anejad ekaḿ manaso javīyo

nainad devā āpnuvan pūrvam arṣat

tad dhāvato 'nyān atyeti tiṣṭhat

tasminn apo mātariśvā dadhāti

anejat — tetap; ekam — satu; manasah — daripada Pikiran ; javlyah — lebih cepat; na — tidak; enat — Tuhan Yang Mahaesa; devah — para dewa seperti Indra, dll; ap-nuvan — dapat mendekati; purvam — di depan; arsat — bergerak dengan cepat; tat — Beliau; dhavatah — mereka yang berlari; anyan — yang lain-lain; atyeti — mengungguli; tisthat — tetap di satu tempat; tasmin — dalam Beliau; apah — hujan; matarisva — para dewa yang mengendalikan angin dan hujan; dadhati — menyediakan.


Sloka

Walaupun Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa tetap di tempat tinggal-Nya, namun Beliau lebih cepat daripada Pikiran  dan dapat mengungguli semua kepribadian yang lain yang berlari. Para dewa yang perkasa tidak dapat mendekati Beliau. Walaupun Beliau menetap di satu tem­pat, Beliau mengendalikan mereka yang menyediakan angin dan hujan. Kemuliaan Beliau melebihi semua.

Penjelasan

Tuhan Yang Mahaesa, yaitu Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa Yang Mutlak, tidak dapat dikenal dengan cara berangan-angan Pikiran . Ahli filsafat yang paling bijaksana sekalipun tidak dapat mengetahui tentang Tuhan dengan cara tersebut. Tuhan Yang Mahaesa hanya dapat dikenal oleh para penyembahNya atas karuniaNya. Dalam Brahma-samhita dinyatakan bahwa, walaupun seorang ahli filsafat yang bukan penyembah berjalan-jalan dengan kecepatan Pikiran  selama beratus-ratus tahun, namun diu masih akan menemukan bahwa Kebenaran Yang Mutlak masih jauh dari dirinya. Sebagaimana diuraikan dalam &n ISopanisad, Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa Yang Mutlak mempunyai tempat tinggal yang rohani, yang bernama Krsnaloka, dimana Beliau menetap dan melakukan kegiatanNya. Namun dengan kekuatanNya yang tidak dapat dipahami, sekaligus Beliau dapat menjangkau setiap bagian dari tenagaNya yang menciptakan. Dalam Visnu Purana, kekuatan-kekuatan Beliau diumpamakan sebagai panas dan cahaya yang berasal dari api. Walaupun api berada di satu tempat, namun api itu dapat memancarkan cahaya dan panas kemana-mana; begitu juga, Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa Yang Mutlak, walaupun menetap di tempat tinggalNya yang rohani, dapat mengedarkan ber-macam-macam jenis tenagaNya kemana-mana.

Walaupun jumlah tenaga Tuhan tidak dapat dihitung, namun dapat dibagi menjadi tiga golongan pokok: yaitu, tenaga dalam, tenaga pinggir dan tenaga luar. Ada berjuta-juta bagian yang kecil dalam setiap golongan tersebut. Para dewa yang perkasa yang dikuasakan untuk mengendalikan dan mengatur unsur-unsur alam, seperti misalnya, udara, cahaya, hujan dll., semua digolongkan dalam tenaga pinggir dari Kepribadian Yang Mutlak. Para makhluk hidup, termasuk manusia, juga dihasilkan dari kekuatan pinggir dari Tuhan. Dunia ini diciptakan oleh tenaga luar dari Tuhan, dan angkasa rohani atau kerajaan Tuhan merupakan manifestasi tenaga dalam dari Tuhan.

