Mendengar Kitab-kitab Suci yang diwahyukan
Menurut Śrīla Rūpa Gosvāmī, setiap buku yang memberikan pencerahan dalam hal mencapai kemajuan dalam pelayanan bhakti diakui sebagai Kitab Suci. Śrīla Madhvācārya juga mendefinisikan Kitab Suci yang diwahyukan, yaitu Kitab Suci Rāmayana, Mahābharata, Purāṇa-Purāṇa, Upaniṣad-upaniṣad, Vedānta—serta sastra lain yang ditulis dengan mengikuti Kitab Suci yang diwahyukan seperti yang tersebut di atas.
Dalam Skanda Purāṇa, ada pernyataan sebagai berikut: “Orang yang senantiasa tekun membaca sastra yang menguraikan pengembangan bhakti Vaiṣṇava selalu mulia dalam masyarakat manusia, dan pasti Śrī Kṛṣṇa senang padanya. Orang yang menyimpan dengan saksama sekali di rumahnya dan bersujud dengan hormat kepada sastra itu, dibebaskan dari segala reaksi dosa dan akhirnya pada tingkat tertinggi ia patut disembah bahkan oleh para dewa sekalipun.”
Dikatakan pula kepada Nārada Muni, “Śrī Nārada yang hamba muliakan, Śrī Nārāyaṇa selalu tinggal di rumah orang yang menulis sastra Vaiṣṇava dan menyimpan sastra itu di rumahnya.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Duabelas, Bab Tiga Belas, sloka 15, dinyatakan, “Śrīmad-Bhāgavatam adalah hakikat segala filsafat Vedānta. Siapa pun yang sudah menjadi terikat dengan cara apa pun terhadap kegiatan membaca Śrīmad-Bhāgavatam tidak mungkin mempunyai selera membaca sastra lain lagi. Dengan kata lain, orang yang sudah menikmati nektar Śrīmad-Bhāgavatam tidak mungkin puas dengan tulisan material.
Tinggal di Mathurā
Dalam Varāha Purāṇa, ada pernyataan yang memuji tempat tinggal di Mathurā. Śrī Varāha memberitahu manusia di bumi, “Siapa pun yang tertarik kepada tempat-tempat selain Mathurā pasti akan dipikat oleh energi ilusif.” Dalam Brahmanda Purāṇa, dinyatakan bahwa segala hasil berziarah ke semua tempat suci dalam ketiga dunia dapat dicapai dengan menyentuh tanah suci Mathurā saja. Dalam banyak sastra (Kitab Suci) dinyatakan bahwa hanya dengan mendengar, ingat, memuji, menginginkan, melihat atau menyentuh tanah Mathurā, segala sesuatu yang diinginkan dapat dicapai.
Melakukan Pelayanan kepada Para Penyembah
Dalam Padma Purāṇa, ada pernyataan bagus yang memuji pelayanan kepada para Vaiṣṇava, atau para penyembah. Dalam Kitab Suci tersebut, Dewa Śiva memberitahu Pārvatī, “Pārvatī yang baik hati, ada berbagai jenis sembahyang, dan di antara segala cara itu, sembahyang kepada Personalitas Yang Paling Utama dianggap tertinggi. Tetapi sembahyang kepada para penyembah Tuhan bahkan lebih tinggi lagi daripada sembahyang kepada Tuhan.”
Pernyataan yang serupa terdapat dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tiga, Bab Tujuh, sloka 19, yang berbunyi: “Perkenankanlah saya menjadi hamba yang tulus ikhlas yang me-ngabdikan diri kepada para penyembah Tuhan, sebab dengan mengabdi kepada mereka, seseorang dapat mencapai bhakti yang murni kepada kaki-padma Tuhan. Pelayanan kepada para penyembah mengurangi segala keadaan material yang sengsara dan mengembangkan bhakti yang dalam di dalam hati orang terhadap Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa”
Dalam Skanda Purāṇa, ada pernyataan yang serupa: “Orang yang badannya ditandai dengan tilaka, yang melambangkan kerang, cakra, gada, dan bunga padma—dan menaruh daun tulasī pada kepalanya, dan badannya selalu dihiasi dengan gopī-candana—kalau mereka dilihat bahkan satu kali saja, maka itu dapat menolong orang yang melihat untuk dibebaskan dari se-gala kegiatan yang berdosa.”
