disebut penguasa.

Mengenai kemerdekaan dan kekuasaan Kṛṣṇa yang sempurna, Śrīmad-Bhāgavatam menyatakan bahwa walaupun Kāliya sudah melakukan kesalahan besar, namun Kṛṣṇa masih memberi ka-runia kepadanya dengan menandai kepala Kāliya dengan kaki-padma-Nya. Sementara itu, Dewa Brahmā masih tidak berhasil menarik hati Kṛṣṇa bahkan setelah Dewa Brahmā berdoa kepada Kṛṣṇa dengan memanjatkan begitu banyak sloka yang indah sekalipun.

Perilaku Kṛṣṇa yang bertolak belakang tersebut pantas me-nurut kedudukan-Nya, sebab dalam segala sastra Veda Kṛṣṇa diuraikan sebagai Yang Mahamerdeka. Pada awal Śrīmad-Bhāgavatam, Śrī Kṛṣṇa diuraikan sebagai svarāṭ, yang berarti “merdeka secara sempurna”. Itulah kedudukan Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Kebenaran Mutlak bukan hanya berindera, tetapi juga merdeka secara sempurna.

Mengenai perintah-perintah Kṛṣṇa tidak dialpakan oleh siapa pun, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Dua, sloka 21, Uddhava memberitahu Vidura, “Śrī Kṛṣṇa adalah penguasa tiga sifat alam material. Dia menikmati segala kehebatan, dan karena itu, tidak ada insan yang setara atau lebih hebat daripada Dia.” Semua raja dan Mahārāja suka menghadap Kṛṣṇa, memper-sembahkan tanda mata dan bersujud dengan mahkotanya di kaki Kṛṣṇa. Seorang penyembah berkata, “Śrī Kṛṣṇa yang hamba cintai, apabila Engkau memberi perintah kepada Brahmā, ‘Sekarang engkau boleh menciptakan jagat,’ dan apabila Engkau memberi perintah kepada Dewa Śiva, ‘Sekarang engkau le-burkan manifestasi material ini’, dengan cara demikian, Engkau Sendiri menciptakan dan meleburkan ciptaan alam material. Engkau memelihara banyak alam semesta hanya melalui perintah-perintah-Mu dan melalui ekspansi sebagian dari Diri-Mu sebagai Viṣṇu. Wahai Kṛṣṇa, Wahai musuh Kaḿsa, ada begitu banyak Brahmā dan Śiva yang hanya melaksanakan perintah-perintah-Mu.”

 

51. Tidak Pernah Berubah

Kṛṣṇa tidak mengubah kedudukan dasar-Nya, bahkan pada waktu Dia muncul di dunia material sekalipun. Kedudukan dasar spiritual makhluk hidup biasa ada dalam keadaan tertutup. Makhluk hidup-biasa muncul dalam berbagai badan dan ber-tindak di bawah berbagai paham hidup jasmani. Tetapi Kṛṣṇa tidak menggantikan badan-Nya. Kṛṣṇa muncul dalam badan-Nya Sendiri dan karena itu Dia tidak terpengaruh oleh sifat-sifat alam material. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, Bab Sebelas, sloka 38, dinyatakan bahwa hak istimewa Yang Maha-kuasa adalah Dia samasekali tidak dipengaruhi oleh sifat-sifat alam material. Contoh nyata hal ini adalah bahwa para penyem-bah yang dilindungi oleh Śrī Kṛṣṇa juga tidak dipengaruhi oleh alam material. Sangat sulit mengatasi pengaruh alam material, tetapi para penyembah atau orang suci yang berada di bawah perlindungan Tuhan tidak terpengaruh. Jadi, apa yang perlu dikatakan tentang Tuhan Sendiri? Jelasnya, walaupun Tuhan kadang-kadang muncul di dunia material ini, Dia tidak mem-punyai hubungan apa pun dengan sifat-sifat alam material, dan Dia bertindak dengan kemerdekaan yang sempurna dalam kedudukan spiritual-Nya. Inilah sifat istimewa Tuhan.

 

52. Mahatahu

Orang yang dapat mengerti perasaan semua orang dan peristiwa-peristiwa di semua tempat sepanjang masa disebut mahatahu.

