vidyāḿ cāvidyāḿ ca yas
tad vedobhayaḿ saha
avidyayā mṛtyuḿ tīrtvā
vidyayāmṛtam aśnute
vidyam — pengetahuan yang sebenarnya; ca — dan; avidyam — hal-hal yang bukan pengetahuan; ca — dan; yah — orang yang; tat — itu; veda — mengetahui; ubhayam — kedua-duanya; saha — pada waktu yang sama; avidyaya — dengan perkembangan hal-hal yang bukan pengetahuan; mrtyum — kematian yang terjadi berulang kali; tirtva — mengatasi; vidyaya — dengan mengembangkan pengetahuan; amrtam — bebas dari kematian; asnute — menikmati.
Sejak dunia ini diciptakan, semua orang telah berusaha untuk mencapai kehidupan yang kekal, tetapi alangkah kejamnya hukum alam sehingga belum pernah ada orang yang dapat menghindari maut itu. Memang kenyataan bahwa tidak ada orang yang ingin meninggal. Tidak ada orang yang ingin menjadi tua atau menderita karena penyakit. Akan tetapi, hukum alam tidak mengijinkan seorangpun menjadi kebal terhadap kematian, usia tua atau penyakit. Kemajuan pengetahuan duniawi pun belum memecahkan masalah-masalah tersebut. Ilmu pengetahuan duniawi dapat menemukan bom atom untuk mempercepat kematian, tetapi tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat melindungi manusia terhadap penyakit, usia tua dan kematian yang begitu kejam.
Dari Kitab-Kitab Purana kita dapat belajar tentang kegiatan Hiranyakasipu, seorang raja yang sudah maju sekali pada bidang material. Hiranyakasipu ingin mengatasi kematian dengan harta bendanya yang material dan kekuatan kebodohannya, karena itu dia melakukan sejenis semadi yang begitu keras sehingga penduduk semua susunan planet merasa tergoyahkan karena kesaktiannya. Dia memaksakan pencipta alam semesta, yaitu dewa Brahma, untuk menurun menghadap dirinya. Kemudian dia memohonkan berkah bernama amara dari Brahma. Dengan amara itu seseorang tidak mati. Brahma mengatakan bahwa beliau tidak dapat memberikan berkah itu, sebab beliau pun sebagai pencipta alam yang ber-kuasa atas semua planet, bukan amara. Sebagaimana dibe-narkan dalam Bhagavad-gita (Bg.8.17), usia Brahma sangat panjang sekali, tetapi itu tidak berarti bahwa Brahma tidak harus meninggal.
Hirarjya berarti emas, dan kasipu berarti tempat tidur yang lunak. Hiranyakasipu tertarik pada dua hal tersebut — yaitu, uang dan wanita-wanita yang cantik — dan dia ingin menikmatinya dengan menjadi bebas dari kematian. Dia mengajukan banyak pertanyaan kepada Brahma se-cara tidak langsung dengan .harapan bahwa keinginannya untuk menjadi seorang amara akan dipenuhi. Oleh karena Brahma telah memberitahukan kepada Hiranyakasipu bahwa beliau tidak dapat memberikan berkah yang berupa kebebasan dari kematian, Hiranyakasipu memohonkan agar dia tidak dapat dibunuh oleh manusia, binatang, dewa atau jenis makhluk lainnya yang termasuk golongan-golongan dari 8.400.000 jenis kehidupan. Dia juga memohonkan agar dia tidak dapat meninggal pada muka darat, di udara maupun pada muka air, atau dibunuh oleh senjata apapun. Dengan demikian Hiranyakasipu berfikir dengan cara yang bodoh seakan jaminan-jaminan tersebut dapat menyelamatkan dirinya dari maut. Akan tetapi, akhirnya, walaupun Brahma telah menganugerahkan segala berkah tersebut kepadanya, Hiranyakasipu dibunuh oleh Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa dalam bentuk Nrsimha, penjelmaan yang berbentuk setengah singa setengah manusia, dan tidak ada senjata yang di-pergunakan untuk membunuh Hiranyakasipu, sebab dia dibunuh oleh kuku Tuhan. Hiranyakasipu juga tidak dibunuh pada muka darat, di udara maupun pada muka air, sebab dia dibunuh pada pangkuan Kepribadian yang ajaib tersebut yang melampaui pengertiannya.
Maksud disini ialah bahwa, Hiranyakasipu sebagai tokoh materialis yang paling perkasa sekalipun tidak dapat menjadi bebas dari kematian dengan-pelbagai jenis rencananya. Kalau demikian, apa yang dapat dicapai oleh para "Hiranyaksipu" yang kecil dewasa ini, yang rencana-rencananya dihambat setiap saat.