Pernyataan yang serupa dengan itu ditemukan dalam Śrīmad Bhāgavatam, Skanda Satu, Bab Sembilanbelas, sloka 33: “Tidak dapat diragukan bahwa seseorang dibebaskan dari segala reaksi kegiatan berdosa sesudah ia mengunjungi seorang penyembah, menyentuh kaki-padma seorang penyembah, atau mempersilakan penyembah duduk. Seseorang beserta seluruh ke-luarganya disucikan dengan ingat kegiatan seorang Vaiṣṇava seperti itu. Jadi, apa yang dapat dikatakan tentang kemuliaan mengabdikan diri secara langsung kepada Vaiṣṇava itu?
Dalam ṇdi Purāṇa terdapat pernyataan dari Śrī Kṛṣṇa Sendiri kepada Arjuna sebagai berikut: “Pārtha yang baik hati, orang yang mengatakan dirinya penyembah-Ku bukanlah penyembah-Ku. Hanya orang yang mengatakan dirinya adalah penyembah dari penyembah-Ku yang sesungguhnya adalah penyembah-Ku.” Tidak seorang pun dapat mendekati Personalitas Tuhan Yang Maha Esa secara langsung. Orang harus mendekati Dia melalui para penyembah-Nya yang murni. Karena itu, dalam sistim kegiatan Vaiṣṇava, kewajiban pertama ialah berguru kepada seorang penyembah sebagai guru spiritual kemudian mengabdikan diri kepada penyembah itu.
Śrīla Rūpa Gosvāmī membenarkan bahwa segala kutipan yang dikemukakan dalam Bhakti-rasāmṛta-sindhu dari berbagai Kitab Suci diakui oleh para ācārya yang mulia dan penyembah-penyembah Tuhan.
Melayani Tuhan Menurut Kemampuan Kita
Dalam Padma Purāṇa, ada pernyataan bahwa sebaiknya orang melakukan festival-festival untuk Tuhan menurut kemam-puannya. Semua orang harus merayakan berbagai upacara dan perayaan Tuhan dengan segala upayanya.
Melakukan Pelayanan Bhakti Selama Bulan Kārttika
Di antara upacara-upacara tersebut, salah satu upacara yang paling penting disebut Ūrja-vrata. Ūrja-Vrata dirayakan selama bulan Kārttika (OktoberNovember); khususnya di Vṛndāvana ada acara khusus untuk sembahyang kepada Tuhan dalam bentuknya sebagai Dāmodara di tempat sembahyang. “Dāmodara” berarti Kṛṣṇa yang diikat dengan tali oleh ibunya, Yaṣodā. Dinyatakan bahwa seperti halnya Śrī Dāmodara sangat dicintai oleh para penyembah-Nya, begitu pula bulan Dāmodara atau Kārttika pun sangat dicintai oleh mereka. Pelaksanaan pelayanan bhakti selama Ūrja-vrata pada bulan Kārttika khususnya dianjurkan untuk dilakukan di Mathurā. Sistem ini masih diikuti oleh banyak penyembah. Mereka pergi ke Mathurā atau Vṛndāvana dan tinggal di sana selama bulan Kārttika khususnya untuk melakukan pelayanan bhakti selama masa itu.
