Sloka

Bab 7: Bukti Mengenai Prinsip-Prinsip Bhakti

Penjelasan

Berlindung kepada Guru Spiritual yang Bonafide

 Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Tiga, sloka 21, Prabuddha memberitahu Mahārāja Nimi, “Baginda Raja yang saya hormati, ketahuilah dengan pasti bahwa tidak ada kebahagiaan apa pun di dunia material. Adalah kesalahan belaka kalau kita berpikir ada kebahagiaan di sini, sebab tempat ini penuh keadaan sengsara dan tidak lebih dari itu. Siapa pun yang sungguh-sungguh ingin mencapai kebahagiaan sejati harus mencari seorang guru spiritual yang bonafide dan berlindung kepada guru spiritual dengan cara diterima sebagai murid. Kualifikasi seorang guru spiritual ialah bahwa beliau harus sudah menginsafi kesimpulan Kitab Suci melalui pertimbangan dan argumentasi sehingga sanggup meyakinkan orang lain tentang kesimpulan-kesimpulan itu. Kepribadian-kepribadian mulia seperti itu yang sudah berlindung kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan meninggalkan segala pertimbangan material, harus diakui sebagai guru-guru spiritual yang bonafide. Semua orang harus berusaha menemukan seorang guru spiritual yang bonafide seperti yang tersebut untuk memenuhi misi hidupnya, yaitu memindahkan dirinya ke tingkat kebahagiaan rohani.”

Arti sloka tersebut ialah bahwa seseorang hendaknya jangan berguru kepada orang yang sangat bodoh, yang tidak mempunyai arah menurut aturan Kitab Suci, yang wataknya diragu-ragukan, yang tidak mengikuti prinsip-prinsip aturan pelayanan bhakti, atau belum menaklukkan pengaruh enam unsur kepuasan indera. Enam unsur kepuasan indera adalah lidah, kemaluan, perut, amarah, pikiran dan kata-kata. Siapa pun yang sudah terlatih dalam mengendalikan enam unsur tersebut diperbolehkan menerima murid di seluruh dunia. Berguru kepada seorang guru spiritual seperti itu adalah saat yang sangat penting untuk kemajuan dalam kehidupan spiritual. Orang yang cukup beruntung hingga mencapai perlindungan seorang guru spiritual yang bonafide pasti maju dalam menempuh jalan pembebasan spiritual.

 

Diterima Sebagai Murid oleh Guru Spiritual dan Menerima Pelajaran dari Beliau.

 Resi Prabuddha melanjutkan pembicaraan kepada Mahārāja Nimi sebagai berikut: “Baginda Raja yang saya hormati, seorang murid harus mengakui guru spiritual tidak hanya sebagai guru spiritual tetapi juga sebagai utusan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dan Roh Yang Utama. Dengan kata lain, seorang murid harus mengganggap guru spiritual seperti Tuhan, sebab guru spiritual adalah manifestasi lahiriah dari Kṛṣṇa. Kenyataan ini dibenarkan dalam semua Kitab Suci, dan seorang murid harus mengakui guru spiritual seperti itu. Seseorang harus memelajari Śrīmad-Bhāgavatam dengan serius dan bersikap serba menghormati dan memuliakan guru spiritual. Mendengar dan membacakan Śrīmad-Bhāgavatam adalah proses keagamaan yang mengangkat seseorang sampai tingkat bhakti dalam cinta kasih rohani kepada Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa.”

Sikap seorang murid seharusnya adalah untuk memuaskan guru spiritual yang bonafide. Dengan demikian, mudah sekali dia mengerti pengetahuan spiritual. Kenyataan ini dibenarkan dalam kitab Veda, dan Rūpa Gosvāmī akan menjelaskan lebih lanjut bahwa segala sesuatu diungkapkan dengan mudah sekali untuk orang yang percaya kepada Tuhan dan guru spiritual dan tidak pernah menyimpang.

