mayÄ tatam idamÌ sarvamÌ
jagad avyakta-mÅ«rtinÄ
mat-sthÄni sarva-bhÅ«tÄni
na cÄhamÌ tesÌ£v avasthitahÌ£
mayÄ—oleh-Ku; tatam—berada di mana-mana; idam—ini; sarvam—seluruh; jagat—manifestasi alam semesta; avyakta-mÅ«rtinÄ—oleh bentuk yang tidak terwujud; mat-sthÄni—di dalam diri-Ku; sarva-bhÅ«tÄni—semua makhluk hidup; na—tidak; ca—juga; aham—Aku; tesÌ£u—dalam mereka; avasthitÄḥ—berada.
Orang yang tidak berkeyakinan tidak dapat menyelesaikan cara bhakti ini; itulah penjelasan ayat ini. Keyakinan diciptakan oleh pergaulan dengan para penyembah. Walaupun orang yang kurang beruntung sudah mendengar segala bukti kesusasteraan Veda dari kepribadian-kepribadian yang mulia, mereka masih tidak percaya kepada Tuhan. Mereka ragu-ragu dan tidak dapat menjadi mantap dalam bhakti kepada Tuhan. Jadi, keyakinan merupakan unsur yang paling penting demi kemajuan kesadaran Krishna. Di dalam Caitanya-caritamrta dikatakan bahwa keyakinan berarti seseorang yakin sepenuhnya bahwa hanya dengan mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna ia dapat mencapai segala kesempurnaan. Itu disebut keyakinan yang sejati. Sebagaimana dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam (4.31.14).
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat dipahami melalui indera-indera yang kasar. Dinyatakan:
ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi
na bhaved grāhyam indriyaiḥ
sevonmukhe hi jihvādau
svayam eva sphuraty adaḥ
(Bhakti-rasāmṛta-sindhu 1.2.234)
Nama, kemasyhuran dan kegiatan Sri Krishna dan sebagainya tidak dapat dimengerti oleh indera-indera material. Krishna hanya memperlihatkan Diri Beliau kepada orang yang tekun dalam bhakti yang murni di bawah bimbingan yang benar. Dalam Brahma-samhita (5.38) dinyatakan, premanjana-cchurita-bhakti-vilocanena santaḥ sadaivah rdayesu vilokayanti: Seseorang dapat melihat Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Govinda, yang selalu bersemayam di dalam Diri-Nya dan di luar Diri-Nya kalau ia sudah mengembangkan sikap cinta bhakti rohani kepada beliau. Jadi, orang awam belum melihat Krishna. Di sini dinyatakan walaupun Krishna adalah Yang Mahaada dan berada di mana-mana, Beliau tidak dapat dilihat oleh indera-indera material.
Kenyataan ini disebut di sini dengan kata avyakta-mūrtinā. Tetapi walaupun kita belum dapat melihat Krishna, sebenarnya segala sesuatu bersandar di dalam Krishna. Sebagaimana dibicarakan dalam Bab Tujuh, seluruh manifestasi alam semesta tidak lain daripada gabungan dua tenaga Krishna—tenaga utama atau tenaga rohani dan tenaga yang rendah atau tenaga material.
Seperti halnya sinar matahari yang tersebar di seluruh pelosok alam semesta, begitu pula Tuhan tersebar di mana-mana dalam ciptaan dan segala sesuatu bersandar di dalam tenaga itu.
Namun seharusnya orang jangan menyimpulkan bahwa Krishna sudah kehilangan keberadaan pribadi-Nya karena Beliau tersebar di mana-mana. Untuk membuktikan kesalahan argumentasi itu, Sri Krishna bersabda, Aku berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Ku, namun Aku tetap menyisih dari semuanya." Misalnya, seorang raja memimpin pemerintah yang tidak lain daripada manifestasi tenaga dari Diri-Nya. Berbagai departemen pemerintah tidak lain daripada tenaga-tenaga sang raja , dan tiap-tiap departemen bersandar pada kekuatan sang raja . Tetapi kita tidak dapat mengharapkan bahwa sang raja sendiri berada di setiap departemen. Itu merupakan contoh yang sederhana. Begitu pula, semua manifestasi yang kita lihat dan segala sesuatu yang ada, baik di dunia material maupun di dunia rohani, bersandar kepada tenaga Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Ciptaan terjadi karena tersebarnya berbagai tenaga Krishna. Sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita, viṣṭabhyaham idam krtsnam: Krishna berada di mana-mana dalam perwujudan pribadi-Nya, yaitu tersebarnya berbagai tenaga-Nya.