agne naya supathÄ rÄye asmÄn

viÅ›vÄni deva vayunÄni vidvÄn

yuyodhy asmaj juhurÄnÌ£am eno

bhÅ«yisÌ£tÌ£hÄmÌ te nama-uktimÌ vidhema

agne — O Tuhan, perkasa bagaikan api; naya — mohon memimpin; supatha — melalui jalan yang benar; raye — untuk mencapai kepadaMu; asman — kami; visvani — semua; deva — O Tuhan; vayunani — kegiatan; vidvan — dia yang mengetahui; yuyodhi — mohon menghilangkan; asmat — dari kami; juhuranam — segala ganguan dalam menempuh jalan itu; enah — segala kejahatan; bhuyistham — paling banyak; te — kepadaMu; namah uktim — kata-kata untuk bersujud; vidhema — aku melakukan.


Sloka

O Tuhan yang perkasa bagaikan api, Tuhan Yang Mahakuasa, sekarang hamba mengucapkan sembah sujud kepadaMu dan bersujud pada kaki padmaMu. O Tuhan, mohon membimbing diriku dalam menempuh jalan yang benar untuk mencapai kepadaMu, dan oleh karena Anda mengetahui segala sesuatu yang telab kulakukan pada masa lampau, mohon membebaskan diriku dari reaksi-reaksi dosa yang telah kulakukan masa lampau supaya tidak ada gangguan yang menghambat kemajuanku.

Penjelasan

Dengan menyerahkan diri dan berdoa mohon berkah karunia yang tiada sebabnya dari Tuhan, seorang penyembah dapat maju dalam menempuh jalan menuju keinsafan diri yang sepenuhnya. Tuhan diumpamakan sebagai api disini karena Tuhan dapat membakar segala sesuatu hingga menjadi abu, termasuk pula dosa-dosa roh yang telah menyerahkan dirinya. Sebagaimana diuraikan dalam mantra-mantra sebelumnya, aspek yang sejati atau aspek yang paling utama dari Sang Mutlak ialah aspekNya sebagai Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Aspek Tuhan sebagai brahmajyoti yang tidak berbentuk pribadi merupakan penutup yang menyilaukan yang menutupi wajahNya. Kegiatan yang membuahkan hasil atau pahala, atau jalan keinsafan diri yang disebut karma-kanda, merupakan tingkatan yang paling rendah dalam usaha tersebut. Selekas kegiatan seperti itu menyimpang sedikit-pun dari prinsip-prinsip aturan dari Veda, maka kegiatan itu dirubah menjadi vikarma, atau kegiatan yang bertentangan dengan kesejahteraan si pelaku. Vikarma seperti itu dilakukan oleh makhluk hidup yang dikhayalkan hanya untuk kepuasan indera-indera, dan dengan demikian kegiatan seperti itu menjadi rintangan dalam menempuh jalan keinsafan diri.

Keinsafan diri dimungkinkan dalam bentuk kehidupan sebagai manusia, tetapi dalam bentuk-bentuk kehidupan lainnya keinsafan diri tidak mungkin dicapai. Ada 8.400.000 jenis atau bentuk kehidupan. Di antara jenis-jenis kehidupan itu, bentuk manusia, yang mempunyai sifat kebudayaan brahmana, merupakan satu-satunya kesempatan untuk mencapai pengetahuan tentang kerohanian. Kebudayaan brahmana termasuk kejujuran, mengendalikan indera-indera, pengampunan, kesederhanaan, pengetahuan yang sepenuhnya dan kepercayaan yang sepenuhnya kepada Tuhan. Tidaklah dimaksudkan agar seseorang hanya merasa bangga karena dilahirkan dalam keluarga yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat. Menjadi putra seorang brahmana merupakan kesempatan untuk menjadi seorang brahmana, seperti halnya menjadi putra orang besar memberikan kesem­patan untuk menjadi orang besar. Akan tetapi, kelahiran tidaklah segala sesuatu, sebab seseorang masih harus memperoleh kwalifikasi seorang brahmana untuk dirinya sendiri. Selekas seseorang merasa bangga karena kelahirannya sebagai putra seorang brahmana dan alpa memperoleh sifat-sifat seorang brahmana yang sejati, dengan segera dia merosot dan jatuh dari jalan menuju keinsafan diri. Dengan demikian maksud kehidupannya sebagai manusia digagalkan.

