vāyur anilam amṛtam
athedaḿ bhasmāntaḿ śarīram
oḿ krato smara kṛtaḿ smara
krato smara kṛtaḿ smara
vayuh — angin kehidupan; anilam — keseluruhan angin; amrtam—tidak dapat dimusnahkan; atha — sekarang; idam — ini; bhasmantam — setelah dibakar hingga menjadi abu; sariram — badan; om — O Tuhan; krato — kepribadian yang menikmati segala korban suci; smara — mohon ingat; krato — penerima yang paling utama; smara — mohon ingat; krtam — segala sesuatu yang telah kulakukan untuk Anda; smara — harap ingat.
Tentu saja badan jasmani yang sementara ini adalah pakaian yang bersifat asing. Dalam Bhagavad-gita dinyatakan dengan jelas (Bg. 2.13,18,30) bahwa, setelah badan jasmani dimusnahkan, makhluk hidup tidaklah ter-musnahkan, maupun kehilangan identitasnya. Identitas makhluk hidup tidak pernah tanpa kepribadian atau tanpa bentuk; melainkan badan jasmanilah yang tidak berbentuk dan kemudian mengambil bentuk sesuai dengan bentuk kepribadian yang tidak termusnahkan. Pada permulaan tidak ada makhluk hidup yang tidak berbentuk. Orang yang berfikir bahwa makhluk hidup tidak berbentuk mempunyai anggapan yang salah karena mereka kurang berpengetahuan. Kenyataan bahwa makhluk hidup masih ada setelah badan jasmani termusnahkan dibenarkan dalam mantra ini.
Di dunia ini, alam memperlihatkan ketrampilan yang ajaib dengan menciptakan bermacam-macam jenis badan untuk para makhluk hidup sesuai dengan kecenderungan mereka untuk kepuasan indera-indera. Makhluk hidup yang ingin makan kotoran diberikan badan jasmani yang cocok sekali untuk makan kotoran; yaitu, badan seekor babi. Begitu juga, orang yang ingin makan daging diberikan badan sebagai harimau. Dengan badan harimau dia dapat hidup dengan menikmati darah dari binatang yang lain dan makan dagingnya. Oleh karena bentuk gigi manusia berbeda, manusia tidaklah dimaksudkan untuk makan kotoran atau daging. Dalam hati manusia yang paling primitif sekalipun keinginan untuk makan kotoran tidak ada. Gigi manusia telah terbuat supaya dapat memamah dan memotong buah-buahan dan sayur-sayuran, dan dua gigi taring juga diberikan supaya seseorang dapat makan daging.
Badan-badan jasmani semua binatang dan manusia ber-sifat asing bagi makhluk hidup. Badan-badan jasmani itu berubah sesuai dengan keinginan makhluk hidup untuk memuaskan indera-indera. Dalam peredaran evolusi, makhluk hidup menggantikan badannya berulang kali. Waktu dunia penuh air, makhluk hidup mengambil bentuk sebagai ikan. Kemudian dia berubah dari kehidupan sebagai tumbuhan sampai kehidupan sebagai ulat, dari kehidupan sebagai ulat sampai kehidupan sebagai burung, dari kehidupan burung sampai kehidupan binatang dan dari kehidupan binatang sampai bentuk manusia. Bentuk yang telah dikembangkan sampai tingkatan yang paling tinggi ialah bentuk manusia kalau bentuk manusia itu memiliki pengertian yang penuh tentang pengetahuan rohani. Perkembangan yang paling tinggi dari pengertian rohani orang diuraikan dalam mantra ini: hendaknya seseorang meninggalkan badan jasmani ini yang akan di-jadikan abu dan membiarkan angin hidup meninggal dengan sumber angin yang kekal. Kegiatan makhluk hidup dilakukan di dalam badan melalui gerak-gerak bermacam-macam jenis angin, yang secara singkat disebut prana-vayu. Pada umumnya para yogi mempelajari cara mengendalikan angin-angin di dalam badan. Seharusnya roh itu naik dari satu lingkaran cakra angin sampai lingkaran yang lain hingga mencapai brahma-randahra, yang merupakan lingkaran yang paling tinggi. Dari tingkatan itu seorang yogi yang sempurna dapat berpindah ke planet manapun yang diinginkannya. Cara tersebut berarti meninggalkan satu badan jasmani dan kemudian masuk badan jasmani yang lain, tetapi kesempurnaan yang paling tinggi dari perubahan-perubahan tersebut hanya dimungkinkan kalau makhluk hidup dapat meninggalkan badan jasmani sama sekali, sebagaimana diusulkan dalam mantra ini. Kemudian dia dapat masuk angkasa rohani dimana dia dapat mengembangkan jenis badan yang sama sekali berbeda dengan badan jasmani — yaitu, badan rohani yang tidak pernah harus mengalami kematian atau perubahan.
