prakṛteḥ kriyamāṇāni
guṇaiḥ karmaṇi sarvaśaḥ
ahańkāra-vimūḍhātmā
kartāham iti manyate
prakṛteḥ—dari alam material; kriyamāṇāni—dengan dilakukan; guṇaiḥ—oleh sifat-sifat; karmaṇi—kegiatan; sarvāsaḥ—segala jenis; ahańkāra-vimūḍha—dibingungkan oleh keakuan palsu; ātmā—sang roh; kartā—pelaku; aham—aku; iti—demikian; manyate—dia berpikir.
Ada dua orang, yang satu sadar akan Krishna dan yang lain dalam kesadaran material. Barangkali kelihatannya dua orang tersebut bekerja pada tingkat yang sama, tetapi kedudukan mereka masing-masing jauh berbeda. Orang yang kesadarannya duniawi diyakinkan oleh keakuan yang palsu bahwa Diri-Nya melakukan segala sesuatu. Dia tidak mengetahui bahwa mesin badan dihasilkan oleh alam material, yang bekerja di bawah pengawasan Tuhan Yang Maha Esa. Orang duniawi tidak mempunyai pengetahuan bahwa pada hakekatnya Diri-Nya dikendalikan oleh Krishna. Orang di bawah pengaruh keakuan yang palsu menerima segala pujian karena Diri-Nya telah melakukan segala sesuatu secara tersendiri, dan itulah gejala kebodohannya. Dia tidak mengetahui bahwa badan kasar dan badan halus ini diciptakan oleh alam material, di bawah perintah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dan karena itu kegiatan jiwa dan raganya hendaknya dijadikan tekun dalam bhakti kepada Krishna, dalam kesadaran Krishna. Orang bodoh lupa bahwa Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bernama Hrsikesa, atau Penguasa indera-indera badan jasmani. Dia lupa karena sudah lama menyalahgunakan indera-inderanya untuk kepuasan indera-indera, sehingga ia sungguh-sungguh dibingungkan oleh keakuan yang palsu, yang menyebabkan ia melupakan hubungannya yang kekal dengan Krishna.