jñÄna-vijñÄna-trÌ£ptÄtmÄ
kūṭa-stho vijitendriyaḥ
yukta ity ucyate yogī
sama-losÌ£tÌ£rÄÅ›ma-kÄñcanahÌ£
jñÄna—oleh pengetahuan yang diperoleh; vijñÄna—dan pengetahuan yang diinsafi; trÌ£pta—dipuaskan; ÄtmÄ—makhluk hidup; kutasthah—mantap secara rohani; vijita-indriyaḥ—mengendalikan indera-indera; yuktaḥ—sanggup untuk keinsafan diri; iti—demikian; ucyate—dikatakan; yogī—seorang ahli kebatinan; sama—mantap secara seimbang; losÌ£tÌ£ra—batu kerikil; aÅ›ma—batu; kÄñcanaḥ—emas.
Sebenarnya, setiap makhluk hidup dimaksudkan untuk mematuhi perintah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Paramatma. Apabila pikiran disesatkan oleh tenaga luar yang mengkhayalkan, seseorang terikat dalam kegiatan material. Karena itu, begitu pikiran seseorang dikendalikan melalui salah satu diantara sistem-sistem yoga, harus dianggap bahwa ia sudah mencapai tujuan. Seseorang harus mematuhi perintah-perintah atasan. Apabila pikiran seseorang sudah dipusatkan kepada alam utama, dia tidak ada pilihan lain selain mematuhi perintah Yang Mahakuasa. Pikiran harus mengakui sebuah perintah dari atasan dan mengikuti perintah itu. Efek mengendalikan pikiran ialah bahwa dengan sendirinya seseorang mengikuti perintah Paramatma, atau Roh Yang Utama. Oleh karena kedudukan rohani tersebut akan segera dicapai oleh orang yang sadar akan Krishna, seorang penyembah Krishna tidak dipengaruhi oleh hal-hal relatif dalam kehidupan material, yaitu, suka dan duka, panas dan dingin, dan sebagainya. Keadaan tersebut adalah Samadhi yang nyata, khusuk dalam Yang Mahakuasa.
Pengetahuan dari buku tanpa keinsafan terhadap Kebenaran Yang Paling Utama tidak berguna. Hal ini dinyatakan sebagai berikut:
ataḥ śrī-kṛṣṇa-nāmādi
na bhaved grāhyam indriyaiḥ
sevonmukhe hi jihvādau
svayam eva sphuraty adaḥ
“Tiada seorangpun yang dapat mengerti sifat rohani, nama, bentuk, sifat, dan kegiatan Sri Krishna melalui indera-indera yang dicemari secara material. Hanya kalau seseorang kenyang secara rohani melalui pengabdian rohani kepada Tuhan, maka nama, bentuk, sifat dan kegiatan rohani Krishna diungkapkan kepadanya." (Bhakti-rasamrta-sindhu 1.2.234)
Bhagavad-gita adalah ilmu pengetahuan kesadaran Krishna. Tiada seorang pun yang dapat menyadari Krishna hanya dengan kesarjanaan duniawi saja. Seseorang harus cukup beruntung hingga dapat mengadakan hubungan dengan orang yang kesadarannya murni. Orang yang sadar akan Krishna sudah menginsafi pengetahuan atas berkat karunia Krishna, sebab dia puas dengan bhakti yang murni. Seseorang menjadi sempurna melalui pengetahuan yang diinsafinya. Seseorang dapat menjadi mantap dalam keyakinannya melalui pengetahuan rohani. Tetapi seseorang mudah dikhayalkan dan dibingungkan oleh hal-hal yang kelihatannya merupakan penyangkalan kalau ia hanya memiliki pengetahuan dari perguruan tinggi saja. Orang yang sudah insaf akan Diri-Nya sebenarnya sudah mengendalikan diri, sebab ia sudah menyerahkan diri kepada Krishna. Dia melampaui keduniawian karena dia tidak mempunyai hubungan dengan kesarjanaan duniawi. Bagi orang itu, kesarjanaan duniawi dan angan-angan, yang barangkali sebagus emas menurut orang lain, tidak lebih berharga daripada kerikil atau batu.