Di dunia ini alam memaksakan seseorang menggantikan badannya karena bermacam-macam jenis keinginannya untuk kepuasan indera-indera. Keinginan tersebut berwujud dalam bermacam-macam jenis kehidupan dari kuman-kuman sampai dengan badan-badan material yang paling sempurna — yaitu, badan-badan seperti Brahma dan para dewa. Semua makhluk hidup seperti ini mempunyai badan-badan terdiri dari unsur-unsur alam dalam pelbagai bentuk. Orang yang cerdas melihat kesatuan bukanlah dalam keanekawarnaan badan-badan tetapi dalam identitas rohani. Bunga api rohani yang merupakan bagian dari Tuhan Yang Mahaesa yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan Yang Mahaesa adalah sama, baik dalam tubuh seekor babi maupun dalam tubuh seorang dewa. Makhluk hidup menerima bermacam-macam jenis badan menurut kegiatannya yang saleh dan kegiatannya yang jahat. Badan manusia sudah berkembang sampai tingkatan yang tinggi dan mempunyai kesadaran yang sepenuhnya. Menurut Kitab Suci Veda, manusia yang paling sempurna menyerahkan dirinya kepada Tuhan setelah mengembangkan pengetahuan selama banyak penjelmaan-nya. Perkembangan pengetahuan hanya mencapai kesempurnaan kalau dia yang mengetahui mencapai tingkat penyerahan diri kepada Tuhan Yang Mahaesa, Vasudeva. Namun setelah mencapai pengetahuan mengenai identitasnya yang rohani, kalau seseorang tidak mencapai tingkatan dimana dia mengetahui bahwa para makhluk hidup adalah bagian-bagian yang kekal dari keseluruhan yang mempunyai sifat yang sama seperti keseluruhan dan tidak akan pernah dapat menjadi keseluruhan itu, maka dia harus jatuh lagi ke dalam suasana duniawi. Memang, seseorang harus jatuh juga walaupun dia telah menunggal dengan brahmajyoti.
Brahmajyoti yang berasal dari badan rohani Tuhan penuh bunga-bunga api rohani yang merupakan makhluk-makhluk yang individual dengan pengertian yang penuh tentang eksistensi. Kadang-kadang makhluk-makhluk hidup tersebut ingin menikmati indera-indera, dan karena itu mereka ditempatkan di dunia ini untuk menjadi penguasa-penguasa yang palsu di bawah perintah-perintah dari indera-indera. Keinginan untuk berkuasa merupakan penyakit duniawi bagi makhluk hidup, sebab dengan dipengaruhi oleh pesona kenikmatan indera-indera, dia berpindah-pindah melalui bermacam-macam jenis badan yang berwujud di dunia ini. Menunggal dengan brahmajyoti tidak merupakan pengetahuan yang matang. Hanyalah dengan menyerahkan diri kepada Tuhan dengan sepenuhnya dan mengembangkan pengertiannya tentang kebaktian rohani seseorang dapat mencapai tingkat kesempurnan yang paling tinggi.
