Pelayanan
Menurut pendapat para karmī (orang yang bekerja dengan tujuan memeroleh hasil atau pahala untuk dinikmati), mempersembahkan hasil seperti karma disebut pelayanan. Tetapi menurut para ācārya Vaiṣṇava seperti Rūpa Gosvāmī, pelayanan berarti kesibukan senantiasa dalam salah satu jenis pelayanan kepada Tuhan.
Dalam Skanda Purāṇa, dikatakan bahwa orang yang terikat pada kegiatan ritual, empat golongan hidup masyarakat dan empat tahap kehidupan spiritual, diakui sebagai penyembah. Tetapi apabila penyembah benar-benar tekun dalam pelayanan kepada Tuhan secara langsung, penyembah-penyembah ini pasti adalah para bhāgavata, atau penyembah-penyembah murni. Orang yang sibuk dalam kegiatan tugas-tugas yang mengharapkan pahala atau tugas-tugas yang ditetapkan menurut empat golongan hidup masyarakat dan kehidupan spiritual, sebenarnya bukan penyembah-penyembah murni. Namun, oleh karena mereka mempersembahkan hasil kepada Tuhan, mereka diakui sebagai penyembah. Apabila mereka tidak memiliki keinginan seperti itu, melainkan bertindak secara spontan karena pelayanan bhakti kepada Tuhan, maka orang seperti itu harus diakui sebagai penyembah-murni. Roh-roh terikat yang sudah berhubungan dengan dunia material semua kurang lebih ingin berkuasa atas alam material. Sistem varṇāṣrama serta tugas-tugas kewajiban yang ditetapkan menurut sistem ini dirancang sedemikian rupa supaya roh yang terikat dapat menikmati di dunia material menurut keinginan untuk kepuasan indera dan pada waktu yang sama berangsur-angsur diangkat sampai pengertian spiritual. Menurut tugas-tugas kewajiban varṇa dan āṣrama yang ditetapkan, ada banyak kegiatan yang termasuk pelayanan bhakti dalam Kesadaran Kṛṣṇa. Penyembah-penyembah yang berumah tangga menerima upacara-upacara ritual Veda sekalian dengan tugas-tugas pelayanan bhakti yang ditetapkan, sebab kedua-duanya dimaksudkan untuk memuas-kan Kṛṣṇa. Apabila penyembah-penyembah yang berumah tangga melakukan tugas-tugas kewajiban ritual Veda, mereka melakukan demikian untuk memuaskan Kṛṣṇa. Sebagaimana sudah kami bicarakan sebelumnya, kegiatan mana pun yang bertujuan untuk memuaskan Personalitas Tuhan Yang Maha Esa dianggap pelayanan bhakti.
Śrīla Rūpa Gosvāmī menguraikan tentang orang yang memenuhi syarat untuk menekuni pelayanan bhakti. Beliau mengatakan bahwa orang yang baru mulai belajar dan sudah mengembangkan sekedar bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak tertarik pada kegiatan kepuasan indera-indera setimpal dengan bhakti-nya. Tetapi kalau mereka masih sedikit tertarik pada kegiatan untuk memuaskan indera, maka hasil kegiatan itu harus dipersembahkan kepada Kṛṣṇa. Ini juga disebut kesibukan dalam pelayanan kepada Tuhan, dengan Tuhan sebagai penguasa dan yang bekerja sebagai pelayan.
Dalam Nāradiya Purāṇa, ada pernyataan tentang bagaimana pelayanan tersebut bersifat spiritual. Dinyatakan dalam Nāradiya Purāṇa bahwa orang yang senantiasa tekun dalam pelayanan bhakti dengan badan, pikiran dan kata-katanya, ataupun orang yang belum tekun secara nyata tetapi hanya ingin menjadi seperti itu, dianggap sudah mencapai pembebasan.
Pelayanan Bhakti dalam Persahabatan
Pelayanan bhakti dalam persahabatan dapat dibagi menjadi dua golongan: golongan pertama berarti bertindak sebagai hamba yang dekat kepada Tuhan, sedangkan golongan lain bertindak sebagai yang mengharapkan kesejahteraan Tuhan. Seorang penyembah yang yakin terhadap pelayanan bhakti kepada Tuhan mengikuti aturan dan peraturan secara sistematis, dengan keyakinan bahwa dirinya akan mencapai tingkat kehidupan spiritual. Jenis persahabatan pelayanan bhakti yang kedua berarti menjadi orang yang mengharapkan kesejahteraan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Bhagavad-gītā, dinyatakan bahwa Kṛṣṇa menerima orang yang mengajarkan tentang kesadaran Kṛṣṇa sebagai hamba yang dicintai oleh-Nya. Siapa pun yang mengajarkan amanat rahasia Bhagavad-gītā kepada rakyat umum sangat dicintai oleh Kṛṣṇa, sehingga tiada seorang pun yang sejajar dengannya dalam masyarakat manusia.
Dalam Mahābharata, Draupadī berkata, “Govinda yang hamba cintai, Engkau berjanji bahwa penyembah-Mu tidak akan pernah binasa. Hamba percaya pada pernyataan itu. Karena itu, dalam segala jenis kesulitan, hamba hanya ingat janji-Mu, dan dengan demikian hamba hidup.” Penjelasan sloka ini ialah bahwa Draupadī bersama kelima suaminya, Pāṇḍava Lima, sangat dipersulit oleh saudara misannya, yaitu Duryodhana, dan juga oleh orang lain. Kesulitan tersebut sangat keras sehingga Bhīṣmadeva, seorang brahmacārī seumur hidup dan ksatria yang gagah perkasa, kadang-kadang menangis kalau beliau berpikir tentang mereka. Bhīṣmadeva heran bahwa walaupun Pāṇḍava Lima sangat saleh dan Draupadī hampir sama seperti Dewi Fortuna, dan walaupun Kṛṣṇa adalah kawan mereka, namun mereka harus mengalami kesulitan yang begitu berat. Walaupun kesulitan mereka bukan kesulitan biasa, Draupadī tidak patah semangat. Ia mengetahui bahwa oleh karena Kṛṣṇa kawan mereka, akhirnya mereka akan selamat.
Ada pernyataan yang serupa dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Dua, sloka 53. Dalam sloka tersebut, Havi, putra Mahārāja ¬ṣabha, berkata kepada Mahārāja Nimi: “Baginda Raja yang saya hormati, orang yang tidak pernah menyimpang bahkan selama sesaat pun dari kesibukan dalam pelayanan pada kaki-padma Personalitas Yang Paling Utama (kesibukan yang dicari bahkan oleh dewa-dewa yang mulia seperti Indra), dengan keyakinannya yang teguh bahwa tiada sesuatu yang lebih patut dipuja atau lebih patut diinginkan daripada ini, disebut penyembah kelas-utama.”
Śrī Rūpa Gosvāmī mengatakan bahwa seorang penyembah pemula dan baru mengembangkan sekedar pelayanan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa pasti adalah calon yang meme-nuhi syarat untuk bhakti. Apabila dia sudah mantap dengan teguh dalam pelayanan bhakti itu, maka kedudukan yang terjamin itu menjadi bagian rahasia dari bhakti-nya.
Kadang-kadang dilihat seorang penyembah-murni berbaring di tempat sembahyang pada Tuhan untuk mengabdi kepada Dia sebagai kawan yang sangat dipercaya. Tingkah laku persahabatan yang diperlihatkan oleh penyembah seperti itu dapat diakui sebagai rāgānugā, atau tingkah laku spontan. Walaupun, menurut prinsip-prinsip aturan, seseorang tidak boleh berbaring di tempat sembahyang Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, namun cinta kasih spontan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seperti ini dapat digolongkan di bawah pelayanan bhakti dalam persahabatan.
Menyerahkan Segala Sesuatu kepada Tuhan
Mengenai penyerahan diri secara sempurna, ada uraian bagus dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Duapuluh Sembilan, sloka 34. Dalam sloka tersebut, Tuhan bersabda, “Orang yang sudah berserah-diri sepenuhnya kepada-Ku dan sudah meninggalkan segala kegiatan lain sama sekali, Aku melindunginya secara pribadi, baik dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Dengan kata lain, Aku ingin membantu dia supaya dia semakin maju dalam kehidupan spiritual. Harus dimengerti bahwa kepribadian seperti itu sudah mencapai sārṣṭi (memiliki kehebatan setara dengan yang dimiliki oleh Yang Mahakuasa).” Juga dibenarkan dalam Bhagavad-gītā bahwa begitu seseorang berserah-diri kepada kaki-padma Kṛṣṇa, Kṛṣṇa mengurus orang itu dan menjamin perlindungan terhadap segala reaksi dosa baginya. Kṛṣṇa juga memberi pelajaran dari dalam, sehingga seorang penyembah dapat maju dengan cepat menuju kesempurnaan spiritual.
Berserah-diri seperti ini disebut ātma-nivedana. Ada berbagai definisi kata diri menurut berbagai sumber yang dapat dipercaya. Kadang-kadang kata diri dianggap menunjukkan diri yang spiritual, atau roh. Kata diri juga kadang-kadang dianggap menunjukkan pikiran atau badan. Karena itu berserah-diri sepenuhnya berarti tidak hanya berserah-diri sebagai roh, tetapi juga menyerahkan pikiran dan badan pada pelayanan kepada Tuhan. Śrīla Bhaktivinoda Ṭhākura menyusun lagu yang sangat bagus berhubungan dengan hal ini. Bhaktivinoda Ṭhākura berserah-diri sebagai roh yang sudah pasrah kepada Tuhan, dan beliau berkata, “Pikiranku, urusan rumah tanggaku, badanku, segala harta bendaku, hamba persembahkan pada-Mu untuk pelayanan-Mu, Wahai Tuhan yang hamba cintai. Sekarang Engkau dapat berbuat sesuka hati-Mu terhadap semuanya itu. Engkaulah Yang Mahakuasa, Pemilik segala sesuatu. Jadi, kalau Engkau mau, Engkau dapat membunuh hamba, atau kalau Engkau mau, Engkau dapat memberi perlindungan kepada hamba. Segala kekuasaan ada pada Diri-Mu. Hamba tidak dapat menuntut apa pun sebagai milikku sendiri.”
Śrī Yamunācārya, dalam doa pujiannya kepada Tuhan, me-ngungkapkan ide yang serupa dengan kata-kata berikut: “Tuhan yang hamba muliakan, barangkali hamba hidup di dalam sejenis badan sebagai manusia, atau sebagai dewa, tetapi hamba tidak berkeberatan dalam jenis kehidupan apa pun, sebab badan-badan ini hanyalah hasil sampingan dari tiga sifat alam material, sedangkan hamba, yang memiliki badan-badan ini, berserah-diri kepada-Mu.”
Dalam Hari-bhakti-viveka, terdapat pernyataan mengenai bagaimana cara seseorang dapat mempersembahkan badannya dalam penyerahan diri.
Dalam Hari-bhakti-viveka, seorang penyembah berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, seperti halnya seekor hewan yang sudah dijual tidak perlu memikirkan kesejahteraannya, begitu pula, oleh karena hamba sudah menyerahkan jiwa dan ragaku kepada-Mu, hamba tidak memerhatikan lagi kesejahteraanku.” Dengan kata lain, sebaiknya seseorang jangan khawatir tentang kesejahteraan pribadi atau kesejahteraan keluarganya. Kalau seseorang sungguh-sungguh menyerahkan jiwa dan raganya kepada Tuhan, ia harus ingat bahwa satu-satunya urusannya ialah menekuni pelayanan kepada Tuhan.
Śrīla Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa pelayanan bhakti dalam persahabatan dan pelayanan bhakti dalam penyerahan diri sepenuhnya adalah dua proses yang sulit. Karena itu, hubungan-hubungan dengan Tuhan seperti itu jarang sekali nampak. Dua proses tersebut hanya mudah dilakukan oleh penyembah yang sudah maju. Arti pernyataan ini ialah bahwa jarang sekali kita melihat penyerahan diri yang dicampur dengan cinta kasih kebahagiaan rohani yang tulus ikhlas. Seseorang harus berserah-diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
Mempersembahkan Benda yang Paling Kita Sukai
Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Sebelas, sloka 41, Śrī Kṛṣṇa memberitahu Uddhava, “Kawan-Ku yang tersayang, kalau seseorang mempersembahkan benda paling bagus yang dimilikinya kepada-Ku, atau apa pun yang sangat menyenangkan hatinya, maka dia akan memperoleh manfaat yang kekal.”
