Hubungan Pribadi
Konsep spiritual yang ideal mengenai insan-insan yang menjadi ayah dan ibu Kṛṣṇa, Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa yang asli, dapat ditemukan dalam sikap para penduduk Vṛndāvana, misalnya Nanda Mahārāja dan Ibu Yaṣodā. Pada hakikatnya, tidak ada seorang pun yang dapat menjadi ayah atau ibu Kṛṣṇa, tetapi keadaan penyembah yang memiliki perasaan spiritual seperti itu disebut cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa dalam hubungan kasih sayang orang tua. Para Vṛṣṇi (anggota keluarga Kṛṣṇa di Dvārakā) juga merasa seperti itu. Jadi, cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa yang bersifat spontan dalam hubungan kasih sayang orang tua ditemukan baik di kalangan para penduduk Dvārakā yang termasuk keluarga besar Vṛṣṇi maupun di kalangan penduduk Vṛndāvana.
Cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa yang bersifat spontan sebagaimana diperlihatkan oleh para Vṛṣṇi dan para penduduk Vṛndāvana ada pada diri mereka selamanya. Pada tahap mengikuti prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti, cinta kasih rohani tersebut tidak perlu didiskusikan, sebab bhakti itu harus berkembang dengan sendirinya pada tahap lebih maju.
Syarat untuk Bhakti yang Spontan
Orang yang bercita-cita mengikuti jejak penyembah-penyembah Tuhan yang kekal seperti para Vṛṣṇi dan para penduduk Vṛndāvana disebut penyembah-penyembah rāgānugā, yang berarti mereka berusaha mencapai kesempurnaan penyembah-penyembah tersebut. Penyembah-penyembah rāgānugā tersebut tidak mengikuti prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti dengan tegas sekali, melainkan secara spontan mereka tertarik kepada beberapa penyembah-kekal, misalnya Nanda atau Yaṣodā, dan mereka berusaha mengikuti jejak langkah mereka secara spontan. Cita-cita menjadi seperti penyembah tertentu berkembang secara bertahap, dan kegiatan ini disebut rāgānugā.
Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa semangat untuk mengikuti jejak langkah para penduduk Vraja (Vṛndāvana) mustahil dicapai kecuali seseorang sudah bebas dari pence-maran material. Dalam mengikuti prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti, ada tahap yang disebut anartha-nivritti, yang berarti penghilangan segala pencemaran material. Kadangkala terdapat orang yang meniru sikap cinta kasih rohani tersebut, tetapi nyatanya ia belum bebas dari berbagai anartha, atau kebiasaan yang tidak diinginkan. Kita sudah melihat orang yang menamakan diri penyembah memaklumkan dirinya pengikut Nanda, Yaṣodā atau para gopī, namun pada saat yang sama rasa tertarik pada hubungan kelamin yang menjijikkan nampak pada dirinya. Manifestasi cinta kasih suci yang seperti itu adalah tiruan belaka dan tidak bernilai sama sekali. Apabila seseorang benar-benar tertarik pada prinsip-prinsip cinta kasih rohani para gopī secara spontan, maka corak pencemaran material yang paling kecil sekalipun tidak akan ditemukan pada wataknya.
Karena itu, pada tahap awal, semua orang harus mengikuti prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti dengan tegas, menurut undang-undang Kitab Suci dan guru spiritual. Hanya sesudah tahap pembebasan dari pencemaran material seseorang benar-benar dapat bercita-cita mengikuti jejak langkah para penyembah di Vṛndāvana.
Śrīla Rūpa Gosvāmī berkata, “Apabila seseorang sungguh-sungguh dibebaskan dari pencemaran material, maka ia selalu dapat ingat seorang penyembah yang kekal di Vṛndāvana untuk mencintai Kṛṣṇa dalam peran yang sama. Dengan mengembang-kan kemampuan seperti itu, ia akan selalu tinggal di Vṛndāvana, bahkan dalam pikirannya sekalipun.” Penjelasan pernyataan tersebut adalah kalau dimungkinkan, orang hendaknya pergi dan tinggal secara fisik di Vrajabhūmi, Vṛndāvana, dan selalu menekuni pelayanan kepada Tuhan, dengan mengikuti jejak-langkah para penyembah di Vraja-dhāma, yakni wilayah Vraja yang transendental. Akan tetapi, kalau tidak dimungkinkan seseorang tinggal di Vṛndāvana secara fisik, maka di mana pun ia dapat bermeditasi pada kehidupan tinggal di Vṛndāvana. Di mana pun ia berada, ia harus selalu berpikir tentang hidup di Vraja-dhāma dan tentang mengikuti jejak langkah penyembah tertentu dalam pelayanan kepada Tuhan.