Dalam mantra ini makhluk hidup berdoa agar dia dapat masuk kerajaan rohani Tuhan setelah meninggalkan badan jasmaninya dan angin material. Seorang penyembah berdoa kepada Tuhan agar Tuhan ingat pada kegiatannya dan korban-korban suci yang telah dilakukannya sebelum badan jasmaninya dijadikan abu: Doa ini diucapkan pada saat meninggal dengan kesadaran yang penuh mengenai perbuatannya dari dahulu dan mengenai tujuan yang paling tinggi. Orang yang berada sepenuhnya di bawah kekuasaan alam ingat pada kegiatan yang keji yang dilakukannya selama badan jasmaninya masih ada, dan sebagai akibatnya dia mendapatkan badan jasmani lagi setelah meninggal. Kenyataan ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita:
yaḿ yaḿ vāpi smaran bhāvaḿ
tyajaty ante kalevaram
taḿ tam evaiti kaunteya
sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ
"Keadaan hidup apapun yang diingat seseorang ketika dia meninggalkan badannya tentu saja keadaan itulah yang akan dicapainya." (Bg. 8.6)
Demikian Pikiran membawa kecenderungan-kecenderungan dari binatang yang sedang meninggal ke dalam penjelmaannya yang akan datang; Pikiran binatang-binatang sederhana yang belum mempunyai Pikiran yang sudah berkembang tidak dapat ingat pada kegiatan dalam kehidupannya, melainkan manusia dapat ingat kegiatan dari kehidupannya yang berlalu seperti halnya impian pada waktu malam; karena itu, Pikiran nya tetap penuh dengan keinginan duniawi, dan sebagai akibatnya dia tidak dapat masuk kerajaan rohani dengan badan rohani. Akan tetapi, para penyembah mengembangkan rasa cinta kasih pada Tuhan Yang Mahaesa dengan mempraktekkan kebaktian kepada Tuhan. Meskipun seorang penyembah tidak ingat pada kebaktiannya yang suci pada saat meninggal, namun Tuhan tidak lupa pada penyembahNya itu. Doa ini diucapkan sebagai peringatan kepada Tuhan tentang korban-korban suci yang telah dilakukan oleh si penyembah, tetapi meskipun tidak ada peringatan seperti itu, Tuhan tidak lupa pada kebaktian yang telah dilakukan oleh penyembahNya yang murni.
Tuhan menguraikan dengan jelas mengenai hubungan-Nya yang akrab dengan para penyembahNya dalam Bhagavad-gita: "Walau seseorang melakukan kegiatan yang paling jijik sekalipun, kalau dia tekun dalam kebaktian, dia harus dianggap suci karena dia berada dalam kedudukan yang benar. Cepat sekali dia menjadi saleh dan mencapai kedamaian yang Kekal. O putra Kunti, nyatakanlah dengan berani bahwa penyembahKu tidak akan pernah binasa. O putra Prtha, mereka yang berlindung kepadaKu, walaupun mereka dilahirkan dalam keadaan yang rendah — wanita, para vaisya (pedagang) dan para sudra (para pekerja) — mereka dapat mendekati tujuan yang paling utama. Lalu betapa luhurnya para brahmana, orang-orang yang saleh, para penyembah dan para raja yang suci yang menjadi tekun dalam kebaktian dengan cinta kasih kepadaKu di dunia fana yang sengsara ini. Berfikirlah tentang Aku senantiasa, bersujud dan bersembahyang kepadaKu. Dengan menjadi tekun berfikir tentang DiriKu dengan sepenuh hati pasti engkau akan datang kepadaKu." (Bg. 9.30-34).
