kathaḿ vidyām ahaḿ yogiḿs
tvāḿ sadā paricintayan
keṣu keṣu ca bhāveṣu
cintyo 'si bhagavan mayā
katham—bagaimana; vidyām aham—hamba akan mengetahui; yogin—o ahli kebatinan yang paling utama; tvām—Anda; sadā—selalu; paricintayan—berpikir tentang; keṣu—dalam itu; keṣu—dalam itu; ca—juga; bhāveṣu—sifat-sifat; cintyaḥ asi—Anda harus diingat; bhagavan—o Tuhan Yang Mahakuasa; mayā—oleh hamba.
Sebagaimana dinyatakan dalam bab sebelumnya, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa ditutupi oleh yogamayā -Nya. Hanya orang yang sudah menyerahkan diri serta para penyembah dapat melihat Beliau. Sekarang Arjuna yakin bahwa kawannya, Krishna, adalah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi Arjuna ingin mengetahui proses umum yang memungkinkan Tuhan Yang Mahaada dapat dipahami oleh orang awam. Orang awam, termasuk raksasa dan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tidak dapat mengenal Krishna, sebab Krishna dijaga oleh tenaga yogamayā -Nya. Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan oleh Arjuna untuk memberi manfaat kepada mereka. Seorang penyembah yang lebih maju tidak hanya memikirkan pengertiannya sendiri, tetapi juga memikirkan pengertian segenap manusia. Karena itu, Arjuna, atas karunianya membuka pengertian KeMahaadaan Tuhan Yang Maha Esa untuk orang awam karena Arjuna adalah seorang Vaisnava, seorang penyembah. Arjuna menyebutkan Krishna secara khusus sebagai yogin karena Sri Krishna adalah penguasa tenaga yoga mayā , yang menyebabkan Beliau tertutup dan terbuka bagi orang awam. Orang awam yang belum mencintai Krishna tidak dapat berpikir tentang Krishna senantiasa; karena itu dia harus berpikir secara material. Arjuna mempertimbangkan cara berpikir orang duniawi di dunia ini. Kata-kata kesu-kesu ca bhāveṣu menunjukkan alam material (kata bhava berarti benda-benda alam"). Oleh karena orang duniawi tidak dapat mengerti Krishna secara rohani, dianjurkan supaya mereka memusatkan pikirannya kepada benda-benda alam dan usaha melihat bagaimana Krishna terwujud melalui perwujudan-perwujudan alam.