Sloka

Bab 21. Sifat-Sifat Sri Krsna

Penjelasan

Ciri-ciri pribadi dapat dibagi dua: ciri yang satu tertutup, se-dangkan ciri yang lain terwujud. Apabila Kṛṣṇa tertutup oleh berbagai jenis busana, maka ciri pribadi-Nya tertutup. Ada contoh dalam Śrīmad-Bhāgavatam tentang ciri pribadi Kṛṣṇa yang tertutup berhubungan dengan Dvārakā-līlā-Nya (Śrī Kṛṣṇa tinggal di Dvārakā sebagai raja Dvārakā). Kadang-kadang Śrī Kṛṣṇa mulai bermain dengan mengenakan busana seperti wanita. Ketika Uddhava melihat bentuk tersebut, dia berkata, “Betapa ajaibnya wanita ini dimana ia memikat cinta kasih rohani kebahagiaan transendentalku persis seperti yang dilakukan oleh Śrī Kṛṣṇa! Saya kira wanita ini pasti Kṛṣṇa yang tertutup oleh busana wanita!”

Seorang penyembah memuji roman badan Kṛṣṇa ketika ia melihat Kṛṣṇa dalam ciri pribadi-Nya yang terwujud. Penyembah itu berseru, “Alangkah ajaibnya ciri pribadi Śrī Kṛṣṇa! Betapa miripnya leher Kṛṣṇa dengan sebuah kerang putih! Mata-Nya begitu tampan, seakan mata itu sendiri sedang menemui kein-dahan setangkai bunga padma. Badan-Nya berwarna kehitam-hitaman, persis seperti pohon tamāla. Kepala-Nya diayomi oleh rambut. Tanda-tanda Śrīvatsa terdapat pada dada-Nya, dan Dia memegang kerang-Nya. Dengan ciri-ciri badan yang tampan seperti itu, musuh Rākṣasa Madhu tampil begitu menyenangkan hati sehingga Dia dapat menganugerahkan kebahagiaan tran-sendental kepada saya hanya dengan saya melihat sifat-sifat spiritual-Nya.”

Śrīla Rūpa Gosvāmī, sesudah meneliti berbagai Kitab Suci, memberi daftar sifat-sifat transendental Tuhan Śrī Kṛṣṇa sebagai berikut: (1) ciri-ciri yang tampan pada seluruh badan; (2) ditandai dengan segala ciri yang menyejahterakan; (3) sangat menyenangkan; (4) cemerlang; (5) kuat; (6) remaja selamanya; (7) ahli bahasa yang ajaib; (8) jujur; (9) berbicara dengan cara yang menyenangkan; (10) lancar berbahasa; (11) sangat ter-pelajar; (12) memiliki kecerdasan tinggi; (13) jenius; (14) ahli seni; (15) sangat pandai; (16) ahli; (17) berterima kasih; (18) bertabah hati mantap; (19) ahli mempertimbangkan waktu dan keadaan; (20) melihat dan berbicara berdasarkan kekuasaan Veda, atau Kitab Suci; (21) suci; (22) mengendalikan diri; (23) mantap dan tidak goyah; (24) sabar; (25) mudah mengampuni; (26) bersikap tenang dan serius; (27) berpuas hati dalam diri sendiri; (28) memiliki sikap seimbang; (29) dermawan; (30) taat pada prinsip keagamaan; (31) pahlawan; (32) murah hati; (33) penuh rasa hormat; (34) lembut; (35) liberal; (36) pemalu; (37) pelindung roh-roh yang berserah-diri; (38) berbahagia; (39) mengharapkan kesejahteraan para penyembah; (40) diken-dalikan oleh cinta kasih rohani; (41) serba menyejahterakan; (42) paling perkasa; (43) serba termasyhur; (44) populer; (45) menyayangi para penyembah; (46) sangat menarik bagi semua wanita; (47) patut dipuja oleh semua insan; (48) Mahakaya; (49) Mahaterhormat; (50) Mahakuasa. Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa memiliki kelimapuluh sifat spiritual tersebut dengan kesempurnaan sedalam lautan. Dengan kata lain, batas sifat-sifat Tuhan tidak berhingga. Para makhluk hidup sebagai bagian-bagian Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai sifat sama seperti Tuhan, juga dapat memiliki segala sifat tersebut dalam jumlah kecil sekali, asalkan mereka menjadi penyembah Tuhan yang murni. Dengan kata lain, segala sifat spiritual tersebut di atas bisa berada pada para penyembah dalam jumlah kecil se-kali, sedangkan sifat-sifat tersebut dalam kesempurnaan selalu ada pada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Selain sifat-sifat tersebut di atas, ada sifat-sifat spiritual lain lagi yang diuraikan oleh Dewa Śiva kepada Pārvatī dalam Kitab Padma Purāṇa, dan juga dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, berhubungan dengan percakapan antara Dewi Pertiwi dan Raja Dharma yang bernama Yamarāja. Dalam sloka-sloka tersebut, disebutkan, “orang yang bercita-cita menjadi kepribadian-kepri-badian besar harus terhias dengan sifat-sifat berikut: kejujuran, kebersihan, berkarunia, tekun, pelepasan ikatan, kedamaian, kesederhanaan, mengendalikan indera, pikiran seimbang, per-tapaan, sikap merata, mudah mengampuni, tenang, terpelajar, memiliki pengetahuan, ketidakterikatan, kehebatan, keke-satriaan, berpengaruh, kekuatan, ingatan kuat, kemerdekaan, pandai tidak menyinggung perasaan orang lain, berseri, ke-sabaran, murah hati, pandai mengakali sesuatu, susila, sopan santun, tabah hati, sempurna dalam segala pengetahuan, pelaksanaan yang pantas, memiliki segala obyek kenikmatan, bersikap serius, mantap, setia, termasyhur, bersikap hormat dan bebas dari keakuan palsu.” Orang yang bercita-cita menjadi insan yang mulia tidak bisa kekurangan satu pun di antara sifat-sifat tersebut di atas, jadi kita dapat mengetahui secara pasti bahwa sifat-sifat tersebut ada pada Śrī Kṛṣṇa.

Di samping kelimapuluh sifat tersebut di atas, Śrī Kṛṣṇa memiliki lima sifat tambahan, yang kadangkala terwujud secara sebagian pada kepribadian Dewa Brahmā atau Dewa Śiva. Sifat-sifat transendental itu adalah sebagai berikut: (51) tidak pernah berubah; (52) Mahatahu; (53) segar selamanya; (54) sac-cid-ānanda (memiliki badan kekal yang penuh kebahagiaan); (55) memiliki segala kekuatan mistik.

Kṛṣṇa juga memiliki lima sifat lain lagi, yang terwujud pada badan Nārāyaṇa. Daftar lima sifat tersebut sebagai berikut. (56) Dia memiliki kekuatan yang tidak dapat dipahami. (57) Banyak alam semesta yang jumlahnya tidak terhingga diciptakan dari badan-Nya. (58) Dia sumber asli segala inkarnasi. (59) Dia me-nganugerahkan pembebasan kepada musuh-musuh yang dibu-nuh oelh Dia. (60) Dia menarik hati insan-insan yang sudah mencapai pembebasan. Segala sifat spiritual tersebut terwujud secara ajaib pada ciri pribadi Śrī Kṛṣṇa.

Selain enampuluh sifat transendental tersebut di atas, Kṛṣṇa memiliki empat sifat tambahan, yang tidak terwujud bahkan pada bentuk Yang Mahakuasa sebagai Nārāyaṇa sekalipun, apalagi pada para dewa atau makhluk hidup. Sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut. (61) Dia pelaku keanekawarnaan ke-giatan ajaib (khususnya kegiatannya sebagai anak-anak). (62) Dia diiringi oleh penyembah yang dikaruniai cinta kasih rohani yang mulia kepada Tuhan Yang Maha Esa. (63) Dia dapat menarik hati semua makhluk di mana-mana di seluruh alam semesta-alam semesta dengan memainkan seruling-Nya. (64) Ketam-panan Kṛṣṇa mulia secara ajaib dan tiada taranya di mana pun di seluruh ciptaan.

