Sloka

Bab 9: Pertimbangan Lebih Lanjut Mengenai Prinsip-Prinsip Pelayanan Bhakti

Penjelasan

Penghinaan

Hendaknya orang jangan mentolerir penghinaan terhadap Tuhan atau para penyembah-Nya. Berhubungan dengan hal ini, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Tujuhpuluh Empat, sloka 40 Śukadeva Gosvāmī memberitahu Mahārāja Parīkṣit; “Baginda Raja yang saya hormati, kalau seseorang tidak meninggalkan tempat setelah mendengar propaganda yang menghina Tuhan dan para penyembah-Nya maka dia akan kehilangan hasil segala kegiatannya yang saleh.”

Dalam salah satu sloka dari Śikṣāṣṭaka, karya Śrī Caitanya, dinyatakan “Hendaknya seorang penyembah lebih toleransi daripada sebatang pohon dan lebih rendah hati daripada rumput. Sebaiknya dia memberi segala penghormatan kepada orang lain, tetapi tidak mengharapkan penghormatan untuk dirinya sendiri.” Walaupun Śrī Caitanya sangat rendah hati sebagai seorang penyembah, ketika Dia diberitahu bahwa Jagai dan Madhai telah melukai badan Śrī Nityānanda, Dia segera lari ke tempat kejadian dan ingin membunuh dua penjahat itu. Tingkah laku Śrī Caitanya tersebut sangat bermakna. Tingkah laku itu memperlihatkan bahwa meskipun seorang Vaiṣṇava sangat toleransi dan rendah hati, dan meninggalkan segala sesuatu yang dimaksudkan untuk penghormatan pribadinya, tetapi apabila ada soal kehormatan Kṛṣṇa dan penyembah-Nya, dia tidak akan mentolerir penghinaan apa pun.

Ada tiga cara untuk menangani penghinaan seperti yang tersebut. Kalau seseorang didengar menghina Kṛṣṇa dengan kata-kata, sebaik kita menjadi ahli sekali sehingga mampu mengalahkan pihak lawan dengan argumentasi. Kalau kita tidak sanggup mengalahkan pihak lawan maka langkah berikutnya ialah bahwa sebaiknya kita jangan duduk diam di sana, tetapi hendaknya melepaskan nyawa sendiri. Proses ketiga diikuti kalau kita tidak dapat melaksanakan dua proses tersebut di atas, yaitu harus segera meninggalkan tempat itu. Kalau seorang penyembah tidak mengikuti salah satu di antara tiga proses tersebut di atas, maka dia jatuh dari kedudukan bhaktinya.

 

Tilaka dan Kalung Suci

Dalam Padma Purāṇa ada pernyataan yang menguaraikan bagaimana seharusnya seorang Vaiṣṇava menghiasi badannya dengan tilaka dan kalung: “Orang yang memakai kalung tulasī pada leher, dan menandai dua belas bagian badanya sebagai tempat sembahyang kepada Viṣṇu dengan lambang-lambang Viṣṇu (empat benda yang dipegang pada empat tangan Śrī Viṣṇu—kerang, gada, cakra, dan bunga padma ),dan mempunyai Viṣṇu-tilaka pada dahinya, diakui sebagai para penyembah Śrī Viṣṇu di dunia ini. Kehadiran mereka mensucikan dunia dan di mana pun mereka tinggal, tempat itu menjadi sebaik Vaikuṇṭha.”

Pernyataan serupa dalam Skanda Purāṇa yang berbunyi “Orang yang dihiasi dengan tilaka atau gopī-candana (sejenis tanah liat yang dihasilkan di tempat-tempat tertentu di Vṛndāvana), menandai badannya dengan nama-nama suci Tuhan, dan memakai kalung tulasī pada leher dan dadanya, tidak pernah didekati oleh para Yamaduta.” Para Yamaduta adalah para pesuruh Raja Yama (dewa kematian), yang menghukum semua orang yang berdosa. Para Vaiṣṇava tidak pernah dipangil oleh polisi Yamarāja seperti itu. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam dalam cerita Ajāmila diselamatkan, dinyatakan bahwa Yamarāja memberi perintah-perintah yang jelas kepada para pesuruhnya jangan mendekati para Vaiṣṇava. Para Vaiṣṇava berada di luar wewenang kegiatan Yamarāja.

Padma Purāṇa juga menyebutkan, “Orang yang badannya dihiasi dengan tapal terbuat dari kayu cendana, dengan gambar-gambar suci Tuhan, diselamatkan dari segala reaksi-reaksi dosa, dan sesudah meninggal dunia, dia pergi langsung ke Kṛṣṇaloka untuk tinggal dalam pergaulan dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.”

 

Menerima Kalungan Bunga

Pelajaran berikut ialah bahwa hendaknya orang memakai kalungan bunga yang sudah dipersembahkan kepada Arca. Berhubungan dengan ini, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Enam, sloka 46, Uddhava berkata kepada Kṛṣṇa, “Kṛṣṇa yang hamba cintai, hamba sudah menerima benda-benda yang sudah Engkau pakai dan nikmati, misalnya kalungan bunga, benda-benda suci, pakaian dan perhiasan, dan hamba hanya makan sisa makanan-Mu, sebab hamba adalah pelayan-Mu yang rendah. Karena itu, hamba yakin bahwa hamba tidak akan diserang oleh pesona energi material.” Arti sloka ini ialah bahwa siapa pun yang hanya mengikuti aturan dan peraturan berupa menghiasi badannya dengan tanda-tanda tilaka gopī-candana atau tapal terbuat dari kayu cendana, dan memakai kalungan bunga yang sudah dipersembahkan kepada Kṛṣṇa, tidak mungkin dikalahkan oleh pesona energi material. Pada saat meninggal dunia, tidak mungkin orang itu akan dipanggil oleh para pesuruh Yamarāja. Kalaupun seseorang tidak mengikuti semua prinsip Vaiṣṇava, tetapi menerima sisa makanan yang sudah dipersembahkan kepada Kṛṣṇa atau Kṛṣṇa-prasāda, berangsur-ragsur ia akan memiliki kualifikasi untuk naik sampai tingkat seorang Vaiṣṇava.