 

Mengabdi kepada Guru Spiritual dengan Kepercayaan dan Keyakinan

 Mengenai hal guru spiritual menerima seseorang sebagai murid, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sebelas, Bab Tujuhbelas, sloka 27, Śrī Kṛṣṇa menyatakan, “Uddhava yang baik hati, guru spiritual harus diakui bukan hanya sebagai utusan-Ku, tetapi juga sebagai Diri-Ku. Guru spiritual seharusnya tidak pernah dianggap manusia biasa. Hendaknya seseorang jangan iri kepada guru spiritual, seperti halnya barangkali ia iri kepada manusia biasa. Guru spiritual harus selalu dipandang sebagai utusan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Dengan mengabdi kepada guru spiritual seseorang dapat mengabdi kepada semua dewa.”

 

Mengikuti Jejak Langkah Orang Suci

 Dalam Skanda Purāṇa dianjurkan supaya seorang penyembah mengikuti para ācārya dan orang suci terdahulu, sebab dengan mengikuti mereka seperti itu, ia dapat mencapai hasil yang diinginkan, tanpa kemungkinan penyesalan atau kebingungan dalam kemajuannya.

Kitab Brahma-yāmala menyatakan sebagai berikut: “Kalau seseorang ingin menyamar sebagai penyembah yang mulia tanpa mengikuti kekuasaan Kitab-kitab Suci yang sudah diwahyukan, maka kegiatannya tidak akan pernah membantu dirinya untuk maju dalam bhakti. Sebaliknya, dia hanya akan mernbuat gangguan untuk murid-murid yang ingin memelajari bhakti dengan tulus ikhlas. Orang yang tidak mengikuti prinsip-prinsip Kitab Suci yang diwahyukan secara ketat pada umumnya disebut sahajiyā—orang yang membayangkan segala sesuatu gampang sekali, mempunyai tafsiran sendiri, dan tidak mengikuti aturan Kitab Suci. Orang seperti itu hanya membuat gangguan dalam pelaksanaan pelayanan bhakti.

Berhubungan dengan hal ini, barangkali orang yang tidak melakukan pelayanan bhakti dan tidak memedulikan Kitab Suci yang diwahyukan berkeberatan. Salah satu contoh tentang hal ini dapat dilihat pada filsafat Sang Buddha. Sang Buddha muncul dalam keluarga seorang raja kṣatriya kelas tinggi, tetapi filsafatnya tidak menurut kesimpulan Veda, sehingga tidak diterima. Agama Buddha disebarkan di seluruh India dan negara-negara tetangga karena disponsori oleh seorang Raja Hindu, yaitu Mahārāja Asoka. Akan tetapi, sesudah guru besar bernama Sańkarācārya muncul, agama Buddha hanya berkembang di luar perbatasan India.

Para pengikut Sang Buddha atau pemuka agama yang tidak memedulikan Kitab-kitab Suci yang diwahyukan kadang-kadang mengatakan ada banyak penyembah Sang Buddha yang memperlihatkan pelayanan bhakti kepada Sang Buddha, dan karena itu mereka harus dianggap penyembah. Sebagai tanggapan atas argumentasi tersebut, Rūpa Gosvāmī menyatakan bahwa para pengikut Buddha tidak dapat diakui sebagai penyembah. Wa-laupun Sang Buddha diakui sebagai inkarnasi Kṛṣṇa, para pengikut inkarnasi-inkarnasi seperti itu tidak begitu maju dalam pengetahuannya tentang Veda. Memelajari Veda berarti mencapai kesimpulan tentang Kemahakuasaan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip keagamaan yang menolak Kemahakuasaan Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa tidak diterima dan disebut ateis. Ateis berarti menolak kekuasaan Veda dan menghina para ācārya yang mulia yang mengajarkan Kitab-kitab Veda untuk kesejahteraan rakyat umum.