Menjalankan Segala Usaha demi Kṛṣṇa
Dalam Nārada-pañcarātra, ada pernyataan tentang bagaimana seseorang dapat bertindak dalam segala lingkungan hidup untuk kepuasan Tuhan. Dinyatakan dalam Nārada-pañcarātra bahwa orang yang benar-benar mantap dalam pelayanan bhakti harus tekun dalam segala jenis kegiatan-kegiatan yang dianjurkan dalam Kitab Suci yang diwahyukan dan juga kegiatan yang diterima untuk pencaharian. Dengan kata lain, sebaiknya seorang penyembah tidak hanya menjadi tekun dalam tugas-tugas kewajiban pelayanan bhakti yang disebutkan dalam Kitab Suci, tetapi sebaiknya dia juga melakukan tugas-tugas kehidupannya sehari-hari dalam kesadaran Kṛṣṇa. Misalnya, seorang penyembah yang memiliki perusahaan atau pabrik yang besar dapat mempersembahkan hasil harta benda material seperti itu untuk pelayanan kepada Tuhan.
Dalain Hari-bhakti-vilāsa ada pernyataan berikut tentang penyerahan diri: “Tuhan yang hamba muliakan, orang yang sudah berserah-diri kepada-Mu, dan sudah yakin dengan teguh bahwa dirinya adalah milik-Mu, dan sungguh-sungguh bertindak seperti itu dengan badan, pikiran dan kata-katanya, benar-benar dapat menikmati kebahagiaan rohani.”
Dalam Nṛsiḿha Purāṇa, Śrī Nṛsiḿhadeva berkata, “Siapa pun yang berdoa kepada-Ku dan berlindung kepada-Ku, maka ia menjadi anak angkat-Ku, dan Aku selalu melindunginya terhadap segala jenis kesulitan.”
Mengabdi kepada Pohon-Pohon Seperti Pohon Tulasī
Dalam Skanda Purāṇa ada pernyataan yang memuji pohon tulasī sebagai berikut: “Perkenankanlah hamba bersujud dengan hormat kepada pohon tulasī, yang dapat segera menebus banyak kegiatan yang berdosa. Hanya dengan melihat atau menyentuh pohon ini, seseorang dapat dibebaskan dari segala kesengsaraan dan penyakit. Hanya dengan bersujud kepada pohon tulasī dan menyiramkan air pada tulasī, seseorang dapat dibebaskan dari rasa takut bahwa dirinya akan dikirim ke pengadilan Yamarāja (Dewa kematian yang menghukum orang yang berdosa). Kalau seseorang menanam pohon tulasī di suatu tempat, pasti bhakti kepada Śrī Kṛṣṇa akan berkembang di dalam hatinya. Apabila daun-daun tulasī dipersembahkan dengan bhakti pada kaki-padma Kṛṣṇa, maka bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa berkembang secara sempurna.”
Di India, semua orang yang mengikuti prinsip-prinsip Veda, termasuk pula orang yang bukan dari golongan Vaiṣṇava, memelihara pohon tulasī secara istimewa. Di kota-kota besar sulit sekali memelihara pohon tulasī, namun nampak bahwa orang masih menanam dan memelihara pohon ini dengan saksama sekali. Mereka menyiramkan air pada pohon tulasī dan bersujud kepada pohon tulasī, sebab sembahyang kepada pohon tulasī sangat penting dalam pelayanan bhakti.
Dalam Skanda Purāṇa, terdapat pernyataan lain tentang pohon tulasī sebagai berikut: “Tulasī mujur dalam segala hal. Keadaan yang menyejahterakan selalu ada hanya dengan melihat, menyentuh, ingat, berdoa kepada, bersujud di hadapan, mendengar tentang atau hanya dengan menanam pohon tulasī ini. Siapa pun yang berhubungan dengan cara-cara tersebut di atas hidup di dunia Vaikuṇṭha untuk selamanya.”