Contoh baik sifat mahatahu yang dimiliki oleh Śrī Kṛṣṇa diuraikan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, Bab Limabelas, sloka 11, berhubungan dengan kunjungan Durvāsā Muni ke rumah Pāṇava di hutan. Menurut siasat yang telah dirancang sebelumnya, Duryodhana mengirim Durvāsā Muni bersama sepuluh ribu muridnya untuk bertamu di rumah Pāṇava di hutan. Duryodhana mengatur supaya Durvāsā ber-sama anak buahnya tiba di tempat Pāṇava tepat setelah jam makan siang Pāṇava selesai, agar Pāṇava akan kewalahan dan tidak mampu menjamu tamu yang begitu banyak dengan makanan. Kṛṣṇa mengetahui siasat Duryodhana. Karena itu, Kṛṣṇa datang menemui Pāṇava dan bertanya kepada istri me-reka, Draupadī, apakah masih ada sisa makanan yang dapat dipersembahkan kepada Kṛṣṇa oleh Draupadī. Draupadī me-nawarkan tempat makanan yang hanya berisi sebutir sayuran saja kepada Kṛṣṇa, lalu Kṛṣṇa segera memakannya. Pada saat itu, semua resi yang sedang mengiringi Durvāsā sedang mandi di sungai. Ketika Kṛṣṇa merasa puas dari makan makanan yang disajikan oleh Draupadī, para resi pun merasa kenyang dan tidak merasa lapar lagi. Oleh karena Durvāsā dan para anak buahnya merasa tidak mampu makan apa-apa lagi, mereka pergi tanpa memasuki rumah Pāṇava. Pāṇava selamat dari amarah Durvāsā dengan cara seperti itu. Duryodhana telah mengirim Durvāsā karena dia mengetahui Pāṇava tidak akan mampu menerima tamu yang jumlahnya begitu banyak, sehingga Durvāsā akan menjadi marah dan mengutuk Pāṇava. Tetapi Kṛṣṇa menye-lamatkan mereka dari musibah melalui siasat-Nya dan sifat Mahatahu-Nya.

 

53. Segar Selamanya

Kṛṣṇa selalu diingat, dan nama-Nya selalu dinyanyikan oleh berjuta-juta penyembah, tetapi para penyembah tidak pernah menjadi bosan. Para penyembah tidak menjadi kurang tertarik untuk berpikir tentang Kṛṣṇa dan cara mengucapkan nama suci-Nya; melainkan para penyembah semakin bersemangat untuk meneruskan proses itu. Karena itu, Kṛṣṇa segar selamanya. Bukan hanya Kṛṣṇa saja, tetapi juga pengetahuan tentang Kṛṣṇa segar selamanya. Bhagavad-gītā, yang disabdakan limaribu tahun silam, masih dibaca berulang kali oleh berjuta-juta orang, dan penerangan baru selalu ditemukan dalam Kitab Suci itu. Karena itu, Kṛṣṇa bersama nama, kemasyhuran, sifat-sifat-Nya—serta segala sesuatu yang berhubungan dengan Dia—segar selamanya.

Semua permaisuri di Dvārakā adalah Dewi-dewi Fortuna. Dikatakan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Satu, Bab Sebelas, sloka 33, bahwa para Dewi Fortuna sangat tidak mantap dan gelisah, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu memikat mereka terus-menerus. Karena itulah nasib orang sewaktu-waktu berubah. Namun para Dewi Fortuna tidak dapat mening-galkan Kṛṣṇa bahkan selama sesaat pun pada waktu mereka tinggal bersama Dia di Dvārakā. Ini berarti daya tarik Kṛṣṇa segar selamanya. Bahkah para Dewi Fortuna sekalipun tidak mampu meninggalkan pergaulan Kṛṣṇa.

Mengenai ciri-ciri Kṛṣṇa yang segar selamanya, ada pernyataan oleh Rādhārāṇī dalam sastra Lalita-mādhava yang mengum-pamakan Kṛṣṇa sebagai ahli seni ukir yang paling agung, karena Dia ahli memahat kesetiaan kaum wanita. Dengan kata lain, walaupun wanita-wanita yang suci mengikuti aturan dan peraturan prinsip-prinsip Veda agar dapat menjadi setia pada suaminya selamanya, Kṛṣṇa mampu mematahkan kesetiaan mereka yang bagaikan batu dengan memakai pahat ketam-panan-Nya. Kebanyakan teman wanita Kṛṣṇa sudah menikah, tetapi oleh karena Kṛṣṇa sudah menjadi teman mereka sebelum mereka menikah, mereka tidak dapat melupakan ciri-ciri Kṛṣṇa yang menarik. Ciri-ciri Kṛṣṇa selalu memikat hati mereka, bahkan sesudah mereka menikah sekalipun.

