Sloka

Bab 26.Rangsangan Untuk Cinta Kasih Rohani Dalam Kebahagiaan Transendental

Penjelasan

Beberapa hal yang memberi dorongan atau rangsangan pada cinta kasih rohani kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa adalah sifat-sifat transendental Kṛṣṇa, kegiatan-Nya yang luar biasa, senyuman-Nya yang manis, berbagai pakaian dan kalu-ngan bunga-Nya, seruling-Nya, terompet-Nya yang terbuat dari tanduk kerbau, genta-genta kecil pada gelang kaki-Nya, kerang tiup-Nya, jejak-jejak telapak kaki-Nya, tempat kegiatan-Nya (mi-salnya Vṛndāvana), tanaman kesayangan-Nya (tulasī), para pe-nyembah-Nya serta berbagai hari raya periodik untuk mengi-ngat Kṛṣṇa. Salah satu hari besar untuk mengingat Kṛṣṇa ialah hari Ekādaī, yang jatuh dua kali setiap bulan, yaitu pada hari ke sebelas sesudah malam bulan purnama dan malam bulan mati. Pada hari itu, semua penyembah berpuasa sepanjang ma-lam dan senantiasa memuji keagungan Tuhan.

 

Sifat-sifat Transendental Kṛṣṇa, Kegiatan-Nya yang Luar Biasa serta Senyuman-Nya.

Sifat-sifat transendental Kṛṣṇa dapat dibagi menjadi tiga golo-ngan: yaitu sifat-sifat yang berhubungan dengan badan transendental-Nya, sifat-sifat yang berhubungan dengan sabda transendental-Nya dan sifat-sifat yang berhubungan dengan pikiran transendental-Nya.

Usia Kṛṣṇa, ciri-ciri badan-Nya yang transendental, ketam-panan-Nya serta sifat lembut-Nya adalah sifat-sifat yang berhu-bungan dengan badan Kṛṣṇa. Tidak ada perbedaan antara Kṛṣṇa dengan badan Kṛṣṇa. Karena itu, ciri-ciri transendental yang berhubungan dengan badan Kṛṣṇa adalah sama dengan Kṛṣṇa Sendiri. Tetapi oleh karena sifat-sifat tersebut merangsang cinta kasih rohani kebahagiaan transendental para penyembah, sifat-sifat itu telah dianalisis sebagai penyebab-penyebab terpisah yang menjadi penyebab rasa cinta tersebut. Tertarik oleh sifat-sifat Kṛṣṇa berarti tertarik oleh Kṛṣṇa Sendiri, karena tidak ada perbedaan yang nyata antara Kṛṣṇa dengan sifat-sifat-Nya. Nama Kṛṣṇa juga Kṛṣṇa. Kemasyhuran Kṛṣṇa juga Kṛṣṇa. Himpunan seluruh rekan Kṛṣṇa juga Kṛṣṇa. Kṛṣṇa dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Kṛṣṇa yang merangsang rasa cinta kepada Kṛṣṇa semuanya adalah Kṛṣṇa, tetapi untuk pengertian kita, unsur-unsur tersebut dapat dipertimbangkan secara tersendiri.

Kṛṣṇa adalah sumber segala kebahagiaan rohani. Karena itu, walaupun berbagai dorongan terhadap rasa cinta kepada Kṛṣṇa kelihatannya berbeda, namun pada hakikatnya tidak terpisah dari Kṛṣṇa Sendiri. Dengan istilah Sanskerta, sifat-sifat seperti nama dan kemasyhuran Kṛṣṇa diakui baik sebagai sumber maupun rangsangan terhadap rasa cinta kepada Kṛṣṇa.

Usia Kṛṣṇa dipertimbangkan dalam tiga masa: sejak hari munculnya Kṛṣṇa sampai akhir tahun kelima usia-Nya disebut masa kaumāra, dari awal tahun keenam usia-Nya sampai akhir tahun kesepuluh usia-Nya disebut masa paugaṇa, lalu dari awal tahun kesebelas sampai akhir tahun kelimabelas usia-Nya disebut masa kaiora. Sesudah awal tahun keenambelas usia-Nya, Kṛṣṇa disebut seorang yauvana, atau seorang remaja, dan keadaan ini berjalan terus tanpa perubahan.

Kebanyakan kegiatan transendental Kṛṣṇa dilakukan selama masa-masa kaumāra, paugaṇa dan kaiora. Kegiatan Kṛṣṇa yang penuh rasa sayang bersama orang tua-Nya dilakukan selama usia kaumāra-Nya. Persahabatan Kṛṣṇa bersama para gembala sapi diperlihatkan selama masa paugaṇa. Kṛṣṇa menjadi teman para gopī selama usia kaiora-Nya. Kegiatan Kṛṣṇa di Vṛndāvana selesai sebelum akhir tahun kelimabelas usia-Nya, kemudian Dia dipindahkan ke Mathurā dan Dvārakā, tempat dilakukannya kegiatan yang lain.

Śrīla Rūpa Gosvāmī memberi uraian yang jelas kepada kita tentang Kṛṣṇa sebagai sumber segala kebahagiaan dalam karya sastranya yaitu Bhakti-rasāmṛta-sindhu. Beberapa bagian dari uraian tersebut adalah sebagai berikut.

Usia kaiora Kṛṣṇa dapat dibagi menjadi tiga tahap. Pada awal usia kaiora-Nya—yakni pada awal tahun kesebelas usianya—cahaya badan Kṛṣṇa begitu berseri sehingga menjadi dorongan terhadap cinta kasih rohani kebahagiaan transendental. Begitu pula, pinggir mata Kṛṣṇa berwarna kemerah-merahan dan ada bulu roma halus pada badan-Nya. Seorang penduduk Vṛndāvana bernama Kundalatā menguraikan tahap awal usia kaiora Kṛṣṇa kepada kawannya sebagai berikut: “Hai kawan yang baik hati, aku baru saja melihat ketampanan yang luar biasa pada diri Kṛṣṇa. Warna badan-Nya yang kehitam-hitaman kelihatannya persis seperti permata indranīla. Ada tanda-tanda yang kemerah-mera-han pada mata-Nya, bulu roma yang halus tumbuh pada badan-Nya. Ciri-ciri ini telah membuat-Nya tampan luar biasa.”

Berhubungan dengan hal ini, dalam Śrīmad-Bhāgavatam, Skanda Sepuluh, Bab Duapuluh Satu, sloka 5, Śukadeva Gosvāmī memberitahu Mahārāja Parīkṣit, “Baginda Mahārāja yang saya hormati, saya akan berusaha menguraikan bagaimana khusuknya pikiran para gopī merenungkan Kṛṣṇa. Para gopī selalu berme-ditasi pada Kṛṣṇa yang mengenakan pakaian persis seperti se-orang penari dalam sandiwara dan kemudian memasuki hutan Vṛndāvana, sambil menandai tanah dengan jejak-jejak telapak kaki-Nya. Mereka bermeditasi pada Kṛṣṇa yang mengenakan mahkota terhias dengan bulu burung merak dan anting-anting pada telinga-Nya serta pakaian berwarna kuning emas dibordir dengan permata dan mutiara. Mereka juga bermeditasi pada Kṛṣṇa saat meniup seruling-Nya dan pada semua anak-anak gembala sapi saat menembangkan keagungan Śrī Kṛṣṇa.” Demi-kianlah uraian meditasi yang biasa dilakukan oleh para gopī.

Kadang-kadang para gopī suka memikirkan kuku Kṛṣṇa yang lembut, gerakan alis mata-Nya serta gigi-gigi-Nya yang ber-warna gambir karena mengunyah sirih. Seorang gopī mengu-raikan kepada kawannya sebagai berikut: “Kawanku yang baik hati, lihatlah bagaimana musuh Agha sudah mengambil penam-pilan yang begitu ajaib! Alis mata-Nya persis seperti alis mata Dewa Asmara, dan bergerak-gerak seolah-olah sedang menari. Ujung kuku-Nya begitu lembut—bagaikan daun bambu yang sudah kering. Gigi-Nya kemerah-merahan, sehingga keliha-tannya Dia sedang marah. Mengingat keadaan yang demikian, bagaimana mungkin seorang gadis muda tidak tertarik oleh ciri-ciri yang setampan itu dan tidak takut menjadi korban ketam-panan itu?”

Ciri-ciri Kṛṣṇa yang menarik juga diuraikan oleh Vṛndā, seorang gopī yang namanya dipakai untuk menamai Vṛndāvana. Vṛndā memberitahu Kṛṣṇa, “Mādhava yang tercinta, senyum yang baru saja Kau ciptakan begitu memikat hati para gopī sehingga mereka tidak mampu mengutarakan isi hatinya! Karena itu, mereka bingung dan tidak mau bicara dengan orang lain. Semua gopī ini begitu terharu seakan-akan mereka telah memercikkan air tiga kali di atas nyawanya. Dengan kata lain, mereka telah putus harapan mengenai keadaan hidupnya.” Menurut sistem India, kalau seseorang sudah meninggal dunia, air dipercikkan pada jenazahnya. Jadi, pernyataan Vṛndā memperlihatkan bah-wa para gopī begitu terpesona oleh ketampanan Kṛṣṇa sehingga karena mereka tidak mampu mengutarakan isi hatinya, mereka telah memutuskan untuk bunuh diri.

Pada waktu Kṛṣṇa mencapai umur tigabelas sampai empat-belas tahun, kedua belah lengan dan dada-Nya menjadi begitu tampan sampai tidak dapat diuraikan dengan kata-kata, dan seluruh badan-Nya sangat memesona. Setelah Kṛṣṇa berumur tigabelas tahun, kedua paha-Nya bagaikan menantang belalai-belalai gajah, dada-Nya yang busung ibarat sedang mencoba mengadakan perundingan damai dengan pintu-pintu yang terbuat dari permata, dan kedua belah lengan-Nya meremehkan kekuatan kayu pemalang pintu. Siapakah yang mampu melu-kiskan ketampanan ciri-ciri Kṛṣṇa yang ajaib tersebut? Ketam-panan Kṛṣṇa yang istimewa adalah senyum-Nya yang lembut, mata-Nya yang gelisah serta nyanyian-Nya yang memikat hati dunia. Inilah ciri-ciri Kṛṣṇa yang istimewa pada usia tersebut.

Berhubungan dengan hal ini, ada pernyataan bahwa pada waktu Kṛṣṇa mencapai usia tersebut, Dia mewujudkan ciri-ciri badan yang begitu tampan sehingga mata-Nya yang gelisah menjadi mainan Dewa Asmara, dan senyum-Nya yang lembut menyerupai bunga padma yang baru tumbuh. Getaran irama tembang-tembang Kṛṣṇa yang memesona menjadi rintangan besar bagi para gadis muda, yang seharusnya tetap suci dan setia pada suaminya.

Pada usia ini, Kṛṣṇa menikmati rāsa-līlā, memperlihatkan kemampuan-Nya untuk bersenda gurau dengan para gadis gembala sapi dan menikmati pergaulan di bawah pepohonan di tetamanan tepi sungai Yamunā.

Berhubungan dengan hal ini, ada pernyataan sebagai berikut: “Di seluruh wilayah yang bernama Vṛndāvana terdapat jejak-jejak telapak kaki Kṛṣṇa dan para gopī, dan di beberapa tempat ada bulu burung merak tersebar di sana-sini. Di beberapa tempat ada tempat-tempat tidur yang indah di bawah pepohonan taman-taman, dan di beberapa tempat terdapat tumpukan debu yang disebabkan oleh kelompok-penari Govinda dan para gopī.” Inilah beberapa ciri akibat dari berbagai kegiatan yang dicip-takan oleh Śrī Kṛṣṇa di tempat yang bernama Vṛndāvana.

Ada pernyataan oleh seorang gopī yang menguraikan ciri Kṛṣṇa pada usia ini: “Kawanku yang baik hati, lihat saja bagai-mana sebuah matahari yang perkasa sudah terbit secara tiba-tiba pada langit Kṛṣṇa dan bagaimana terbitnya matahari ini telah meredupkan sinar rembulan kesetiaan kita. Rasa tertarik kepada Kṛṣṇa dalam hati kita begitu kuat sehingga membuat layu bunga padma rasa membedakan kita, dan kita kehilangan akal dalam memutuskan apakah kita akan terus sebagai perempuan yang setia atau menjadi korban ketampanan Kṛṣṇa. Hai kawanku, aku kira kita telah kehilangan segala harapan hidup!”

Pada usia kaiora, mulai dari tahun kesebelas dan terus sampai akhir tahun kelimabelas, lengan, kaki dan paha Kṛṣṇa bertanda tiga garis pemisah. Pada waktu itu, dada Kṛṣṇa ibarat menandingi sebuah bukit terbuat dari permata-permata marakata, lengan-Nya menandingi tiang-tiang yang terbuat dari permata indranīla, tiga garis pada pinggang-Nya menandingi gelombang-gelom-bang Sungai Yamunā, dan paha-Nya menandingi pohon-pohon pisang yang indah. Seorang gopī berkata, dengan segala ciri yang amat menawan pada badan-Nya, Kṛṣṇa terlalu tampan luar biasa, sehingga aku selalu memikirkan Dia untuk melindungi diriku, sebab Dia pembunuh segala rākṣasa.”

Gagasan yang diutarakan dalam pernyataan tersebut ialah bah-wa para gopī mengumpamakan rasa tertarik kepada Kṛṣṇa yang ada dalam hati mereka sebagai serangan rākṣasa. Guna menang-kis rasa tertarik yang ada pada diri mereka terhadap ketampanan Kṛṣṇa, mereka juga berlindung kepada Kṛṣṇa dengan penuh harapan, sebab Kṛṣṇa adalah pembunuh segala jenis rākṣasa. Dengan kata lain, mereka bingung, sebab di satu sisi mereka tertarik oleh ketampanan Kṛṣṇa, dan di sisi lain mereka memer-lukan Kṛṣṇa untuk mengusir rasa tertarik yang diumpamakan sebagai rākṣasa itu.

Usia kaiora ini dapat diterjemahkan sebagai masa puber. Pada akhir masa tersebut, semua gopī berkata, “Kṛṣṇa adalah pem-bunuh daya tarik Dewa Asmara, dan karena itu, Dia menggoda kesetiaan semua gadis yang baru menikah. Semua ciri-ciri badan Kṛṣṇa begitu menawan seakan-akan mewujudkan rasa seni tertinggi. Tarian mata Kṛṣṇa memudarkan kecemerlangan penari yang paling ahli sekalipun, sehingga tidak ada sesuatu pun lagi yang dapat dibandingkan dengan ketampanan Kṛṣṇa.” Karena itu, para sarjana yang terpelajar menguraikan ciri-ciri badan Kṛṣṇa pada masa ini dengan istilah nava-yauvana, yang berarti sifat remaja yang baru saja tercipta. Pada tahap ciri-ciri badan Kṛṣṇa ini, kegiatan percintaan rohani bersama para gopī serta kegiatan lain yang serupa menjadi terkemuka sekali.

Ada enam ciri kegiatan cinta kasih, yaitu membuat perdamaian, bertengkar, pergi untuk menemui kekasih, duduk bersama-sama, perpisahan dan dukungan. Śrī Kṛṣṇa memperluas sebuah kerajaan terdiri dari enam unsur tersebut, dimana Dia Sendiri menjadi pangeran yang berkuasa. Di satu tempat, Kṛṣṇa sedang bertengkar dengan gadis-gadis muda, di satu tempat Dia sedang mencakar mereka dengan kuku burung parkit, di satu tempat Dia sibuk mengunjungi para gopī, sedangkan di satu tempat Dia sedang berunding melalui para gembala sapi sebagai kawan-kawan-Nya untuk berlindung kepada para gopī.

Beberapa gopī menyapa kepada Kṛṣṇa sebagai berikut: “Kṛṣṇa yang tercinta, oleh karena usia remaja-Mu, Engkau sudah men-jadi guru spiritual gadis-gadis muda ini, dan Engkau sedang mengajari mereka supaya berbisik satu sama lain. Engkau me-ngajari mereka untuk memanjatkan doa dengan penuh khidmat, dan juga melatih mereka untuk menipu suami-suaminya dan ikut bersama-Mu di tetamanan pada malam hari, tanpa meme-dulikan perintah-perintah atasan mereka. Engkau menyema-ngatkan mereka dengan getaran suara seruling-Mu yang memesona; dan selaku guru mereka, Engkau mengajari mereka segala seluk beluk urusan cinta.” Dikatakan bahwa Kṛṣṇa mem-perlihatkan energi-energi remaja seperti itu bahkan pada waktu Dia masih kanak-kanak saat berumur lima tahun, tetapi sarjana-sarjana terpelajar tidak menjelaskannya karena umur-Nya belum cocok. Kṛṣṇa tampan karena setiap anggota badan-Nya tersusun secara sempurna tanpa cacat apa pun. Ciri-ciri badan Kṛṣṇa yang sempurna tersebut diuraikan sebagai berikut: “Musuh Kaḿsa yang tersayang, mata-Mu yang lebar, dada-Mu yang busung, kedua belah lengan-Mu yang sekuat tiang serta pinggang-Mu yang langsing selalu memikat setiap gadis cantik yang bermata seperti bunga padma.” Perhiasan pada badan Kṛṣṇa sebenarnya tidak membuat Dia lebih tampan, tetapi justru sebaliknya—perhiasan tersebut diperindah oleh Kṛṣṇa.

Orang dikatakan lemah lembut kalau ia tidak tahan disentuh oleh benda yang paling lembut sekalipun. Diuraikan bahwa setiap anggota badan Kṛṣṇa begitu lembut sehingga kalau disen-tuh oleh daun-daun muda yang baru tumbuh sekalipun, maka warna pada bagian kulit-Nya yang disentuh akan berubah. Pada usia kaiora ini, usaha-usaha Kṛṣṇa selalu bertujuan untuk me-nyelenggarakan tarian rāsa, serta untuk membunuh rākṣasa-rākṣasa di hutan Vṛndāvana. Pada waktu Kṛṣṇa sedang asyik dalam kenikmatan bersama pemuda-pemudi di tengah hutan Vṛndāvana, Kaḿsa selalu mengirim rekan-rekannya untuk membunuh Kṛṣṇa, dan Kṛṣṇa memperlihatkan kewibawaan-Nya dengan membunuh rakasa-rākṣasa itu.

 

Berbagai Pakaian dan Kalungan Bunga

Pada umumnya ada empat jenis pakaian pada badan Kṛṣṇa: baju, surban, ikat pinggang dan pakaian lainnya. Di Vṛndāvana, Kṛṣṇa biasa mengenakan pakaian berwarna kemerah-merahan, de-ngan kemeja berwarna kuning emas pada badan-Nya serta surban berwarna merah muda pada kepala-Nya. Berbagai jenis ikat pinggang, dipadu dengan senyuman-Nya yang memikat, selalu menambah kebahagiaan rekan-rekan-Nya. Pakaian Kṛṣṇa tersebut diuraikan anggun sekali. Seperti halnya anak gajah yang kadang-kadang dihias dengan pakaian yang berwarna-warni, begitu pula ketampanan Kṛṣṇa diwujudkan melalui perhiasan Kṛṣṇa dengan pakaian yang berwarna-warni seperti itu pada berbagai anggota badan-Nya.

ĆĄkalpa menunjukkan tekstur rambut Kṛṣṇa, badan-Nya yang berpakaian rapi diolesi dengan tapal terbuat dari kayu cendana dan terhias dengan beberapa kalungan bunga, tilaka-Nya dan saat Dia mengunyah. Kṛṣṇa selalu terhias dalam proses ākalpa tersebut. Rambut Kṛṣṇa kadang-kadang terhias dengan kem-bang-kembang yang disusun pada bagian tengah kepala-Nya, atau dibiarkan tergerai sampai ke punggung-Nya. Dengan cara demikian, Kṛṣṇa merias rambut-Nya dengan gaya yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda pula. Tapal cendana yang dio-leskan pada badan Kṛṣṇa umumnya kelihatan berwarna putih, dan apabila tercampur dengan zat pewarna safron, kelihatan berwarna kuning emas.

Kṛṣṇa biasa mengalungkan kalungan bunga vaijayantā pada leher-Nya. Kalungan bunga vaijayantī tersebut sekurang-kurangnya terbuat dari lima warna bunga. Kalungan bunga itu selalu panjang hingga menyentuh lutut atau kaki-Nya. Selain kalungan bunga itu, ada juga jenis kalungan bunga lain yang kadang-kadang menghiasi kepala-Nya, kadang-kadang dika-lungkan pada leher–Nya dan dada-Nya. Gambar-gambar artistik yang dilukis dengan tapal cendana dan cendana yang berwarna-warni juga dapat dilihat pada badan Kṛṣṇa.

Seorang gopī menyapa kepada kawannya dan mulai memuji ciri-ciri badan Kṛṣṇa. Dia memuji kulit Kṛṣṇa yang berwarna kehitam-hitaman, warna merah karena mengunyah sirih telah membuat-Nya beratus-ratus kali lebih tampan, rambut ikal pada kepala-Nya, bintik-bintik kuḿkum* yang berwarna merah pada badan-Nya dan tilaka pada dahi-Nya.

Mahkota Kṛṣṇa, anting-Nya, kalung-Nya, empat jenis pakaian-Nya, gelang pada tangan-Nya, cincin pada jari-Nya, genta-genta kecil pada gelang kaki-Nya serta seruling-Nya merupakan ber-bagai unsur perhiasan Kṛṣṇa. Kṛṣṇa musuh Agha, selalu tampil tampan sekali dengan mahkota-Nya yang tiada taranya, anting-Nya terbuat dari berlian, kalung mutiara-Nya, gelang-Nya, pa-kaian-Nya yang dibordir serta cincin-cincin indah pada jari jemari-Nya.

Kṛṣṇa kadang-kadang disebut vana-mālī. Vana berarti “hutan”, dan mālī berarti “tukang kebun atau taman”, jadi vana-mālī berarti yang memakai banyak bunga dan kalungan bunga pada berbagai anggota badan-Nya. Kṛṣṇa tidak hanya berbusana seperti ini di Vṛndāvana, tetapi juga di Medan Perang Kurukṣetra. Setelah melihat pakaian berwarna warni serta banyak kalungan bunga terbuat dari berbagai jenis bunga, beberapa resi yang mulia ber-doa sebagai berikut, “Śrī Kṛṣṇa pergi ke Medan Perang Kuru-kṣetra bukan untuk bertempur, melainkan untuk memberi karunia kepada semua penyembah dengan kehadiran-Nya di sana.”

 

Seruling Kṛṣṇa

Mengenai seruling Kṛṣṇa, dikatakan bahwa getaran suara alat musik ajaib ini mampu menghentikan meditasi resi-resi yang paling agung sekalipun. Dengan cara demikian, Kṛṣṇa menan-tang Dewa Asmara dengan memaklumkan kebesaran spiritual-Nya di seluruh dunia.