Setelah ditambah empat sifat Kṛṣṇa yang luar biasa tersebut, dapat dimengerti bahwa jumlah sifat Kṛṣṇa adalah sebanyak enampuluh empat sifat. Śrīla Rūpa Gosvāmī berusaha menge-mukakan bukti dari berbagai Kitab Suci tentang keenampuluh empat sifat yang ada pada Tuhan Yang Maha Esa.

 

1. Ciri-ciri Indah pada Badan

Perumpamaan apa pun antara berbagai anggota badan Kṛṣṇa dengan berbagai benda material tidak mungkin menjadi per-bandingan yang sempurna. Orang biasa, yang tidak dapat mengerti betapa mulianya ciri-ciri yang ada pada badan Tuhan hanya sekedar diberi peluang untuk memahaminya melalui perumpamaan material. Dikatakan bahwa wajah Kṛṣṇa seindah bulan, paha-Nya seperkasa belalai gajah, lengan-Nya bagaikan dua buah pilar, telapak tangan-Nya lebar bagaikan bunga padma mekar, dada-Nya bagaikan ambang pintu, pinggul-Nya bagaikan ruangan yang luas, dan bagian tengah badan-Nya seperti sebuah teras.

 

2. Ciri-ciri yang Menyejahterakan

Ada ciri-ciri tertentu pada berbagai anggota badan yang diang-gap bersifat sangat menyejahterakan dan ada secara sempurna pada badan Tuhan. Berhubungan dengan hal ini, seorang kawan Nanda Mahārāja, yang sedang berbicara tentang ciri-ciri yang menyejahterakan pada badan Kṛṣṇa, berkata, “Baginda Raja pe-mimpin para gembala sapi yang saya hormati, saya dapat menemukan tigapuluh dua ciri yang menyejahterakan pada badan putramu! Saya sedang berpikir bagaimana anak ini bisa dilahirkan dalam keluarga pengembala sapi.” Pada umumnya, apabila Śrī Kṛṣṇa berinkarnasi, Dia muncul dalam keluarga kṣatriya (kaum raja), seperti Śrī Rāmacandra, dan kadang-kadang dalam keluarga brāhmaṇa. Tetapi Śrī Kṛṣṇa menerima peran sebagai putra bagi Mahārāja Nanda, meskipun kenyataannya Nanda adalah anggota masyarakat vaiya. Usaha masyarakat vaiya adalah berdagang dan melindungi sapi. Karena itu, kawan Nanda, yang barangkali dilahirkan dalam keluarga brāhmaṇa, mengutarakan rasa kagum bagaimana anak yang semulia itu dapat dilahirkan dalam keluarga vaiya. Bagaimanapun, ia menunjukkan tanda-tanda yang menyejahterakan yang ada pada badan Kṛṣṇa kepada ayah angkat Kṛṣṇa.

Selanjutnya, kawan Nanda Mahārāja berkata, “Anak ini ada warna kemerah-merahan yang mengkilap pada tujuh bagian badan-Nya—mataNya, ujung tangan-Nya, ujung kaki-Nya, langit-langit mulut-Nya, bibir-Nya, lidah-Nya dan kuku-Nya. Warna kemerah-merahan yang mengkilap pada ketujuh bagian badan tersebut dianggap mujur. Tiga bagian badan Kṛṣṇa lebar sekali: pinggang-Nya, dahi-Nya dan dada-Nya. Tiga bagian badan Kṛṣṇa pendek: leher-Nya, paha-Nya dan kemaluan-Nya. Tiga bagian badan Kṛṣṇa dalam sekali: suara-Nya, kecerdasan-Nya dan pusar-Nya. Sifat tinggi terdapat pada lima bagian badan Kṛṣṇa—hidung, lengan, telinga, dahi dan paha-Nya. Sifat halus terdapat pada lima bagian badan Kṛṣṇa: kulit-Nya, bulu rambut kepala-Nya dan bulu pada bagian-bagian lain badan-Nya, gigi-Nya dan ujung jari-Nya. Seluruh ciri badan tersebut hanya terdapat pada badan kepribadian-kepribadian yang mulia.”

Garis-garis nasib pada telapak tangan juga dianggap tanda-tanda yang mujur pada badan. Berhubungan dengan hal ini, seorang gopī yang sudah tua memberitahu Mahārāja Nanda, “Putra Mahārāja memiliki berbagai garis nasib yang ajaib pada telapak tangan-Nya. Terdapat tanda-tanda bunga padma dan cakra pada telapak tangan-Nya, sedangkan pada telapak kaki-Nya terdapat tanda-tanda bendera, halilintar, ikan, tongkat untuk mengendalikan gajah, dan bunga padma. Perhatikanlah betapa mujurnya tanpa-tanda ini!”

 

3.Menyenangkan

Ciri-ciri yang indah pada badan yang dengan sendirinya menarik perhatian mata disebut rucira (menyenangkan). Kṛṣṇa memiliki ciri rucira yang menarik tersebut pada ciri-ciri pribadi-Nya. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Dua, sloka 13, terdapat pernyataan tentang hal ini. “Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, dengan pakaian-Nya yang menyenang-kan hati, tampil di tempat mempersembahkan kurban suci pada waktu Mahārāja Yudhiṣṭhira sedang melaksanakan kurban suci Rājasūya. Semua tokoh penting dari segala penjuru alam semesta telah diundang ke tempat kurban suci, dan semuanya, ketika mengamati Kṛṣṇa di sana, berpikir bahwa Sang Pencipta sudah mencapai puncak ketrampilan-Nya dalam menciptakan badan Kṛṣṇa yang istimewa ini.”

Dikatakan bahwa delapan bagian badan spiritual Kṛṣṇa me-nyerupai bunga padma—yakni wajah-Nya, kedua mata-Nya, kedua belah tangan-Nya, pusar-Nya dan kedua belah kaki-Nya. Para gopī dan penduduk Vṛndāvana biasa melihat banyak bunga padma yang mengkilap di mana-mana, sehingga mereka hampir tidak dapat mengalihkan matanya dari memandang peman-dangan ajaib itu.

 

4. Cemerlang

Cahaya cemerlang yang meluas ke seluruh alam semesta dianggap sebagai cahaya dari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Tempat tinggal tertinggi Kṛṣṇa senantiasa me-mancarkan cahaya cemerlang yang dikenal sebagai brahmajyoti, dan cahaya cemerlang itu memancar dari badan Kṛṣṇa.

Kecemerlangan kumpulan permata yang ada di dada Tuhan Śrī Kṛṣṇa bahkan dapat mengalahkan kecemerlangan matahari, dan tetap saja, apabila dibandingkan dengan cahaya badan Kṛṣṇa, permata terbaik itu nampak hanya secemerlang bintang-bintang di angkasa. Karena itu pengaruh rohani Kṛṣṇa demikian agung-nya hingga mampu mengalahkan siapa pun. Ketika Kṛṣṇa hadir di arena kurban suci musuh-Nya, yaitu Raja Kaḿsa, para pegulat yang hadir, walau menghargai kelembutan badan Śrī Kṛṣṇa, merasa takut dan cemas apabila mereka memikirkan bahwa mereka akan bertarung melawan Dia.

 

5. Kuat

Orang yang memiliki kekuatan fisik luar biasa disebut balīyān. Pada waktu Kṛṣṇa membunuh Ariṣṭāsura, beberapa gopī berkata, “Kawan-kawan yang baik hati, lihatlah bagaimana Kṛṣṇa membunuh Ariṣṭāsura! Walaupun Ariṣṭāsura lebih kuat daripada gunung, Kṛṣṇa mengangkatnya persis seperti kapas dan membantingnya tanpa kesulitan sama sekali!” Ada sloka lain yang berbunyi, “Wahai penyembah-penyembah Kṛṣṇa yang baik hati, semoga tangan kiri Śrī Kṛṣṇa, yang telah mengangkat Bukit Govardhana bagaikan mengangkat sebuah bola, menye-lamatkan Anda semua dari segala bahaya.”

