asuryā nāma te lokā

andhena tamasāvṛtāḥ

tāḿs te pretyābhigacchanti

ye ke cātma-hano janāḥ

asuryah — dimaksudkan untuk para asura; nama — terkenal dengan nama; te — itu; lokah — planet-planet; andhena— dengan kebodohan; tamasa — dengan avrtdh — ditutuni: tan — planet-planet itu: te—mereka; pretya — setelah meninggal; abhigacchanti — masuk kedalam; ye — siapapun; fee — semua orang; ca — dan; atma-hanah — para pembunuh roh; janah — orang.


Sloka

Siapapun yang menjadi pembunuh roh harus masuk planet-planet yang disebut dunia orang   yang   tidak, beriman, penuh kegelapan dan kebodohan.

Penjelasan

Kehidupan manusia dibedakan dari kehidupan binatang karena tanggung jawab dalam kehidupan manusia berat. Orang yang sadar akan tanggung jawab tersebut dan bekerja dengan semangat seperti itu disebut sura (orang-orang suci), dan orang yang alpa akan tanggung jawab tersebut atau tidak mempunyai keterangan mengenai tang­gung jawab itu disebut asura (orang-orang jahat). Ada dua jenis manusia yang dapat ditemukan di seluruh alam semesta. Dalam Rg Veda dinyatakan bahwa para sura selalu menuju pada kaki padma Tuhan Yang Mahaesa Sri Visnu dan bertindak sesuai dengan tujuan itu. Jalan mereka diterangi bagaikan jalan yang dilintasi matahari. Manusia yang cerdas harus selalu ingat bahwa, badan yang istimewa ini diperoleh setelah berevolusi selama berjuta-juta tahun dan setelah "bertransmigrasi" cukup lama. Kadang-kadang dunia ini diumpamakan sebagai lautan, dan badan manusia ini diumpamakan sebagai kapal yang kuat yang telah dirancang khusus untuk menyeberang lautan tersebut. Kitab Suci Veda dan para Acarya atau guru-guru yang suci, diumpamakan sebagai nakhoda yang ahli,  dan  fasilitas-fasilitas dari  badan manusia diumpamakan sebagai angin-angin yang baik yang membantu kapal agar dapat berlayar dengan lancar tujuan yang diinginkan. Dengan segala fasilitas tersebut, kalau seseorang tidak mempergunakan kemampuannya dengan sepenuhnya demi keinsafan diri, maka dia harus dianggap atma-ha, seorang pembunuh roh. Dalam Sri Isopanisad diberikan peringatan dengan istilah-Istilah yang jelas bahwa pembunuh roh ditakdirkan masuk daerah kebodohan yang paling gelap hingga menderita untuk selamanya.

Ada babi, anjing, unta, keledai dan binatang lainnya yang kebutuhan ekonominya sepenting kebutuhan kita, tetapi masalah-masalah ekonomi bagi binatang-binatang itu hanya diselesaikan dalam keadaan-keadaan yang jijik dan tidak  menyenangkan. Manusia  diberikan  segala fasilitas   untuk   kehidupan   yang   menyenangkan   oleh hukum-hukum alam karena kehidupan manusia lebih penting dan lebih berharga daripada kehidupan binatang. Mengapa manusia mempunyai kehidupan yang lebih baik daripada babi dan binatang-binatang lainnya? Mengapa seorang   pejabat   tinggi   diberikan   segala   fasilitas, sedangkan juru tulis biasa tidak diberikan fasilitas seperti itu? Jawabannya ialah bahwa, seorang pejabat tinggi harus melaksanakan tugas yang bersifat lebih tinggi; begitu juga seorang manusia mempunyai tugas-tugas yang lebih tinggi daripada binatang yang selalu sibuk hanya un­tuk mengisi perut yang lapar. Namun peradaban modern yang membunuh roh hanyalah meningkatkan masalah-masalah perut yang lapar. Apabila kita mendekati seekor binatang yang telah divernis dalam bentuk orang modern yang beradab dan bertanya kepada dia bagaimana pekerjaannya, maka dia akan mengatakan bahwa, dia hanya ingin bekerja untuk mengisi perut saja, dan keinsafan diri tidak   diperlukan.   Akan   tetapi,   alangkah   kejamnya hukum-hukum alam sehingga walaupun dia berhasrat un­tuk bekerja dengan keras demi perut, namun dia selalu diancam oleh masalah pengangguran.

