te taḿ bhuktvā svarga-lokaḿ viśālaḿ
kṣīṇe puṇye martya-lokaḿ viśanti
evaḿ trayī-dharmam anuprapannā
gatāgataḿ kāma-kāmā labhante
te—mereka; tam—itu; bhuktvā—menikmati; svargalokam—surga; viśālam—luas; kṣīṇe—dengan habisnya; puṇye—hasil kegiatannya yang saleh; martya-lokam—ke bumi, tempat kematian; viśanti—jatuh; evam—demikian; trayī—dari tiga Veda; dharmam—ajaran; anuprapannāḥ—mengikuti; gata-āgatam—kematian dan kelahiran; kāma-kāmāḥ—menginginkan kenikmatan indera-indera; labhante—mencapai.
Orang yang diangkat ke susunan-susunan planet yang lebih tinggi menikmati kehidupan yang lebih panjang serta fasilitas yang lebih bagus untuk kenikmatan indera-indera, namun ia tidak diperbolehkan menetap di sana untuk selamanya. Sekali lagi ia dikirim ke bumi sesudah hasil kegiatannya yang saleh habis. Orang yang belum mencapai kesempurnaan pengetahuan, sebagaimana disebut dalam Vedanta-sutra (janmady asya yataḥ), atau, dengan kata lain, orang yang belum berhasil mengerti Krishna, sebab segala sebab, dibingungkan tentang tercapainya tujuan hidup tertinggi. Sebagai akibatnya, ia harus mengalami proses pengangkatan sampai planet-planet yang lebih tinggi, kemudian turun sekali lagi, seolah-seolah dia berada pada kincir atau roda besar yang kadang-kadang naik lalu kadang-kadang turun. Keadaan ini menunjukkan bahwa ia tidak diangkat sampai dunia rohani, sebab di dunia rohani tidak ada kemungkinan lagi untuk turun, oleh karena itu ia hanya berputar dalam peredaran kelahiran dan kematian di susunan planet-planet yang lebih tinggi dan lebih rendah. Lebih baik seseorang pergi ke dunia rohani untuk menikmati kehidupan yang kekal penuh kebahagiaan dan pengetahuan dan tidak pernah kembali ke dalam kehidupan material yang sengsara ini.