Sri Isopanisad mengajarkan agar kita jangan berusaha secara sepihak untuk menang dalam perjuangan untuk kehidupan. Semua orang berjuang dengan keras untuk kehidupan, tetapi alangkah keras dan tegasnya hukum-hukum alam sehingga tidak ada seorangpun yang diberikan izin untuk melampaui hukum-hukum itu. Untuk mencapai kehidupan yang kekal, seseorang harus bersedia kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Cara yang dipergunakan orang untuk kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa merupakan cabang pengetahuan yang lain, dan pengetahuan itu harus dipelajari dari Kitab-Kitab Suci Veda, seperti misalnya, Upanisad-Upanisad, Vedanta-sutra, Bhagavad-gita, Srimad-Bhagavatam dll. Untuk menjadi bahagia dalam kehidupan ini dan mencapai kehidupan yang bahagia untuk selamanya setelah meninggalkan badan jasmani ini, seseorang harus mulai mempelajari Kitab-Kitab Suci tersebut dan mendapatkan pengetahuan rohani. Makhluk hidup yang terikat telah lupa akan hubungannya yang kekal dengan Tuhan Yang Mahaesa, dan dia telah keliru dengan menganggap bahwa tempat lahirnya yang bersifat sementara adalah segala sesuatu. Atas kemurahan hatiNya, Tuhan telah menyampaikan Kitab-Kitab Suci tersebut dan Kitab-Kitab Suci yang lain di tempat-tempat yang lain untuk memberikan peringatan kepada manusia yang telah lupa akan dirinya bahwa, tempat tinggalnya bukanlah disini di dunia fana. Makhluk hidup adalah kepribadian yang bersifat rohani, dan dia hanya dapat ber-bahagia kalau dia kembali ke tempat tinggalnya yang rohani.
Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa mengirim hamba-hambaNya yang dapat dipercayai dari kerajaanNya untuk mengedarkan amanat tersebut yang memungkinkan seseorang dapat kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa, dan kadang-kadang Tuhan Sendiri datang untuk melakukan pekerjaan tersebut. Oleh karena segala makhluk hidup adalah seperti anak-anak kesayanganNya, yaitu bagian-bagian dari Tuhan yang mempunyai sifat yang sama seperti Tuhan, Tuhan lebih menyesal daripada kita sendiri untuk melihat penderitaan yang kita alami senantiasa dalam keadaan ini yang bersifat material. Penderitaan dunia ini berfungsi untuk memberikan peringatan kepada kita se-cara langsung bahwa kita tidak cocok dengan alam yang mati. Para makhluk hidup yang cerdas pada umumnya memperhatikan peringatan-peringatan tersebut dan menjadi tekun dalam mengembangkan vidya, atau pengetahuan rohani. Kehidupan manusia merupakan kesempatan yang paling baik untuk mengembangkan pengetahuan rohani, dan seorang manusia yang tidak mengambil untung dari kesempatan itu disebut seorang nara-dhama, yang berarti manusia yang paling rendah.
Jalan avidya, atau kemajuan pengetahuan material demi kepuasan indera-indera, merupakan jalan dimana kelahiran dan kematian terjadi berulang kali. Oleh karena makhluk itu hidup secara rohani, tidak ada kelahiran atau kematian baginya. Kelahiran dan kematian hanya menyangkut penutup di luar roh, yaitu, badan jasmani. Kematian diumpamakan sebagai membuka pakaian luar dan kelahiran sebagai mengenakan pakaian luar. Manusia yang bodoh yang terikat secara kasar dalam mengembangkan avidya, atau sesuatu yang bukan pengetahuan, tidak berkeberatan atas cara yang kejam tersebut. Oleh karena hati mereka terpikat dengan indahnya tenaga yang mengkhayalkan, mereka mengalami hal-hal yang sama berulang kali dan tidak mengambil pelajaran apapun dari hukum-hukum alam.
Perkembangan vidya, atau pengetahuan rohani, sangat dibutuhkan bagi manusia. Kepuasan indera-indera dalam keadaan duniawi yang diumpamakan sebagai keadaan sakit harus dibatasi sejauh mungkin. Kepuasan indera-indera yang tidak terbatas dalam keadaan jasmani ini merupakan jalan menuju kebodohan dan kematian. Para makhluk hidup tidaklah kekurangan indera-indera rohani; setiap makhluk hidup dalam bentuknya yang asli dan rohani memiliki semua indera, tetapi indera-indera itu sekarang ini bersifat material, karena ditutupi oleh badan dan Pikiran . Kegiatan indera-indera yang material merupakan bayangan yang terputar balik dari kegiatan rohani. Dalam keadaannya yang diumpamakan sebagai keadaan sakit, roh menjadi sibuk dalam kegiatan material di bawah penutup yang bersifat material. Kenikmatan indera-indera yang sejati hanyalah dimungkinkan apabila keduniawian yang diumpamakan sebagai penyakit dapat dihilangkan. Dalam bentuk rohani kita yang. sejati, bebas dari segala pengaruh keduniawian, kenikmatan indera-indera yang suci dimungkinkan. Hendaknya kepuasan indera-indera yang terputar balik janganlah dijadikan tujuan pokok kehidupan manusia; sebaiknya seseorang ingin menyembuhkan penyakit keduniawian itu. Memperparah penyakit keduniawian bukanlah tanda pengetahuan, tetapi merupakan tanda avidya, yaitu kebodohan. Sakit demam seharusnya jangan diperparah dari 40 derajat menjadi 41 derajat untuk menjamin kesehatan yang baik, tetapi hendaknya diturunkan menjadi 37 derajat seperti normal. Sebaiknya itulah tujuan kehidupan manusia. Kecenderungan modern dalam peradaban material ialah untuk memperparah suhu keadaan material yang telah diumpamakan sebagai sakit demam, dan keadaan itu sudah mencapai 40 derajat dalam bentuk tenaga atom. Keadaan itu merupakan akibat kemajuan pengetahuan material dan kealpaan terhadap jenis kehidupan yang paling penting; yaitu perkembangan pengetahuan rohani. Disini Sri Isopanisad memberikan peringatan supaya kita jangan menempuh jalan yang berbahaya menuju kematian tersebut; melainkan, kita harus membina perkembangan pengetahuan rohani supaya kita dapat menjadi bebas sama sekali dari tangan maut yang begitu kejam.