Dalam Padma Purāṇa dinyatakan, “Barangkali Tuhan menganugerahkan pembebasan atau kebahagiaan material kepada seorang penyembah, tetapi sesudah sejumlah pelayanan bhakti telah dilaksanakan, khususnya di Mathurā selama bulan Kārttika, para penyembah hanya ingin mencapai pelayanan bhakti yang murni kepada Tuhan.” Sloka tersebut berarti Tuhan tidak menganugerahkan pelayanan bhakti kepada orang biasa yang tidak sungguh hati tentang pelayanan bhakti. Tetapi bahkan orang yang tidak serius seperti itu yang melakukan pelayanan bhakti menurut prinsip yang mengatur selama bulan Kārttika, di wilayah Mathurā di India, juga dengan mudah dianugerahi kesempatan mengabdikan diri kepada Tuhan secara pribadi.
Merayakan Festival yang Memperingati Kegiatan Śrī Kṛṣṇa
Dalam Bhaviṣya Purāṇa ada pernyataan tentang perayaan berbagai upacara yang memuliakan hari ulang tahun penjelmaan Śrī Kṛṣṇa (hari ulang tahun) serta kegiatan spiritual Śrī Kṛṣṇa lainnya. Dalam Bhaviṣya Purāṇa dinyatakan, “Śrī Janārdana [Kṛṣṇa], tolong memberitahu kami tentang tanggal Engkau dilahirkan oleh Ibu Devakī-devi. Kalau Engkau berkenan memberitahu kami tentang hal ini, maka kami akan mengadakan perayaan besar pada tanggal itu. Wahai pembunuh Keṣi, kami roh-roh yang sudah seratus persen berserah-diri kepada kaki-padma-Mu, dan kami hanya ingin memuaskan hati-Mu dengan upacara-upacara kami.”
Pernyataan dari Bhaviṣya Purāṇa tersebut membuktikan bahwa dengan merayakan berbagai upacara berhubungan dengan Tuhan seseorang pasti menyenangkan hati Tuhan.
Melayani Arca dengan Sikap Bhakti yang Besar
Dalam ṇdi Purāṇa dinyatakan, “Orang yang senantiasa tekun mengucapkan nama suci dan merasa kebahagiaan rohani karena ia tekun dalam pelayanan bhakti, pasti dianugerahi fasilitas pelayanan bhakti dan tidak pernah hanya diberi mukti [pembebasan] saja.”
Mukti berarti pembebasan dari pengaruh material; kalau seseorang sudah mencapai pembebasan, ia tidak harus dilahir-kan lagi di dunia material. Orang impersonalis ingin manunggal ke dalam keberadaan spiritual, untuk mengakhiri kehidupan pribadinya. Tetapi menurut Śrīmad Bhāgavatam, mukti hanyalah tahap awal seseorang menjadi mantap dalam kedudukannya yang normal. Keadaan normal setiap makhluk hidup ialah keadaan tekun dalam pelayanan bhakti kepada Tuhan. Dan pernyataan ṇdi Purāṇa tersebut di atas, kelihatannya seorang penyembah puas hanya dengan menjadi tekun dalam pelayanan suci. Ia tidak bercita-cita mencapai pembebasan dari kehidupan material yang terikat. Dengan kata lain, siapa pun yang tekun dalam pelayanan bhakti tidak berada dalam keadaan hidup yang bersifat material, walaupun barangkali kelihatannya demikian.
Membacakan Śrīmad-Bhāgavatam Bersama Para Penyembah
Śrīmad-Bhāgavatam adalah pohon kebijaksanaan Veda yang memenuhi segala keinginan. Veda sendiri berarti “Jumlah seluruh pengetahuan.” Pengetahuan apa pun yang diperlukan untuk masyarakat manusia dikemukakan secara sempurna dalam Śrīmad-Bhāgavatam. Ada berbagai cabang pengetahuan dalam sastra Veda, termasuk sosiologi, politik, ilmu kedokteran serta ilmu militer. Segala cabang pengetahuan tersebut dan juga cabang-cabang pengetahuan lainnya diuraikan secara sempurna dalam Veda. Karena itu, pengetahuan spiritual juga diuraikan secara sempurna di sana, dan Śrīmad-Bhāgavatam dianggap sebagai buah matang dari pohon Veda yang memenuhi segala keinginan tersebut. Pohon dihormati menurut buah yang dihasilkannya. Misalnya, pohon mangga dianggap berharga sekali karena ia menghasilkan raja buah, yaitu buah mangga. Apabila buah mangga sudah matang, buah itu merupakan sajian puncak dari pohon mangga itu. Begitu pula, Śrīmad-Bhāgavatam dihar-gai sebagai buah matang dari pohon Veda. Ibarat buah matang yang menjadi lebih nikmat kalau disentuh terlebih dahulu oleh paruh burung parkit, atau ṣuka; Śrīmad-Bhāgavatam sudah menjadi lebih nikmat dengan disampaikan melalui bibir spiritual Śukadeva Gosvāmī.