 

6. Remaja Selamanya

Kṛṣṇa tampan pada berbagai usianya—yakni masa balita-Nya, masa anak-anak-Nya, serta masa remaja-Nya. Di antara tiga masa tersebut, masa remaja Kṛṣṇa adalah sumber segala ke-bahagian dan merupakan masa keanekaragaman bhakti paling banyak dapat diterima. Pada usia tersebut, Kṛṣṇa penuh dengan segala sifat transendental, dan sibuk dalam kegiatan rohani-Nya. Karena itu, para penyembah mengakui awal masa remaja Kṛṣṇa sebagai ciri yang paling menarik dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental.

Śrī Kṛṣṇa diuraikan selama masa remaja-Nya sebagai berikut, “Daya masa remaja Kṛṣṇa digabungkan dengan senyum-Nya, yang mengalahkan keindahan bulan purnama sekalipun. Kṛṣṇa selalu berpakaian rapi, ketampanan-Nya mengalahkan Dewa Asmara sekalipun, dan Dia selalu menarik hati para gopī, yang selalu merasakan kebahagiaan dengan cara seperti itu.”

 

7. Ahli Bahasa yang Ajaib

Rūpa Gosvāmī mengatakan bahwa orang yang menguasai bahasa-bahasa berbagai negara, terutama bahasa Sanskerta, bahasa yang dipakai di kota-kota para dewa—serta banyak bahasa dunia lainnya, termasuk pula bahasa-bahasa kaum binatang—disebut ahli bahasa yang ajaib. Kelihatannya dari pernyataan ini bahwa Kṛṣṇa juga dapat berbicara dan mengerti bahasa-bahasa kaum binatang. Seorang wanita yang sudah lanjut usia di Vṛndāvana, yang hadir selama kegiatan Kṛṣṇa pernah berkata dalam keadaan kaget, “Betapa ajaibnya Kṛṣṇa, pemilik hati semua gadis muda Vrajabhūmi, dapat berbicara dengan baik dalam bahasa Vrajabhūmi dengan para gopī, sementara Dia berbicara dengan para dewa dalam bahasa Sanskerta, sedangkan Dia bahkan mampu berbicara dengan sapi dan kerbau sekalipun dengan memakai bahasa kaum binatang! Begitu pula, Kṛṣṇa begitu pandai mengungkapkan maksudnya dalam bahasa Provinsi Kashmir, dengan burung parkit dan burung-burung lainnya, serta dalam bahasa-bahasa yang paling umum seka-lipun, “Wanita tua tersebut bertanya kepada para gopī bagaimana Kṛṣṇa sampai menjadi ahli sekali berbicara dalam begitu banyak jenis bahasa.

 

8. Jujur

Orang yang tidak pernah mengingkari sumpah janjinya disebut jujur. Kṛṣṇa pernah berjanji kepada Kuntī, ibu Pāṇava Lima, bahwa Dia akan membawa kelima putra Kuntī pulang dari Medan Perang Kurukṣetra. Seusai perang tersebut, pada waktu Pāṇava Lima sudah pulang dalam keadaan selamat, Kuntī memuji Kṛṣṇa karena janji-Nya ditepati dengan begitu baik. Kuntī berkata, “Mungkin pada suatu hari sinar matahari akan menjadi sejuk dan mungkin pula pada suatu hari sinar bulan akan menjadi panas, tetapi janji-Mu masih tidak akan pernah gagal.” Seperti itu pula, pada waktu Kṛṣṇa bersama Bhīma dan Arjuna pergi untuk menantang Jarāsandha, Kṛṣṇa memberitahu Jarāsandha secara terus-terang bahwa Diri-Nya adalah Kṛṣṇa yang kekal, yang hadir bersama dua Pāṇava. Dalam sejarah ini, Kṛṣṇa dan Pāṇava Lima—dalam hal ini Bhīma dan Arjuna—adalah golo-ngan kṣatriya (kesatria dan raja). Jarāsandha pun seorang kṣatriya dan sangat dermawan kepada kaum brāhmaṇa. Jadi Kṛṣṇa, yang telah merencanakan pertempuran melawan Jarāsandha, pergi menemuinya bersama Bhīma dan Arjuna dengan mengenakan pakaian samaran sebagai brāhmaṇa-brāhmaṇa. Jarāsandha, yang suka sekali memberi sumbangan kepada kaum brāhmaṇa, bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan. Kemudian mereka mengungkapkan keinginannya untuk bertanding dalam pertempuran melawan Jarāsandha. Kemudian Kṛṣṇa, yang sedang menyamar sebagai seorang brāhmaṇa, memaklumkan Diri-Nya Kṛṣṇa yang sama, musuh buyutan Raja Jarāsandha.

 

9. Berbicara dengan Cara yang Menyenangkan

Orang yang mampu bicara dengan manis bahkan bersama musuhnya sekalipun untuk menenangkan hatinya disebut orang yang bicara dengan cara yang menyenangkan. Kṛṣṇa berbicara dengan cara yang begitu menyenangkan sehingga setelah me-ngalahkan musuhnya, Kāliya, di dalam air sungai Yamunā, Dia bersabda, “Wahai Raja kaum ular yang terhormat, walaupun Aku sudah banyak menyakitimu, harap jangan kurang puas dengan Diri-Ku. Aku wajib melindungi sapi-sapi ini, yang disembah bahkan oleh para dewa sekalipun. Hanya untuk menyelamatkan sapi-sapi itu dari bahaya kehadiranmu terpaksa Aku mengusirmu dari tempat ini.”

Kāliya tadinya tinggal di dalam air sungai Yamunā, sehingga bagian belakang sungai tersebut tercemar oleh bisa. Sebagai akibatnya, banyak sapi yang mati setelah minum air sungai itu. Karena itu, Kṛṣṇa, yang pada waktu itu baru berumur empat atau lima tahun, terjun ke dalam air sungai, menghukum Kāliya dengan sangat keras, lalu menyuruh dia meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat lain.

Pada waktu itu, Kṛṣṇa mengatakan bahwa sapi disembah bah-kan oleh para dewa sekalipun, dan Dia memperlihatkan secara nyata bagaimana cara melindungi sapi. Sekurang-kurangnya orang yang sadar-Kṛṣṇa harus mengikuti jejak Kṛṣṇa dan mem-beri segala perlindungan kepada sapi-sapi. Bukan hanya para dewa saja yang memuja sapi. Kṛṣṇa Sendiri beberapa kali memuja sapi, terutama pada hari-hari raya Gopāṣṭamī dan Govardhana-pūjā.

 

10. Lancar Berbahasa

Orang yang mampu berbicara dengan kata-kata yang penuh arti serta segala sopan santun dan sifat-sifat baik disebut vāvadūka, atau lancar berbahasa. Ada pernyataan yang baik dalam Śrīmad-Bhāgavatam mengenai Kṛṣṇa berbicara dengan sopan. Istri seorang gembala sapi di desa terpikat pada waktu Kṛṣṇa meminta dengan sopan agar ayah-Nya, Nanda Mahārāja, menghentikan persembahan ritual kurban suci kepada dewa hujan, Indra. Kemudian wanita itu menguraikan pembicaraan Kṛṣṇa kepada kawan-kawannya sebagai berikut: “Kṛṣṇa berbicara kepada ayah-Nya dengan cara yang begitu sopan dan lembut seakan Dia sedang menuangkan nektar ke dalam telinga semua hadirin. Sesudah mendengar kata-kata yang begitu manis dari Kṛṣṇa, siapa yang tidak akan tertarik kepada Dia?”

