Orang yang bersemangat sekali dalam kegiatan militer dan ahli dalam melepaskan berbagai jenis senjata disebut heroik. Mengenai sifat heroik Kṛṣṇa dalam pertempuran, ada per-nyataan sebagai berikut: “Wahai pembunuh musuh yang hamba hormati, seperti gajah yang menghancurkan semua tangkai bunga padma di air dengan mengayunkan belalainya sambil mandi di danau, begitu pula hanya dengan menggerakkan lengan-lengan-Mu yang bagaikan belalai gajah Engkau sudah membunuh begitu banyak musuh yang ibarat bunga-bunga padma.”
Mengenai keahlian Kṛṣṇa dalam melepaskan senjata, pada waktu Jarāsandha bersama tiga belas divisi pasukan menyerang tentara Kṛṣṇa, mereka tidak sanggup melukai seorang prajurit pun di pihak Kṛṣṇa. Ini karena latihan militer yang ahli yang diberikan oleh Kṛṣṇa. Ini memang hanya sekali terjadi dalam sejarah ilmu militer.
Śrīla Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa walaupun Śrī Kṛṣṇa adalah sumber kebahagiaan yang tidak terhingga dan pemimpin terbesar dari semuanya, Dia masih tergantung pada penyembah-Nya dengan tiga cara. Menurut status perasaan penyembah yang bersangkutan, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dihargai dengan tiga cara: sebagai Yang paling sempurna, seba-gai sangat sempurna dan sebagai sempurna. Apabila Kṛṣṇa memperlihatkan Diri secara lengkap, maka Dia dihargai oleh sarjana-sarjana mulia yang terpelajar sebagai Yang paling sempurna. Apabila Kṛṣṇa memperlihatkan Diri pada derajat-derajat yang kurang dari itu, maka Dia disebut sangat sempurna. Apabila Dia memperlihatkan Diri pada derajat yang kurang lagi, maka Dia disebut sempurna. Ini berarti Kṛṣṇa dihargai untuk tiga derajat kesempurnaan. Tiga derajat kesempurnaan diper-lihatkan sebagai berikut: apabila Kṛṣṇa berada di Goloka Vṛndāvana, sifat-sifat spiritual-Nya diperlihatkan sebagai paling sempurna; apabila Dia berada di Dvārakā, Dia memperlihatkan sifat-sifat-Nya sebagai sangat sempurna; dan apabila Dia berada di Mathurā, Dia memperlihatkan sifat-sifat-Nya sebagai sem-purna.
Kepribadian Kṛṣṇa dianalisis sebagai dhīrodātta, dhīra-lalita, dhīra-praānta dan dhīrodatta. Kalau ditanyakan bagaimana mungkin satu kepribadian dapat diamati dengan empat cara yang memang saling bertolak belakang, maka jawabannya ialah bahwa Tuhan adalah sumber segala sifat dan kegiatan spiritual. Karena itu, berbagai aspek Tuhan dapat dianalisis menurut per-tunjukan berbagai kegiatan-Nya yang keanekawarnaannya tidak terhingga, sehingga tidak terjadi kontradiksi.
Dhīrodātta
Seorang dhīrodātta adalah orang yang sewajarnya sangat tenang dan serius, lembut, mudah mengampuni, penuh karunia, tabah hati, rendah hati, memiliki kualifikasi tinggi, memiliki sifat ke-kesatriaan dan menarik secara fisik.
Berhubungan dengan hal ini, pernyataan berikut dari Indra, Raja Surga, bermakna sekali: “Tuhan yang hamba muliakan, ham-ba mengaku hamba sudah berbuat kesalahan besar kepada-Mu, namun hamba tidak dapat mengungkapkan rasa menyesal yang ada dalam hati hamba, sebab hamba kebingungan dengan meli-hat semangat kekesatriaan-Mu yang luar biasa, usaha-Mu untuk melindungi para penyembah-Mu, ketabahan hati-Mu, sifat mantap-Mu dalam mengangkat bukit Govardhana yang besar, ciri-ciri badan-Mu yang tampan, serta ciri-Mu yang luar biasa, yaitu Engkau bersenang hati hanya dengan menerima doa-doa dari penyembah-penyembah-Mu dan orang yang telah berbuat kesalahan.”
Pernyataan tersebut di atas dari Raja Surga secara tepat mem-benarkan bahwa Kṛṣṇa adalah seorang dhīrodātta. Banyak sarjana yang terpelajar juga sepakat mengakui Śrī Rāmacandra sebagai seorang dhīrodātta, tetapi semua sifat Śrī Rāmacandra juga termasuk di dalam watak Śrī Kṛṣṇa.
Dhīra-lalita
Seseorang dijuluki dhīra-lalita kalau sewajarnya dia selalu sangat lucu, selalu bersifat remaja sepenuhnya, ahli bercanda dan bebas dari segala rasa cemas. Kepribadian dhīra-lalita seperti yang tersebut pada umumnya berumah tangga dan sangat tunduk hati kepada kekasihnya. Ciri dhīra-lalita tersebut pada kepribadian Kṛṣṇa diuraikan oleh Yajña-patnī, istri salah seorang brāhmaṇa yang sedang mempersembahkan kurban suci di Vṛndāvana. Yajña-patnī memberitahu kawan-kawannya, “Pada suatu hari, Śrīmatī Rādhārāṇī, yang ditemani rekan-rekan-Nya, sedang beristirahat di taman-Nya. Pada saat itu, Tuhan Śrī Kṛṣṇa tiba di tengah-tengah kawan-kawan yang sedang berkumpul itu. Sesu-dah duduk, Kṛṣṇa secara sangat kurang sopan mulai mence-ritakan kegiatan-Nya semalam bersama Rādhārāṇī. Sambil Kṛṣṇa sedang bicara seperti itu, Rādhārāṇī menjadi malu sekali. Rādhārāṇī sedang merasa malu dan khusuk berpikir, lalu Kṛṣṇa mengambil kesempatan menandai payudara Rādhārāṇī dengan berbagai jenis tilaka. Kṛṣṇa membuktikan Diri-Nya sangat ahli dalam seni tersebut.” Dengan cara demikian, Kṛṣṇa sebagai dhīra-lalita sedang menikmati bakat-bakat remaja-Nya dalam pergaulan dengan para gopī.
Pada umumnya, orang yang ahli menulis sandiwara menjuluki Dewa Asmara sebagai dhīra-lalita yang ideal, tetapi kita dapat menemukan segala ciri dhīra-lalita secara lebih sempurna pada kepribadian Kṛṣṇa.
Dhīra-praānta
Orang yang sangat damai, toleransi, memikirkan perasaan orang lain disebut dhīra-praānta. Ciri dhīra-praānta Kṛṣṇa tersebut diperlihatkan dalam tingkah laku Kṛṣṇa bersama Pāṇava bersaudara. Oleh karena bhakti Pāṇava bersaudara yang setia pada Kṛṣṇa, Kṛṣṇa berkenan menjadi kusir, penasihat, kawan, duta dan bahkan kadang-kadang pengawal mereka. Demikianlah salah satu contoh hasil pelayanan bhakti kepada Viṣṇu. Pada waktu Kṛṣṇa sedang berbicara kepada Mahārāja Yudhiṣṭhira mengenai prinsip-prinsip keagamaan, Dia memperlihatkan Diri sebagai sarjana besar yang sangat terpelajar, tetapi oleh karena Dia menerima peran sebagai saudara sepupu yang lebih muda daripada Mahārāja Yudhiṣṭhira, Dia berbicara dengan nada lembut sekali. Ini membuat ciri-ciri badan-Nya kelihatan semakin tampan. Gerak mata serta sifat bahasa Kṛṣṇa membuktikan Dia sangat ahli dalam memberi pelajaran moral. Kadang-kadang para sarjana yang terpelajar juga mengakui Mahārāja Yudhiṣṭhira sebagai seorang dhīra-praānta.
Dhīroddhata
Orang yang sangat iri, bangga, cepat marah, gelisah dan tidak suka berubah dari keadaan yang ada disebut sebagai seorang dhīroddhata oleh sarjana-sarjana yang terpelajar. Sifat-sifat seperti itu kelihatan pada watak Śrī Kṛṣṇa, sebab pada waktu Dia sedang menulis surat kepada Kālayavana, Kṛṣṇa menyapa kepadanya dengan menjulukinya kodok yang penuh dosa. Dalam surat-Nya, Kṛṣṇa menasihati Kālayavana supaya dia segera pergi dan mencari sumur gelap untuk tempat tinggalnya, sebab ada seekor ular hitam bernama Kṛṣṇa yang ingin sekali menelan semua kodok yang penuh dosa seperti dia. Kṛṣṇa mengingatkan Kālayavana bahwa Dia mampu mengubah semua alam semesta menjadi abu hanya dengan memandangnya saja.