Śrīmad-Bhāgavatam harus diterima dalam garis perguruan yang tidak terputus. Buah matang tidak akan pecah kalau diturunkan dari bagian paling atas sampai ke bawah pada sebatang pohon dengan cara diturunkan dari cabang tinggi ke cabang rendah melalui kerjasama banyak orang yang memanjat pohon itu. Apabila Śrīmad-Bhāgavatam diterima dalam sistem paramparā atau garis perguruan, maka Śrīmad-Bhāgavatam akan tetap tidak pecah seperti buah mangga dalam perumpamaan tersebut. Dinyatakan dalam Bhagavad-gītā bahwa garis perguruan, atau paramparā, adalah cara untuk menerima penge-tahuan spiritual. Pengetahuan seperti itu harus turun melalui garis perguruan, melalui orang-orang yang dibenarkan yang mengetahui maksud sejati sastra itu.
Śrī Caitanya Mahāprabhu menganjurkan supaya orang memelajari Śrīmad-Bhāgavatam dari bibir orang yang sudah insaf-diri yang di sebut bhāgavata. Bhāgavata berarti “Ber-hubungan dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa [Bhagavān].” Jadi, seorang penyembah kadang kadang disebut bhāgavatam, dan buku berhubungan dengan bhakti kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa juga disebut Bhāgavatam. Śrī Caitanya Mahāprabhu menganjurkan supaya sebaiknya orang menerima pelajaran dari seorang bhāgavatam untuk menikmati rasa Śrīmad-Bhāgavatam yang sejati. Śrīmad-Bhāgavatam dinikmati bahkan oleh orang yang sudah mencapai pembebasan sekalipun. Śukadeva Gosvāmī mengakui bahwa walaupun beliau sudah mencapai pembebasan sejak berada di dalam kandungan ibunya, namun hanya sesudah menikmati Śrīmad-Bhāgavatam beliau menjadi penyembah yang mulia. Jadi, orang yang maju dalam kesadaran Kṛṣṇa harus menikmati penjelasan arti Śrīmad-Bhāgavatam melalui diskusi antara penyembah-penyembah yang dapat dipercaya.
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Dua, Bab Satu, sloka 9, Śukadeva Gosvāmī mengakui bahwa walaupun beliau sangat tertarik kepada Brahman yang impersonal, pada waktu beliau mendengar kegiatan spiritual Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dari bibir ayahnya, Vyāsadeva, beliau semakin tertarik kepada Śrīmad-Bhāgavatam. Yang dimaksud ialah bahwa Vyāsadeva juga roh yang sudah insaf-diri, dan sumbangannya yang matang berupa pengetahuan spiritual disampaikan secara langsung kepada Śukadeva Gosvāmī dengan cara yang tersebut di atas.