Srila Bhaktivinoda Thakura menjelaskan tentang sloka-sloka tersebut sebagai berikut: "Hendaknya kita mengakui seorang penyembah yang menempuh jalan yang benar yang telah ditentukan oleh orang-orang suci, walaupun kelihatannya sifat-sifat penyembah itu kurang sempurna. Hendaknya kita berusaha untuk mengerti maksud yang sebenarnya dari kata-kata kurang sempurna . Roh yang terikat harus bertindak dengan fungsi berganda — yaitu, untuk memelihara badannya, dan untuk keinsafan diri. Status dalam masyarakat, perkembangan mental, kebersihan, pertapaan, gizi dan perjuangan hidup semuanya dilakukan untuk memelihara badan. Bagian 'keinsafan diri' dalam kegiatan seseorang dilakukan dalam kewajibannya sebagai seorang penyembah Tuhan, dan dia juga melakukan kegiatan berhubungan dengan hal itu. Dua fungsi yang berbeda tersebut saling mendampingi karena roh yang terikat tidak dapat menghentikan pemeliharaan badannya. Akan tetapi, jumlah kegiatan yang dilakukan untuk memelihara badan berkurang sesuai dengan meningkatnya kebaktian. Selama jumlah kebaktian belum mencapai tingkat yang sebenarnya, ada kemungkinan bahwa keduniawian kadang-kadang akan diperlihatkan, tetapi hendaknya diperhatikan bahwa keduniawian seperti itu tidak dapat berlanjut selama jangka waktu yang panjang karena, atas berkah karunia dari Tuhan, hal-hal yang kurang sempurna seperti itu akan berakhir dalam waktu yang singkat sekali. Karena itu, jalan kebaktian adalah satu-satunya jalan yang benar. Kalau seseorang menempuh jalan yang benar, walaupun keduniawian kadang-kadang terjadi, namun itu tidak mengalang-alanginya dalam kemajuan keinsafan diri."
Fasilitas-fasilitas dari kebaktian tidak diberikan kepada orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan karena mereka terikat dengan aspek brahmajyoti dari Tuhan. Sebagaimana diusulkan dalam mantra-mantra sebelum-nya, mereka tidak dapat menembus brahmajyoti karena mereka tidak percaya kepada Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Kegiatan mereka pada umumnya menyangkut soal tata bahasa, bermain-main dengan susunan kata-kata dan menciptakan sesuatu dalam Pikiran . Sebagai akibat-nya, orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan melakukan pekerjaan yang tidak berhasil, sebagaimana dinyatakan dalam bab ke-dua belas dari Bhagavad-gita (Bg. 12.5)
Segala fasilitas yang diusulkan dalam mantra ini mudah dicapai melalui hubungan yang tetap dengan aspek pribadi dari Kebenaran Yang Mutlak. Bhakti kepada Tuhan pada hakekatnya terdiri dari sembilan kegiatan rohani yang dilakukan oleh seorang penyembah: yaitu, (1) mendengar tentang Tuhan, (2) memuji Tuhan, (3) ingat pada Tuhan, (4) melayani kaki-padma Tuhan, (5) bersembahyang kepada Tuhan, (6) mengucapkan doa-doa pujian kepada Tuhan, (7) mengabdi kepada Tuhan, (8) menikmati hubungan persahabatan dengan Tuhan, dan (9) menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Sembilan prinsip kebaktian tersebut — bersama-sama, atau satu demi satu — dapat membantu seorang penyembah agar dia senan-tiasa mantap dalam hubungan dengan Tuhan. Dengan cara demikian, pada akhir kehidupan seorang penyembah mudah sekali ingat pada Tuhan. Dengan mengikuti satu saja di antara kesembilan prinsip tersebut diatas, para penyembah yang termasyhur yang nama-namanya disebut di bawah ini dapat mencapai kesempurnaan yang paling tinggi: (1) Dengan cara mendengar, Maharaja Pariksit, pahlawan dari Srimad-Bhagavatam, mencapai hasil yang diinginkan. (2) Hanya dengan cara memuji kebesaran Tuhan, Sukadeva Gosvami, yang bersabda dalam Srimad-Bhagavatam, mencapai kesempurnaannya. (3) Dengan cara berdoa, Akrura mencapai hasil yang diinginkan. (4) Dengan cara ingat pada Tuhan, Prahlada Maharaja mencapai hasil yang diinginkan. (5) Dengan bersembahyang, Prthu Maharaja mencapai kesempurnaan. (6) Dengan melayani kaki padma Tuhan, Dewi Sri, Laksmi, mencapai kesempurnaan. (7) Dengan melakukan pengabdian pribadi kepada Tuhan, Hanuman mencapai hasil yang diinginkan. (8) Melalui persahabatannya dengan Tuhan, Arjuna mencapai hasil yang diinginkan. (9) Dengan menyerahkan segala sesuatu yang dimilikinya, Maharaja Bali mencapai hasil yang diinginkan.