 Sang Buddha diakui sebagai inkarnasi Kṛṣṇa dalam Śrīmad-Bhāgavatam, tetapi dalam Śrīmad-Bhāgavatam yang sama dinyatakan bahwa Sang Buddha muncul untuk membingungkan manusia yang ateis. Jadi, filsafat Sang Buddha dimaksudkan untuk membingungkan para ateis dan tidak harus diterima. Kalau seseorang hertanya, “Mengapa Kṛṣṇa harus menyebarkan prinsip-prinsip ateis?” Jawabannya ialah bahwa Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa ingin mengakhiri kekerasan yang sedang dilakukan pada waktu itu atas nama Veda. Orang yang hanya namanya saja pemuka agama menyalahgunakan Veda untuk membenarkan perbuatan kekerasan seperti makan daging, dan Sang Buddha datang untuk membina rakyat yang sudah jatuh hingga meninggalkan tafsiran-tafsiran Veda yang palsu seperti yang tersebut. Sang Buddha juga mengajarkan filsafat ateisme kepada para ateis supaya mereka akan mengikuti beliau dan dengan demikian dapat ditipu hingga melakukan pelayanan kepada Sang Buddha, atau Kṛṣṇa.

 

Bertanya Tentang Prinsip-prinsip Dharma yang Kekal

 Dalam Nāradīya Purāṇa dinyatakan, “Kalau seseorang sungguh-sungguh serius tentang bhakti, maka segala maksudnya akan dipenuhi dengan segera.”

 

Bersedia Melepaskan Segala Sesuatu yang Bersifat Material untuk memuaskan Kṛṣṇa

 Dalam Padma Purāṇa dinyatakan, “Kekayaan Viṣṇuloka [kerajaan Tuhan] menantikan orang yang sudah meninggalkan kenikmatan indera-indera materialnya dan sudah menerima prinsip-prinsip pelayanan bhakti.”

 

Tinggal di Tempat Suci

 Dalam Skanda Purāṇa juga dinyatakan bahwa pengangkatan sampai planet-planet Vaikuṇṭhaloka dan segala keuntungan sārupya-mukti (kesempatan untuk mempunyai ciri-ciri badan berlengan empat seperti Nārāyaṇa) menantikan orang yang sudah tinggal di Dvārakā selama enam bulan, satu bulan, ataupun dua minggu.

Dalam Brahmā Purāṇa, dinyatakan, “Makna spiritual Puruṣottama-kṣetra, wilayah Śrī Jagannātha yang seluas duaratus lima kilometer persegi, tidak dapat diuraikan dengan kata-kata yang cukup mulia. Para dewa dari susunan-susunan planet yang lebih tinggi juga melihat penduduk Jagannātha Purī ini memiliki ciri-ciri badan yang sama seperti penduduk Vaikuṇṭha. Ini berarti para dewa melihat para penduduk Jagannātha Purī berlengan empat.”

Pada waktu pertemuan resi-resi yang mulia diadakan di Naimiṣāraṇya, Sūta Gosvāmī sedang membacakan Śrīmad-Bhāgavatam, dan pentingnya sungai Gangga dinyatakan sebagai berikut: “Air sungai Gangga selalu membawa harumnya tulasī yang dipersembahkan pada kaki-padma Śrī Kṛṣṇa. Karena itu, air Gangga mengalir selamanya, dan menyebarkan kebesaran Śrī Kṛṣṇa. Di mana pun air Gangga mengalir, segala sesuatu akan disucikan, baik secara lahiriah maupun batiniah.”

 

Hanya Menerima Apa yang Dibutuhkan

 Dalam Nāradiya Purāṇa, pengarahan diberikan sebagai berikut: “Sebaiknya seseorang jangan menerima lebih daripada kebutuhan kalau ia sungguh-sungguh ingin melaksanakan pelayanan bhakti.” Arti sloka ini ialah bahwa seseorang jangan alpa untuk mengikuti prinsip-prinsip pelayanan bhakti, ataupun menerima aturan pelayanan bhakti yang melebihi apa yang dapat dilakukannya dengan mudah. Misalnya, dapat dikatakan bahwa seseorang harus mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa sekurang-kurangnya seratus ribu kali setiap hari dengan tasbihnya. Tetapi kalau itu tidak memungkinkan, maka ia harus mengurangi jumlah mantra yang diucapkannya pada tasbih menurut kemampuan pribadinya. Pada umumnya, kami menganjurkan supaya murid-murid kami mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa sekurang-kurangnya enambelas putaran pada tasbih japanya setiap hari, dan ini harus diselesaikan. Tetapi kalau seseorang tidak berhasil menyelesaikan enambelas putaran, maka ia harus menyelesaikan sisanya besok harinya. Dia harus menepati janjinya dengan tepat. Kalau dia tidak menepati sumpah tersebut dengan tegas maka pasti dia akan lengah. Itu merupakan kesalahan dalam pelayanan kepada Tuhan. Kalau kita mengembangkan kesalahan, kita tidak akan maju dalam pelayanan bhakti. Lebih baik seseorang menetapkan prinsip aturan menurut kemampuan pribadinya kemudian mengikuti sumpah itu dan tidak pernah menyimpang. Itu akan memungkinkan dia maju dalam kehidupan spiritual.

 

Puasa pada Hari-Ekādaṣī

 Dalam Brahma-vaivarta Purāṇa, dinyatakan bahwa orang yang puasa pada hari Ekādaṣī dibebaskan dari segala jenis reaksi dari kegiatan yang berdosa dan ia maju dalam kehidupan yang saleh. Prinsip dasar bukan hanya puasa saja, melainkan meningkatkan keyakinan dan pelayanan bhakti kepada Govinda, atau Kṛṣṇa. Alasan yang sebenarnya untuk puasa pada hari Ekādaṣī ialah untuk mengurangi permintaan badan dan menggunakan waktu kita dalam pelayanan kepada Tuhan dengan mengucapkan mantra Hare Kṛṣṇa atau melakukan pelayanan yang serupa. Kegiatan terbaik untuk dilakukan pada hari-hari puasa ialah ingat kegiatan Govinda dan mendengar nama suci-Nya secara terus-menerus.

 

Menghormati Berbagai Pohon Jenis Beringin

 Skanda Purāṇa memberi pengarahan supaya seorang penyembah mempersembahkan air kepada pohon tulasī dan pohon āmalaka. Sebaiknya dia menghormati sapi dan para brāhmaṇa dan mengabdikan diri kepada para Vaiṣṇava dengan bersujud dengan hormat dan bermeditasi kepada mereka. Segala proses tersebut akan membantu seorang penyembah untuk mengurangi reaksi-reaksi dari kegiatan berdosa yang dilakukannya dahulu.

 

Meninggalkan Pergaulan dengan Orang yang Bukan Penyembah

 Śrī Caitanya pernah ditanya oleh salah seorang penyembah-Nya yang berumah tangga bagaimana seharusnya tingkah laku umum seorang Vaiṣṇava. Berkaitan dengan hal ini, Śrī Caitanya menjawab bahwa seorang Vaiṣṇava harus selalu meninggalkan pergaulan dengan orang yang bukan penyembah. Kemudian Dia menjelaskan ada dua jenis orang yang bukan penyembah: yang satu menentang Kemahakuasaan Kṛṣṇa dan yang lain terlalu materialistik. Dengan kata lain, orang yang mencari kenikmatan material dan orang yang menentang Kemahakuasaan Tuhan disebut avaiṣṇava, dan pergaulannya harus dihindari dengan tegas.