Bergaul dengan Penyembah-Penyembah yang Sudah Maju
Śaunaka Muni menjelaskan pentingnya diskusi tentang Śrīmad-Bhāgavatam dalam pergaulan dengan penyembah-penyembah murni selama pertemuan di Naimiṣāraṇya, di hadapan Sūta Gosvāmī. Sūta Gosvāmī membenarkan bahwa kalau seseorang cukup beruntung hingga dapat bergaul dengan seorang penyembah-murni bahkan selama sesaat pun, maka saat itu sangat berharga sehingga kegiatan saleh yang dapat mengangkat seseorang sampai planet-planet surga atau menganugerahkan pembebasan dari kesengsaraan material juga tidak dapat disa-makan dengan saat itu. Dengan kata lain, orang yang terikat pada Śrīmad-Bhāgavatam tidak memedulikan segala jenis manfaat yang diperoleh dari pengangkatan sampai kerajaan-kerajaan di planet-plenet yang lebih tinggi, ataupun pembebasan yang dibayangkan oleh orang impersonalis. Karena itu, pergaulan dengan penyembah-penyembah murni bersifat spiritual sekali dan sangat berharga sehingga tiada sejenis kebahagian material pun yang dapat dibandingkan denganya.
Dalam Kitab Hari-bhakti-sudhodaya, ada percakapan antara Prahlāda Mahārāja dan ayahnya, Hiraṇyakaṣipu. Dalam percakapan itu, Hiraṇyakaṣipu berkata kepada Prahlāda sebagai berikut: “Anakku yang baik hati, pergaulan sangat penting. Pergaulan bertindak seperti batu berlian, yang akan mencer-minkan segala sesuatu yang diletakkan di depannya.” Begitu pula, kalau kita bergaul dengan para penyembah Tuhan yang sifatnya seperti bunga, dan kalau hati kita menjadi sebening berlian, maka efek yang sama akan dialami. Perumpamaan lain yang dikemukakan berhubungan dengan hal ini ialah bahwa kalau seorang laki-laki kuat dan seorang wanita tidak mengidap penyakit, maka hubungan keduanya akan menyebabkan wanita itu hamil. Dengan cara yang sama, kalau si penerima penge-tahuan spiritual dan yang menyampaikan pengetahuan spiritual tulus ikhlas dan otoritatif, maka hasil yang baik akan diperoleh.
Mengucapkan Nama Suci Tuhan
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Dua, Bab Pertama, sloka 11, pentingnya cara mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa, Hare Kṛṣṇa, Kṛṣṇa Kṛṣṇa, Hare Hare/ Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare sangat ditegaskan sebagai berikut. Śukadeva Gosvāmī memberitahu Mahārāja Parīkṣit, “Baginda Raja yang saya hormati, kalau seseorang terikat pada cara mengucapkan mahā-mantra Hare Kṛṣṇa secara spontan, harus dimengerti bahwa dia sudah mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi.” Disebutkan secara khusus bahwa para karmī yang mengharapkan pahala dari kegiatannya, orang yang ingin mencapai pembebasan dan manunggal dengan Personalitas Yang Paling Utama, dan para yogī yang bercita-cita memeroleh kekuatan mistik dapat memeroleh hasil dari segala tingkat kesempurnaan hanya dengan mengucapkan mahā-mantra saja. Śukadeva menggunakan kata nirṇītam, yang berarti, “itu sudah dipu-tuskan.” Śukadeva Gosvāmī adalah insan yang sudah mencapai pembebasan. Karena itu, beliau tidak dapat menerima sesuatu yang tidak merupakan kesimpulan yang pasti. Karena itu, Śukadeva Gosvāmī khususnya menegaskan sudah disimpulkan bahwa orang yang sudah mencapai tingkat mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa dengan tabah hati dan mantap maka ia sudah melampaui ujian kegiatan yang mengharapkan pahala, spekulasi mental dan yoga mistik.
Hal yang sama dibenarkan dalam Adi Purāṇa oleh Kṛṣṇa. Śrī Kṛṣṇa berkata kepada Arjuna, “Harus diakui bahwa siapa pun yang tekun mengucapkan nama suci-Ku selalu bergaul dengan-Ku. Perkenankanlah Aku memberitahu secara terus-terang kepadamu bahwa Aku mudah sekali dibeli oleh penyembah seperti itu.”