 

54. Sac-cid-ānanda-vigraha

Badan spiritual Kṛṣṇa bersifat kekal, penuh pengetahuan dan kebahagiaan. Sat berarti hidup selamanya sepanjang masa di semua tempat; dengan kata lain, Mahaada dalam ruang dan waktu. Cit berarti penuh pengetahuan. Kṛṣṇa tidak harus memelajari sesuatu dari siapa pun. Kṛṣṇa secara tersendiri sempurna dalam segala pengetahuan. ĆĄnanda berarti sumber kebahagiaan. Orang impersonalis manunggal ke dalam cahaya Brahman berupa kekekalan dan pengetahuan, tetapi mereka menghindari sebagian besar kebahagiaan mutlak yang ada pada Diri Kṛṣṇa. “Seseorang dapat menikmati kebahagiaan tran-sendental manunggal dalam cahaya Brahman sesudah dibe-baskan dari pencemaran ilusi material, mempersamakan diri secara palsu, ikatan, ketidakterikatan, serta kesibukan dalam hal-hal material. Inilah kualifikasi pertama orang yang dapat menginsafi Brahman. Dinyatakan dalam Bhagavad-gītā bahwa seseorang harus menjadi penuh rasa riang; yang dimaksud tepatnya bukan rasa riang, melainkan rasa kebebasan dari segala kecemasan. Kebebasan dari segala kecemasan barangkali me-rupakan prinsip pertama rasa riang, tetapi bukan rasa riang yang sejati. Orang yang menginsafi Sang diri, atau menjadi brahma-bhūta, hanya sedang mempersiapkan diri untuk tahap rasa riang. Rasa riang tersebut hanya dapat dicapai dengan sebenarnya apabila seseorang berhubungan dengan Kṛṣṇa. Kesadaran Kṛṣṇa begitu sempurna hingga ia mencakup kebahagiaan transen-dental yang diperoleh dari keinsafan impersonal atau keinsafan Brahman. Orang impersonalis sekalipun akan tertarik pada bentuk pribadi Kṛṣṇa, yang dikenal sebagai Śyāmasundara.

Pernyataan Brahma-saḿhitā membenarkan bahwa cahaya Brahman hanyalah cahaya dari badan Kṛṣṇa; cahaya Brahman hanya perwujudan energi Kṛṣṇa. Kṛṣṇa adalah asal mula cahaya Brahman, sebagaimana dibenarkan oleh Kṛṣṇa Sendiri dalam Bhagavad-gītā. Dari kenyataan tersebut, kita dapat menyim-pulkan bahwa ciri Kebenaran Mutlak yang impersonal bukanlah tujuan tertinggi; Kṛṣṇa adalah tujuan tertinggi Kebenaran Mutlak. Karena itu, para anggota perguruan-perguruan Vaiṣṇava tidak pernah berusaha manunggal ke dalam cahaya Brahman dalam usahanya mencapai kesempurnaan spiritual. Mereka mengakui Kṛṣṇa sebagai tujuan tertinggi keinsafan-diri. Itulah sebabnya Kṛṣṇa disebut Parambrahman (Brahman Tertinggi) atau Paramevara (Yang Mahakuasa). Śrī Yāmunācārya berdoa sebagai berikut: “Tuhan yang hamba cintai, hamba mengetahui bahwa jagat raya serta ruang dan waktu yang sangat luas di dalam alam semesta ditutupi oleh tujuh lapisan unsur-unsur material. Masing-masing lapisan tersebut sepuluh kali lebih tebal daripada lapisan sebelumnya. Tiga sifat alam material, Garbhodakaāyī Viṣṇu, Kṣīrodakaāyī Viṣṇu, Mahā-Viṣṇu, dan di luarnya angkasa spiritual dan planet-planet spiritualnya, yang dikenal sebagai planet-planet Vaikuṇṭha, serta cahaya Brahman dalam angkasa spiritual itu—semuanya bersama-sama tidak lebih dari pertunjukan kecil kekuatan-Mu.”

 

55. Memiliki Segala Kesempurnaan Mistik

Ada banyak taraf kesempurnaan. Kesempurnaan material ter-tinggi, yang dicapai oleh yogī-yogī yang sempurna, berjumlah delapan: menjadi yang terkecil di antara semua yang kecil, menjadi yang paling besar di antara semua yang besar, dan sebagainya. Segala kesempurnaan material tersebut, serta segala kesempurnaan spiritual, dapat ditemukan pada kepribadian Kṛṣṇa.

 

56. Kekuatan Kṛṣṇa yang Tidak Dapat Dipahami

Kṛṣṇa adalah Mahaada, bukan hanya di dalam alam semesta, bukan hanya di dalam hati semua makhluk hidup, tetapi juga di dalam setiap atom. Kekuatan Kṛṣṇa yang tidak dapat dipahami itu disebutkan dalam doa-doa Dewi Kuntī. Sambil Kṛṣṇa sedang berbicara dengan Kuntī, pada waktu yang sama Dia masuk ke dalam kandungan Uttarā, yang sedang terancam bahaya akibat senjata nuklir yang dilepaskan oleh Avatthāmā. Kṛṣṇa mampu membuat Dewa Brahmā dan Dewa Śiva sekalipun berada dalam khayalan, dan Dia dapat melindungi semua penyembah yang berserah-diri terhadap reaksi-reaksi kegiatan yang berdosa. Contoh-contoh tersebut merupakan berberapa contoh kekuatan Kṛṣṇa yang tidak dapat dipahami.

Karena itu, Śrīla Rūpa Gosvāmī bersujud kepada Kṛṣṇa dengan berkata, “Kṛṣṇa, yang hadir sebagai seorang manusia, mem-punyai seluruh alam material sebagai bayangan-Nya saja. Kṛṣṇa sudah mengekspansi Diri-Nya menjadi begitu banyak sapi, anak sapi dan anak gembala sapi, lalu sekali lagi mengekspansi Diri dalam semuanya sebagai Nārāyaṇa. Kṛṣṇa sudah mengajarkan keinsafan-diri kepada berjuta-juta Brahmā sehingga Dia patut disembah bukan hanya oleh para pemimpin semua alam semesta, tetapi juga oleh semua insan lainnya. Karena itu, per-kenankanlah hamba selalu mengakui Kṛṣṇa sebagai Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.”

Pada waktu Indra dikalahkan oleh Kṛṣṇa dalam peristiwa pengambilan tanaman pārijāta dari surga, Nārada menemui Indra dan mengkritiknya sebagai berikut, “Wahai Indra, Raja Surga yang mulia, Kṛṣṇa sudah mengalahkan Dewa Brahmā dan Dewa Śiva. Jadi, apa yang dapat dikatakan tentang dewa kecil seperti engkau?” Nārada Muni tentunya sedang mengkritik Indra sambil bercanda, dan Indra menikmatinya.

Dalam pernyataan Nārada, dibenarkan bahwa Kṛṣṇa mampu membuat Dewa Brahma, Dewa Śiva maupun Indra berada da-lam khayalan. Jadi, kemampuan Kṛṣṇa untuk melakukan hal yang sama terhadap makhluk-makhluk yang lebih kecil tidak dapat diragukan.

Uraian tentang kekuatan Kṛṣṇa dalam mengurangi penderitaan reaksi-reaksi dosa diberikan dalam Brahma-saḿhitā sebagai berikut: “Mulai dari Raja Surga yang mulia sampai dengan semut, semua makhluk mengalami reaksi-reaksi perbuatannya dari dahulu. Tetapi seorang penyembah Kṛṣṇa dibebaskan dari reaksi-reaksi tersebut atas karunia Kṛṣṇa.” Ini dibuktikan dengan jelas pada waktu Kṛṣṇa pergi ke tempat Yamarāja, Dewa Kema-tian, untuk meminta agar arwah almarhum putra gurunya dikembalikan. Guru Kṛṣṇa telah memohonkan agar Kṛṣṇa mem-bawa kembali arwah putranya. Untuk itu, Kṛṣṇa pergi ke tempat Yamarāja guna menyelamatkan arwah tersebut. Arwah putra gurunya telah dibawa ke sana oleh Yamarāja dan sedang ditahan di bawah kekuasaan Yamarāja. Kṛṣṇa segera memberi perintah kepada Yamarāja, “Terimalah manfaat perintah-Ku dan kem-balikanlah arwah itu kepada-Ku!” Makna peristiwa tersebut ialah bahwa orang yang berada di bawah prinsip-prinsip aturan hukum-hukum alam sehingga patut dihukum oleh Yamarāja di bawah hukum-hukum tersebut, dapat diampuni sepenuhnya atas karunia Kṛṣṇa.

Kekuatan Kṛṣṇa yang tidak dapat dipahami diuraikan oleh Śukadeva Gosvāmī sebagai berikut: “Kṛṣṇa membuat kecer-dasanku bingung, sebab walaupun Dia tidak dilahirkan, Dia muncul sebagai putra Nanda Mahārāja. Kṛṣṇa Mahaada, namun Dia dipeluk di pangkuan Yaodā. Walaupun jumlah bentuk-bentuk Kṛṣṇa tidak terhingga, namun Dia bergerak sebagai Kṛṣṇa yang tunggal di hadapan ayah dan ibu-Nya, Nanda dan Yaodā.” Dalam Brahma-saḿhitā juga dikatakan bahwa walapun Kṛṣṇa tinggal selamanya di Goloka Vṛndāvana, tempat tinggal spiritual-Nya, namun Dia berada di mana-mana, bahkan di dalam atom-atom sekalipun.