Begitu pula, dalam Skanda Purāṇa, Dewa Brahmā memberitahu Nārada, “Nārada yang baik hati, siapa pun yang me-makai kalungan bunga yang sudah dipersembahkan kepada Kṛṣṇa sebelumnya pada lehernya, akan dibebaskan dari segala penyakit dan reaksi perbuatan berdosa, dan berangsur-angsur dia dibebaskan dari pengaruh alam material.”

 

Menari di Depan Arca

Dalam Dvārakā-māhātmya, pentingnya menari di hadapan Arca dinyatakan oleh Śrī Kṛṣṇa sebagai berikut: “Orang yang sedang riang, dan merasakan kebahagiaan bhakti yang sangat mendalam sambil menari di hadapan-Ku, dan memperlihatkan berbagai ciri ungkapan pada badan dapat membakar seluruh jumlah reaksi dosa yang telah dikumpulkannya selama beribu-ribu tahun.” Dalam buku yang sama ada pernyataan dari Nārada, “Segala burung kegiatan berdosa terbang dari badan orang yang ber-tepuk tangan dan menari di hadapan Arca.” Seperti halnya sese-orang dapat menyebabkan banyak burung terbang dengan cara bertepuk tangan, begitu pula segala burung kegiatan berdosa yang hinggap pada badan dapat dibuat terbang dan lari hanya dengan menari dan bertepuk tangan di depan Arca Kṛṣṇa.

 

Bersujud untuk Menghormati Arca

Dalam Nāradiya-Purāṇa ada pernyataan tentang soal bersujud dan menghormati Arca. Dalam Kitab Suci tersebut dinyatakan, “Orang yang sudah melakukan kurban suci ritual besar dan orang yang hanya bersujud dengan hormat dengan menundukan kepalanya di hadapan Tuhan tidak dapat dianggap setara.” Orang yang sudah melakukan banyak kurban suci besar akan mencapai hasil kegiatannya yang saleh, tetapi apabila hasil-hasil itu sudah habis, dia harus dilahirkan lagi di planet bumi; akan tetapi, orang yang pernah sekali bersujud, menundukkan kepalanya di depan Arca tidak akan kembali ke dunia ini, sebab dia akan pergi langsung ke tempat tinggal Kṛṣṇa.

 

Berdiri untuk Menyambut Tuhan

Dalam Brahmāṇḍa Purāṇa, dinyatakan, “Orang yang melihat festival kereta Ratha-yātrā Tuhan dan kemudian berdiri untuk menyambut kedatangan Tuhan dapat menghilangkan segala jenis akibat dosa dari badannya.”

 

Mengikuti Arca

Pernyataan yang serupa terdapat dalam Bhaviṣya Purāṇa. Dalam Bhaviṣya Purāṇa dikatakan, “Walaupun seseorang dilahirkan dalam keluarga rendah, tetapi kalau ia mengikuti kereta Ratha-yātrā pada waktu Arca sedang diarak, baik dari depan maupun dari belakang, pasti ia akan diangkat sampai kedudukan kekayaan yang setara dengan Viṣṇu.”

 

Pergi ke Tempat Sembahyang Viṣṇu atau ke Tempat-tempat Suci

Dalam Purāṇa-Purāṇa dinyatakan, “Orang yang berusaha mengunjungi tempat-tempat suci, misalnya Vṛndāvana, Mathurā atau Dvārakā, sungguh-sunggub mulia. Dengan mengadakan perjalanan seperti itu, mereka dapat menyeberangi gurun pasir kehidupan material.”

Dalam Hari-bhakti-sudhodaya, ada pernyataan tentang manfaat kunjungan ke tempat-tempat sembahyang kepada Śrī Kṛṣṇa. Sebagaimana sudah kami jelaskan di atas, di Vṛndāvana, Mathurā dan Dvārakā sistem yang lazim ialah bahwa semua penyembah memanfaatkan kunjungan ke berbagai tempat sembahyang yang ada di tempat-tempat suci tersebut. Dinyatakan dalam Hari-bhakti-sudhodaya, “Orang yang digerakkan oleh bhakti yang murni dalam kesadaran Kṛṣṇa sehingga mereka pergi untuk melihat Arca-Arca Viṣṇu di tempat sembahyang pasti akan dibebaskan sehingga tidak harus masuk lagi ke dalam penjara berupa kandungan seorang ibu. “Roh yang terikat lupa akan kesulitan tinggal di dalam kandungan ibunya pada saat ia dilahirkan, tetapi itu merupakan pengalaman yang sangat mengerikan dan menyakitkan. Untuk membebaskan keadaan material tersebut, dianjurkan supaya orang mengunjungi tempat sembahyang Viṣṇu dengan kesadaran bhakti. Dengan demikian dengan mudah sekali ia dapat dibebaskan dari keadaan kelahiran material yang sengsara.

 

Mengelilingi Tempat Sembahyang Viṣṇu

Dalam Hari-bhakti-sudhodaya dinyatakan, “Orang yang mengelilingi Arca Viṣṇu dapat melawan pemutaran kelahiran dan kematian di dunia material ini.” Roh yang terikat mengalami perputaran melalui kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali karena kehidupan materialnya. Keadaan tersebut dapat ditanggulangi hanya dengan mengelilingi Arca di tempat sembahyang.

Upacara Cāturmāsya diikuti selama empat bulan musim hujan di India (sekitar bulan Juli, Agustus, September dan Oktober), mulai dari bulan Śrāvaṇa. Selama empat bulan ini, orang suci yang biasanya berjalan jalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan kesadaran Kṛṣṇa menetap di satu tempat, pada umumnya di tempat suci. Selama masa-masa ini, ada aturan dan peraturan khusus yang diikuti secara ketat. Dinyatakan dalam Skanda Purāṇa bahwa kalau seseorang mengelilingi tempat sembahyang Viṣṇu sekurang-kurangnya empat kali selama masa ini, dimengerti bahwa ia sudah mengadakan perjalanan keliling seluruh alam semesta. Dengan berkeliling seperti itu, dimengerti bahwa ia sudah melihat semua tempat suci tempat air Gangga mengalir, dan dengan mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur selama Cāturmāsya, dengan cepat sekali ia dapat diangkat sampai tingkat cinta kasih rohani kepada Tuhan.

 

Arcanā

Arcanā berarti memuja Arca di tempat sembahyang. Dengan melaksanakan proses ini, seseorang membenarkan bahwa dirinya bukan badan, melainkan adalah roh. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Delapanpuluh Satu, sloka 19, diceritakan bagaimana Sudāmā, kawan akrab Kṛṣṇa, menggumam kepada dirinya sendiri selama ia sedang berjalan ke rumah seorang brāhmaṇa, “Seseorang mudah mencapai segala hasil kekayaan surga, pembebasan, kekuasaan atas susunan planet alam semesta, segala kekayaan dunia material ini, dan kekuatan mistik hasil pelaksanaan sistem yoga hanya dengan menyembah Kṛṣṇa saja.”

Rangkaian peristiwa menjelang Sudāmā mengatakan demikian adalah sebagai berikut. Śrī Kṛṣṇa telah menyuruh kawan-Nya, Sudāmā, supaya pergi ke rumah seorang brāhmaṇa dan minta makanan. Para brāhmaṇa sedang mempersembahkan kurban suci yang besar dan Śrī Kṛṣṇa memberitahu Sudāmā supaya minta sesuatu dari mereka karena Kṛṣṇa dan Balarāma sedang lapar dan memerlukan makanan. Pada waktu Sudāmā pergi ke sana, para brāhmaṇa menolak memberikan sesuatu, tetapi ketika istri-istri para brāhmaṇa mendengar bahwa Śrī Kṛṣṇa menginginkan makanan, mereka segera mengambil banyak makanan yang enak dan pergi untuk mempersembahkannya kepada Śrī Kṛṣṇa. Dalam Viṣṇu-rahasya, juga dinyatakan, “Siapa pun di dunia ini yang tekun memuja Viṣṇu dengan mudah sekali dapat mencapai kerajaan Tuhan yang penuh kebahagiaan selamanya yang bernama Vaikuṇṭhaloka.”

 

Melakukan Pelayanan Kepada Tuhan

Dalam Viṣṇu-rahasya dinyatakan, “Siapa pun yang dapat mengatur pelayanan kepada Tuhan dengan cara yang sama seperti seorang raja dilayani oleh para pelayannya, pasti diangkat sampai tempat tinggal Kṛṣṇa sesudah ia meninggal dunia.” Sebenarnya, di India tempat-tempat sembahyang adalah seperti istana-istana raja. Tempat-tempat sembahyang itu bukan gedung-gedung biasa, sebab sembahyang kepada Kṛṣṇa harus dilakukan dengan cara yang sama seperti seorang raja diagungkan di istananya. Karena itu, di Vṛndāvana ada beratus-ratus tempat sembahyang. Di tempat-tempat sembahyang itu, Arca dipuja persis seperti seorang raja. Dalam Nāradiya Purāṇa dinyatakan, “Kalau seseorang tinggal di tempat sembahyang Kṛṣṇa selama beberapa saat pun, ia pasti dapat mencapai kerajaan spiritual Tuhan.”

Kesimpulan ialah bahwa orang kaya dalam masyarakat harus mendirikan tempat-tempat sembahyang yang indah dan menyelenggarakan sembayang kepada Viṣṇu supaya orang tertarik untuk mengunjungi tempat-tempat sembahyang itu dan dengan demikian diberi kesempatan untuk menari di hadapan Tuhan atau mengucapkan nama suci Tuhan, atau mendengar nama suci Tuhan. Dengan cara demikian, semua orang akan diberi kesempatan untuk mengangkat diri sampai kerajaan Tuhan. Dengan kata lain, orang awam juga akan dapat mencapai berkat-berkat tertinggi dengan mengunjungi tempat sembahyang seperti itu, apalagi para penyembah Tuhan yang senantiasa tekun dalam pelayanan kepada Tuhan dalam kesadaran Kṛṣṇa yang sem-purna.