Dalam Padma Purāṇa juga dinyatakan, “Ucapan mantra Hare Kṛṣṇa hanya ada pada bibir orang yang sudah menyembah Vāsudeva selama banyak penjelmaannya.” Dalam Padma Purāṇa, dinyatakan lebih lanjut. “Tidak ada perbedaan antara nama suci Tuhan dan Tuhan Sendiri. Karena itu, Nama Suci Tuhan sesempurna Tuhan Sendiri dalam kesempurnaan, kesucian dan kekekalan. Nama suci bukanlah getaran suara material, dan nama suci Tuhan tidak dipengaruhi secara ma-terial.” Karena itu, nama suci tidak dapat diucapkan tanpa kesalahan oleh orang yang belum berhasil mensucikan indera-inderanya. Dengan kata lain, indera-indera material tidak dapat mengucapkan nama suci mahā-mantra Hare Kṛṣṇa dengan cara yang benar. Tetapi kalau seseorang memulai proses pengucapan mahā-mantra ini, ia diberi kesempatan untuk sungguh-sungguh mensucikan diri, sehingga dalam waktu yang dekat sekali ia dapat mengucapkan nama suci Kṛṣṇa tanpa berbuat kesalahan.
Caitanya Mahāprabhu menganjurkan supaya semua orang mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa hanya untuk mensucikan debu dari hatinya. Kalau debu dari hati disucikan, maka seseorang sungguh-sungguh dapat mengerti pentingnya nama suci. Orang yang tidak berminat membersihkan debu dari hatinya dan ingin memelihara keadaan yang ada, tidak mungkin memeroleh hasil spiritual dari ucapan mantra Hare Kṛṣṇa. Karena itu, orang harus diberi semangat untuk mengembangkan sikap pelayanannya terhadap Tuhan, sebab ini akan membantunya untuk me-ngucapkan nama suci Tuhan tanpa berbuat kesalahan. Jadi, seorang murid dilatih di bawah perlindungan seorang guru spiritual untuk mengabdikan diri dan pada waktu yang sama mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa. Begitu seseorang mengembangkan sikap pelayanannya yang spontan, ia dapat segera mengerti hakikat spiritual nama-nama suci mahā-mantra.
Tinggal di Mathurā
Dalam Padma Purāṇa, ada pernyataan tentang pentingnya tinggal di tempat-tempat suci seperti Mathurā atau Dvārakā. Dalam Padma Purāṇa dinyatakan, “Berziarah ke berbagai tempat suci berarti mencapai pembebasan dari ikatan material. Akan tetapi, pembebasan ini bukan tahap kesempurnaan tertinggi. Sesudah mencapai tahap pembebasan tersebut, seseorang harus menekuni pelayanan bhakti kepada Tuhan. Sesudah orang mencapai tingkat brahma-bhūta (pembebasan), ia dapat maju lebih lanjut sampai tahap ia tekun dalam pelayanan bhakti. Karena itu, tercapainya cinta kasih rohani kepada Tuhan adalah tujuan hidup, dan tujuan itu dapat dicapai dengan mudah sekali oleh orang yang tinggal di Mathurā-maṇḍala bahkan selama beberapa detik pun.”
Dikatakan lebih lanjut, “Siapa yang tidak setuju untuk menyembah tanah Mathurā? Mathurā dapat memenuhi semua keinginan dan cita-cita orang yang bekerja mengharapkan pahala dan orang yang ingin mencapai pembebasan, yang ingin manunggal dengan Brahman Yang Paling Utama. Mathurā pasti akan memenuhi keinginan para penyembah yang hanya bercita-cita menekuni pelayanan bhakti kepada Tuhan.” Dalam sastra Veda juga dinyatakan, “Alangkah ajaibnya bahwa hanya dengan tinggal di Mathurā bahkan selama satu hari pun, seseorang dapat mencapai sikap cinta kasih rohani kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa! Tanah Mathurā ini pasti lebih mulia dari Vaikuṇṭha-dhama, kerajaan Tuhan!”