Penyembah yang sungguh-sungguh maju dalam Kesadaran Kṛṣṇa, yang senantiasa tekun dalam pelayanan bhakti, hen-daknya jangan memperlihatkan kemajuannya, walaupun ia sudah mencapai kesempurnan. Yang dimaksud ialah ia harus selalu terus bertindak seolah-olah dirinya penyembah pemula selama badan jasmaninya masih ada. Kegiatan pelayanan bhakti di bawah prinsip-prinsip aturan harus diikuti bahkan oleh penyembah-murni sekalipun. Tetapi apabila ia menginsafi kedu-dukannya yang nyata berhubungan dengan Tuhan, maka pada waktu yang sama selama ia melaksanakan pelayanannya di bawah prinsip aturan, ia dapat berpikir tentang Tuhan di dalam hatinya, di bawah bimbingan rekan Tuhan tertentu, dan me-ngembangkan perasaan spiritualnya dalam mengikuti rekan Tuhan itu.
Berhubungan dengan hal ini, kita harus waspada tentang apa yang disebut siddha-praṇālī. Proses siddha-praṇālī tersebut diikuti oleh sekelompok orang yang tidak dibenarkan. Kelompok tersebut mengarang cara pelayanan bhakti-nya sendiri. Mereka membayangkan dirinya sudah menjadi rekan-rekan Tuhan hanya dengan cara mereka berpikir seperti itu. Tingkah laku lahiriah tersebut sama sekali tidak sesuai dengan prinsip-prinsip aturan. Yang disebut proses siddha-praṇālī diikuti oleh kaum prākÂŤta-sahajiyā, sebuah sekte palsu Vaiṣṇava-Vaiṣṇava gadungan. Menurut pendapat Rūpa Gosvāmī, kegiatan seperti itu hanya merupakan gangguan terhadap cara pelayanan bhakti yang baku.
Śrī Rūpa Gosvāmī mengatakan bahwa para ācārya yang terpelajar menyarankan agar kita mengikuti prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti, bahkan sesudah pengembangan cinta kasih rohani yang spontan terhadap Kṛṣṇa sekalipun. Menurut prinsip-prinsip aturan, ada sembilan bagian kegiatan, sebagaimana diuraikan di atas, dan orang harus menekuni jenis pelayanan bhakti sesuai dengan bakat kemampuannya. Misalnya, seseorang barangkali mempunyai minat tertentu untuk mendengar, sedangkan orang lain tertarik khususnya kepada memuji, dan orang lain lagi tertarik khususnya pada pelayanan di tempat sembahyang. Jadi, kegiatan tersebut, atau kegiatan mana pun dari keenam jenis pelayanan bhakti lainnya (ingat, melayani, berdoa, menekuni pelayanan tertentu, hidup dalam hubungan persahabatan dengan Tuhan atau mempersembahkan segala sesuatu yang kita miliki), harus dilaksanakan dengan saksama dan perhatian penuh. Dengan cara demikian, semua orang harus bertindak menurut seleranya yang khas.
Cinta Antar Kekasih
Bhakti yang mengikuti jejak langkah para gopī Vṛndāvana atau para permasuri Dvārakā disebut bhakti dalam rasa cinta antar kekasih. Pelayanan bhakti dalam rasa cinta antar kekasih tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah rasa cinta yang tidak langsung, sedangkan yang lain langsung. Dalam kedua golongan tersebut, seseorang harus mengikuti gopī tertentu yang menekuni pelayanan seperti itu di Goloka Vṛndāvana. Ikatan langsung kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dalam rasa cinta antar kekasih disebut dengan istilah keli. Pelaksanaan keli tersebut berarti berhubungan langsung dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Ada penyembah lain yang tidak menginginkan hubungan langsung dengan Personalitas Yang Paling Utama, tetapi mereka menikmati kegiatan percintaan rohani Tuhan bersama para gopī. Para penyembah tersebut menikmati hanya dengan mendengar tentang kegiatan Tuhan bersama para gopī.