Berhubungan dengan hal ini, ada pernyataan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Empat, Bab Duapuluh Satu, sloka 31. Dalam sloka tersebut, Raja Pṛthu berkata kepada para warga negaranya, “Saudara-saudara yang saya hormati, perhatikanlah bahwa Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Hari, sebenarnya adalah juru selamat bagi semua roh yang jatuh dan terikat. Tiada dewa yang dapat menyelamatkan roh-roh yang terikat, sebab para dewa sendiri terikat. Roh terikat tidak dapat menyelamatkan roh terikat lainnya. Hanya Kṛṣṇa atau utusan Kṛṣṇa yang bonafide yang dapat menyelamatkan roh yang terikat. Air Gangga yang mengalir dari jari kaki Śrī Viṣṇu jatuh di muka bumi dan planet-planet lain dan dengan demikian menyelamatkan semua roh terikat yang penuh dosa. Karena itu, pembebasan orang yang selalu tekun dalam pelayanan kepada Tuhan tidak perlu dipersoalkan. Pasti mereka mencapai pembebasan, meskipun mereka mempunyai segudang kegiatan berdosa dari banyak penjelmaannya.” Dengan kata lain, orang yang tekun memuja Arca dapat mengurangi beban reaksi dosa dari banyak penjelmaan sebelumnya. Proses memuja Arca sudah diuraikan, dan orang harus berusaha mengikuti aturan dan peraturan tersebut dengan serius.

 

Menyanyi

Dalam Lińga Purāṇa, ada pernyataan tentang menyanyi dan memuji kebesaran Tuhan. Dalam Kitab Suci tersebut, dinyatakan, “Seorang brāhmaṇa yang senantiasa tekun menyanyi tentang kebesaran Tuhan pasti diangkat sampai planet tempat Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Śrī Kṛṣṇa lebih menghargai nyanyian ini daripada doa-doa pujian yang dipanjatkan oleh Dewa Śiva.”

 

Sańkīrtana

Apabila seseorang menyanyikan kebesaran kegiatan, sifat-sifat, bentuk Tuhan, dan sebagainya dengan suara yang keras, maka nyanyian itu disebut sańkīrtana. Sańkīrtana juga berarti ramai-ramai memuji nama-nama suci Tuhan.

Dalam Viṣṇu-dharma, ada pernyataan yang memuji proses ramai-ramai memuji nama Tuhan: “Baginda Raja yang saya hormati, kata Kṛṣṇa ini sangat menguntungkan sehingga siapa pun yang memuji nama suci ini segera dibebaskan dari perbuatan akibat kegiatan berdosa dari banyak penjelmaan.” Itu kenyataan. Dalam Caitanya-caritāmṛta, terdapat pernyataan sebagai berikut: “Orang yang memuji nama suci Kṛṣṇa dapat segera menebus perbuatan akibat kegiatan berdosa lebih banyak daripada yang dapat dilakukannya.” Orang yang berdosa dapat melakukan banyak kegiatan yang berdosa, tetapi dia tidak akan sanggup melakukan kegiatan berdosa terlalu banyak sehingga tidak dapat dihapus dengan satu kali saja mengucapkan nama Kṛṣṇa.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tujuh, Bab Sembilan, sloka 18, Mahārāja Prahlāda mempersembahkan doa pujian kepada Tuhan sebagai berikut: “Śrī Nṛsiḿha yang hamba muliakan, kalau hamba dapat diangkat sampai kedudukan sebagai hamba-Mu, maka akan dimungkinkan hamba mendengar tentang kegiatan-Mu. Engkaulah kawan yang paling utama, Personalitas yang paling patut disembah. Kegiatan-Mu bersifat spiritual dan melampaui dunia ini, dan hanya dengan mendengar tentang kegiatan itu, seseorang dapat menebus segala kegiatannya yang berdosa. Karena itu, hamba tidak akan memedulikan segala kegiatan yang berdosa itu, sebab hanya dengan mendengar tentang kegiatan-Mu, hamba akan keluar dari segala ikatan material.”

Ada banyak lagu tentang kegiatan Tuhan. Misalnya, ada Brahma-saḿhitā, doa pujian dari Dewa Brahmā; Nārada-pañcarātra, yang dinyanyikan oleh Nārada Muni; dan Śrīmad-Bhāgavatam, yang dinyanyikan oleh Śukadeva Gosvāmī. Kalau lagu-lagu tersebut didengar oleh siapa pun, maka dengan mudah sekali ia dapat keluar dari cengkraman pengaruh material. Seharusnya tidak ada kesulitan dalam mendengar lagu-lagu Tuhan tersebut. Lagu-lagu tersebut diwariskan dari berjuta-juta tahun silam, dan orang masih memanfaatkannya. Karena itu, pada saat ini, alangkah baiknya seseorang memanfaatkan lagu-lagu tersebut dan dengan demikian mencapai pembebasan.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Pertama, Bab Lima, sloka 22, Nārada Muni memberitahu muridnya yang bernama Vyāsadeva, “Vyāsa yang baik hati, engkau harus mengetahui bahwa orang yang sibuk menjalankan pertapaan dan kesederhanaan, memelajari Veda, mempersembahkan kurban-kurban suci yang besar, mengucapkan mantra-mantra Veda, berspekulasi tentang pengetahuan spiritual dan melaksanakan kegiatan kedermawanan, haya perlu memeroleh tempat dalam pergaulan dengan para penyembah dan memuji kebesaran Tuhan untuk segala kegiatan-Nya yang menyejahterakan.” Di sini dinyatakan bahwa menyanyi tentang Tuhan dan memuji kebesaran Tuhan adalah kegiatan tertinggi bagi mahluk hidup.