Bahasa Kṛṣṇa, yang mengandung segala sifat baik di alam semesta, diuraikan dalam pernyataan berikut dari Uddhava: “Kata-kata Kṛṣṇa begitu menarik sehingga mampu segera me-ngubah hati lawan-Nya sekalipun. Kata-kata Kṛṣṇa dapat segera memecahkan segala pertanyaan dan masalah dunia. Walaupun Kṛṣṇa tidak berbicara panjang sekali, namun setiap kata yang keluar dari bibir-Nya mengandung arti yang dalam. Sabda-sabda Kṛṣṇa ini sangat menyenangkan hatiku.”

 

11. Sangat Terpelajar

Kalau seseorang terdidik sampai tingkat tinggi dan bertindak secara tegas menurut prinsip-prinsip kesusilaan, maka dia disebut orang yang sangat terpelajar. Orang yang menguasai berbagai bagian pengetahuan disebut terdidik, dan oleh karena ia bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kesusilaan, ia disebut bermoral kuat. Dua unsur tersebut bersama-sama membuat seseorang disebut terpelajar.

Śrī Nārada Muni menguraikan bagaimana Kṛṣṇa menerima pendidikan dari Sāndīpani Muni sebagai berikut: “Pada per-mulaan, Dewa Brahmā dan yang lain bagaikan awan-awan berisi air yang diuapkan dari lautan Kṛṣṇa yang luas. Dengan kata lain, Brahmā pertama menerima pendidikan Veda dari Kṛṣṇa, ibarat awan menerima air dari lautan. Pendidikan atau pelajaran Veda tersebut yang disabdakan oleh Brahmā kepada dunia kemudian diletakkan di atas Sāndīpani Muni yang ibarat sebuah gunung. Pelajaran Sāndīpani Muni kepada Kṛṣṇa bagaikan sumber mata air di atas gunung, yang mengalir sebagai sungai sampai bergabung sekali lagi dengan asal mulanya, yakni lautan Kṛṣṇa.” Agar hal ini lebih jelas, yang dimaksud ialah bahwa Kṛṣṇa sesungguhnya tidak bisa diberi pelajaran oleh siapa pun, seperti halnya lautan tidak menerima air dari sumber mana pun selain lautan itu sendiri. Sungai-sungai hanya kelihatannya mema-sukkan air ke dalam lautan. Jadi, yang jelas Brahmā menerima pendidikannya dari Kṛṣṇa. Kemudian, pelajaran Veda tersebut disebarkan dari Brahmā melalui garis perguruan. Sāndīpani Muni diibaratkan sebagai sungai yang mengalir sekali lagi me-nuju lautan Kṛṣṇa yang asli.

Para Siddha, penduduk Siddhaloka (tempat semua insan dilahirkan dengan segala kekuatan mistik yang sempurna), dan para Cāraṇa, penduduk sebuah planet yang serupa, berdoa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Śrī Govinda yang hamba mu-liakan, dewi ilmu pengetahuan terhias dengan empatbelas jenis perhiasan pendidikan, kecerdasan beliau berada di mana-mana di dalam keempat bagian pengetahuan Veda, perhatian beliau selalu pada kitab-kitab hukum yang diberikan oleh resi-resi mulia seperti Manu, dan pengetahuan beliau tiada taranya dalam keenam jenis pengetahuan yang ahli, yakni bukti dari Veda, tata bahasa, astrologi, ilmu pidato, perbendaharaan kata, dan logika. Sekarang beliau sudah mendapat kesempatan duduk bersama-Mu sebagai kawan sekelas di sekolah, dan kini beliau sibuk melayani-Mu.” Kṛṣṇa, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, tidak membutuhkan pendidikan apa pun, namun Dia memberi kesempatan kepada dewi ilmu pengetahuan untuk mengabdi kepada Diri-Nya. Kṛṣṇa melengkapi kebutuhan-Nya Sendiri sehingga Dia tidak membutuhkan jasa makhluk mana pun, walaupun Dia mempunyai banyak penyembah. Oleh-karena Kṛṣṇa begitu murah hati dan penuh karunia Dia memberi kesempatan kepada semua orang untuk melayani Diri-Nya, seolah-olah Dia membutuhkan jasa para penyembah-Nya.

Mengenai prinsip-prinsip moral Kṛṣṇa, dinyatakan dalam Śrīmad-Bhāgavatam bahwa Kṛṣṇa berkuasa di Vṛndāvana sebagai kepribadian maut bagi para pencuri, sebagai keba-hagiaan transendental yang menyenangkan bagi orang saleh, sebagai Dewa Asmara yang paling tampan bagi gadis-gadis muda dan sebagai dermawan yang paling murah hati bagi orang-orang miskin. Kṛṣṇa menyegarkan bagaikan bulan purnama bagi kawan-kawan-Nya, sedangkan bagi musuh-musuh-Nya, Dia ibarat api peleburan yang dihasilkan dari Dewa Śiva. Karena itu, Kṛṣṇa adalah penegak prinsip-prinsip moral yang paling sempurna dalam tingkah laku-Nya yang bertimbal balik bersama berbagai jenis kepribadian. Apabila Kṛṣṇa menjadi kepribadian maut bagi para pencuri, bukannya Dia tanpa prinsip-prinsip moral ataupun bersifat kejam; Dia masih murah hati, sebab menjatuhkan hukuman mati pada para pencuri berarti memper-lihatkan sifat prinsip-prinsip moral tertinggi. Dalam Bhagavad-gītā pula, Kṛṣṇa mengatakan Dia memperlakukan berbagai jenis orang menurut tingkah laku mereka terhadap Dia. Meskipun tingkah laku Kṛṣṇa dengan penyembah dan dengan orang yang bukan penyembah berbeda, namun keduanya sama-sama baik. Oleh karena Kṛṣṇa serba baik, tingkah laku-Nya dengan semua insan selalu baik.

 

12. Memiliki Kecerdasan Tinggi

Orang disebut cerdas kalau ia memiliki ingatan tajam serta pertimbangan halus. Mengenai ingatan Kṛṣṇa, dikatakan bahwa pada waktu Dia sedang belajar di sekolah Sāndīpani Muni di Avantīpura, Dia memperlihatkan ingatan yang begitu tajam sehingga dengan menerima pelajaran sekali saja dari Sang guru, Dia segera menjadi sempurna dalam mata pelajaran mana pun. Sebenarnya, Kṛṣṇa belajar di sekolah Sāndīpani Muni untuk memperlihatkan kepada rakyat dunia bahwa betapapun ting-ginya martabat maupun kepandaian seseorang, ia harus tetap berguru kepada otoritas yang lebih tinggi untuk pendidikan umumnya. Betapapun tingginya kedudukan seseorang, ia harus berguru kepada seorang guru atau guru spiritual.

Pertimbangan Kṛṣṇa yang halus diperlihatkan pada waktu Dia bertempur melawan raja dari golongan nista yang menyerang kota Mathurā. Menurut tata krama Veda, orang dari golongan nista tidak boleh disentuh oleh raja-raja kṣatriya, bahkan untuk dibunuh sekalipun. Karena itu, pada waktu raja dari golongan nista tersebut menjajah kota Mathurā, Kṛṣṇa mempertimbangkan bahwa adalah kurang bijaksana sekiranya Dia membunuh raja itu langsung dengan tangan-Nya Sendiri. Bagaimanapun raja itu harus dibunuh. Karena itu, dengan pertimbangan halus, Kṛṣṇa memutuskan untuk lari dari medan perang agar raja dari go-longan nista itu akan mengejar Dia. Kemudian Kṛṣṇa akan dapat mengarahkan raja tersebut menuju gunung tempat Mucukunda sedang berbaring dalam keadaan tidur. Mucukunda telah mene-rima berkat dari dewa Kārttikeya bahwa siapa pun yang dipan-dangnya pada saat bangun dari tidurnya akan segera terbakar hingga menjadi abu. Karena itu, Kṛṣṇa membijaksanai untuk membawa raja nista tersebut ke gua itu, agar kehadirannya akan membangunkan Mucukunda dan dia akan segera terbakar hingga menjadi abu.