Pengembangan rasa cinta antar kekasih tersebut hanya dimungkinkan bagi orang yang sudah tekun mengikuti prinsip-prinsip aturan bhakti, khususnya dalam pemujaan kepada Rādhā dan Kṛṣṇa di tempat sembahyang. Penyembah-penyembah tersebut berangsur-angsur mengembangkan cinta kasih rohani yang spontan terhadap Arca. Dengan mendengar tentang kegia-tan percintaan rohani yang bertimbal balik antara Tuhan dan para gopī, berangsur-angsur mereka tertarik pada kegiatan itu. Sesudah rasa tertarik yang bersifat spontan tersebut berkembang sampai tingkat yang tinggi, penyembah yang bersangkutan ditempatkan dalam salah satu dari dua golongan tersebut.
Pengembangan rasa cinta antar kekasih kepada Kṛṣṇa tersebut tidak hanya terwujud pada kaum wanita saja. Badan jasmani tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan cinta kasih rohani. Seorang wanita dapat mengembangkan sikap untuk menjadi seorang kawan Kṛṣṇa demikian pula seorang laki-laki dapat mengembangkan ciri untuk menjadi seorang gopī di Vṛndāvana. Bagaimana seorang penyembah dalam badan laki-laki dapat bercita-cita menjadi seorang gopī dijelaskan dalam Padma Purāṇa sebagai berikut: Pada zaman purbakala ada banyak resi di Daṇḍakāraṇya. Daṇḍakāraṇya adalah nama hutan tempat Śrī Rāmacandra tinggal sesudah diasingkan oleh ayah-Nya selama empat belas tahun. Pada waktu itu ada banyak resi yang sudah maju yang terpikat oleh ketampanan Śrī Rāmacandra dan ingin menjadi wanita untuk memeluk Dia. Kemudian resi-resi tersebut lahir di Goloka Vṛndāvana pada waktu Kṛṣṇa menjelma di sana. Mereka dilahirkan sebagai gopī-gopī, atau kekasih-kekasih Kṛṣṇa. Dengan cara demikian mereka mencapai kesempurnaan kehidupan spiritual.
Sejarah para resi dari Daṇḍakāraṇya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada waktu Śrī Rāmacandra tinggal di Daṇḍakāraṇya, resi-resi yang menekuni bhakti di sana tertarik kepada ketampanan-Nya sehingga mereka segera berpikir tentang para gopī di Vṛndāvana yang menikmati kasih sayang dalam rasa cinta antar kekasih bersama Kṛṣṇa. Dalam contoh ini, jelaslah para resi Daṇḍakāraṇya menginginkan cinta kasih rohani dengan cara seperti para gopī, meskipun mereka sepenuhnya menyadari Tuhan Yang Maha Esa baik sebagai Kṛṣṇa maupun sebagai Śrī Rāmacandra. Mereka mengetahui bahwa walaupun Rāmacandra adalah raja teladan dan tidak dapat beristri lebih dari satu orang, Śrī Kṛṣṇa, sebagai Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa yang sempurna, dapat memenuhi keingian mereka semua di Vṛndāvana. Resi-resi tersebut juga menyimpulkan bahwa bentuk Śrī Kṛṣṇa lebih menarik daripada bentuk Śrī Rāmacandra. Karena itu, mereka berdoa agar mereka dapat menjadi gopī-gopī dalam penjelmaan-penjelmaannya yang akan datang untuk bergaul dengan Kṛṣṇa.
Śrī Rāmacandra diam, yang menunjukkan Dia mengabulkan doa-doa para resi. Dengan demikian, para resi menerima berkat Śrī Rāmacandra bahwa mereka dapat bergaul dengan Śrī Kṛṣṇa dalam penjelmaan-penjelmaannya yang akan datang. Sebagai hasil berkat tersebut, mereka semua dilahirkan sebagai wanita-wanita dari kandungan para gopī di Gokula. Kemudian mereka menikmati pergaulan Śrī Kṛṣṇa, yang pada waktu itu berada di Gokula Vṛndāvana, sesuai dengan keinginan mereka dari penjelmaannya yang lalu. Kesempurnaan kehidupan mereka sebagai manusia tercapai seperti itu dengan cara mereka mengembangkan perasaan spiritual untuk ikut berperan dalam percintaan rohani bersama Śrī Kṛṣṇa.