 

Japa

Mengucapkan mantra atau doa dengan suara kecil dan secara perlahan disebut japa, sedangkan menyanyikan mantra yang sama dengan suara besar di sebut kīrtana. Misalnya, mengu-capkan mahā-mantra (Hare Kṛṣṇa, Hare Kṛṣṇa, Kṛṣṇa Kṛṣṇa, Hare Hare/ Hare Rāma, Hare Rāma, Rāma Rāma, Hare Hare) dengan suara yang kecil, hanya untuk didengar sendiri disebut japa. Menyanyikan mantra yang sama dengan suara besar untuk didengar oleh semua orang disebut kīrtana. Mahā-mantra dapat digunakan untuk japa maupun kīrtana. Orang berlatih japa untuk memeroleh manfaat pribadi, sedangkan kīrtana dilakukan untuk memberi manfaat kepada orang lain yang barangkali mendengar.

Dalam Padma Purāṇa, terdapat pernyataan: “Jalan menuju pembebasan dan kebahagiaan seperti di surga segera terbuka untuk siapa pun yang mengucapkan nama suci Tuhan, baik dengan suara kecil maupun dengan suara besar.”

 

Sikap Rendah Hati

Dalam Skanda Purāṇa, terdapat pernyataan tentang sikap tunduk hati kepada kaki-padma Tuhan. Dalam sloka tersebut dinyatakan bahwa para penyembah yang tenang dan serius dapat mempersembahkan sikap rendah hatinya di hadapan Kṛṣṇa dengan tiga cara sebagai berikut: (1) samprārthanātmikā, memanjatkan doa pujian dengan penuh perasaan; (2) dainyavodhikā, berserah-diri dengan rendah hati; (3) lālasāmayī, menginginkan suatu tingkat kesempurnaan. Menginginkan tingkat kesempurnaan dalam kehidupan spiritual bukan kepuasan indera. Bila seseorang menginsafi sesuatu tentang kedudukan dasarnya berhubungan dengan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, dia mengerti kedudukannya yang asli dan ingin diangkat kembali dalam kedudukan ini, baik sebagai kawan, pelayan, ayah ibu, atau kekasih Kṛṣṇa. Itu disebut lālasāmayī, atau bercita-cita dengan semangat besar untuk mencapai kedudukan kita yang wajar. Tahap berserah-diri dengan rendah hati lālasāmayī tersebut dicapai pada tingkat pembebasan yang sempurna, yang disebut dengan istilah svarūpa-siddhi, bila makhluk hidup mengerti hubungannya yang asli dengan Tuhan melalui kema-juan spiritual dan wahyu yang sempurna.

Dalam Padma Purāṇa, ada pernyataan tentang sikap rendah hati dalam perasaan para penyembah yang berdoa kepada Tuhan sebagai berikut: “Oh Tuhan, hamba mengetahui bahwa sewajarnya pemudi mempunyai kasih sayang terhadap pemuda, dan pemuda mempunyai kasih sayang yang wajar terhadap pemudi. Hamba berdoa di kaki padma-Mu kiranya pikiran hamba tertarik kepada-Mu dengan cara spontan yang sama.” Contoh tersebut tepat sekali. Bila seorang pemuda atau pemudi melihat pasangannya, timbullah rasa kasih sayang alamiah, dan perasaan itu tidak perlu diprakarsai. Tanpa latihan, ada rasa kasih sayang yang wajar akibat hawa nafsu. Ini merupakan contoh material, tetapi penyembah berdoa supaya dirinya dapat mengembangkan ikatan spontan yang serupa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bebas dari segala keinginan untuk keuntungan dan tanpa sebab yang lain. Rasa kasih sayang yang wajar terhadap Tuhan tersebut adalah tingkat kesempurnaan keinsafan-diri.

Dalam Padma Purāṇa yang sama ada pernyataan tentang sikap rendah hati dalam sikap tunduk hati. Dalam Padma Purāṇa dinyatakan, “Tuhan yang hamba muliakan, tiada mahluk hidup yang lebih berdosa daripada hamba. Tiada yang berbuat kesalahan yang lebih besar daripada hamba. Dosa dan kesalahan hamba begitu besar sehingga bila hamba datang untuk mengaku kegiatan hamba yang berdosa di hadapan-Mu, hamba merasa malu.” Ini merupakan kedudukan wajar seorang penyembah. Tidak mengherankan bahwa makhluk hidup mempunyai kegiatan berdosa dari kehidupannya dahulu, dan ini harus diakui di hadapan Tuhan. Begitu penyembah mengaku kesalahannya, Tuhan memaafkan penyembah yang tulus ikhlas. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia harus memanfaatkan karunia Tuhan yang tiada bersebab dan mengharapkan dirinya akan dimaafkan berulang kali, sambil ia melakukan kegiatan berdosa yang sama. Sikap seperti itu hanya untuk orang yang tidak tahu malu. Di sini dinyatakan dengan jelas, “Bila hamba datang untuk mengaku kegiatan hamba yang berdosa, hamba merasa malu.” Jadi, kalau seseorang tidak merasa malu karena kegiatan yang berdosa dan terus melakukan kegiatan berdosa yang sama berdasarkan pengetahuan bahwa Tuhan akan memaafkannya, maka itu merupakan gagasan yang paling tidak masuk akal. Gagasan seperti itu tidak dibenarkan dalam sloka mana pun dari sastra Veda. Memang kenyataan bahwa seseorang disucikan dari segala kegiatan berdosa dari kehidupan sebelumnya dengan cara mengucapkan nama suci Tuhan. Tetapi itu tidak berarti bahwa sesudah seseorang disucikan, ia boleh memulai kegiatan berdosa sekali lagi dan mengharapkan dirinya akan disucikan lagi. Ini merupakan gagasan-gagasan yang tidak masuk akal dan tidak diakui dalam bhakti. Barangkali seseorang berpikir, “Saya boleh berbuat kegiatan berdosa selama satu minggu, kemudian saya akan pergi ke tempat sembahyang pada satu hari dan mengaku kegiatanku yang berdosa sehingga diriku disucikan, kemudian sekali lagi mulai berbuat dosa.” Ini merupakan sikap yang sangat tidak masuk akal, merupakan kesalahan besar dan tidak dibenarkan oleh penyusun Bhakti-rasāmṛta-sindhu.