Dalam Kātyāyana-saḿhitā dinyatakan bahwa kalaupun seseorang terpaksa tinggal di dalam sangkar besi atau di tengah api yang berkobar, ia harus menerima kedudukan ini daripada tinggal bersama orang yang bukan penyembah yang sangat menentang Kemahakuasaan Tuhan. Begitu pula, dalam Viṣṇu-rahasya ada pernyataan yang menerangkan bahwa sebaiknya orang lebih memilih memeluk ular, harimau atau buaya daripada bergaul dengan orang yang menyembah berbagai dewa dan digerakan oleh keinginan material.

Dalam Kitab Suci, diajarkan bahwa seseorang dapat menyembah dewa tertentu kalau dia ingin memeroleh keuntungan material tertentu. Misalnya dianjurkan supaya orang menyembah dewa matahari kalau dia ingin bebas dari penyakit. Untuk men-dapatkan istri yang cantik, ia dapat menyembah Umā, istri Dewa Śiva, dan untuk maju dalam pendidikan, ia dapat menyembah Sarasvatī. Begitu pula, ada daftar dalam Śrīmad-Bhāgavatam untuk para penyembah semua dewa, menurut berbagai keinginan material. Tetapi walaupun semua pe-nyembah tersebut kelihatannya penyembah dewa yang baik sekali, mereka masih dianggap bukan penyembah. Mereka tidak dapat diakui sebagai penyembah.

Para Māyāvādī mengatakan bahwa seseorang dapat menyembah bentuk Tuhan yang mana pun dan itu tidak menjadi soal, sebab ia akan mencapai tujuan yang sama bagaimanapun juga. Tetapi dinyatakan dengan jelas dalam Bhagavad-gītā bahwa orang yang menyembah dewa akhirnya hanya akan mencapai planet-planet dewa-dewa itu, sedangkan para penyembah Tuhan Sendiri akan diangkat sampai tempat tinggal Tuhan, kerajaan Tuhan. Jadi, sebenarnya orang yang menyembah dewa dikritik dalam Bhagavad-gītā. Diuraikan bahwa akibat keinginan mereka yang penuh nafsu, mereka sudah kehilangan kecerdasannya sehingga mereka menyembah berbagai dewa. Karena itu, dalam Viṣṇu-rahasya, penyembah dewa tersebut disalahkan dengan tegas dengan pernyataan bahwa lebih baik tinggal bersama binatang yang paling berbahaya daripada bergaul dengan mereka.

 

Tidak Menerima Murid-Murid Yang Tidak Memenuhi Syarat, Tidak Mendirikan Banyak Tempat Sembahyang dan Tidak Membaca Terlalu Banyak Buku

 Peraturan lain lagi ialah bahwa seseorang boleh mempunyai banyak murid, tetapi sebaiknya ia jangan bertindak dengan cara yang menyebabkan ia berutang kepada murid-murid itu atas perbuatan atau bantuan tertentu. Sebaiknya orang juga jangan terlalu bersemangat untuk mendirikan tempat-tempat sembahyang baru, atau bersemangat membaca berbagai jenis buku, kecuali buku-buku yang membantu dirinya maju dalam bhakti. Secara praktis, kalau seseorang membaca Bhagavad-gītā, Śrīmad-Bhāgavatam, Ajaran Śrī Caitanya dan Lautan Manisnya Rasa Bhakti ini dengan teliti sekali, maka itu akan memberikan pengetahuan secukupnya kepada dia untuk mengerti ilmu pengetahuan kesadaran Kṛṣṇa. Ia tidak perlu bersusah-susah membaca buku-buku lain.

Dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Tujuh, Bab Tigabelas, sloka 8, Nārada Muni berdiskusi dengan Mahārāja Yudhiṣṭhira tentang fungsi-fungsi berbagai golongan masyarakat. Nārada Muni khususnya menyebutkan aturan untuk para sannyāsī, yaitu orang yang sudah melepaskan ikatan terhadap dunia material ini. Orang yang sudah memasuki tingkat hidup sannyāsa dilarang menerima orang yang tidak memenuhi syarat sebagai murid. Seorang sannyāsī harus menguji terlebih dahulu apakah seorang calon murid mencari kesadaran Kṛṣṇa dengan tulus ikhlas. Kalau murid yang bersangkutan tidak tulus ikhlas, sebaiknya ia tidak diterima akan tetapi karunia Śrī Caitanya yang tiada bersebab begitu besar sehingga Dia menganjurkan supaya semua guru spiritual yang bonafide membicarakan kesadaran Kṛṣṇa di mana-mana. Karena itu, dalam garis perguruan Śrī Caitanya, para sannyāsī juga dapat membicarakan kesadaran Kṛṣṇa di mana-mana, dan kalau seseorang mempunyai niat yang tulus ikhlas untuk menjadi murid, maka seorang sannyāsī selalu mene-rimanya.

Hal yang perlu diperhatikan ialah bahwa tanpa menambah jumlah murid, ajaran kesadaran Kṛṣṇa tidak dapat disebarluaskan. Karena itu, walau ada risiko, kadang-kadang seorang sannyāsī dalam garis perguruan Caitanya Mahāprabhu menerima orang yang belum sepenuhnya memenuhi syarat untuk menjadi murid. Kemudian, atas karunia guru spiritual yang bonafide, murid tersebut maju secara bertahap. Akan tetapi, kalau seseorang menambah jumlah murid hanya demi suatu prestasi atau penghormatan palsu, pasti dia akan jatuh dalam pelaksanaan kesadaran Kṛṣṇa.

Begitu pula, membaca banyak buku hanya untuk memperlihatkan keahlian atau untuk mencari popularitas dengan memberi ceramah di berbagai tempat, bukan kewajiban seorang guru spiritual yang bonafide. Sebaiknya seseorang menghindari segala hal tersebut. Juga dinyatakan bahwa seorang sannyāsī sebaiknya jangan bersemangat sekali untuk mendirikan tempat-tempat sembahyang. Kita dapat melihat dalam kehidupan berbagai ācārya dalam garis Mahāprabhu bahwa mereka tidak bersemangat sekali untuk mendirikan tempat-tempat sembahyang. Akan tetapi, kalau seseorang datang untuk me-ngabdikan diri, maka ācārya-acarya sama yang biasanya segan akan memberi semangat kepada orang yang ingin mengabdikan diri itu untuk mendirikan tempat-tempat sembahyang yang membutuhkan dana besar. Misalnya Mahārāja Mānsińgh, Panglima Besar Mahārāja Akhbar, ingin berbuat sesuatu untuk Śrīla Rūpa Gosvāmī. Karena itu, Rūpa Gosvāmī meminta supaya beliau mendirikan tempat sembahyang besar untuk Govindajī, yang memerlukan biaya besar sekali.

Jadi, guru spiritual yang bonafide sebaiknya jangan memikul tanggung jawab pribadi untuk mendirikan tempat-tempat sembahyang, tetapi kalau seseorang mempunyai dana dan ingin mengeluarkan dana itu untuk pelayanan kepada Kṛṣṇa, maka seorang ācārya seperti Rūpa Gosvāmī boleh menggunakan dana penyembah itu untuk mendirikan tempat sembahyang yang bagus dan mewah untuk pelayanan kepada Kṛṣṇa. Sayang sekali, kadang-kadang orang yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi guru spiritual mendekati orang kaya dan meminta agar mereka menyumbang untuk mendirikan tempat-tempat sembahyang. Kalau dana itu digunakan oleh guru-guru spiritual yang tidak memiliki kualifikasi tersebut untuk hidup nyaman di tempat-tempat sembahyang yang mewah tanpa melaksanakan kegiatan mengajar yang nyata, maka perbuatan mereka tidak dapat diterima. Dengan kata lain, seorang guru spiritual tidak perlu bersemangat sekali untuk mendirikan gedung-gedung tempat sembahyang hanya atas nama apa yang disebut-sebut sebagai kemajuan spiritual. Melainkan, kegiatan pertama dan paling terkemuka bagi seorang guru spiritual seharusnya adalah kegiatan mengajar. Berhubungan dengan hal ini, Śrīla Bhaktisiddhānta Sarasvatī Gosvāmī Mahārāja menganjurkan supaya guru spiritual mencetak buku. Kalau seseorang mem-punyai dana, daripada mendirikan tempat-tempat sembahyang yang mahal, sebaiknya ia menggunakan dananya untuk menerbitkan buku-buku yang otoritatif dalam berbagai bahasa untuk menyebarkan gerakan kesadaran Kṛṣṇa.

 

Sikap Terus Terang dalam Urusan Biasa dan Keseimbangan dalam Keadaan Untung dan Rugi

 Ada pernyataan dalam Padma Purāṇa yang berbunyi: “Orang yang tekun dalam kesadaran Kṛṣṇa sebaiknya tidak pernah goyah karena suatu keuntungan atau kerugian yang bersifat material. Kalaupun terjadi kerugian material, sebaiknya ia jangan goyah, melainkan selalu berpikir tentang Kṛṣṇa di dalam hatinya.” Arti sloka ini ialah bahwa semua roh yang terikat selalu sibuk memikirkan kegiatan material; ia harus membebaskan diri dari pikiran seperti itu dan memindahkan dirinya sepenuhnya ke dalam kesadaran Kṛṣṇa. Sebagaimana sudah kami jelaskan, prinsip dasar kesadaran Kṛṣṇa ialah selalu berpikir tentang Kṛṣṇa. Seseorang sebaiknya jangan goyah dalam kerugian material, melainkan sebaiknya memusatkan pikirannya pada kaki-padma Kṛṣṇa.

Seorang penyembah seharusnya jangan dipengaruhi oleh duka cita ilusif. Dalam Padma Purāṇa, ada pernyataan sebagai berikut: “Kṛṣṇa tidak mungkin terwujud di dalam hati orang yang dikuasai oleh dukacita atau amarah.”

 

Para Dewa

 Hendaknya orang jangan mengalpakan kewajiban untuk menghormati para dewa sebagaimana mestinya. Mungkin se-seorang bukan penyembah dewa, tetapi itu tidak berarti dia harus menunjukkan sikap kurang hormat kepada para dewa. Misalnya, seorang Vaiṣṇava bukan penyembah Dewa Śiva atau Dewa Brahmā, tetapi ia wajib memberi segala hormat kepada dewa-dewa yang mulia tersebut. Menurut filsafat Vaiṣṇava, semut pun harus dihormati, apalagi kepribadian-kepribadian mulia seperti Dewa Śiva dan Dewa Brahmā.

Dalam Padma Purāṇa dinyatakan, “Kṛṣṇa, atau Hari, adalah penguasa semua dewa. Karena itu, Kṛṣṇa selalu patut dipuja. Tetapi ini tidak berarti seseorang harus tidak menghormati para dewa.”

 

Tidak Menyakiti Makhluk Hidup Mana pun

 Dalam Kitab Mahābharata, ada pernyataan sebagai berikut: “Orang yang tidak mengganggu atau menyebabkan tindakan yang menyakitkan di dalam pikiran makhluk hidup mana pun, yang memperlakukan semua makhluk hidup seperti seorang ayah memperlakukan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, dan hatinya sangat suci, pasti menerima karunia dari Personalitas Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dalam waktu yang dekat sekali.

Dalam masyarakat yang disebut-sebut beradab, kadang-kadang ada gerakan yang menentang perbuatan kejam terhadap binatang, tetapi pada waktu yang sama rumah potong hewan selalu dipelihara. Seorang Vaiṣṇava tidak seperti itu. Seorang Vaiṣṇava tidak pernah mendukung pemotongan binatang atau menyakiti makhluk hidup mana pun.