Rasa cinta antar kekasih dibagi menjadi dua golongan—yakni cinta kasih rohani sebagai suami dan istri dan cinta kasih rohani sebagai kekasih dan kekasih. Orang yang mengembangkan cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa sebagai seorang istri diangkat ke Dvārakā, tempat penyembah yang bersangkutan menjadi permaisuri Śrī Kṛṣṇa. Orang yang mengembangkan cinta kasih rohani kepada Kṛṣṇa sebagai seorang kekasih diangkat sampai Goloka Vṛndāvana, untuk bergaul dengan para gopī dan menikmati kegiatan percintaan rohani bersama Kṛṣṇa di sana. Akan tetapi, kita harus memperhatikan dengan saksama bahwa rasa cinta antar kekasih untuk Kṛṣṇa tersebut, baik sebagai gopī maupun sebagai permaisuri, tidak terbatas hanya pada kaum wanita saja. Pria pun dapat mengembangkan perasaan seperti itu, sebagaimana terbukti oleh para resi Daṇḍakāraṇya. Kalau seseorang hanya menginginkan hubungan cinta antar kekasih, tetapi tidak mengikuti jejak-langkah para gopī, maka ia diangkat sampai pergaulan dengan Tuhan di Dvārakā.
Dalam Mahā-kūrma Purāṇa dinyatakan, “Resi-resi mulia, putra-putra dewa-dewa api, mengikuti prinsip-prinsip aturan secara tegas dengan keinginan mendapat hubungan cinta antar kekasih dengan Kṛṣṇa. Karena itu, dalam penjelmaan-penjelmaan berikutnya mereka dapat bergaul dengan Tuhan, asal mula ciptaan, yang dikenal sebagai Vāsudeva, atau Kṛṣṇa, dan mereka semua mendapatkan Dia sebagai suaminya.”
Kasih Sayang Orang Tua atau Persahabatan
Penyembah-penyembah yang tertarik kepada Kṛṣṇa dengan rasa kasih sayang orang tua atau sebagai kawan-kawan harus masing-masing mengikuti jejak Nanda Mahārāja atau Subala. Nanda Mahārāja adalah ayah angkat Kṛṣṇa, sedangkan di antara semua sahabat Kṛṣṇa, Subala-lah yang paling akrab di Vrajabhūmi.
Dalam perkembangan usaha menjadi ayah atau kawan Śrī Kṛṣṇa, ada dua cara. Salah satu cara adalah seseorang dapat berusaha menjadi ayah Tuhan secara langsung, sedangkan cara lain adalah ia dapat mengikuti Nanda Mahārāja dan mengidamkan cita-cita menjadi ayah Kṛṣṇa. Di antara dua cara tersebut, usaha menjadi ayah Kṛṣṇa secara langsung tidak dianjurkan. Perkembangan seperti itu dapat dicemari dengan filsafat Māyāvādā (impersonalis). Kaum Māyāvādī, atau orang impersonalis, berpikir diri mereka adalah Kṛṣṇa. Kalau seseorang berpikir dirinya sudah menjadi Nanda Mahārāja, maka cinta kasih rohani dengan rasa kasih sayang orang tua yang ada pada dirinya akan tercemar dengan filsafat Māyāvādā. Cara pikir menurut filsafat Māyāvādā merupakan kesalahan terhadap Tuhan. Orang yang berbuat salah seperti itu tidak diizinkan memasuki kerajaan Kṛṣṇa untuk bergaul dengan Dia.
Dalam Kitab Skanda Purāṇa ada cerita tentang orang yang sudah lanjut usia yang tinggal di Hastināpura, ibukota para Pāṇḍu, yang bercita-cita mendapatkan Kṛṣṇa sebagai putra kesayangannya. Orang yang sudah lanjut usia ini diberi pelajaran oleh Nārada supaya mengikuti jejak Nanda Mahārāja, dan dengan cara demikian dia mencapai sukses.
Ada pernyataan dalam doa-doa Nārāyaṇa-vyūha-stava bahwa orang yang selalu tekun berpikir tentang Tuhan sebagai suami, kawan, ayah, atau yang mengharapkan kesejahteraan selalu patut dipuja oleh semua orang. Rasa cinta yang spontan kepada Kṛṣṇa tersebut hanya dapat dikembangkan atas karunia istimewa dari Kṛṣṇa atau penyembah-Nya yang murni. Proses pelayanan bhakti tersebut kadang-kadang disebut puṣṭi-mārga. Puṣṭi berarti “memupuk atau memberi gizi”, sedangkan mārga berarti “jalan”. Pengembangan perasaan seperti itu memupuk bhakti sampai derajat tertinggi. Karena itu, jalan itu disebut jalan yang memupuk atau memberi gizi, atau puṣṭi-mārga. Vallabha-sampradāya, yang termasuk sekte Viṣṇusvāmī dalam perguruan Vaiṣṇava, memuja Kṛṣṇa dalam puṣṭi-mārga tersebut. Pada umumnya para penyembah di Gujarat menyembah Bāla Kṛṣṇa, menurut golongan puṣṭi-mārga itu.