Seseorang sungguh-sunguh diangkat sampai tataran transendental, melampaui sifat-sifat alam material, melalui proses pelaksanaan pelayanan bhakti menurut peraturan. Pada waktu itu, hati orang yang bersangkutan menjadi terang seperti ma-tahari. Matahari berada jauh di atas susunan-susunan planet, sehingga tidak mungkin matahari ditutupi oleh sejenis awan; begitu pula, apabila seorang penyembah disucikan bagaikan matahari, maka dari hatinya yang suci terpancaralah cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental yang lebih mulia daripada matahari. Hanya pada waktu itulah ikatan kepada Kṛṣṇa menjadi sempurna. Semangat penyembah yang bersangkutan untuk melayani Tuhan dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental bangkit secara spontan. Pada tahap ini, penyembah berada pada tingkat uttama-adhikārī, atau bhakti yang sempurna. Penyembah seperti itu tidak digoyahkan oleh berbagai rasa sayang yang bersifat material dan ia hanya tertarik pada pelayanan kepada Rādhā dan Kṛṣṇa.
Untuk lebih memperjelas, dalam bab-bab sebelumnya, ciri-ciri pelayanan bhakti sudah dijelaskan beserta pentunjuk-petunjuk tentang bagaimana kita dapat melaksanakan pelayanan bhakti dengan indera yang kita miliki sekarang dan berangsur-angsur naik sampai tingkat kebahagiaan transendental dalam cinta kasih rohani yang spontan. Dua jenis pelayanan bhakti sudah dibicarakan: yakni, pelayanan bhakti melalui prinsip-prinsip aturan dan pelayanan bhakti melalui cinta kasih rohani yang spontan. Pada tahap prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti ada dua bagian: yaitu, yang bersifat pelaksanaan dan yang bersifat efektif. Bagian efektif dalam pelayanan bhakti disebut bhāva, atau kebahagiaan transendental. Berhubungan dengan hal ini, dalam sastra tantra terdapat pernyataan bahwa kebahagiaan transendental merupakan tanda pertama cinta kasih rohani yang murni kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, dan pada tahap itu kadangkala orang yang bersangkutan keluar air mata atau menggigil. Gejala-gejala tersebut tidak selalu terwujud, tetapi sewaktu-waktu tampak. Pada waktu Mahārāja Ambarīṣa dipersulit oleh Durvāsā, beliau mulai berpikir tentang kaki-padma Tuhan, sehingga beberapa perubahan terjadi pada badannya, dan air matanya mengalir. Gejala-gejala tersebut merupakan kegiatan kebahagiaan transendental. Gejala-gejala itu kelihatan pada badan mengigil dan air mata keluar. Sesudah gejala-gejala tersebut muncul secara lahiriah, gejala-gejala itu tetap dalam pikiran, dan lanjutan kebahagian transendental disebut samādhi. Tahap menghargai Kṛṣṇa tersebut menjadi penyebab pertukaran lanjutan kegiatan percintaan rohani bersama Kṛṣṇa.
Pengangkatan sampai tahap kebahagiaan transendental tersebut dimungkinkan melalui dua cara. Cara pertama ialah melalui pergaulan dengan penyembah-penyembah murni secara terus-menerus. Cara lain melalui karunia istimewa Kṛṣṇa atau karunia penyembah-murni Kṛṣṇa. Pengangkatan sampai tahap hidup kebahagiaan transendental umumnya dicapai melalui pergaulan penyembah-penyembah murni sedangkan pengangkatan sam-pai tahap itu atas karunia istimewa Kṛṣṇa atau penyembah-Nya jarang sekali. Makna kenyataan ini ialah sebaiknya kita melak-sanakan pelayanan bhakti secara tegas sekali dalam pergaulan dengan penyembah-penyembah supaya ada kepastian dalam mengangkat diri sampai kedudukan kebahagiaan transendental tersebut. Tentunya dalam kasus-kasus istimewa ada karunia istimewa dari Kṛṣṇa dan meskipun kita harus selalu mengharapkan karunia istimewa itu hendaknya kita jangan duduk bermalas-malasan dan hanya menantikan karunia istimewa dari Kṛṣṇa; melainkan tugas-tugas menurut peraturan harus dilaksanakan. Ini seperti halnya kadang-kadang terdapat orang yang belum pernah belajar di sekolah atau perguruan tinggi namun diakui sebagai sarjana besar, atau gelar kehormatan dari universitas besar disandangkan padanya. Tetapi ini tidak berarti orang harus menghindari sekolah dan mengharapkan bahwa secara otomatis dia akan menerima gelar kehormatan dari universitas. Begitu pula, orang harus melaksanakan prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti dengan saleh dan pada waktu yang sama mengidamkan karunia Kṛṣṇa atau karunia penyembah-Nya.