 

13. Jenius

Seseorang disebut jenius kalau dia mampu mengalahkan unsur manapun yang melawan dengan argumentasi lain lagi yang semakin baru. Berhubungan dengan hal ini, ada pernyataan dalam Kitab Padyāvalī yang berisi percakapan berikut antara Kṛṣṇa dan Rādhā. Kṛṣṇa pernah datang menemui Rādhā pada pagi hari, lalu Rādhā bertanya kepada Kṛṣṇa, “Keava-Ku yang tercinta, di mana vāsa-Mu sekarang?” Kata vāsa dalam bahasa Sanskerta mempunyai tiga arti: salah satu arti adalah tempat tinggal, sedangkan dua arti lainnya adalah wewangian dan pakaian.

Sebenarnya Rādhārāṇī bertanya kepada Kṛṣṇa, “Di mana pakaian-Mu?” Tetapi Kṛṣṇa mengartikan kata itu sebagai “tempat tinggal”, lalu menjawab kepada Rādhārāṇī, “Kekasih-Ku yang terpikat, pada saat ini, tempat tinggal-Ku ada di mata-Mu yang cantik.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Rādhārāṇī menjawab, “Hai pemuda yang lihai, Aku tidak bertanya tentang tempat tinggal-Mu, melainkan tentang pakaian-Mu.”

Kṛṣṇa kemudian mengartikan kata vāsa sebagai “wewangian”, lalu berkata, “Hai kekasih-Ku yang beruntung, Aku menjadi wangi seperti ini agar dapat bergaul dengan badan-Mu.”

Śrīmatī Rādhārāṇī bertanya sekali lagi kepada Kṛṣṇa, “Engkau bermalam di mana?” Kata Sanskerta yang dipergunakan dalam hal ini adalah kata yāminyāmuṣitaƒ. Yāminyām berarti “malam hari”, sedangkan uṣitaƒ berarti “melalui”. Akan tetapi, Kṛṣṇa membagi kata yāminyāmuṣitaƒ menjadi dua kata yang terpisah, yakni yāminyā dan muṣitaƒ. Dengan membagi kata tersebut menjadi dua kata, artinya menjadi Kṛṣṇa diculik oleh Yāminī, atau malam hari. Karena itu, Kṛṣṇa menjawab kepada Rādhārāṇī, “Rādhārāṇī kesayangan-Ku, apakah mungkin malam hari dapat menculik Diri-Ku?” Dengan cara demikian, Kṛṣṇa menjawab semua pertanyaan Rādhārāṇī dengan cara yang sangat lihai sehingga menyenangkan hati gopī yang paling disayangi itu.

 

14. Ahli Seni

Orang yang dapat berbicara dan mengenakan pakaian dengan cara yang seni sekali disebut vidagdha. Ciri teladan tersebut nampak pada kepribadian Śrī Kṛṣṇa. Rādhārāṇī membicara-kannya sebagai berikut: “Kawanku yang baik hati, lihatlah bagaimana Kṛṣṇa mengarang lagu-lagu yang bagus, bagaimana Dia menari dan berbicara dengan kata-kata lucu dan memainkan seruling-Nya, dengan memakai kalungan bunga yang begitu bagus. Dia sudah mengenakan pakaian-Nya dengan cara yang begitu memikat, seolah-olah Dia sudah mengalahkan segala jenis pemain pada papan catur. Kṛṣṇa hidup secara ajaib pada puncak tertinggi ketrampilan kesenian.”

 

15. Sangat Pandai

Orang yang mampu melakukan berbagai jenis pekerjaan se-kaligus disebut pandai. Berhubungan dengan hal ini, seorang gopī berkata, “Kawan-kawan yang baik hati, lihatlah kegiatan Śrī Kṛṣṇa yang pandai! Dia sudah mengarang lagu-lagu yang baik tentang para gembala sapi dan Dia menyenangkan sapi-sapi. Dia sedang menyenangkan hati para gopī dengan gerak mata-Nya, dan pada waktu yang sama, Dia bertempur melawan rākṣasa-rākṣasa seperti Ariṣṭāsura. Dengan cara seperti ini. Dia duduk dengan berbagai makhluk hidup dengan berbagai cara, dan menikmati keadaan secara panjang lebar.”

 

16. Ahli

Orang yang mampu melaksanakan tugas yang sulit sekali dengan cepat disebut ahli. Mengenai keahlian Kṛṣṇa, ada per-nyataan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Limapuluh Sembilan, sloka 17. Dalam sloka tersebut, Śukadeva Gosvāmī memberitahu Mahārāja Parīkṣit, “Wahai yang terbaik di antara para Kuru, Śrī Kṛṣṇa menghancurkan segala jenis sen-jata yang dipergunakan oleh berbagai kesatria.” Dahulu kala, orang bertempur dengan cara melepaskan berbagai jenis panah. Satu pihak melepaskan panah sakti tertentu, lalu pihak lawan harus mengalahkan dan menangkisnya dengan cara melepaskan panah lain. Misainya, satu pihak barangkali melepaskan panah yang menyebabkan hujan turun dari langit, lalu untuk menang-kisnya pihak lawan harus melepaskan senjata yang dapat segera mengubah air itu menjadi awan. Dari pernyataan tersebut, ke-lihatannya Kṛṣṇa ahli sekali menangkis panah-panah musuh. Begitu pula, dalam tarian rāsa, setiap gopī memohonkan agar Kṛṣṇa secara pribadi menjadi pasangannya, lalu Kṛṣṇa segera mengekspansi Diri menjadi banyak Kṛṣṇa agar dapat mendam-pingi tiap-tiap gopī. Hasilnya setiap gopī mendapatkan Kṛṣṇa di sisinya.

 

17. Berterima Kasih

Siapa pun yang menyadari kegiatan murah hati kawannya dan tidak pernah melupakan jasanya disebut berterima kasih. Dalam Mahābhārata, Kṛṣṇa berkata, “Pada waktu Aku tidak bersama Draupadī, dia menangis dengan berkata, ‘He govinda!’ Dia me-manggil-Ku seperti itu telah menyebabkan Aku berutang budi kepadanya, dan utang budi tersebut berangsur-angsur bertam-bah besar di dalam hatiku!” Pernyataan dari Kṛṣṇa tersebut mem-beri bukti tentang bagaimana seseorang dapat menyenangkan Tuhan Yang Maha Esa hanya dengan menyapa kepada Dia, “He Kṛṣṇa! He govinda!”

Mahā-mantra (Hare Kṛṣṇa, Hare Kṛṣṇa, Kṛṣṇa Kṛṣṇa, Hare Hare/ Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare juga me-rupakan sapaan kepada Tuhan dan energi-Nya. Jadi kita dapat membayangkan sejauh mana Tuhan berutang budi kepada orang yang senantiasa tekun menyapa kepada Tuhan dan energi-Nya. Tidak mungkin Tuhan melupakan penyembah seperti itu pada saat mana pun. Dikatakan dalam sloka tersebut bahwa siapa pun yang menyapa kepada Tuhan segera menarik perhatian Tuhan, dan Tuhan selalu tetap berutang budi kepada orang itu. Contoh lain Kṛṣṇa merasa berutang budi dinyatakan berhu-bungan dengan tingkah laku Kṛṣṇa bersama Jāmbavān. Pada waktu Tuhan menjelma sebagai Śrī Rāmacandra, Jāmbavān, raja kaum kera yang besar, mengabdi kepada Dia dengan setia sekali. Pada waktu Tuhan berinkarnasi sekali lagi sebagai Śrī Kṛṣṇa, Dia menikah dengan putri Jāmbavān. Kṛṣṇa menghormati Jāmbavān sebagaimana lazimnya seseorang menghormati atasan. Setiap orang yang jujur merasa berutang budi kepada seorang kawan kalau kawan itu telah berjasa kepada dirinya. Oleh karena Kṛṣṇa adalah kepribadian jujur yang paling utama, bagaimana mungkin Dia melupakan utang budi kepada hamba-Nya?