Dalam Bhagavad-gita (Bg. 6.41-42) kita diyakini oleh .Tuhan bahwa para yoga-bhrasta, atau roh-roh yang telah jatuh dari jalan menuju keinsafan diri, diberikan kesem­patan untuk memperbaiki diri dengan dilahirkan dalam keluarga-keluarga brahmana-brahmana yang baik atau dalam keluarga-keluarga pedagang-pedagang yang kaya. Dilahirkan dalam keadaan seperti itu memberikan kesem­patan yang lebih bagus untuk keinsafan diri. Kalau kesempatan-kesempatan seperti itu disalah gunakan karena khayalan, maka seseorang kehilangan kesempatan yang baik yang berupa kehidupan manusia yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa.

Prinsip-prinsip yang mengatur telah disusun sedemikian rupa supaya orang yang mengikutinya diangkat dari ting­kat kegiatan yang membuahkan hasil atau pahala sampai tingkat pengetahuan rohani. Setelah dilahirkan berulang kali, dan setelah mencapai tingkat pengetahuan rohani, seseorang menjadi sempurna apabila ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Inilah cara yang umum. Tetapi orang yang menyerahkan diri pada permulaan, sebagaimana diusulkan dalam mantra ini, dengan segera melampaui segala tingkat hanya dengan mengambil sikap kebaktian. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita (Bg. 18.66), Tuhan mengurus orang yang sudah menyerahkan diri seperti itu dengan segera dan membebaskan orang itu dari reaksi-reaksi perbuatannya yang berdosa. Ada banyak reaksi yang tersangkut dalam kegiatan karma-kanda, dan dalam jnana-kanda, atau jalan perkembangan filsafat, jumlah kegiatan yang berdosa kurang dibandingkan dengan karma-kanda. Akan tetapi, dalam kebaktian kepada Tuhan, yakni jalan bhakti, hampir tidak mungkin seseorang mendapatkan reaksi-reaksi yang ber­dosa. Orang yang menjadi seorang penyembah Tuhan mendapatkan segala sifat-sifat yang baik dari Tuhan Sendiri, apalagi kwalifikasi-kwalifikasi seorang brahmana. Seorang penyembah dengan otomatis mendapatkan sifat-sifat seorang brahmana yang ahli dan diperkenankan menghaturkan yajna-yajna atau korban-korban suci, meskipun penyembah itu mungkin tidak dilahirkan dalam keluarga brahmana. Demikianlah KeMahakuasaan Tu­han. Tuhan dapat menyebabkan orang yang dilahirkan dalam keluarga brahmana merosot hingga menjadi seren-dah orang yang dilahirkan dalam keluarga yang rendah yang suka makan anjing. Tuhan juga dapat merubah orang yang dilahirkan dalam keluarga yang rendah dan suka makan anjing hingga dia mencapai tingkatan yang lebih tinggi daripada seorang brahmana yang memiliki kwalifikasi sebagai brahmana — hanya berdasarkan kekuatan kebaktian saja.

Oleh karena Tuhan Yang Mahakuasa bersemayam di dalam hati setiap orang, Tuhan dapat memberikan pe-tunjuk kepada para penyembahNya yang tulus hati sehingga dengan petunjuk-petunjuk itu mereka dapat mencapai jalan yang benar. Petunjuk-petunjuk seperti itu khususnya diberikan kepada seorang penyembah walaupun dia menginginkan sesuatu yang lain. Mengenai orang-orang yang lain, Tuhan hanya memberikan ijin kepada si pelaku atas resiko si pelaku sendiri. Akan tetapi, bagi seorang penyembah, Tuhan memberikan petunjuk kepadanya dengan cara supaya penyembah itu tidak pernah bertindak dengan cara yang salah. Dalam Srimad-Bhagavatam dinyatakan:

sva-pāda-mūlaḿ bhajataḥ priyasya

tyaktānya-bhāvasya hariḥ pareśaḥ

vikarma yac cotpatitaḿ kathañcid

dhunoti sarvaḿ hṛdi sanniviṣṭaḥ

 "Alangkah murah hatiNya Tuhan terhadap penyem­bahNya sehingga walaupun seorang penyembah kadang-kadang jatuh ke dalam ikatan vikarma — yaitu, perbuatan yang bertentangan dengan petunjuk-petunjuk dari Veda — Tuhan memperbaiki kesalahan-kesalahan itu dengan segera di dalam hati si penyembah. Ini karena para penyembah sangat dicintai oleh Tuhan." (Bhag. 11.5.42) Dalam mantra ini seorang penyembah berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memperbaiki dirinya dari di dalam hatinya. Berbuat kesalahan merupakan salah satu ciri manusia. Roh yang terikat seringkali ada kecenderungan untuk melakukan kesalahan, dan satu-satunya kebijaksanaan yang dapat diambil terhadap dosa-dosa yang belum , diketahui seperti itu ialah menyerahkan diri kepada kaki padma Tuhan supaya Tuhan dapat membimbing. Tuhan mengurus roh-roh yang sudah menyerahkan diri dengan sepenuhnya seperti itu; karena itu, segala masalah-masalah dipecahkan hanya dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dan bertindak sesuai dengan petunjuk dari Tuhan. Petunjuk-petunjuk seperti itu diberikan kepada seorang penyembah yang tulus hati dengan dua cara.

Cara yang satu ialah melalui orang suci, Kitab-Kitab Suci dan sang guru kerohanian; dan cara yang lain ialah, melalui Tuhan Sendiri, yang bersemayam di dalam hati setiap orang. Dengan demikian si penyembah dilindungi dalam segala hal. Pengetahuan Veda bersifat rohani dan tidak dapat dipahami oleh cara-cara pendidikan duniawi. Seseorang hanya dapat mengerti mantra-mantra Veda atas berkah karunia dari Tuhan dan sang guru kerohanian. Kalau seseorang berlindung kepada seorang guru kerohanian yang dapat dipercayai, maka harus dimengerti bahwa dia sudah mendapatkan berkah karunia dari Tuhan. Tuhan muncul sebagai sang guru kerohanian bagi seorang penyembah. Demikian, sang guru kerohanian, ajaran Veda, dan Tuhan Sendiri di dalam hati, semua membimbing seorang penyembah dengan kekuatan yang penuh. Karena itu, tidak mungkin seorang penyembah jatuh lagi kedalam maya yang berupa khayalan duniawi. Seorang penyembah yang dilindungi dari segala arah seperti yang tersebut, tentu saja akan mencapai tujuan kesempurnaan yang paling tinggi. Dalam mantra ini diberikan isyarat mengenai seluruh cara tersebut, dan dalam Srimad Bhagavatam (Bhag. 1.2.17-20) hal ini dijelaskan lebih lanjut.

Mendengar dan memuji kebesaran Tuhan Yang Maha-esa dengan sendirinya merupakan perbuatan yang saleh. Tuhan ingin supaya semua orang mendengar dan memuji karena Beliau adalah kawan yang baik bagi semua makhluk hidup. Dengan mendengar dan memuji ke­besaran Tuhan, segala hal yang tidak diinginkan disucikan dari hati orang, dan kebaktiannya menjadi mantap pada Tuhan. Pada tingkatan itu, seorang penyembah memperoleh sifat-sifat seorang brahmana, dan reaksi-reaksi akibat dari sifat-sifat alam yang rendah (nafsu dan kebodohan) lenyap sama sekali. Seorang penyembah men­dapatkan pengetahuan yang membebaskan dirinya dengan sepenuhnya karena kebaktiannya, dan dengan demikian dia mengetahui jalan menuju kepada Tuhan dan cara untuk mencapai kepada Tuhan. Dengan lenyapnya segala keragu-raguan, dia menjadi Seorang penyembah yang murni.

Demikianlah selesai penjelasan Bhaktivedanta perihal Sri Isopanisad, pengetahuan yang mengantar diri kita lebih dekat pada Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa, Krsna.