Pernyataan Kṛṣṇa tersebut di atas kelihatannya bersifat iri, tetapi menurut berbagai permainan, tempat dan waktu, sifat itu diakui sebagai sifat yang mulia. Sifat-sifat dhīroddhata yang dimiliki oleh Kṛṣṇa diakui sebagai sifat-sifat mulia, sebab Kṛṣṇa menggunakannya hanya untuk melindungi penyembah-pe-nyembah-Nya. Dengan kata lain, sifat-sifat yang tidak diinginkan sekalipun juga dapat digunakan dalam pelaksanaan pelayanan bhakti yang bertimbal balik.
Kadang-kadang Bhīma, saudara kedua dari Pāṇava Lima, juga diuraikan sebagai seorang dhīroddhata.
Ada pernyataan yang baik dalam Kūrma Purāṇa mengenai ciri Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa yang saling bertolak belakang tersebut. Dalam sastra tersebut dinyatakan bahwa Personalitas Yang Paling Utama tidak gemuk sekali maupun kurus sekali; Dia selalu melampaui sifat-sifat material, namun cahaya badan-Nya selalu berwarna kehitam-hitaman. Mata Kṛṣṇa kemerah-merahan. Kṛṣṇa Mahaperkasa, dilengkapi dengan segala jenis kehebatan. Ciri-ciri yang saling bertolak belakang pada kepribadian Kṛṣṇa tidak mengherankan; hen-daknya orang jangan menganggap ciri-ciri Kṛṣṇa, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, benar-benar kontradiktif. Orang sebaiknya berusaha memahami ciri-ciri Kṛṣṇa dari sumber-sumber otoritatif dan berusaha mengerti bagaimana ciri-ciri tersebut digunakan oleh kehendak Yang Mahakuasa.
Dalam Mahā-varāha Purāṇa, dibenarkan bahwa badan-badan transendental Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa serta ekspansi-ekspansi-Nya semua ada selamanya. Badan-badan tersebut tidak pernah bersifat material; badan-badan itu bersifat spiritual sepenuhnya dan penuh pengetahuan. Badan-badan tersebut adalah sumber-sumber segala sifat transendental. Dalam Viṣṇu-yāmala-tantra ada pernyataan bahwa oleh karena Per-sonalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa serta badan-badan yang berekspansi dari Diri-Nya selalu sempurna dalam pengetahuan, kebahagiaan transendental dan kekekalan, badan-badan ter-sebut selalu bebas dari kedelapanbelas jenis pencemaran ma-terial—yaitu, khayalan, rasa letih, kesalahan, sifat kasar, nafsu material, sifat gelisah, rasa bangga, rasa iri, kekerasan, peng-hinaan, rasa payah, sifat tidak jujur, amarah, loba, ketergan-tungan, keinginan untuk berkuasa atas jagat, melihat dualitas dan penipuan.
Mengenai segala pernyataan tersebut di atas, dimengerti bahwa Mahā-Viṣṇu adalah sumber segala inkarnasi di dunia material. Tetapi oleh karena kehebatan Kṛṣṇa lebih besar dan luar biasa, kita dapat mengerti bahwa putra Nanda Mahārāja adalah asal mula Mahā-Viṣṇu juga. Ini dibenarkan dalam Brahma-saḿhitā, dalam sloka yang menyatakan, “Perkenankanlah hamba bersujud kepada Govinda. Mahā-Viṣṇu adalah perwujudan sebagian dari Dia.” Bentuk Mahā-Viṣṇu yang sangat besar adalah sumber penjelmaan untuk alam semesta-alam semesta yang jumlahnya tidak terhingga. Banyak alam semesta yang tidak terhingga keluar dari nafas yang dihembuskan oleh Mahā-Viṣṇu dan alam semesta-alam semesta itu pula kembali masuk apabila Mahā-Viṣṇu tarik nafas. Mahā-Viṣṇu tersebut juga bagian paripurna dari ekspansi Kṛṣṇa.