 

18. Bertabah Hati Mantap

Orang yang mengikuti prinsip-prinsip aturan dan menepati janjinya melalui kegiatan nyata disebut bertabah hati mantap. Ada contoh ketabahan hati Śrī Kṛṣṇa dalam tingkah laku-Nya yang diuraikan dalam Kitab Hari-vaḿa. Ini berhubungan dengan Śrī Kṛṣṇa bertempur melawan Raja surga, Indra, yang kehilangan bunga pārijāta secara paksa. Pārijāta adalah sejenis bunga padma yang tumbuh di planet-planet surga. Satyabhāmā, seorang permaisuri Kṛṣṇa, pernah menginginkan bunga padma tersebut, dan Kṛṣṇa berjanji membawanya. Tetapi Indra menolak menyerahkan bunga pārijāta-nya. Karena itu, pertempuran besar berlangsung, dengan Kṛṣṇa dan Pāṇava Lima di satu pihak melawan semua dewa di pihak lain. Akhirnya Kṛṣṇa menga-lahkan semuanya dan merebut bunga pārijāta. Kṛṣṇa mengha-diahkan bunga pārijāta kepada permaisuri-Nya. Berhubungan dengan kejadian tersebut, Kṛṣṇa memberitahu Nārada Muni, “Resi yang mulia di kalangan para dewa, sekarang engkau dapat memaklumkan kepada para penyembah pada umumnya, dan kepada orang yang bukan penyembah pada khususnya, bahwa dalam hal merebut bunga pārijāta, semua dewa—para Gan-dharva, para Nāga, para Rākṣasa, para Yakṣa, para Pannaga—mencoba mengalahkan-Ku, tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang mampu membuat Aku mengingkari janji-Ku kepada permaisuri-Ku.”

Ada janji Kṛṣṇa yang lain lagi dalam Bhagavad-gītā yang menyatakan bahwa penyembah Kṛṣṇa tidak akan pernah binasa. Jadi, penyembah tulus yang selalu tekun dalam pelayanan cinta kasih rohani kepada Tuhan harus mengetahui secara pasti bah-wa Kṛṣṇa tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Kṛṣṇa selalu akan melindungi penyembah-Nya dalam segala keadaan.

Kṛṣṇa memperlihatkan bagaimana Dia menepati janji-Nya dengan menyerahkan bunga pārijāta kepada Satyabhāmā, dengan menyelamatkan Drupadī dari penghinaan dan dengan membebaskan Arjuna dari serangan segala musuh.

Janji Kṛṣṇa bahwa penyembah-Nya tidak pernah dibinasakan dahulu juga telah diakui oleh Indra pada waktu Indra dikalahkan dalam govardhana-līlā. Pada waktu Kṛṣṇa meyakinkan para penduduk desa Vraja (Vṛndāvana) supaya berhenti memuja Indra, Indra marah sehingga membanjiri Vṛndāvana dengan hujan lebat. Akan tetapi Kṛṣṇa melindungi semua warga dan hewan di Vṛndāvana dengan mengangkat Bukit Govardhana, yang dijadikan payung. Seusai peristiwa tersebut, Indra ber-serah-diri kepada Kṛṣṇa dengan memanjatkan banyak doa kepada Kṛṣṇa. Dalam doa-doa tersebut, Indra mengakui, “Dengan Engkau mengangkat Bukit Govardhana dan melin-dungi para warga Vṛndāvana, Engkau menepati janji-Mu bahwa para penyembah-Mu tidak akan pernah binasa.”

 

19. Ahli Mempertimbangkan Waktu dan Keadaan

Kṛṣṇa sangat ahli memperlakukan orang menurut keadaan, tempat, waktu dan perlengkapan. Kṛṣṇa mengungkapkan bagaimana Dia dapat memanfaatkan waktu, keadaan dan orang tertentu pada waktu Dia sedang berbicara kepada Uddhava mengenai tarian rāsa-Nya bersama para gopī. Kṛṣṇa bersabda, “Waktu yang paling menguntungkan adalah malam bulan purnama selama musim gugur, seperti malam ini. Tempat terbaik di seluruh alam semesta adalah Vṛndāvana, dan gadis-gadis tercantik adalah para gopī. Wahai kawan-Ku, Uddhava, Aku kira sebaiknya Aku memanfaatkan segala keadaan tersebut dan menekuni tarian rāsa.”

 

20. Melihat Berdasarkan Kekuasaan Kitab Suci

Orang yang bertindak persis menurut peraturan Kitab Suci disebut āstra-cakṣu. Śāstra-cakṣu berarti orang yang melihat melalui mata Kitab Suci yang otoritatif. Sebenarnya, siapa pun yang berpengetahuan dan berpengalaman seharusnya melihat segala sesuatu melalui Kitab-kitab tersebut. Misalnya, dengan mata telanjang kita mengamati bola matahari hanya sebagai sejenis zat yang menyilaukan. Tetapi apabila kita melihat me-lalui buku-buku ilmu pengetahuan dan sastra lainnya, kita dapat mengerti bagaimana matahari jauh lebih besar daripada bumi ini dan bagaimana matahari sangat perkasa. Jadi melihat benda-benda dengan mata telanjang tidak berarti melihat dengan se-benarnya. Melihat hal-hal melalui buku-buku atau guru-guru yang dapat dipercaya adalah cara melihat yang benar. Jadi, walaupun Kṛṣṇa adalah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dan mampu melihat segala sesuatu pada masa lampau, masa sekarang maupun masa yang akan datang, namun guna memberi pelajaran kepada rakyat umum Dia terbiasa selalu menyebutkan Kitab Suci. Misalnya, dalam Bhagavad-gītā, walaupun Kṛṣṇa bersabda sebagai otoritas tertinggi, Dia masih menyebutkan dan mengutip dari Vedānta-sūtra sebagai otoritas. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, ada pernyataan orang yang secara bercanda mengatakan bahwa Kṛṣṇa, musuh Kaḿsa, dikenal sebagai Dia yang melihat melalui sastra-sastra. Akan tetapi, guna mene-tapkan kekuasaan-Nya, Dia sekarang sedang sibuk melihat para gopī, sehingga para gopī sedang menjadi tergila-gila.

 

21. Suci

Ada dua jenis kesucian tertinggi. Apabila seseorang memiliki salah satu jenis kesucian tersebut, ia mampu menyelamatkan orang yang berdosa. Apabila jenis lain dimiliki, ia tidak pernah melakukan apa pun yang tidak suci. Orang yang memiliki salah satu di antara sifat-sifat tersebut disebut mahasuci. Kṛṣṇa memiliki kedua sifat tersebut; Kṛṣṇa mampu menyelamatkan semua roh terikat yang berdosa, dan pada waktu yang sama, Dia tidak per-nah melakukan apa pun yang menyebabkan Dia tercemar.

Berhubungan dengan hal ini, Vidura, yang sedang berusaha membebaskan kakaknya, Dhṛtarāṣṭra, dari ikatan keluarganya, berkata, “Kakanda yang baik hati, pusatkan saja pikiranmu pada kaki-padma Kṛṣṇa, yang dipuja dengan sloka-sloka yang indah dan penuh kesarjanaan oleh resi-resi dan orang-orang suci yang mulia. Kṛṣṇa adalah juru selamat tertinggi di antara semua juru selamat. Tentunya ada dewa-dewa agung seperti Dewa Śiva dan Dewa Brahma, tetapi kedudukan mereka sebagai juru sela-mat selalu bergantung pada karunia Kṛṣṇa.” Karena itu, Vidura menasihati kakaknya, Dhṛtarāṣṭra, agar ia memusatkan piki-rannya dan hanya menyembah Kṛṣṇa saja. Kalau seseorang ha-nya mengucapkan nama suci Kṛṣṇa, maka nama suci ini akan terbit di dalam hatinya bagaikan matahari yang perkasa dan akan segera menghilangkan segala kegelapan kebodohan. Karena itu, Vidura menasihati Dhṛtarāṣṭra agar ia selalu berpikir tentang Kṛṣṇa, supaya gudang-gudang pencemaran akibat kegiatan berdosa akan segera disucikan. Dalam Bhagavad-gītā, Arjuna menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai paraḿ brahma paraḿ dhāma pavitram—Yang Mahasuci. Ada banyak contoh lain bagaimana Kṛṣṇa memperlihatkan Kemahasucian-Nya.

 

22. Mengendalikan Diri

Orang yang mampu mengendalikan inderanya sepenuhnya disebut vaī, atau orang yang mampu mengendalikan diri. Berhubungan dengan hal ini, dalam Śrīmad-Bhāgavatam di-nyatakan, “Keenam belas ribu istri Kṛṣṇa semua cantik luar biasa sehingga senyum dan sikap pemalunya dapat memikat pikiran dewa-dewa yang mulia seperti Dewa Śiva sekalipun. Tetapi walaupun tingkah laku mereka sebagai wanita sangat menarik, mereka tidak mampu menggoyahkan pikiran Kṛṣṇa.” Di antara beribu-ribu istri Kṛṣṇa, setiap istri berpikir bahwa Kṛṣṇa terpikat oleh kecantikannya sebagai seorang wanita, tetapi kenya-taannya tidak demikian. Karena itu, Kṛṣṇa-lah yang paling ahli mengendalikan indera. Kenyataan ini diakui dalam Bhagavad-gītā. Dalam Bhagavad-gītā Kṛṣṇa disebut Hṛṣīkea—penguasa indera.

 

23. Mantap dan Tidak Goyah

Orang yang terus bekerja sampai tujuan yang diinginkannya tercapai disebut mantap dan tidak goyah.

Pernah terjadi sebuah pertempuran antara Kṛṣṇa dan Raja Jāmbavān, dan Kṛṣṇa ingin merebut permata Syamantaka yang sangat berharga dari Sang Raja. Raja Jāmbavān mencoba me-nyembunyikan diri di hutan, tetapi Kṛṣṇa tidak mau patah semangat. Kṛṣṇa akhirnya mendapatkan permata tersebut dengan cara mencari Raja itu dengan ketabahan hati yang mantap.

 

24. Sabar

Orang yang mentolerir segala jenis kesulitan, meskipun kesulitan itu kelihatannya tidak mungkin ditahan, disebut sabar. Pada waktu Kṛṣṇa tinggal di tempat guru spiritual-Nya, Dia tidak berkeberatan menerima segala jenis kesulitan dalam mengabdi kepada guru-Nya, walaupun badan-Nya sangat lembut dan halus. Murid wajib melaksanakan segala jenis pelayanan kepada guru spiritual, walaupun ada segala jenis kesulitan. Murid yang tinggal di tempat tinggal guru spiritual harus pergi mengemis dari rumah ke rumah dan membawa segala sesuatu yang didapatkannya kepada guru spiritual. Pada waktu prasāda di-hidangkan, guru spiritual seharusnya memanggil tiap-tiap muridnya supaya datang dan makan. Kalau kebetulan guru spiritual lupa memanggil seorang murid untuk makan prasāda, maka menurut aturan Kitab Suci, murid yang bersangkutan harus puasa pada hari itu daripada meneri makanan atas inisiatif sendiri. Ada banyak peraturan seperti itu. Kadang-kadang Kṛṣṇa juga pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar.

 

25. Mudah Mengampuni

Orang yang dapat mentolerir segala jenis kesalahan dari pihak lawan dikenal sebagai orang yang mudah mengampuni. Sifat Kṛṣṇa mudah mengampuni diuraikan dalam Śiupāla-vadha berhubungan dengan Kṛṣṇa melarang Śiupāla dibunuh. Raja Śiupāla adalah raja Kerajaan Cedi. Walaupun Śiupāla kebetulan saudara misan Kṛṣṇa, namun dia selalu iri kepada Kṛṣṇa. Bila-mana Śiupāla dan Kṛṣṇa berjumpa, Śiupāla selalu mencoba menghina Kṛṣṇa dan mengejeknya dengan nama-nama jelek sebanyak-banyaknya. Di arena kurban suci Rājasūya yang diselenggarakan oleh Mahārāja Yudhiṣṭhira, pada waktu Śiupāla mulai mengejek Kṛṣṇa dengan nama-nama jelek, Kṛṣṇa tidak peduli dan tetap diam. Beberapa hadirin di arena itu siap mem-bunuh Śiupāla, tetapi Kṛṣṇa melarang mereka. Kṛṣṇa begitu mudah mengampuni. Dikatakan bahwa apabila terdengar suara guntur di langit, singa yang perkasa segera menjawab dengan suara mengaum yang bagaikan suara guntur pula. Tetapi singa tidak peduli apabila kaum serigala yang bodoh mulai menge-luarkan suara-suaranya yang kurang penting.

Śrī Yāmunācārya memuji daya pengampunan Kṛṣṇa dengan pernyataan berikut: “Śrī Rāmacandra yang hamba hormati, Engkau begitu penuh karunia sehingga Engkau mengampuni burung gagak yang telah mencakar puting susu Jānakī hanya karena dia bersujud di hadapan-Mu.” Indra, raja surga, pernah berwujud sebagai burung gagak dan menyerang Sītā (Jānakī), istri Śrī Rāmacandra, dengan memukul payudaranya. Ini tentunya penghinaan terhadap ibu seluruh jagat, Dewi Sītā, dan Śrī Rāmacandra segera siap membunuh burung gagak itu. Tetapi oleh karena si burung gagak kemudian bersujud di hadapan Śrī Rāmacandra, Dia segera mengampuni kesalahannya. Śrī Yāmunācārya kemudian mengatakan dalam doanya bahwa daya pengampunan Śrī Kṛṣṇa bahkan lebih besar daripada daya pengampunan Śrī Rāmacandra sekalipun, sebab Śiupāla selalu kebiasaan menghina Kṛṣṇa—bukan hanya dalam hidup ini, tetapi terus-menerus selama tiga kali penjelmaannya. Namun Kṛṣṇa begitu murah hati sehingga Dia menganugerahi Śiupāla dengan pembebasan manunggal ke dalam keberadaan-Nya. Kita dapat mengerti dari kejadian ini bahwa tujuan pengikut filsafat monisme, yakni manunggal ke dalam cahaya Yang Mahakuasa, bukan merupakan soal yang sulit sekali. Orang seperti Śiupāla yang senantiasa membenci Kṛṣṇa pun bisa mendapatkan pem-bebasan tersebut.

 

26. Bersikap Tenang dan Serius

Orang yang tidak mengutarakan isi hatinya kepada semua orang, atau orang yang kegiatan dan rencana tindakannya sulit sekali dimengerti, disebut orang yang bersikap tenang dan serius. Sesudah Brahmā berbuat kesalahan kepada Kṛṣṇa, Brahmā berdoa dan memohon ampun kepada Kṛṣṇa. Tetapi walaupun Brahmā telah memanjatkan doa yang sangat baik kepada Kṛṣṇa, Brahmā masih tidak bisa mengerti apakah Kṛṣṇa sudah puas ataukah masih belum puas. Dengan kata lain, Kṛṣṇa begitu tenang dan serius sehingga Dia tidak menanggapi doa-doa Brahmā dengan serius sekali. Contoh lain sikap tenang dan serius Kṛṣṇa berhubungan dengan kegiatan percintaan-Nya bersama Rādhārāṇī. Kṛṣṇa selalu bisu seribu kata tentang kegiatan per-cintaan-Nya bersama Rādhārāṇī, sampai Baladeva, kakak Kṛṣṇa yang senantiasa menemani Kṛṣṇa, tidak dapat mengerti peru-bahan pada Diri Kṛṣṇa karena Dia begitu tenang dan serius.

 

27. Berpuas Hati dalam Diri Sendiri

Orang yang puas sepenuhnya dalam dirinya sendiri, tanpa keinginan apa pun, dan selalu tidak goyah bahkan di hadapan sebab dukacita yug berat sekalipun, disebut berpuas hati dalam dirinya sendiri. Contoh Kṛṣṇa berpuas hati dalam Diri-Nya Sendiri diperlihatkan pada waktu Kṛṣṇa, Arjuna dan Bhīma pergi untuk menantang Jarāsandha, Raja Magadha yang perkasa, dan Kṛṣṇa memberi segala penghargaan kepada Bhīma atas pembunuhan Jarāsandha. Kita dapat mengerti dari peristiwa ini bahwa Kṛṣṇa tidak pernah memedulikan kemasyhuran, mes-kipun tiada seorang pun yang lebih termasyhur daripada Kṛṣṇa. Contoh Kṛṣṇa tidak goyah diperlihatkan pada waktu Śiupāla mulai mengejek Kṛṣṇa dengan nama-nama yang jelek. Semua raja dan brāhmaṇa yang telah berkumpul di arena kurban suci merasa goyah dan segera ingin memuaskan Kṛṣṇa dengan memanjatkan doa-doa yang baik. Tetapi semua raja dan brāhmaṇa tersebut tidak dapat menemukan tanda goyah yang paling kecil sekalipun pada Diri Kṛṣṇa.

 

28. Memiliki Sikap Seimbang

Orang yang tidak terpengaruh oleh ikatan dan rasa iri disebut orang yang memiliki sikap seimbang. Contoh sikap seimbang Kṛṣṇa diberikan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Enambelas, sloka 33, berhubungan dengan Kṛṣṇa meng-hukum Kāliya, naga yang berkepala seratus. Pada waktu Kāliya sedang dihukum berat, semua istrinya muncul di hadapan Kṛṣṇa dan berdoa sebagai berikut: “Tuhan yang kami hormati, Engkau turun ke dunia untuk menghukum segala jenis makhluk yang jahat. Suami kami, Kāliya ini, adalah makhluk yang sangat berdosa. Karena itu, hukuman yang Engkau berikan kepadanya pantas dan tepat. Kami mengetahui hukuman yang Engkau berikan kepada musuh-musuh-Mu dan tingkah laku-Mu bersama putra-putra-Mu sama saja. Kami mengetahui Engkau meng-hukum makhluk yang terkutuk ini sambil memikirkan kese-jahteraannya pada kemudian hari.”

Sebuah doa yang lain berbunyi, “ Śrī Kṛṣṇa yang hamba cintai, Yang terbaik di antara dinasti Kuru, Engkau begitu bebas dari sikap berat sebelah sehingga kalau musuh-Mu memenuhi syarat, Engkau akan memberi berkat kepada-Nya; dan kalau seorang putra-Mu bersalah, Engkau akan menghukumnya. Inilah urusan-Mu, sebab Engkau Pencipta tertinggi semua alam semesta. Engkau tidak berat sebelah. Kalau seseorang menemukan sikap berat sebelah apa pun dalam ciri-ciri-Mu, dia pasti keliru.”

 

29. Dermawan

Orang yang sangat suka memberi sumbangan disebut dermawan.

Pada waktu Kṛṣṇa berkuasa di Dvārakā. Dia sangat dermawan dan suka memberi sumbangan sehingga kedermawanan-Nya tidak terhingga. Memang kenyataan bahwa kedermawanan Kṛṣṇa di Dvārakā begitu besar bahkan sampai melebihi kerajaan spiritual dengan segala kekayaannya berupa cintāmaṇi (batu berharga dan dapat mengubah apa pun yang disentuhnya men-jadi emas), pohon-pohon yang dapat memenuhi segala ke-inginan dan sapi-sapi surabhi sekalipun. Di kerajaan spiritual Śrī Kṛṣṇa yang bernama Goloka Vṛndāvana, ada sapi-sapi surabhi yang memberi susu yang jumlahnya tidak terhingga. Ada pohon-pohon yang dapat memenuhi segala keinginan yang memung-kinkan seseorang mengambil segala jenis buah dalam jumlah sebanyak keinginannya. Tanah terbuat dari batu cintāmaṇi, yang dapat mengubah besi menjadi emas dengan sentuhannya. Dengan kata lain, walaupun segala sesuatu mewah secara ajaib di kerajaan spiritual, tempat tinggal Kṛṣṇa, namun selama Kṛṣṇa berada di Dvārakā, kedermawanan-Nya melebihi Goloka Vṛndāvana. Apabila Kṛṣṇa hadir, kekayaan Goloka Vṛndāvana yang tidak terhingga hadir pula dengan sendirinya. Juga dinyatakan bahwa selama Śrī Kṛṣṇa tinggal di Dvārakā, Dia mengekspansi Diri menjadi 16.108 bentuk, dan setiap ekspansi tinggal di sebuah istana bersama seorang permaisuri. Kṛṣṇa tidak hanya tinggal dengan bahagia bersama para permaisuri-Nya di dalam istana-istana itu, tetapi dari tiap-tiap istana Dia menyum-bangkan 13.054 sapi yang terhias secara lengkap dengan pakaian dan perhiasan yang bagus. Ini berarti Kṛṣṇa menyum-bangkan 13.054 X 16.108 sapi setiap hari. Tidak ada orang yang mampu memperkirakan nilai jumlah sapi sebanyak itu yang disumbangkan, tetapi demikianlah susunan kegiatan Kṛṣṇa sehari-hari selama Dia berkuasa di tahta Dvārakā.

 

30. Taat pada Prinsip Keagamaan

Orang yang secara pribadi mempraktikkan aturan agama sebagaimana tersurat dalam sastra-sastra dan juga mengajarkan prinsip-prinsip yang sama kepada orang lain disebut orang yang taat pada prinsip keagamaan. Hanya mengaku memeluk agama tertentu bukan merupakan tanda taat pada prinsip keagamaan. Seseorang harus bertindak menurut prinsip keagamaan, dan dia harus mengajar kepada orang lain melalui tingkah lakunya sendiri. Orang seperti itu dapat dimengerti sebagai orang yang taat pada prinsip keagamaan.

Pada waktu Kṛṣṇa hadir di planet ini, tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan agama. Berhubungan dengan hal ini, Nārada Muni pernah menyapa kepada Kṛṣṇa sambil bercanda, “Tuannya para gembala sapi yang hamba hormati, sapi-sapi jantan-Mu [sapi jantan merupakan lambang agama], sambil memakan rumput di padang rumput dan bergerak di atas empat kakinya, ia sudah memakan segala rumput hal-hal yang ber-tentangan dengan agama!” Dengan kata lain, atas karunia Kṛṣṇa, prinsip-prinsip agama dijaga dengan begitu baik sehingga hal-hal yang bertentangan dengan agama hampir tidak bisa di-temukan sama sekali.

Dikatakan bahwa oleh karena Kṛṣṇa senantiasa menghaturkan berbagai jenis kurban suci dan mengundang para dewa dari susunan-susunan planet yang lebih tinggi, para dewa hampir selalu tidak bersama istrinya. Karena itu, istri-istri para dewa menyesal karena suami-suaminya tidak ada di tempat. Mereka mulai berdoa untuk memohonkan inkarnasi Sang Buddha, inkarnasi Kṛṣṇa yang kesembilan, sebab Sang Buddha meng-hentikan upacara-upacara ritual dan kurban-kurban suci yang dianjurkan dalam Veda guna menghentikan pemotongan hewan-hewan. Istri-istri para dewa berpikir kalau Sang Buddha sudah menjelma, maka segala jenis kurban suci akan dihentikan, se-hingga para suaminya tidak akan diundang menghadiri upacara-upacara seperti itu dan tidak akan dipisahkan dari istri-istrinya.,

Kadang-kadang orang bertanya, “Mengapa para dewa dari susunan-susunan planet yang lebih tinggi tidak datang ke bumi ini dewasa ini?’’ Jawabannya secara terus-terang adalah bahwa semenjak Sang Buddha menjelma dan mulai mengkritik pe-laksanaan kurban suci guna menghentikan pemotongan hewan di planet ini, kurban suci dihentikan, sehingga para dewa tidak ingin datang ke sini lagi.