अपरेयमितसà¥à¤¤à¥à¤µà¤¨à¥à¤¯à¤¾à¤‚ पà¥à¤°à¤•ृतिं विदà¥à¤§à¤¿ मे परामॠ।
जीवभूतां महाबाहो ययेदं धारà¥à¤¯à¤¤à¥‡ जगतॠ॥५॥

apareyam itas tv anyÄmÌ

prakrÌ£timÌ viddhi me parÄm

jÄ«va-bhÅ«tÄmÌ mahÄ-bÄho

yayedamÌ dhÄryate jagat

aparÄ—lebih rendah; iyam—ini; itaḥ—di samping ini; tu—tetapi; anyam—lain; prakrÌ£tim—tenaga; viddhi—cobalah untuk mengerti; me—milik-Ku; param—utama; jÄ«va-bhÅ«tÄm—terdiri dari para makhluk hidup; mahÄ-bÄho—wahai yang berlengan perkasa; yayÄ—oleh siapa; idam—ini; dhÄryate—digunakan atau diperah; jagat—dunia material.


Sloka

Wahai Arjuna yang berlengan perkasa, di samping tenaga-tenaga tersebut, ada pula tenaga-Ku yang lain yang bersifat utama, terdiri dari para makhluk hidup yang menggunakan sumber-sumber alam material yang rendah tersebut.

Penjelasan

Ada berbagai tingkat manusia, dan di antara beribu-ribu orang, mungkin ada satu yang cukup tertarik pada keinsafan rohani hingga ia berusaha mengetahui apa itu sang roh, apa itu badan, dan apa itu Kebenaran Mutlak. Pada umumnya manusia hanya sibuk di dalam kegiatan seperti binatang yaitu; makan, tidur, membela diri dan berketurunan, dan hampir tiada seorangpun yang tertarik pada pengetahuan rohani. Enam bab pada awal Bhagavad-gita dimaksudkan untuk orang yang tertarik pada pengetahuan rohani, untuk mengerti tentang sang roh, Roh Yang Utama dan cara keinsafan melalui jñāna-yoga, Dhyana-yoga dan cara membedakan antara sang roh dan alam. Akan tetapi, Krishna hanya dapat dikenal oleh orang yang sadar akan Krishna. Rohaniwan lainnya barangkali mencapai keinsafan terhadap Brahman yang tidak berbentuk pribadi, sebab keinsafan ini lebih mudah daripada mengerti tentang Krishna. Krishna adalah Kepribadian Yang Paling Utama, tetapi pada waktu yang sama Beliau berada di luar jangkauan pengetahuan Brahman dan Paramatma. Para yogi dan para jñānī bingung dalam usaha-usaha mereka untuk mengerti tentang Krishna. Walaupun yang paling terkemuka di antara orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, yaitu Sripada Sankaracarya, dalam penafsiran beliau tentang Bhagavad-gita beliau juga mengakui bahwa Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Namun para pengikut Sankaracarya tidak mengakui Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sebab sangat sulit mengenal Krishna, walaupun seseorang sudah mencapai keinsafan rohani terhadap Brahman yang tidak berbentuk pribadi. Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sebab segala sebab, Sri Govinda yang asli. īśvaraḥ paramaḥ kṛṣṇah sac-cid- ananda vigrahah / anadir adir govindah sarva karana-kāraṇam. Orang yang bukan penyembah sulit sekali mengenal Krishna. Walaupun mereka menyatakan bahwa jalan bhakti, atau pengabdian rohani sangat mudah, mereka tidak akan sanggup mempraktekkan cara bhakti. Kalau memang jalan bhakti begitu mudah, seperti yang dikatakan oleh golongan orang yang bukan penyembah, mengapa mereka memilih jalan yang lain dan sulit? Sebenarnya, jalan bhakti tidak mudah. Sesuatu yang hanya namanya saja jalan bhakti yang dipraktekkan oleh orang yang tidak berkualifikasi, karena mereka tanpa pengetahuan tentang bhakti barangkali tampaknya mudah, namun apabi la bhakti dipraktekkan secara nyata menurut aturan dan peraturan, mereka para sarjana dan para filosof yang berangan-angan pikiran akan jatuh dari jalan itu. Srila Rupa Gosvami menulis di dalam karyanya berjudul Bhakti-rasamrta-sindhu (1.2.101):

