चतà¥à¤°à¥à¤µà¤¿à¤§à¤¾ भजनà¥à¤¤à¥‡ मां जनाः सà¥à¤•ृतिनोऽरà¥à¤œà¥à¤¨ ।
आरà¥à¤¤à¥‹ जिजà¥à¤žà¤¾à¤¸à¥à¤°à¤°à¥à¤¥à¤¾à¤°à¥à¤¥à¥€ जà¥à¤žà¤¾à¤¨à¥€ च भरतरà¥à¤·à¤­ ॥१६॥

catur-vidhÄ bhajante mÄmÌ

janÄhÌ£ sukrÌ£tino 'rjuna

Ärto jijñÄsur arthÄrthÄ«

jñÄnÄ« ca BhÄrata rsÌ£abha

catuhÌ£-vidhÄḥ—empat jenis; bhajante—mengabdikan diri; mÄm—kepada-Ku; janaḥ—orang; su-krÌ£tinaḥ—orang saleh; Arjuna—wahai Arjuna; Ärtaḥ—orang yang berdukacita; jijñÄsuḥ—orang yang ingin tahu; artha-arthī—orang yang menginginkan keuntungan material; jñÄnī—orang yang mengetahui tentang hal-hal dengan sebenarnya; ca—juga; bhÄrata-rÌ£sÌ£abha—wahai Kepribadian Yang Mulia di kalangan keturunan keluarga BhÄrata.


Sloka

O yang paling baik di antara para BhÄrata, empat jenis orang saleh mulai berbhakti kepada-Ku—orang yang berdukacita, orang yang menginginkan kekayaan, orang yang ingin tahu, dan orang yang mencari pengetahuan tentang Yang Mutlak.

Penjelasan

Dalam Bhagavad-gita dinyatakan seseorang dapat mengatasi hukum-hukum alam material yang keras hanya dengan menyerahkan Diri-Nya kepada kakipadma Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang timbullah pertanyaan: Mengapa filosof-filosof yang terdidik, ahliahli ilmu pengetahuan, pengusaha, administrator dan semua pemimpin manusia biasa tidak menyerahkan diri kepada kakipadma Sri Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dan Mahaperkasa? Mukti, atau pembebasan dari hukum-hukum alam material dicari oleh para pemimpin manusia dengan berbagai cara serta rencana-rencana besar dan ketekunan selama bertahun-tahun dan selama banyak penjelmaan. Tetapi kalau pembebasan itu dimungkinkan hanya dengan menyerahkan diri kepada kakipadma Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, mengapa pemimpin-pemimpin yang cerdas dan bekerja keras seperti itu tidak mengikuti cara yang sederhana tersebut?

Jenis-jenis orang yang diuraikan dalam ayat ini bukan orang jahat. Mereka mengikuti prinsip-prinsip yang mengatur dari Kitab-kitab Suci. Mereka disebut sukrtinah, atau orang yang mematuhi aturan dan peraturan Kitab Suci, hukum moral dan hukum masyarakat, dan mereka kurang lebih setia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di kalangan para sukrtinah ada empat golongan—yaitu orang yang kadang-kadang berdukacita, orang yang membutuhkan uang, orang yang kadang-kadang ingin tahu, dan orang yang kadang-kadang mencari pengetahuan tentang Kebenaran Mutlak. Empat jenis orang tersebut mendekati Tuhan Yang Maha Esa untuk berbhakti dalam berbagai keadaan. Mereka belum menjadi penyembah yang murni, sebab mereka mempunyai cita-cita yang harus dipenuhi sebagai balasan bhakti. Bhakti yang murni bebas dari cita-cita dan bebas dari keinginan untuk men dapat keuntungan material. Dalam Bhakti-rasamrta-sindhu (1.1.11), bhakti yang murni diuraikan sebagai berikut:

anyābhilāṣitā-śūnyaḿ

jñāna-karmady-anāvṛtam

ānukūlyena kṛṣṇānu-

śīlanaḿ bhaktir uttamā

[Madhya 19.167]

“Orang harus melakukan cinta-bhakti rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa Krishna dengan cara yang menguntungkan dan bebas dari keinginan untuk laba material melalui kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau angan-angan filsafat. Itulah yang disebut bhakti yang murni."

Bilamana empat jenis orang tersebut mendekati Tuhan Yang Maha Esa untuk berbhakti dan disucikan sepenuhnya melalui pergaulan dengan seorang penyembah yang murni, merekapun menjadi penyembah yang murni. Bhakti itu sulit sekali bagi orang jahat, sebab kehidupan mereka mementingkan diri sendiri, tidak teratur dan tidak mempunyai tujuan-tujuan rohani. Tetapi bila beberapa di antaranya kebetulan berhubungan dengan seorang penyembah yang murni, merekapun menjadi penyembah yang murni.

Orang yang selalu sibuk dengan kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil mendekati Tuhan dalam dukacita material. Pada waktu itu mereka bergaul dengan para penyembah yang murni. Dalam dukacitanya, mereka menjadi penyembah Tuhan. Orang yang hanya frustrasi juga kadang-kadang datang dan bergaul dengan para penyembah yang murni sehingga mereka ingin tahu tentang Tuhan. Begitu pula, apabila para filosof yang hambar merasa frustrasi pada setiap bidang pengetahuan, kadang-kadang mereka ingin belajar tentang Tuhan, dan mereka mendekati Tuhan Yang Maha Esa untuk berbhakti. Dengan demikian, mereka melampaui pengetahuan tentang Brahman yang tidak bersifat pribadi dan Paramatma yang berada di tempat-tempat khusus sehingga mendekati paham pribadi tentang Tuhan Yang Maha Esa atas karunia Tuhan Yang Maha Esa atau penyembah-Nya yang murni. Secara keseluruhan, bila orang yang berdukacita, orang yang ingin tahu, orang yang mencari pengetahuan, dan orang yang membutuhkan uang dibebaskan dari segala keinginan material, dan bila mereka mengerti sepenuhnya bahwa tidak ada hubungan antara keuntungan material dan perbaikan di bidang kerohanian, mereka menjadi penyembah-penyembah yang murni. Selama tingkat murni belum tercapai, penyembah-penyembah dalam pengabdian rohani kepada Tuhan masih dicemari oleh kegiatan yang membuahkan hasil, usaha mencari pengetahuan duniawi, dan sebagainya. Jadi, seseorang harus melampaui segala hal tersebut sebelum ia dapat mencapai tingkat bhakti yang murni.