mahÄtmÄnas tu mÄmÌ pÄrtha
daivÄ«mÌ prakrÌ£tim ÄÅ›ritÄhÌ£h
bhajanty ananya-manaso
jñÄtvÄ bhÅ«tÄdim avyayÄm
mahÄ-ÄtmÄnaḥ—roh-roh yang mulia; tu—tetapi; mÄm—kepada-Ku; pÄrtha—wahai putera PrÌ£thÄ; daivÄ«m—rohani; prakrÌ£tim—alam; aÅ›ritÄh—sesudah berlindung kepada; bhajanti—mengabdikan diri; ananya-manasÄḥ—tanpa pikiran menyimpang; jñÄtvÄ—mengenal; bhÅ«ta—ciptaan; Ädim—asal mula; avyayÄm—tidak dapat dimusnahkan.
Dalam ayat ini, uraian tentang seorang mahatma diberikan dengan jelas. Tanda pertama seorang mahatma adalah bahwa dia sudah mantap dalam sifat rohani. Dia tidak dikendalikan oleh alam material. Bagaimana keadaan seperti ini dicapai? Itu dijelaskan dalam Bab Tujuh; orang yang menyerahkan diri kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, segera dibebaskan dari pengendalian alam material. Itulah kwalifikasinya. Dan seseorang dapat dibebaskan dari pengendalian alam material bila ia menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu rumus pendahuluannya. Makhluk hidup adalah tenaga pinggir. Jadi, begitu makhluk hidup dibebaskan dari pengendalian alam material, ia di tempatkan di bawah bimbingan alam rohani. Bimbingan alam rohani disebut daivi prakṛti, atau alam rohani. Jadi, apabila seseorang diangkat seperti itu—melalui penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa—ia mencapai tingkat roh yang mulia, atau mahatma.
Seorang mahatma tidak mengalihkan perhatiannya pada hal-hal di luar Krishna. Sebab ia mengetahui secara sempurna bahwa Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Paling Utama yang asli, sebab segala sebab. Kenyataan tersebut tidak dapat diragukan sama sekali. Seorang mahatma, atau roh yang mulia, berkembang melalui pergaulan dengan mahatma-mahatma yang lain, yaitu para penyembah yang murni. Para penyembah murni tidak tertarik bahkan kepada ciri-ciri lain dari Visnu, misalnya bentuk Maha Visnu yang berlengan empat. Mereka hanya tertarik kepada bentuk Krishna yang berlengan dua. Mereka tidak tertarik kepada bentuk lain, dan mereka juga tidak begitu memperhatikan bentuk dewa atau bentuk seorang manusia. Mereka hanya bersemadi pada Krishna dalam kesadaran Krishna. Mereka selalu tekun mengabdikan diri kepada Krishna dalam kesadaran Krishna tanpa menyimpang.