Sebenarnya penjelasan mantra ini dan penjelasan hampir semua mantra dari Veda diringkaskan dalam Vedanta-sutra dan dijelaskan dengan cara yang benar dalam Srimad-Bhagavatam. Srimad-Bhagavatam merupakan buah yang matang dari pengetahuan Veda yang diumpamakan sebagai sebatang pohon. Dalam Srimad-Bhagavatam, mantra ini dijelaskan dalam pertanyaan dan jawaban antara Maharaja Pariksit dan Sukadeva Gosvami pada awal pertemuan mereka. Mendengar dan memuji tentang ilmu pengetahuan mengenai Tuhan merupakan prinsip dasar dalam kehidupan bhakti. Bhagavatam yang lengkap didengar oleh Maharaja Pariksit dan diucapkan oleh Sukadeva Gosvami. Maharaja Pariksit bertanya kepada Sukadeva karena Sukadeva adalah guru kerohanian yang lebih mulia daripada yogi yang besar atau rohaniwan manapun pada zaman itu.
Pertanyaan pokok dari Maharaja Pariksit ialah: "Apakah kewajiban setiap orang, khususnya pada waktu meninggal?" Sukadeva Gosvami menjawab:
tasmād bhārata sarvātmā
bhagavān īśvaro hariḥ
śrotavyaḥ kīrtitavyaś ca
smartavyaś cecchatābhayam
"Semua orang yang ingin menjadi bebas dari segala kesengsaraan sebaiknya selalu mendengar, memuji dan ingat pada Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa yang berkuasa atas segala sesuatu dan menghilangkan segala kesulitan, Roh Yang Utama di dalam hati setiap makhluk hidup." (Bhag. 2.1.5).
Apa yang disebut masyarakat manusia pada umumnya sibuk tidur dan melakukan hubungan kelamin pada waktu malam dan pada waktu siang sibuk mencari uang sebanyak-banyaknya atau berbelanja untuk memelihara keluarga. Orang mempunyai waktu sedikit sekali untuk berbicara tentang Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa atau bertanya tentang Beliau. Mereka telah menolak adanya Tuhan dengan pelbagai cara, terutama dengan me-nyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk pribadi, yaitu, bahwa Tuhan tidak mempunyai indera-indera yang dapat merasakan sesuatu. Akan tetapi, dalam Kitab-Kitab Suci Veda, — baik dalam Upanisad-Upanisad, Vedanta-sutra, Bhagavad-gita maupun Srimad-Bhagavatam — dinyatakan bahwa Tuhan mempunyai indera-indera dan berkuasa atas segala makhluk hidup. Kegiatan Tuhan yang mulia tidak lain daripada DiriNya Sendiri. Karena itu, hendaknya seseorang jangan ikut mendengar dan berbicara tentang kegiatan orang-orang duniawi yang kasar dan orang yang hanya disebut saja orang besar dalam masyarakat — kegiatan mereka semua diumpamakan sebagai sampah — tetapi sebaiknya dia membentukkan kehidupannya dengan cara supaya dia dapat melakukan kegiatan yang suci tanpa memboroskan waktu sedetik pun. Sri Isopanisad mengarahkan kita menuju kegiatan yang suci seperti itu.
Kalau seseorang belum biasa mempraktekkan kebaktian, apakah yang akan diingatnya pada saat meninggal waktu badan menjadi rusak, dan bagaimana mungkin dia dapat berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa supaya Tuhan ingat pada korban-korban suci yang telah dilakukannya? Korban suci berarti menolak keinginan indera-indera. Seseorang harus mempelajari ilmu pengetahuan ini dengan mempergunakan indera-indera untuk berbakti kepada Tuhan selama kehidupannya. Seseorang dapat mempergunakan hasil dari praktek seperti itu pada saat meninggal.