Kita diberikan bentuk kehidupan manusia bukanlah un­tuk bekerja dengan keras seperti keledai dan babi, tetapi untuk mencapai kesempurnaan yang paling tinggi dalam kehidupan. Kalau kita tidak mempedulikan keinsafan diri, maka hukum-hukum alam memaksakan kita bekerja dengan keras sekali, meskipun barangkali kita tidak ingin melakukan demikian. Pada zaman ini manusia telah dipaksakan untuk bekerja dengan keras seperti keledai dan sapi jantan yang menarik kereta. Beberapa di antara daerah-daerah dimana para asura dikirim untuk bekerja diungkapkan dalam sloka ini dari Sri Isopanisad. Kalau seseorang gagal melakukan kewajibannya sebagai seorang manusia, maka dia dipaksakan untuk berpindah ke planet-planet surya dan dilahirkan dalam jenis-jenis kehidupan yang rendah untuk bekerja dengan keras dalam kebodohan dan kegelapan.

Dalam Bhagavad-gita dinyatakan (Bg.6.41-43) bahwa orang yang mulai menempuh jalan keinsafan diri, tetapi tidak menyelesaikan cara itu, walaupun dia sudah berusaha dengan ikhlas untuk itu, diberikan kesempatan untuk dilahirkan dalam keluarga suci atau srimat. Kata suci berarti seorang brahmana yang sudah maju dalam kerohanian, dan srimat berarti seorang vaisya, seorang anggota masyarakat pedagang. Ini menunjukkan bahwa orang yang gagal dalam usaha menginsafi hubungannya dengan Tuhan diberikan kesempatan yang lebih baik untuk mengembangkan keinsafan diri karena usahanya yang tulus ikhlas dalam penjelmaan-penjelmaannya dari dahulu. Kalau seorang calon dalam kerohanian yang sudah jatuh juga diberikan kesempatan untuk dilahirkan dalam keluarga yang agung dan dihormati, maka kita hampir tidak dapat membayangkan status orang yang sudah mencapai sukses. Dengan hanya berusaha saja untuk menginsafi Tuhan, terjamin bahwa seseorang akan dilahirkan dalam keluarga yang kaya atau keluarga bangsawan. Akan tetapi, orang yang tidak berusaha, yang ingin ditutupi oleh khayalan, terlalu materialis dan terikat dengan kenikmatan duniawi harus masuk daerah neraka yang paling gelap, sebagaimana dinyatakan dalam segala Kitab Suci Veda. Para asura yang duniawi seperti itu kadang-kadang memperagakan agama, tetapi tujuan utama mereka adalah kemakmuran duniawi. Dalam Bhagavad-gita orang-orang seperti itu dikritik (Bg. 16.17-18), sebab mereka hanya dipandang hebat berdasarkan penipuan dan mereka dikuasakan oleh suara orang-orang yang bodoh dan oleh kekayaan material milik mereka sendiri. Asura-asura seperti itu, yang tidak insaf akan diri dan tidak memiliki pengetahuan tentang Isavasya atau Tuhan yang Mahaesa tentu saja akan masuk daerah-daerah yang paling gelap.

Kesimpulannya ialah bahwa, sebagai manusia kita tidak dimaksudkan hanya untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi pada dasar yang tidak stabil, tetapi kita dimaksudkan untuk memecahkan segala masalah-masalah kehidupan material dimana kita telah ditempatkan oleh hukum-hukum alam.