Contoh naik sampai tahap cinta kasih rohani kebahagiaan transendental melalui pelaksanaan prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti diberikan dalam riwayat Nārada, yang diuraikan kepada Vyāsadeva dalam Śrīmad-Bhāgavatam. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam tersebut, Nārada menceriterakan penjelmaannya yang lalu dan bagaimana dirinya berkembang sampai tahap cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Beliau tekun dalam pelayanan kepada penyembah-penyembah yang agung dan suka mendengar pembicaraan serta lagu-lagu pujian mereka. Oleh karena beliau mendapat kesempatan mendengar kegiatan Kṛṣṇa dan lagu-lagu tentang Kṛṣṇa tersebut dari bibir penyembah-penyembah murni, beliau sangat tertarik di dalam hatinya. Oleh karena beliau sudah menjadi begitu semangat untuk mendengar hal-hal tersebut, cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa berangsur-angsur berkembang di dalam hatinya. Cinta kasih rohani kebahagiaan transendental tersebut merupakan tahap sebelum cinta kasih rohani yang murni kepada Kṛṣṇa, sebab dalam sloka berikutnya Nārada membenarkan bahwa beliau mengembangkan cinta kasih rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui proses mendengar dari resi-resi yang mulia tersebut secara bertahap. Berhubungan dengan hal itu, Nārada melanjutkan penjelasannya dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Satu, Bab Lima, sloka 28 sebagai berikut, “Pertama saya mengisi waktu saya dalam pergaulan dengan resi-resi mulia selama musim hujan dan musim gugur. Setiap pagi dan malam hari saya mendengarkan mereka saat mereka menyanyi dan mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa, sehingga hati saya berangsur-angsur disucikan. Begitu saya mendengarkan mereka dengan perhatian besar, pengaruh sifat-sifat material, yakni kebodohan dan nafsu, hilang, dan saya menjadi mantap dengan teguh dalam bhakti kepada Tuhan.”
Ini contoh-contoh nyata bagaimana seseorang dapat berkembang sampai tahap cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dental hanya melalui pergaulan penyembah-penyembah murni. Karena itu, adalah syarat mutlak bahwa kita harus senantiasa bergaul dengan penyembaah-penyembah murni yang tekun mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa pagi dan malam hari. Dengan cara demikian, kita akan mendapat kesempatan mensucikan hati kita dan mengembangkan cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental yang murni kepada Kṛṣṇa.
Pernyataan tersebut juga dibenarkan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Duapuluh Lima, sloka 25. Dalam sloka tersebut, Śrī Kapila bersabda, “Ibunda yang baik hati, apabila seseorang sungguh-sungguh dalam pergaulan dengan penyembah-penyembah murni, maka kesaktian mulia pelayanan bhakti-Ku dapat dialami.” Dengan kata lain, apabila penyembah-murni berbicara, kata-katanya memengaruhi hati nurani para pendengar. Apa rahasia kegiatan mendengar dan memuji? Seorang penceramah bayaran tidak dapat menanam-kan paikan kebahagiaan transendental ke dalam hati para pendengar. Akan tetapi, apabila orang yang sudah insaf-diri dan tekun dalam pelayanan kepada Tuhan berkata-kata, maka beliau mempunyai kekuatan untuk menyuntikkan kehidupan spiritual ke dalam hati pendengar. Karena itu, kita harus mencari pergaulan penyembah-penyembah yang suci-murni tersebut, dan melalui pergaulan dan pelayanan seperti itu, seorang penyembah pemula pasti akan mengembangkan ikatan, cinta kasih rohani dan bhakti kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam Kitab Padma Purāṇa ada cerita seorang penyembah (wanita) yang menari sepanjang malam untuk memohonkan karunia Tuhan pada dirinya dengan maksud agar dirinya naik sampai tingkat kebahagiaan transendental.
Akan tetapi, kadang-kadang dilihat seseorang tiba-tiba me-ngembangkan bhakti kepada Kṛṣṇa tanpa menjalankan suatu proses pelayanan bhakti. Pengembangan sikap bhakti secara tiba-tiba pada diri seseorang harus dimengerti sebagai karunia istimewa dari Kṛṣṇa atau penyembah-Nya. Pengembangan perasaan kebahagiaan transendental yang kelihatannya secara kebetulan saja dapat dibagi menjadi tiga bagian: hanya melalui pembicaraan, hanya melalui melihat dan hanya melalui doa restu yang baik.
Dalam Nāradiya Purāṇa ada pernyataan tentang pengembangan cinta kasih rohani kebahagiaan transendental hanya melalui pembicaraan. Śrī Kṛṣṇa bersabda kepada Nārada, “Wahai brāhmaṇa yang terbaik, Aku harap engkau dapat mengembangkan bhakti yang murni kepada-Ku, yang penuh dengan rasa kebahagiaan transendental dan segala sesuatu yang menyejahterakan.”
Dalam Skanda Purāṇa ada pernyataan tentang mengembangkan cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa hanya melalui melihat. Dalam Kitab tersebut dinyatakan, “Ketika para penduduk provinsi Jāńgala melihat Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Kṛṣṇa, mereka begitu terharu sehingga tidak bisa mengalihkan matanya dari melihat Dia.”
Mengenai doa restu dari hati nurani, ada pernyataan dalam Śuka-saḿhitā. Dalam Kitab tersebut, Nārada memberitahu Vyāsadeva, “Anda mempunyai putra. Ia penyembah Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa yang paling mulia, dan saya dapat mengamati bahwa tanpa mengikuti satu pun di antara prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti, dia sudah diperkaya dengan banyak ciri yang dicapai sesudah pelaksanaan pelayanan bhakti selama banyak penjelmaan.”
Ada pernyataan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tujuh, Bab Empat, sloka 36 mengenai cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa. Dalam sloka tersebut, Nārada berkata kepada Mahārāja Yudhiṣṭhira, “Baginda Raja yang saya hormati, sulit sekali menguraikan watak Prahlāda Mahārāja. Beliau mengembangkan rasa tertarik yang alamiah terhadap Kṛṣṇa, dan apa pun yang dapat saya lukiskan tentang watak beliau hanya akan merupakan susunan kata-kata; watak beliau yang sebenarnya tidak mungkin diuraikan.” Ini berarti Nārada sendiri mengakui perkembangan alamiah cinta kasih rohani kebahagiaan transendental Prahlāda terjadi atas berkat karunia Śrī Kṛṣṇa.
Rasa tertarik kepada Kṛṣṇa secara alamiah tersebut pada diri Prahlāda dikembangkan atas karunia Nārada. Pada waktu Prahlāda Mahārāja masih berada di dalam kandungan ibunya, Nārada bermurah hati memberi pelajaran kepadanya tentang ilmu bhakti, dan pada waktu yang sama Nārada sedang mengharapkan supaya si anak dalam kandungan juga dapat memanfaatkan pelajaran itu. Oleh karena Nārada, seorang penyembah Tuhan yang dikuasakan dan rekan mulia Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, sedang menginginkan kesejahteraan Prahlāda Mahārāja, Prahlāda mengembangkan segala ciri penyembah kelas-utama. Ini disebut rasa tertarik yang alamiah. Rasa itu disebabkan oleh karunia istimewa Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa atau atas karunia istimewa penyembah-mulia seperti Nārada.
Dalam Kitab Skanda Purāṇa, Parvata Muni menyatakan kepada Nārada, “Nārada yang baik hati, di antara semua orang suci, engkau begitu agung dan mulia sehingga hanya atas doa restumu yang baik seorang pemburu yang hina pun sudah menjadi penyembah Śrī Kṛṣṇa yang mulia dan maju.”
Cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa dapat dibagi menjadi lima bagian, yang akan diuraikan oleh Śrī Rūpa Gosvāmī nanti.