 

57. Badan Kṛṣṇa Menciptakan Banyak Alam Semesta yang Jumlahnya Tidak Terhingga

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Empat Belas, sloka 11, Dewa Brahmā berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, keakuan palsu, kecerdasan, pikiran, angkasa, udara, api, air dan tanah adalah bahan-bahan material alam semesta ini. Alam semesta dapat diumpamakan sebagai periuk yang besar sekali. Di dalam periuk raksasa itu, ukuran badanku sangat kecil. Walaupun salah satu alam semesta tersebut hamba ciptakan, namun banyak alam semesta yang jumIahnya tidak terhingga keluar-masuk dari pori-pori badan-Mu, seperti halnya butir-butir atom kelihatan berkedip-kedip dalam sinar matahari. Hamba kira diri hamba amat remeh di hadapan-Mu. Karena itu, hamba minta ampun dari-Mu. Mohon bermurah hati kepada hamba.”

Kalau seseorang hanya mempertimbangkan satu alam semesta saja, dia akan menemukan begitu banyak benda ajaib di da-lamnya, sebab jumlah planet, tempat tingggal dan tempat para dewa adalah tidak terhingga. Garis tengah alam semesta adalah sepanjang 6,4 milyar kilometer, dan penuh dengan banyak wawasan tidak terjangkau yang dikenal sebagai Pātāla, atau susunan-susunan planet yang rendah. Walaupun Kṛṣṇa adalah asal mula segala susunan alam semesta tersebut, Kṛṣṇa selalu nampak di Vṛndāvana sedang memperlihatkan kekuatan-kekuatan-Nya yang tidak terhingga. Jadi, siapa yang mampu sembahyang secukupnya kepada Tuhan Yang Mahaperkasa yang memiliki energi yang tidak dapat dipahami tersebut?

 

58. Sumber Asli Segala Inkarnasi

Jayadeva Gosvāmī dalam karyanya berjudul Gīta-govinda menyanyi sebagai berikut: “Tuhan dalam inkarnasi-Nya sebagai ikan menyelamatkan kitab-kitab Veda dan memikul seluruh alam semesta di atas punggung-Nya dalam inkarnasi-Nya sebagai kura-kura. Dia mengangkat planet bumi ini dari air dalam inkarnasi-Nya sebagai babi hutan. Dia membunuh Hiraṇyakaipu dalam inkarnasi-Nya sebagai Nṛsiḿha. Dia menipu Mahārāja Bali dalam inkarnasi-Nya sebagai Vāmana. Dia menghancurkan semua dinasti kaum kṣatriya dalam inkarnasi-Nya sebagai Paraurāma. Dia membunuh semua rākṣasa dalam inkarnasi-Nya sebagai Śrī Rāma. Dia menerima alat bajak yang besar dalam inkarnasi-Nya sebagai Balarāma. Dia membinasakan kaum ateis dalam inkarnasi-Nya sebagai Kalki. Dan Dia menyelamatkan semua hewan yang tidak bersalah dalam inkarnasi-Nya sebagai Sang Buddha.”* Sloka tersebut di atas merupakan beberapa di antara uraian-uraian inkarnasi-inkarnasi yang terwujud dari Kṛṣṇa. Dari Śrīmad-Bhāgavatam, dimengerti bahwa inkarnasi-inkarnasi yang jumlahnya tidak terhingga selalu keluar dari badan Kṛṣṇa, bagaikan ombak dalam lautan. Tidak ada orang yang mampu mengerti berapa jumlah ombak di lautan. Begitu pula, tidak ada orang yang mampu menghitung berapa jumlah inkarnasi yang keluar dari badan Tuhan.

 

59. Kṛṣṇa Menganugerahkan Pembebasan kepada Musuh-musuh yang Dibunuh-Nya.

Kata apavarga adalah nama lain untuk pembebasan. Apavarga adalah lawan kata pavarga, atau berbagai keadaan sengsara kehidupan material. Kata pa-varga menunjukkan gabungan lima aksara Sanskerta, yakni: pa, pha, ba, bha dan ma. Lima aksara tersebut merupakan huruf pertama kata-kata untuk lima keadaan yang diuraikan sebagai berikut. Huruf pertama, pa, berasal dari kata parābhava, yang berarti “kekalahan”. Dalam perjuangan hidup ini, kita hanya menemui kekalahan belaka. Sebenarnya kita harus berjaya atas kelahiran, kematian, penyakit dan usia tua. Oleh karena tidak ada kemungkinan kita mengatasi segala keadaan sengsara tersebut, akibat khayalan māyā kita hanya mengalami parābhava atau kekalahan. Huruf berikutnya, pha, diambil dari kata phena. Phena adalah busa yang ditemukan pada mulut pada waktu seseorang letih sekali (seperti lazimnya dilihat pada mulut kuda). Huruf ba berasal dari kata bandha, yang berarti ikatan. Bha diambil dari kata bhīti, yang berarti keadaan penuh rasa takut. Ma diambil dari kata mṛti, yang berarti kematian. Jadi, kata pavarga menunjukkan perjuangan hidup kita yang mengakibatkan kita mengalami kekalahan, keadaan payah, ikatan, ketakutan dan akhirnya kematian. Apavarga berarti sesuatu yang dapat membatalkan segala keadaan material tersebut. Dikatakan bahwa Kṛṣṇa menganugerahkan apavarga, atau jalan pembebasan.

Pembebasan berarti manunggal ke dalam Yang Mahakuasa bagi orang yang tidak mengakui bentuk personal Kṛṣṇa dan musuh-musuh Kṛṣṇa. Rākṣasa-rākṣasa dan orang impersonalis tidak memedulikan Ksna, tetapi Kṛṣṇa begitu murah hati se-hingga Dia menganugerahkan pembebasan tersebut bahkan kepada musuh-musuh-Nya dan orang impersonalis sekalipun. Ada pernyataan berikut berhubungan dengan hal ini: “Wahai Murāri [Kṛṣṇa)! Betapa ajaibnya bahwa walaupun para rākṣasa, yang selalu iri kepada para dewa, gagal menembus susunan pasukan tentara-Mu, namun mereka sudah menembus wawasan mitra, yaitu bola matahari.” Kata mitra digunakan sebagai pe-rumpamaan. Mitra berarti ‘bola matahari”, dan mitra juga berarti “kawan”. Para rākṣasa yang melawan Kṛṣṇa sebagai musuh-musuh-Nya ingin menembus susunan pasukan tentara-Nya, tetapi mereka tidak berhasil; melainkan mereka gugur di medan perang. Sebagai hasilnya, mereka menembus planet Mitra, atau planet matahari. Dengan kata lain, mereka memasuki cahaya Brahman. Contoh planet matahari diberikan di sini karena matahari memberi penerangan selamanya, bagaikan angkasa spiritual, tempat planet-planet Vaikuṇṭha yang jumlahnya tidak terhingga. Musuh-musuh Kṛṣṇa terbunuh. Musuh-musuh Kṛṣṇa tidak menembus susunan pasukan tentara Kṛṣṇa, melainkan mereka memasuki alam ramah cahaya spiritual. Demikianlah karunia Kṛṣṇa, sehingga Kṛṣṇa dikenal sebagai yang menye-lamatkan musuhnya sekalipun.

 

60. Yang Menarik Hati Insan-insan yang Sudah Mencapai Pembebasan

Ada banyak contoh bagaimana Kṛṣṇa menarik hati insan-insan mulia yang sudah mencapai pembebasan sekalipun, misalnya Śukadeva Gosvāmī dan Kumāra bersaudara. Berhubungan de-ngan hal ini, Kumāra bersaudara memberi pernyataan sebagai berikut: “Betapa ajaibnya walaupun kami sudah mencapai pembebasan secara sempurna, sudah bebas dari keinginan dan mantap pada tahap paramahaḿsa, kami masih bercita-cita merasakan kegiatan Rādhā dan Kṛṣṇa.”

 

61. Pelaku Kegiatan Ajaib

Dalam Bṛhad-vāmana Purāṇa, Tuhan bersabda, “Walaupun Aku mempunyai banyak kegiatan yang memikat, namun apabila Aku memikirkan rāsa-līlā, yang Kulakukan bersama para gopī, Aku ingin mengadakannya sekali lagi.”

Seorang penyembah berkata, “Aku mengetahui tentang Nārāyaṇa, suami Dewi Fortuna. Aku juga mengetahui tentang banyak inkarnasi Tuhan lainnya. Tentunya segala kegiatan in-karnasi tersebut mengasyikkan bagi pikiranku, tetapi kegiatan rāsa-līlā yang dilakukan oleh Śrī Kṛṣṇa Sendiri menambahkan kebahagiaan transendentalku secara ajaib.”

 

62. Kṛṣṇa Diiringi oleh Penyembah-penyembah yang Penuh Rasa Cinta

Apabila kita membicarakan Kṛṣṇa, Kṛṣṇa bukan sendirian. “Kṛṣṇa berarti nama Kṛṣṇa, sifat-sifat-Nya, kemasyhuran-Nya, kawan-kawan-Nya, perlengkapan-Nya, rekan-rekan-Nya—ter-masuk segala unsur tersebut. Apabila kita membicarakan se-orang raja, maka dimengerti bahwa beliau diiringi oleh para menteri, sekretaris, panglima dan orang lain. Begitu pula, Kṛṣṇa bukan tanpa bentuk. Khususnya dalam līlā Vṛndāvana-Nya, Kṛṣṇa diiringi oleh para gopī, para gembala sapi, ayah-Nya, ibu-Nya dan semua penduduk Vṛndāvana.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tigapuluh Satu, sloka 15, para gopī meratap, “Śrī Kṛṣṇa tercinta, siang hari pada waktu Engkau keluar ke hutan Vṛndāvana bersama sapi-sapi-Mu, kami menganggap sesaat sama dengan duabelas tahun, dan sulit sekali kami mengisi waktu kami. Sekali lagi saat Engkau pulang sore hari, dengan melihat wajah-Mu yang tampan, kami begitu tertarik sehingga tidak sanggup berhenti memandang-Mu terus-menerus. Pada saat-saat itu, apabila kelopak mata kami sewaktu-waktu berkedip, kami mengutuk pencipta, Dewa Brahma, sebagai orang bodoh, sebab beliau tidak tahu cara membuat mata yang sempurna!” Dengan kata lain, para gopī terganggu oleh matanya yang berkedip, sebab selama saat mata mereka terpejam mereka tidak dapat melihat Kṛṣṇa. Ini berarti cinta kasih rohani para gopī untuk Kṛṣṇa begitu besar dan penuh kebahagiaan transendental sehingga mereka merasa terganggu kalau Dia tidak ada bahkan selama sesaat pun. Ketika mereka melihat Kṛṣṇa, mereka juga merasa goyah. Ini sebuah teka-teki.

Seorang gopī mengutarakan isi hatinya kepada Kṛṣṇa dan berkata, “Apabila kami menjumpai-Mu malam hari, kami me-rasakan malam hari berlalu dengan cepat sekali. Jangankan semalam ini saja, kalau kami mempunyai waktu sepanjang semalam bagi Brahmā* pun kami akan menganggapnya waktu yang singkat sekali!” Kita mendapat pengertian tentang satu hari bagi Brahmā dari pernyataan berikut dari Bhagavad-gītā (8.17): “Menurut perhitungan manusia, seribu putaran empat yuga sama dengan satu hari bagi Brahma. Satu malam bagi Brahmā adalah sepanjang itu pula.” Para gopī mengatakan bahwa kalau mereka mempunyai waktu sepanjang satu malam bagi Brahmā pun, masih tidak cukup untuk pertemuan mereka dengan Kṛṣṇa.

 

63. Permainan Seruling Kṛṣṇa yang Menarik

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tiga Puluh Lima, sloka 15, para gopī memberitahu Ibu Yaodā, “Apabila putra-Mu memainkan seruling-Nya, Dewa Śiva, Dewa Brahmā dan Indra—walaupun mereka dianggap sarjana-sarjana dan tokoh-tokoh yang paling terpelajar—semua mengalami kebi-ngungan. Walaupun mereka semua kepribadian-kepribadian yang mulia sekali, dengan mendengar suara seruling Kṛṣṇa me-reka bersujud dengan rendah hati dan menjadi tenang dan serius dari memelajari getaran suara yang berkumandang tersebut.”

Dalam bukunya yang berjudul Vidagdha-mādhava, Śrī Rūpa Gosvāmī menguraikan tentang getaran suara seruling Kṛṣṇa sebagai berikut: “Getaran suara yang diciptakan oleh seruling Kṛṣṇa secara ajaib menyebabkan Dewa Śiva berhenti memain-kan gendang iṇima-nya. Seruling yang sama menyebabkan resi-resi agung seperti Empat Kumāra bersaudara goyah dalam meditasinya. Getaran suara itu menyebabkan Brahma, yang se-dang duduk di atas bunga padma untuk pelaksanaan ciptaan, menjadi heran. Anantadeva, yang sedang menyangga semua planet di atas kepalanya dengan tenang, bergoyang ke sana ke mari akibat getaran suara dari seruling Kṛṣṇa, yang telah me-nembus tutup alam semesta ini dan mencapai angkasa spiritual.”