Dalam Nārada-pañcarātra, ada pernyataan tentang sikap rendah hati yang disertai keinginan untuk mencapai kesempurnaan. Seorang penyembah berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, kapankah akan tiba saatnya Engkau meminta supaya hamba mengipas badan-Mu, dan menurut kesenangan-Mu, Engkau akan berkata, ‘Kipaslah Aku dengan cara seperti ini’?” Maksud sloka ini ialah bahwa seorang penyembah ingin mengipas badan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa secara pribadi. Ini berarti penyembah tersebut ingin menjadi rekan pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Tentunya, penyembah dalam peran mana pun, baik sebagai pelayan, kawan maupun kekasih, selalu mempunyai pergaulan dengan Tuhan secara langsung. Tetapi seseorang mengidamkan satu saja di antara hubungan-hubungan tersebut menurut selera pribadinya. Di sini seorang penyembah bercita-cita menjadi pelayan Tuhan dan ingin mengipas Tuhan, seperti yang dilakukan oleh energi internal Tuhan, yang bernama Lakṣmī, Dewi Fortuna. Beliau juga menginginkan supaya Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa akan berkenan memberi petunjuk kepadanya tentang bagaimana cara me-ngipas. Sikap rendah hati dengan keinginan spiritual tersebut, atau lālasāmayī vijñapti, adalah tingkat kesempurnaan tertinggi keinsafan spiritual.

Dalam Nārada-pañcarātra yang sama, terdapat ungkapan lain tentang sikap rendah hati. Dalam Nārada-pañcarātra, seorang penyembah berkata, “Tuhan yang hamba muliakan, yang mempunyai mata yang seindah bunga padma, kapankah akan tiba saatnya di tepi sungai Yamunā hamba akan menjadi seperti orang gila dan terus-menerus mengucapkan nama suci-Mu sambil air mata keluar terus dari mata hamba?” Ini merupakan tingkat kesempurnaan lain lagi. Śrī Caitanya juga menginginkan supaya “....sesaat akan terasa seperti dua belas tahun bagi hamba, dan seluruh dunia akan terasa seolah-olah kosong karena hamba tidak melihat-Mu, Tuhan yang hamba muliakan.” Seseorang harus berdoa dengan penuh perasaan dan ingin sekali mem-persembahkan pelayanan pribadinya kepada Tuhan. Inilah ajaran semua penyembah yang mulia, terutama Śrī Caitanya.

Dengan kata lain, seseorang harus belajar bagaimana cara menangis untuk Tuhan. Ia harus memelajari cara yang kecil tersebut, dan ia harus mempunyai keinginan besar dan sungguh-sungguh menangis dengan cita-cita supaya dirinya diberi kesempatan untuk menekuni jenis pelayanan tertentu. Ini disebut laulyam, dan air mata seperti itu adalah harga kesempurnaan tertinggi. Kalau seseorang mengembangkan laulyam tersebut, atau keinginan yang sangat besar untuk bertemu muka dan mengabdi kepada Tuhan dengan cara tertentu, maka itulah harga untuk memasuki kerajaan Tuhan. Kalau tidak demikian, tiada perhitungan material untuk menilai harga karcis yang memungkinkan seseorang memasuki kerajaan Tuhan. Satu-satunya harga masuk kerajaan Tuhan ialah laulyam lālasāmayi tersebut, atau keinginan dan semangat yang sangat besar.

 

Membacakan Doa-Doa Pujian yang Termasyhur

Menurut para sarjana terpelajar yang mulia, seluruh Bhagavad-gītā berisi banyak doa pujian yang dibenarkan, khususnya dalam Bab Sebelas. Dalam Bab Sebelas, Arjuna berdoa kepada bentuk semesta Tuhan. Begitu pula, semua sloka dalam Gautamīya-tantra disebut doa pujian. Dalam Śrīmad-Bhāgavatam juga terdapat beratus-ratus doa pujian kepada Tuhan. Jadi, seorang penyembah harus memilih beberapa di antara doa pujian tersebut untuk dibacakan. Dalam Skanda Purāṇa, kemuliaan doa-doa pujian tersebut dinyatakan sebagai berikut: “Penyembah-penyembah yang lidahnya selalu terhias dengan doa-doa pujian kepada Śrī Kṛṣṇa selalu dihormati bahkan oleh orang-orang suci yang mulia dan resi-resi sekalipun. Penyembah-penyembah seperti itu sungguh-sungguh patut disembah oleh para dewa.”

Orang yang kurang cerdas lebih suka menyembah berbagai dewa untuk suatu keuntungan material daripada menyembah Kṛṣṇa. Tetapi di sini dinyatakan bahwa seorang penyembah yang selalu tekun memanjatkan doa-doa pujian kepada Tuhan patut disembah bahkan oleh para dewa sekalipun. Para penyembah-murni tidak harus meminta sesuatu dari dewa mana pun; melainkan para dewa ingin mempersembahkan doa pujian kepada para penyembah-murni.