Ada tiga jenis seruling yang digunakan oleh Kṛṣṇa. Seruling pertama disebut veṇu, yang kedua disebut muralī dan yang ketiga disebut vaḿī. Veṇu kecil sekali, panjangnya tidak lebih dari lima belas sentimeter, dengan enam lubang untuk bersiul. Panjangnya muralī kurang lebih empat puluh lima sentimeter, dengan sebuah lubang di salah satu ujungnya dan empat lubang pada badan seruling itu. Seruling jenis ini membuat suara yang sangat merdu. Seruling vaḿī panjangnya kurang lebih tigapuluh delapan sentimeter, dengan sembilan lubang pada badannya. Kṛṣṇa suka memainkan ketiga seruling tersebut sewaktu-waktu apabila diperlukan. Kṛṣṇa mempunyai seruling vaḿī yang lebih panjang, yang disebut mahānandā, atau sammohinī. Kalau seruling vaḿī itu lebih panjang lagi, maka disebut ākarṣiṇī. Dan seruling yang lebih panjang lagi disebut ānandinī. Seruling ānandinā sangat menghibur anak-anak gembala sapi dan disebut dengan istilah vaḿulī. Seruling-seruling tersebut kadang-kadang terhias dengan permata-permata. Seruling-seruling itu kadang-kadang terbuat dari marmer dan kadang-kadang dari bambu. Seruling-seruling yang terbuat dari permata disebut sammohinī, sedangkan seruling terbuat dari emas disebut ākarṣiṇī.

 

Terompet Tanduk Kerbau Kṛṣṇa

Kṛṣṇa memakai sebuah tanduk kerbau sebagai terompet. Alat musik ini selalu mengkilap, dilingkari dengan beberapa cincin emas dan di bagian tengahnya berlubang. Mengenai alat musik ini, ada pernyataan perumpamaan tentang seorang gopī ber-nama Tārāvalī. Dikatakan bahwa Tārāvalī telah digigit oleh ular yang paling berbisa, yaitu seruling Kṛṣṇa. Kemudian, guna mengobati efek bisa itu, dia minum susu yang dihasilkan oleh tanduk kerbau di tangan Kṛṣṇa. Tetapi itu tidak mengurangi efek bisa tersebut, malah memperparah efeknya seribu kali lipat. Sebagai akibatnya, gopī itu mengalami keracunan yang paling sengsara.

 

Daya Tarik Genta-genta Kecil pada Gelang Kaki Kṛṣṇa

Seorang gopī pernah berkata kepada kawannya, “Kawanku yang baik hati, ketika aku mendengar suara genta-genta kecil pada gelang kaki Kṛṣṇa, aku segera mau keluar dari rumah untuk melihat Dia. Tetapi sayang sekali, suamiku berada di hadapanku pada saat itu, sehingga aku tidak bisa keluar.”

 

Sangka Kepunyaan Kṛṣṇa

Sangka yang dimiliki oleh Kṛṣṇa dikenal dengan nama Pāñcajanya. Sangka Pāñcajanya ini juga disinggung dalam Bhagavad-gītā. Kṛṣṇa meniupnya sebelum Perang Kurukṣetra dimulai. Dikatakan bahwa apabila Śrī Kṛṣṇa meniup sangka rohani-Nya, istri-istri para rākṣasa mengalami keguguran, sedangkan istri-istri para dewa dikaruniai segala kesejahteraan. Dengan cara demikian, suara sangka Kṛṣṇa bergetar dan berku-mandang di seluruh dunia.

 

Jejak Telapak Kaki Kṛṣṇa

Dinyatakan dalam Śrīmad-Bhāgavatam, bahwa ketika Akrūra yang sedang naik kereta untuk mengantar Kṛṣṇa dari Vṛndāvana ke Mathurā, melihat jejak-jejak telapak kaki Kṛṣṇa di tanah Vṛndāvana, kebahagiaan rohaninya kepada Kṛṣṇa bertambah begitu banyak sehingga bulu romanya merinding. Matanya penuh air mata, lalu dalam cinta kasih rohani kebahagiaan transendental seperti itu, dia melompat turun dari kereta lalu bersujud di tanah sambil mulai berkata berulang kali, “Betapa ajaibnya! Betapa ajaibnya!”

