चिनà¥à¤¤à¤¾à¤®à¤ªà¤°à¤¿à¤®à¥‡à¤¯à¤¾à¤‚ च पà¥à¤°à¤²à¤¯à¤¾à¤¨à¥à¤¤à¤¾à¤®à¥à¤ªà¤¾à¤¶à¥à¤°à¤¿à¤¤à¤¾à¤ƒ ।
कामोपभोगपरमा à¤à¤¤à¤¾à¤µà¤¦à¤¿à¤¤à¤¿ निशà¥à¤šà¤¿à¤¤à¤¾à¤ƒ ॥११॥
आशापाशशतैरà¥à¤¬à¤¦à¥à¤§à¤¾à¤ƒ कामकà¥à¤°à¥‹à¤§à¤ªà¤°à¤¾à¤¯à¤£à¤¾à¤ƒ ।
ईहनà¥à¤¤à¥‡ कामभोगारà¥à¤¥à¤®à¤¨à¥à¤¯à¤¾à¤¯à¥‡à¤¨à¤¾à¤°à¥à¤¥à¤¸à¤žà¥à¤šà¤¯à¤¾à¤¨à¥ ॥१२॥

cintÄm aparimeyÄmÌ ca

pralayÄntÄm upÄÅ›ritÄhÌ£

kÄmopabhoga-paramÄ

etÄvad iti niÅ›citÄhÌ£

ÄÅ›Ä-pÄÅ›a-Å›atair baddhÄhÌ£

kÄma-krodha-parÄyanÌ£ÄhÌ£

Ä«hante kÄma-bhogÄrtham

anyÄyenÄrtha-sañcayÄn

cintÄm—rasa takut dan kecemasan; aparimeyÄm—tidak dapat diukur; ca—dan; pralaya-antÄm—sampai titik kematian; upÄÅ›ritÄḥ—setelah berlindung kepada;kÄma-upabhoga—kepuasan indera-indera; paramaḥ—tujuan hidup tertinggi; etÄvat—demikian; iti—dengan cara seperti ini; niÅ›citÄḥ—setelah menentukan; ÄÅ›Ä-pÄÅ›a—ikatan dalam jaringan harapan; śataiḥ—oleh beratus-ratus; baddhÄḥ—dengan diikat; kÄma—tentang nafsu; krodha—dan amarah; parÄyanÌ£Äḥ—selalu mantap dalam sikap mental; īhante—mereka menginginkan; kÄma—hawa nafsu; bhoga—kenikmatan indera; artham—dengan tujuan; anyÄyena—dengan cara yang melanggar hukum; artha—kekayaan; sañcayÄn—mengumpulkan.


Sloka

Mereka percaya bahwa memuaskan indera-indera adalah kebutuhan utama peradaban manusia. Karena itu, sampai akhir hidupnya, kecemasan mereka tidak dapat diukur. Mereka diikat oleh jaringan beratus-ratus ribu keinginan dan terikat dalam hawa nafsu dan amarah. Mereka mendapat uang untuk kepuasan indera-indera dengan cara-cara yang melanggar hukum.

Penjelasan

Orang jahat menganggap kenikmatan indera adalah tujuan hidup tertinggi, dan paham ini dipegangnya sampai meninggal. Mereka tidak percaya bahwa ada kehidupan sesudah meninggal, dan mereka tidak percaya bahwa seseorang menerima berbagai jenis badan menurut karmanya, atau kegiatannya di dunia ini. Rencana-rencana kehidupan mereka tidak pernah berakhir. Mereka terus menyiapkan rencana semakin banyak, dan semuanya tidak pernah selesai. Kami sendiri sudah berpengalaman mengenai orang yang bersikap jahat seperti itu. Sampai saat meninggal sekalipun dia minta supaya seorang dokter memperpanjang usianya selama empat tahun lagi, sebab rencana-rencananya belum selesai. Orang bodoh seperti itu tidak mengetahui bahwa seorang dokter tidak mungkin memperpanjang usia kita bahkan selama sedetik pun. Bila panggilan sudah ada, kehendak manusia tidak dipertimbangkan. Hukum-hukum alam tidak mengizinkan sedetik pun melewati apa yang sudah ditakdirkan untuk dinikmati seseorang. Orang jahat, yang tidak percaya kepada Tuhan maupun Roh Yang Utama di dalam Diri-Nya, melakukan segala jenis kegiatan yang berdosa hanya demi kepuasan indera-indera. Ia tidak mengetahui bahwa ada saksi yang bersemayam di dalam hatinya. Roh Yang Utama menyaksikan kegiatan roh individual. Sebagaimana dinyatakan dalam Upanisad-upanisad, ada dua ekor burung yang hinggap pada sebatang pohon; yang satu bertindak dan menikmati atau menderita buah pada cabang-cabang pohon, sedangkan yang lain menyaksikan. Tetapi orang jahat tidak memiliki pengetahuan tentang Kitab Suci Veda, maupun tentang kepercayaan apa pun; karena itu dia merasa dirinya bebas untuk melakukan apa pun demi kenikmatan indera-indera, biar bagaimanapun akibatnya.