Dalam Nṛsiḿha Purāṇa dinyatakan, “Siapa pun yang datang di hadapan Arca Śrī Kṛṣṇa dan mulai mengucapkan berbagai doa pujian segera dibebaskan dari segala reaksi kegiatan yang berdosa dan tidak dapat diragu-ragukan bahwa ia memenuhi syarat untuk memasuki Vaikuṇṭhaloka.”

 

Menerima Prasāda

Ada pernyataan khusus dalam Padma Purāṇa yang berbunyi sebagai berikut. “Orang yang menghormati prasāda dan memakannya secara teratur, tidak langsung di depan Arca, dan sekalian meminum caranāmṛta (air yang dipersembahkan kepada kaki-padma Tuhan, yang dicampur dengan biji-biji pohon tulasī), dapat segera mencapai hasil kegiatan saleh yang biasanya dicapai setelah melaksanakan ritual-ritual kurban suci sebanyak sepuluh ribu kali.”

 

Minum Caranāmṛta

Caranāmṛta diperoleh pagi-pagi pada waktu Arca Tuhan sedang dimandikan sebelum dipakaikan pakaian. Air tersebut yang tercampur lengan minyak wangi dan bunga mengalir ke bawah melalui kaki-padma-Nya dan kemudian ditampung dan dicampur dengan susu asam. Dengan cara demikian, caranāmṛta tersebut tidak hanya sangat enak tetapi juga mengandung nilai spiritual yang sangat besar. Sebagaimana diuraikan dalam Padma Purāṇa, orang yang belum pernah dapat memberi sumbangan, yang belum pernah dapat mempersembahkan kurban suci besar, yang belum pernah dapat memelajari Veda, belum pernah dapat menyembah Tuhan—atau dengan kata lain, orang yang belum pernah melakukan perbuatan saleh apa pun—akan memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan Tuhan kalau dia hanya meminum caranāmṛta yang disimpan di tempat sembahyang. Di tempat sembahyang, menurut tradisi caranāmṛta harus disimpan dalam mangkuk yang besar. Para penyembah yang datang untuk mengunjungi tempat sembahyang dan menghormati Arca minum tiga tetes caranāmṛta dengan sikap sangat rendah hati dan merasa senang dalam kebahagiaan rohani.

 

Mencium Dupa dan Bunga yang Dipersembahkan kepada Arca

Dalam Hari-bhakti-sudhodaya, ada pernyataan tentang dupa yang dipersembahkan di tempat sembahyang: “Apabila para penyembah mencium bau harum dari dupa yang dipersembahkan kepada Arca, dengan demikian mereka disembuhkan dari efek racun pengaruh material, seperti halnya seseorang disembuhkan dari gigitan ular dengan mencium ramuan obat-obat yang dianjurkan.” Arti sloka ini ialah bahwa ada sejenis ramuan yang ditemukan di hutan yang dapat digunakan oleh para ahli untuk menyadarkan kembali orang yang telah digigit ular. Hanya dengan mencium bau ramuan itu, seseorang segera dibebaskan dari akibat bisa gigitan ular. Perumpamaan yang sama dapat digunakan: bila seseorang datang untuk mengunjungi tempat sembahyang dan mencium bau dupa yang dipersembahkan kepada Arca, pada saat itu dia disembuhkan dari segala pencemaran pengaruh materialnya. Setiap penyembah yang datang ke tempat sembahyang harus selalu mempersembahkan sesuatu kepada Arca—buah, bunga, dupa, dan sebagainya. Kalau seorang tidak dapat mempersembahkan sesuatu dalam bentuk uang tunai, benda lain harus dipersembahkan. Di India menurut adat semua wanita dan pria yang datang pagi-pagi untuk mengunjungi tempat sembahyang membawa berbagai benda untuk dipersembahkan. Sebutir beras atau segenggam tepung dapat dipersembahkan. Menurut prinsip yang mengatur, hendaknya seseorang jangan pergi untuk menemui orang suci atau Arca di tempat sembahyang tanpa membawa persembahan. Persembahan atau sesajian itu boleh sederhana sekali, atau boleh pula sangat mewah. Bunga, buah air—apa pun yang memungkinkan harus dipersembahkan. Jadi, apabila seorang penyembah datang untuk mempersembahkan sesuatu kepada Arca pagi-pagi, pasti ia mencium bau harum dupa, dan dengan de-mikian segera disucikan dari akibat racun kehidupan material.

Dinyatakan dalam tantra-ṣāstra, “Kalau bau wangi dari kalungan bunga yang telah dipersembahkan kepada Arca di tempat sembahyang masuk ke dalam lubang hidung seseorang, maka ikatannya terhadap kegiatan berdosa segera disucikan. Kalaupun seseorang tidak mempunyai kegiatan berdosa, namun dengan mencium sisa bunga seperti itu, ia dapat maju dari tingkat Māyāvādī sampai tingkat penyembah.” Ada banyak contoh me-ngenai hal ini. Salah satu contoh paling terkenal dalam hal ini ialah kemajuan Empat Kumāra bersaudara. Dahulu mereka Māyāvādī yang impersonalis, tetapi sesudah mencium sisa bunga dan dupa di tempat sembahyang, mereka beralih menjadi penyembah. Dari sloka tersebut di atas, kelihatannya para Māyāvādī atau orang impersonalis, kurang lebih tercemar. Mereka tidak suci.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam dibenarkan, “Orang yang belum disucikan dari segala reaksi kegiatan yang berdosa tidak dapat menjadi penyembah-murni. Seorang penyembah-murni tidak ragu-ragu lagi tentang Kemahakuasaan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, dan karena itu dia menekuni kesadaran Kṛṣṇa dan pelayanan bhakti.” Ada pernyataan yang serupa dalam Agastya-saḿhitā: Hanya untuk mensucikan hal-hal yang kotor dan lubang hidung kita, kita harus berusaha mencium sisa bunga yang telah dipersembahkan kepada Kṛṣṇa di tempat sembahyang.