 

64. Ketampanan Kṛṣṇa yang Mulia Luar Biasa

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Dua, sloka 12, Uddhava memberitahu Vidura, “Tuan yang saya hormati, bentuk Kṛṣṇa paling ajaib pada waktu Dia muncul di planet ini dan memperlihatkan kekuatan energi internal-Nya. Bentuk Kṛṣṇa yang menarik secara ajaib eksis selama kegiatan-Nya di planet ini. Kṛṣṇa memperlihatkan kehebatan-Nya, yang mengesankan bagi semua orang, melalui energi internal-Nya. Kṛṣṇa begitu tampan luar biasa sehingga Dia tidak perlu memakai perhiasan pada badan-Nya. Memang, bukan perhiasan yang membuat Kṛṣṇa lebih tampan, melainkan ketampanan Kṛṣṇa yang mem-buat perhiasan itu nampak lebih indah.”

Mengenai daya tarik ketampanan badan Kṛṣṇa serta getaran suara seruling-Nya, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Sembilan, sloka 40, para gopī menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Walaupun sikap kami terhadap Engkau menyerupai kegiatan cinta kasih dengan seorang pacar, namun kami hanya bisa heran saja memikirkan bagaimana mungkin seorang wanita mampu memelihara kesetiaannya ketika ia mendengar getaran suara seruling-Mu. Bukan hanya kaum wa-nita saja, tetapi pria yang hatinya kuat sekalipun bisa jatuh dari kedudukannya ketika mendengar suara seruling-Mu. Nyatanya kami sudah melihat di Vṛndāvana bahkan sapi, rusa, burung, pohon—semua insan—terpesona oleh getaran manis suara seruling-Mu serta ketampanan pribadimu yang memikat.”

Dalam karya Rūpa Gosvāmī berjudul Lalita-mādhava, dinya-takan, “Pada suatu hari, Kṛṣṇa kebetulan melihat bayangan bentuk badan-Nya yang tampan dicerminkan pada lataran yang terhias dengan permata. Ketika Kṛṣṇa melihat bayangan badan-Nya tersebut, Dia mengungkapkan perasaan-Nya sebagai be-rikut: ‘Betapa ajaibnya Aku belum pernah melihat bentuk yang setampan itu! Walaupun itu bentuk-Ku Sendiri, namun seperti Rādhārāṇī, Aku pun mencoba memeluk bentuk ini dan menikmati kebahagiaan transendental.’” Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana Kṛṣṇa dan bayangan Kṛṣṇa adalah satu dan sama saja. Tidak ada perbedaaa antara Kṛṣṇa dan baya-ngan Kṛṣṇa yang dicerminkan, maupun antara Kṛṣṇa dan gambar Kṛṣṇa. Itulah kedudukan transendental Kṛṣṇa.

Pernyataan-pernyataan tersebut di atas menguraikan beberapa sumber kebahagiaan ajaib yang ada pada Diri Kṛṣṇa, serta sifat-sifat transendental kepribadian Kṛṣṇa. Sifat-sifat transendental Kṛṣṇa diumpamakan sebagai lautan: tiada seorang pun yang mampu memperkirakan panjang lebarnya lautan. Tetapi seperti halnya seseorang dapat mengerti isi lautan dengan cara menguji setetes air laut, begitu pula pernyataan-pernyataan tersebut di atas akan memberi pengertian kepada kita mengenai kedudukan dan sifat-sifat transendental Kṛṣṇa.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Empatbelas, sloka 7, Dewa Brahmā berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, sifat-sifat, ketampanan serta kegiatan yang tidak dapat dipahami yang sudah Engkau ungkapkan melalui kehadiran-Mu di planet ini tidak dapat diperkirakan oleh ukuran material mana pun. Kalaupun seseorang mencoba membayangkan, ‘Barangkali Kṛṣṇa seperti ini,’ maka itupun mustahil. Mungkin pada suatu hari sesudah bertahun-tahun atau sesudah dilahirkan berulang kali, akan tiba saatnya seorang ilmuwan material mampu mem-perkirakan susunan atom-atom seluruh dunia, menghitung butir-butir atom yang ada di seluruh angkasa, atau bahkan memper-kirakan jumlah semua atom yang ada di alam semesta, namun dia tidak akan pernah mampu menghitung sifat-sifat transen-dental dalam sumber kebahagiaan transendental-Mu.”