Perasaan serupa diutarakan oleh para gopī pada waktu mereka sedang pergi ke tepi Sungai Yamunā dan melihat jejak telapak kaki Kṛṣṇa di atas debu. Apabila Kṛṣṇa berjalan kaki di tanah Vṛndāvana, tanda-tanda pada telapak kaki-Nya (bendera, petir, ikan, tongkat untuk mengendalikan gajah, dan sebuah bunga padma) tercetak di atas debu-debu pada tanah itu. Para gopī merasa terharu hanya dengan melihat tanda-tanda itu di tanah.

 

Tempat Kegiatan Kṛṣṇa

Seorang penyembah berseru, “Aduh, aku belum mengunjungi tempat-tempat ajaib dimana kegiatan Kṛṣṇa dilakukan. Tetapi hanya dengan mendengar nama Mathurā saja aku tergugah rasa riang!”

 

Tanaman Kesayangan Kṛṣṇa: Tulasī

Śrī Kṛṣṇa sangat menyukai daun dan kuntum bunga tulasī. Oleh karena kuntum-kuntum bunga tulasī umumnya dipersembahkan pada kaki-padma Kṛṣṇa, seorang penyembah pernah berdoa kepada kuntum-kuntum bunga tulasī supaya memberi kete-rangan kepadanya tentang kaki-padma Śrī Kṛṣṇa. Penyembah itu menduga kuntum-kuntum bunga tulasī akan mengetahui sesuatu tentang keagungan kaki-padma Śrī Kṛṣṇa.

 

Penyembah-penyembah Kṛṣṇa

Barangkali seseorang kadang-kadang tergugah rasa riang dengan melihat seorang penyembah Tuhan. Ketika Dhruva Mahārāja melihat dua rekan Nārāyaṇa mendekatinya, dia segera berdiri karena rasa hormat dan bhakti yang tulus ikhlas, lalu tetap berdiri di hadapan mereka dengan mencakupkan tangannya; tetapi oleh karena rasa cinta kasih rohani kebahagiaan transen-dentalnya, dia hampir tidak mampu menyambut kedatangan mereka sebagaimana mestinya.

Ada pernyataan seorang gopī yang menyapa kepada Subala, seorang kawan Kṛṣṇa: “Subala yang baik hati, aku tahu bahwa Kṛṣṇa adalah kawanmu, dan engkau selalu tersenyum riang dan bercanda bersama Dia. Kemarin aku melihat kalian berdua berdiri bersama-sama. Tanganmu bergantungan di pundak Kṛṣṇa, dan kalian berdua tersenyum dengan riang. Ketika aku melihat kalian berdua berdiri seperti itu dari tempat yang agak jauh, air mataku segera berlinang.”

 

Hari-hari Istimewa untuk Ingat kepada Kṛṣṇa

Ada berbagai pernyataan tentang hari-hari raya yang ber-hubungan dengan kegiatan-kegiatan Kṛṣṇa. Janmāṣṭamī, hari ulang tahun Kṛṣṇa adalah salah satu diantara berbagai hari raya tersebut. Hari Raya Janmāṣṭamī adalah hari raya yang paling semarak bagi para penyembah, dan masih dirayakan dengan meriah sekali disetiap rumah-rumah orang Hindu di India. Kadang-kadang penganut kelompok keagamaan lain pun memanfaatkan hari mujur ini dan menikmati perayaan upacara Janmāṣṭamī. Cinta kasih rohani dalam kebahagiaan transendental kepada Kṛṣṇa juga dibangkitkan pada hari-hari Ekādaī, yang merupakan hari-hari raya lain yang berhubungan dengan Kṛṣṇa.