Ini tidak berarti bahwa segala kegiatan demi pe-meliharaan badan harus dihentikan. Tidak mungkin kegiatan dihentikan, seperti halnya tidak mungkin suhu badan dihapus samasekali bila seseorang ingin supaya penyakit yang dialaminya disembuhkan. "Mempergunakan sesuatu yang kurang bagus dengan cara yang sebaik-baiknya" merupakan rumus yang cocok berhubungan dengan hal ini. Perkembangan pengetahuan rohani membutuhkan bantuan dari badan dan Pikiran ini; karena itu, pemeliharaan badan dan Pikiran dibutuhkan kalau kita ingin mencapai tujuan kita. Suhu badan normal hendaknya dipelihara pada suhu 37 derajat, dan para resi dan orang-orang suci telah berusaha melakukan demikian dengan acara yang seimbang terdiri dari pengetahuan rohani dan pengetahuan material. Mereka tidak pernah mengijinkan penyalah gunaan kecerdasan manusia demi kepuasan indera-indera yang telah diumpamakan sebagai penyakit.
Kegiatan manusia dengan penyakit yang berupa ke-cenderungan untuk memuaskan indera-indera telah diatur dalam Veda di bawah prinsip-prinsip pembebasan. Cara tersebut mempergunakan agama, perkembangan ekonomi, kepuasan indera-indera dan pembebasan, tetapi saat ini orang tidak tertarik pada agama maupun pembebasan. Tujuan mereka dalam kehidupan satu saja; yaitu, kepuasan indera-indera — dan untuk mencapai tujuan itu mereka membuat rencana-rencana untuk perkembangan ekonomi. Orang yang tersesat menganggap bahwa, alasan untuk memelihara agama adalah karena agama dapat membantu untuk perkembangan ekonomi, yang di-butuhkan untuk memuaskan indera-indera. Karena itu, untuk menjamin kepuasan indera-indera lebih lanjut setelah meninggal, yaitu di surga, ada suatu cara untuk mengikuti kegiatan keagamaan. Akan tetapi, maksud pembebasan bukanlah demikian. Jalan agama sebenarnya di-maksudkan untuk keinsafan diri, dan perkembangan ekonomi hanya dibutuhkan untuk memelihara badan dalam keadaan sehat dan kuat. Hendaknya seseorang hidup dengan cara yang sehat dan Pikiran yang waras hanya untuk menginsafi vidya, yaitu, pengetahuan yang sebenarnya; yang merupakan tujuan kehidupan manusia. Kehidupan itu tidaklah dimaksudkan untuk bekerja seperti keledai ataupun untuk mengembangkan avidya demi kepuasan indera-indera.
Jalan vidya disampaikan dengan cara yang paling sempurna dalam Srimad-Bhagavatam, yang mengarahkan seorang manusia supaya dia mempergunakan kehidupan-nya untuk bertanya tentang Kebenaran Yang Mutlak. Kebenaran Yang Mutlak diinsafi tahap demi tahap sebagai Brahman, Paramatma dan akhirnya Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Kebenaran Yang Mutlak diinsafi oleh orang yang berpandangan luas dan telah men-capai pengetahuan dan ketidakterikatan dengan mengikuti delapan belas prinsip dari Bhagavad-gita yang diuraikan dalam penjelasan mantra ke-sepuluh. Maksud pokok delapan belas prinsip tersebut ialah tercapainya kebaktian rohani kepada Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa. Karena itu, segala golongan manusia dinasehati agar mereka mempelajari ilmu tentang kebaktian kepada Tuhan. Jalan yang terjamin menuju vidya diuraikan oleh Sri Rupa Gosvami dalam hasil karyanya yang berjudul Bhakti-rasamrta-sindhu, yang telah kami terbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Nectar of Devotion. Perkembangan vidya diringkas dalam Srimad-Bhagavatam sebagai berikut: