icchÄ-dvesÌ£a-samutthena
dvandva-mohena bhÄrata
sarva-bhÅ«tÄni sammohamÌ
sarge yÄnti parantapa
icchÄ—keinginan; dvesÌ£a—dan rasa benci; samutthena—timbul dari; dvandva—dari hal-hal yang relatif; mohena—oleh khayalan; BhÄrata—wahai prabhu dari keluarga BhÄrata ; sarva—semua; bhÅ«tÄni—makhluk hidup; sammoham—dalam khayalan; sarge—pada waktu dilahirkan; yÄnti—pergi; parantapa—wahai penakluk musuh.
Kedudukan dasar makhluk hidup yang sejati ialah kedudukan takluk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Esa adalah pengetahuan yang murni. Bila seseorang dikhayalkan hingga dia berpisah dari pengetahuan murni tersebut, ia dikendalikan oleh tenaga yang mengkhayalkan dan dia tidak dapat mengerti Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Tenaga yang mengkhayalkan diwujudkan dalam hal-hal relatif berupa keinginan dan rasa benci. Akibat keinginan dan rasa benci, orang bodoh ingin meninggal dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan dia iri hati kepada Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Para penyembah yang murni, yang tidak dikhayalkan atau dipengaruhi oleh keinginan dan rasa benci, dapat mengerti bahwa Sri Krishna muncul atas kekuatan dalam dari Diri-Nya, tetapi orang yang dikhayalkan oleh hal-hal relatif dan kebodohan menganggap Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa diciptakan oleh tenaga-tenaga material. Inilah nasib malang mereka. Orang yang dikhayalkan seperti itu, menurut gejala-gejalanya, hidup dalam hal-hal relatif seperti penghinaan dan penghormatan, suka dan duka, wanita dan laki-laki, baik dan buruk, rasa senang dan rasa sakit dan sebagainya. Mereka berpikir, Ini isteri saya; ini rumah saya; aku penguasa rumah ini; aku suami dan isteri ini." Inilah hal-hal yang relatif dalam khayalan. Orang yang dikhayalkan oleh hal-hal relatif bodoh sepenuhnya; karena itu, mereka tidak dapat mengerti Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.