 

Menyentuh Arca

Dalam Viṣṇu-dhamottara terdapat pernyataan tentang menyentuh kaki-padma Tuhan. Dinyatakan, “Hanya orang yang sudah diterima sebagai murid dan Vaiṣṇava serta melaksanakan pelayanan bhakti dalam kesadaran Kṛṣṇa yang berhak menyentuh badan Arca.” Di India terjadi gerombolan selama masa gerakan politik Gandhi karena orang dari golongan rendah seperti tukang sapu dan kaum caṇḍāla dilarang masuk bagian dalam tempat sembahyang menurut aturan Veda. Mereka dilarang masuk karena kebiasaan mereka kotor, tetapi pada waktu yang sama mereka diberi fasilitas lain supaya mereka dapat diangkat sampai tingkat tertinggi bhakti melalui pergaulan dengan penyembah-penyembah murni. Orang yang dilahirkan dalam keluarga mana pun tidak dilarang masuk tempat sembahyang, tetapi ia harus disucikan. Proses pensucian itu harus dijalani. Gandhi ingin mensucikan mereka hanya dengan mencap mereka dengan nama yang dikarangnya sendiri, yaitu hari-jana (“Anak-anak Tuhan”), sehingga terjadi pertengkaran besar antara para pemilik kuil dan para pengikut Gandhi.

Bagaimanapun, hukum yang berlaku sekarang adalah hukum dari segala Kitab Suci—yaitu bahwa siapa pun yang sudah disucikan boleh masuk tempat sembahyang. Sebenarnya, itulah kedudukan yang benar. Hanya orang yang sudah diterima sebagai murid dengan cara yang benar, yang mengikuti aturan dan peraturan dengan cara yang benar, boleh masuk dan menyentuh Arca—tidak semua orang boleh masuk. Orang yang menyentuh badan Arca, dengan mengikuti aturan prinsip yang mengatur, segera dibebaskan dari pengaruh dosa material, dan segala keinginannya segera terpenuhi.

 

Melihat Arca

Dalam Varāha Purāṇa, ada pernyataan yang memuji kegiatan melihat Arca Śrī Kṛṣṇa di tempat sembahyang. Dalam Varāha Purāṇa seorang penyembah berkata, “Vasundharā yang saya hormati, siapa pun yang pergi ke Vṛndāvana dan melihat Arca Govindadeva bebas dari pengadilan Yamarāja dan diizinkan memasuki susunan planet tertinggi, tempat tinggal para dewa.” Ini berarti orang biasa yang pergi ke Vṛndāvana karena ingin tahu dan kebetulan melihat tempat sembahyang, khususnya tempat sembahyang Govindadeva, walaupun ia tidak diangkat ke kerajaan spiritual, masih terjamin ia akan diangkat sampai susunan-susunan planet yang lebih tinggi. Ini berarti bahwa hanya dengan mengunjungi Arca Govinda di Vṛndāvana se-seorang diangkat sampai kedudukan yang tinggi sekali dalam kehidupan yang saleh.

 

Melihat Arati dan Perayaan Hari-hari Besar Tuhan

Dalam Skanda Purāṇa, ada uraian berikut tentang hasil melihat ārati (pemujaan) kepada Arca: “Kalau seseorang melihat wajah Tuhan selama ārati dipersembahkan ia dapat dibebaskan dari segala reaksi dosa dari berjuta-juta tahun yang lalu. Ia dibebaskan bahkan dari dosa membunuh brāhmaṇa maupun kegiatan terlarang yang serupa.”

Sebagaimana sudah kami jelaskan, ada berbagai upacara untuk dirayakan, misalnya hari ulang tahun Kṛṣṇa, hari ulang tahun Śrī Rāmacandra, hari ulang tahun beberapa Vaiṣṇava yang terkemuka, upacara Jhulana-yātrā dengan Kṛṣṇa didudukkan pada ayunan, dan Dola-yātrā (kegiatan Kṛṣṇa selama bulan Maret). Dalam semua perayaan tersebut, Kṛṣṇa didudukkan di atas kereta, dan kereta itu bergerak melalui jalan-jalan di kota supaya orang dapat memanfaatkan kunjungan Tuhan. Dalam Bhaviṣya Purāṇa dikatakan, “Dalam upacara seperti itu, kalau seorang caṇḍāla (orang yang makan daging anjing) melihat Kṛṣṇa pada kereta hanya karena rasa ingin tahu, dia terhitung sebagai salah seorang rekan Viṣṇu.”

Dalam Agni Purāṇa dinyatakan, “Siapa pun yang melihat pemujaan kepada Arca di tempat sembahyang dengan rasa riang akan memperoleh hasil kriyā-yoga yang diuraikan dalam Kitab Suci pañcarātra.” Kriyā-yoga adalah sistem latihan yang mirip dengan latihan bhakti, tetapi khususnya dimaksudkan untuk para yogī mistik. Dengan kata lain, melalui proses bertahap tersebut, berangsur-angsur para yogī mistik diangkat sampai bhakti kepada Tuhan.