Seperti itu bermacam-macam tenaga Tuhan berada dimana-mana melalui bermacam-macam kekuatanNya. Walaupun tidak ada perbedaan antara Tuhan dan tenaga-tenagaNya, hendaknya seseorang jangan salah paham dengan menganggap bahwa Tuhan Yang Mahaesa tersebar kemana-mana dalam bentuk tanpa pribadi, atau-pun bahwa Beliau kehilangan eksistensi pribadiNya. Pada umumnya manusia menarik kesimpulan sesuai dengan kesanggupan mereka untuk mengerti, tetapi Tuhan Yang Mahaesa tidak dapat dijangkau oleh kesanggupan kita yang terbatas untuk mengerti. Karena inilah dalam Upanisad-Upanisad kita diberikan peringatan bahwa tidak ada orang yang dapat mendekati Tuhan dengan kekuatan pribadinya yang terbatas.

Dalam Bhagavad-gita Tuhan menyatakan (Bg.10.2) bahwa, para rsi yang agung dan para sura pun tidak dapat mengenal Tuhan. Apalagi para asura yang tidak memenuhi syarat untuk mengerti cara-cara yang dipergunakan oleh Tuhan. Mantra ke-empat ini mengusulkan dengan jelas sekali bahwa, Kebenaran Yang Mutlak pada hakekatnya adalah Kepribadian Yang Mutlak; kalau tidak demikian, maka tidak perlu di-sebutkan begitu banyak keaneka warnaan untuk membuktikan adanya ciri-ciri Beliau yang bersifat pribadi.

Walaupun bagian-bagian yang individual dari kekuatan-kekuatan Tuhan yang mempunyai sifat yang sama seperti kekuatan-kekuatan Tuhan mempunyai segala ciri-ciri dari Tuhan Sendiri, namun lingkungan-lingkungan kegiatan mereka terbatas, dan karena itu mereka semua terbatas. Bagian-bagian yang mempunyai sifat yang sama seperti keseluruhan tidak pernah sejajar dengan keseluruhan; karena itu mereka tidak dapat mengerti kekuatan Tuhan yang sepenuhnya. Di bawah pengaruh alam yang material, makhluk-makhluk yang bodoh dan kurang berpengetahuan yang hanya merupakan bagian-bagian dari Tuhan yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan berusaha untuk berenung-renung pikiran tentang kedudukan Tuhan Yang bersifat rohani. Dalam Sri Isopanisad diberikan per-ingatan bahwa, usaha menentukan identitas Tuhan melalui cara berangan-angan Pikiran  sia-sia saja. Sebaiknya seseorang berusaha untuk mempelajari kerohanian dari sumber yang lebih baik, seperti misalnya dari Veda, yang sudah berisi pengetahuan tentang kerohanian.

Setiap bagian dari keseluruhan yang lengkap diberikan tenaga tertentu untuk bertindak. Apabila bagian itu lupa akan kegiatannya yang tertentu, maka dia berada dalam maya, yaitu khayalan. Demikian dari permulaan Sri Isopanisad memberikan peringatan kepada kita supaya kita memerankan dengan saksama sekali sesuai dengan peranan yang telah ditentukan bagi kita oleh Tuhan. Ini tidak berarti bahwa roh yang individual tidak mempunyai inisiatif sendiri. Oleh karena roh itu adalah bagian dari Tuhan yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan, dia pun harus mengambil inisiatif dari Tuhan. Apabila seseorang mempergunakan inisiatif atau sifatnya yang aktif dengan kecerdasan sebagaimana mestinya, dengan mengerti bahwa segala sesuatu adalah kekuatan dari Tuhan, maka ia dapat menghidupkan kembali kesadaran-nya yang asli, yang telah hilang karena hubungan dengan maya, yaitu tenaga luar.

Segala kekuatan diperoleh dari Tuhan; karena itu tiap-tiap kekuatan khusus harus dipergunakan untuk melaksanakan kehendak Tuhan dan bukan untuk maksud yang lain. Tuhan dapat dikenal oleh orang yang telah mengambil sikap tunduk. Pengetahuan yang sempurna berarti mengetahui tentang Tuhan dalam segala aspek-aspekNya, mengetahui tentang kekuatan Tuhan dan mengetahui bagaimana cara kekuatan tersebut bekerja atas kehendak Tuhan. Hal-hal tersebut diuraikan secara khusus oleh Tuhan dalam Bhagavad-gita, yang merupakan hakekat dari semua Upanisad-Upanisad.