tasmÄd yasya mahÄ-bÄho
nigrÌ£hÄ«tÄni sarvaÅ›ahÌ£
indriyÄṇīndriyÄrthebhyas
tasya prajÃ±Ä pratisÌ£tÌ£hitÄ
tasmÄt—karena itu; yasya—milik orang yang; mahÄ-bÄho—wahai kepribadian yang berlengan perkasa; nig‚hitÄni—ditaklukkan dengan cara seperti itu;sarvÄsaḥ—di berbagai sisi; indriyÄnÌ£i—indera-indera; indriya-arthebhyaḥ—dari obyek-obyek indera itu; tasya—milik dia; prajñÄ—kecerdasan; pratisÌ£tÌ£hitÄ —mantap.
Seseorang hanya dapat membatasi kekuatan-kekuatan kepuasan indera-indera dengan cara kesadaran Krishna, atau dengan cara menjadikan semua indera tekun dalam pengabdian dengan cinta-bhakti kepada Krishna. Seperti halnya musuh ditaklukkan oleh kekuatan yang lebih hebat, dengan cara yang sama indera-indera dapat ditaklukkan, bukan oleh suatu usaha manusia, tetapi hanya dengan menjaga indera-indera selalu tekun dalam pengabdian kepada Tuhan. Orang yang sudah mengerti kenyataan ini—yaitu, bahwa dengan kesadaran Krishna kecerdasan seseorang sungguh-sungguh mantap dan bahwa seharusnya ia mempraktekkan ilmu ini di bawah bimbingan seorang guru kerohanian yang dapat di percaya—disebut seorang sadhaka, atau calon yang memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan.