adhibhÅ«tamÌ ksÌ£aro bhÄvahÌ£
purusÌ£aÅ› cÄdhidaivatam
adhiyajño 'ham evÄtra
dehe deha-bhrÌ£tÄmÌ vara
adhibhÅ«tam—manifestasi alam ini; ksÌ£araḥ—berubah senantiasa; bhÄvaḥ—sifat; purusÌ£aḥ—bentuk semesta termasuk semua dewa, seperti matahari dan bulan;ca—dan; adhidaivatam—disebut adidaiva; adhiyajñaḥ—Roh Yang Utama; aham—Aku (Krishna); evÄ—pasti; atra—dalam ini; dehe—badan; dehabhrÌ£tam—dari yang berada di dalam badan; vara—wahai yang paling baik.
Alam ini senantiasa berubah. Badan-badan material pada umumnya mengalami enam tahap: Badan-badan itu dilahirkan, tumbuh, tahan selama beberapa waktu, menghasilkan sesuatu, merosot, dan kemudian lenyap. Alam ini disebut adhi-bhuta. Alam ini diciptakan pada saat tertentu dan akan dilebur pada saat tertentu. Paham bentuk semesta Tuhan Yang Maha Esa, termasuk semua dewa dan berbagai planet para dewa, disebut adhi-daivata. Roh Yang Utama berada di dalam badan mendampingi roh yang individual. Roh Yang Utama adalah perwujudan yang berkuasa penuh dari Sri Krishna. Roh Yang Utama disebut Paramatma atau adhi-yajna dan Beliau bersemayam di dalam hati. Kata eva mempunyai makna khusus berhubungan dengan ayat ini, sebab dengan kata ini Krishna menggarisbawahi bahwa Paramatma tidak berbeda dari Diri-Nya. Roh Yang Utama, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bersemayam di sisi roh yang individual, Roh Yang Utama menyaksikan kegiatan roh yang individual dan Beliau adalah sumber berbagai jenis kesadaran sang roh. Roh Yang Utama memberi kesempatan kepada roh yang individual untuk bertindak secara bebas dan Beliau menyaksikan kegiatan makhluk hidup itu. Fungsi-fungsi berbagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa tersebut menjadi jelas dengan sendirinya bagi seorang penyembah murni yang sadar akan Krishna dan tekun dalam pengabdian rohani kepada Tuhan. Bentuk semesta Tuhan yang besar sekali disebut adhi-daivata. Bentuk itu direnungkan oleh orang yang baru mulai belajar dan belum dapat mendekati Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Roh Yang Utama. Seorang murid yang baru mulai belajar dianjurkan merenungkan bentuk semesta, atau virat-purusa. Planet-planet yang rendah dianggap sebagai kaki virat-purusa. Matahari dan bulan dianggap sebagai mata Beliau, dan susunan planet yang lebih tinggi sebagai kepala-Nya.