indriyāṇi mano buddhir
asyādhiṣṭhānam ucyate
etair vimohayaty eṣa
jñānam āvṛtya dehinam
indriyāṇi—indera-indera; manaḥ—pikiran; buddhiḥ—kecerdasan; asya—dari hawa nafsu ini; adhiṣṭhānam—tempat duduk; ucyate—disebut; etaiḥ—oleh semua ini; vimohayāti—membingungkan; eṣaḥ— nafsu tersebut; jñānam—pengetahuan; āvṛtya—menutupi; dehinam—dia yang berada di dalam badan.
Musuh sudah merebut berbagai kedudukan strategis di dalam badan roh yang terikat. Karena itu, Sri Krishna memberikan isyarat tentang tempat-tempat itu, supaya orang yang ingin mengalahkan musuh dapat mengetahui di mana musuh dapat ditemukan. Pikiran adalah pusat segala kegiatan indera-indera. Karena itu, apabila kita mendengar tentang obyek-obyek indera, pikiran pada umumnya menjadi gudang segala ide kepuasan indera-indera. Sebagai akibatnya, pikiran dan indera-indera menjadi tempat menyimpan hawa nafsu. Kemudian, bagian kecerdasan menjadi ibu kota kecenderungan yang bersifat penuh hawa nafsu seperti itu. Kecerdasan adalah tetangga sang roh. Kecerdasan yang penuh hawa nafsu mempengaruhi sang roh untuk memperoleh keakuan yang palsu dan menyamakan Diri-Nya dengan alam, dan dengan demikian menyamakan Diri-Nya dengan pikiran dan indera-indera. Sang roh kecanduan kenikmatan indera-indera material dan dia salah paham dengan menganggap kenikmatan indera-indera material sebagai kebahagiaan sejati. Sang roh mempersamakan diri dengan cara yang palsu, dan hal ini diterangkan dengan cara yang baik sekali dalam Srimad-Bhagavatam (10.84.13):
yasyātma-buddhiḥ kuṇape tri-dhātuke
sva-dhīḥ kalatrādiṣu bhauma ijya-dhīḥ
yat-tīrtha-buddhiḥ salile na karhicij
janeṣv abhijñeṣu sa eva go-kharaḥ
Seorang manusia yang menyamakan Diri-Nya dengan badan yang terbuat dari tiga unsur, yang menganggap hasil dari badan adalah sanak keluarganya, menganggap tanah tempat kelahirannya patut disembah, dan pergi ke tempat suci hanya untuk mandi dan bukan untuk bertemu dengan orang yang memiliki pengetahuan rohani di sana, harus dianggap seperti keledai atau sapi.