Di sini disebut dengan jelas bahwa para makhluk hidup adalah bagian dari alam utama (atau tenaga utama) Tuhan Yang Maha Esa. Tenaga yang rendah adalah alam terwujud dalam berbagai unsur, yaitu; tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan, dan keakuan yang palsu. Kedua bentuk alam material, yaitu bentuk kasar (tanah dan sebagainya) dan halus (pikiran dan sebagainya), dihasilkan dari tenaga rendah. Para makhluk hidup, yang memerah tenaga-tenaga rendah tersebut untuk berbagai tujuan, adalah tenaga utama Tuhan Yang Maha Esa, dan oleh karena tenaga tersebut, seluruh dunia material berjalan. Manifestasi alam semesta tidak berdaya untuk bergerak kecuali digerakkan oleh tenaga utama, yaitu makhluk hidup. Tenaga-tenaga selalu dikendalikan oleh sumber tenaga. Karena itu, para makhluk hidup selalu dikendalikan oleh Tuhan—para makhluk hidup tidak mempunyai eksistensi tersendiri. Para makhluk hidup tidak pernah mempunyai kekuatan yang sama dengan kekuatan Tuhan, seperti yang di bayangkan oleh orang yang kurang cerdas. Perbedaan antara makhluk hidup dan Tuhan diuraikan dalam Srimad-Bhagavatam (10.87.30) sebagai berikut:

aparimitā dhruvās tanu-bhṛto yadi sarva-gatās

tarhi na śāsyāteti niyamo dhruva netarathā

ajani ca yan-mayā ḿ tad avimucya niyantṛ bhavet

samam anujānatāḿ yad amataḿ mata-duṣṭatayā

“O Kepribadian Yang Mahaabadi! Kalau para makhluk hidup adalah kekal dan berada di mana-mana seperti Anda, maka mereka tidak berada di bawah pengendalian Anda. Tetapi kalau diakui bahwa para makhluk hidup adalah tenaga-tenaga kecil dari Diri Anda, maka mereka segera berada di bawah pengendalian Anda yang paling utama. Karena itu, pembebasan sejati menyangkut penyerahan diri para makhluk hidup terhadap pengendalian Anda, dan penyerahan diri itu akan membahagiakan mereka. Hanya dalam keadaan dasar itulah mereka dapat mengendalikan sesuatu. Karena itu, orang yang kurang berpengetahuan yang mendukung teori monisme yang menganggap Tuhan dan para makhluk hidup sejajar dalam segala hal sebenarnya dibawa oleh anggapan yang salah dan tercemar."

Satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa Krishna yang mengendalikan, dan semua makhluk hidup dikendalikan oleh Beliau. Makhluk-makhluk hidup tersebut adalah tenaga utama Beliau, sebab sifat keberadaan mereka adalah satu dan sama dengan Yang Mahakuasa, tetapi mereka tidak pernah sejajar dengan Tuhan dalam jumlah kekuatan. Sambil memerah tenaga rendah yang kasar dan halus (alam), tenaga utama (makhluk hidup) melupakan pikiran dan kecerdasan rohaninya yang sejati. Kelupaan seperti itu disebabkan oleh pengaruh alam terhadap makhluk hidup. Tetapi apabila makhluk hidup dibebaskan dari pengaruh tenaga material yang mengkhayalkan, dia mencapai tingkat yang disebut mukti, atau pembebasan. Keakuan palsu, di bawah pengaruh khayalan material, berpikir, Diriku adalah unsur-unsur alam, dan benda-benda material yang telah kuperoleh adalah milikku." Kedudukan makhluk hidup yang sejati diinsafi apabila ia dibebaskan dari segala ide material, termasuk paham bahwa Diri-Nya bersatu dengan Tuhan dalam segala hal. Karena itu, seseorang dapat menarik kesimpulan bahwa Bhagavad-gita membenarkan makhluk hidup hanya salah satu di antara berbagai tenaga Krishna; dan apabila tenaga ini dibebaskan dari pencemaran material, maka ia menjadi sadar akan Krishna sepenuhnya, atau mencapai pembebasan.