yoginÄm api sarvesÌ£ÄmÌ
mad-gatenÄntar-ÄtmanÄ
Å›raddhÄvÄn bhajate yo mÄmÌ
sa me yuktatamo mataḥ
yoginÄm—di antara yogi-yogi; api—juga; sarvesÌ£Äm—segala jenis; mat-gatena—tinggal di dalam Diri-Ku, selalu berpikir tentang-Ku; antahÌ£ÄtmanÄ—di dalam Diri-Nya; śraddhÄ-vÄn—dengan keyakinan sepenuhnya; bhajate—melakukan pengabdian rohani dengan cinta-bhakti; yaḥ—orang yang; mÄm—kepada-Ku (Tuhan Yang Maha Esa); saḥ—dia; me—oleh-Ku; yukta-tamaḥ—yogi yang paling tinggi; mataḥ—dianggap.
Kata bhajate bermakna dalam ayat ini. Akar kata bhajate adalah kata kerja bhaj, yang digunakan apabila pengabdian diperlukan. Kata sembahyang" dalam bahasa Indonesia tidak dapat digunakan dengan makna yang sama dengan bhaj. Sembahyang yang berarti memuji, atau menghormati Kepribadian yang patut dihormati. Tetapi pengabdian dengan cinta-bhakti dan keyakinan khususnya dimaksudkan untuk Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat menghindari sembahyang kepada orang yang dihormati atau seorang dewa, dan barangkali orang akan mengatakan dia bersikap kurang hormat, tetapi kalau seseorang menghindari pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka dia disalahkan sepenuhnya. Setiap makhluk hidup adalah bagian dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau. Karena itu, setiap makhluk hidup dimaksudkan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut kedudukan dasarnya. Kalau dia gagal melakukan demikian, dia akan jatuh. Hal ini dibenarkan dalam Srimad-Bhagavatam (11.5.3) sebagai berikut:
ya eṣāḿ puruṣaḿ sākṣād
ātma-prabhavam īśvaram
na bhajanty avajānanti
sthānād bhraṣṭāḥ patanty adhaḥ
“Siapapun yang tidak mengabdikan diri dan mengalpakan kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Esa—sumber segala makhluk hidup, pasti akan jatuh dari kedudukan dasarnya."
Kata bhajanti juga digunakan dalam ayat ini. Karena itu, kata bhajanti hanya dapat digunakan berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan kata sembahyang" dapat digunakan untuk dewa atau makhluk hidup biasa lainnya. Kata avajānanti, yang digunakan dalam ayat Srimad-Bhagavatam tersebut, juga terdapat dalam Bhagavad-gita. Avajananti mam mudah: Hanya orang bodoh dan orang jahat mengejek Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna." Orang bodoh seperti itu mengambil inisiatif sendiri untuk mengarang tafsiran-tafsiran Bhagavad-gita tanpa sikap pengabdian kepada Tuhan. Sebagai akibatnya tidak dapat membedakan antara kata bhajanti dan kata sembahyang" dengan sebenarnya.
Puncak segala jenis latihan yoga terdapat dalam bhakti-yoga. Segala yoga lainnya hanya merupakan cara untuk mencapai tujuan bhakti-yoga. Yoga sebenarnya berarti bhakti-yoga; segala yoga lainnya adalah langkah-langkah maju menuju tujuan bhakti-yoga. Dari awal karma-yoga hingga akhir bhakti-yoga adalah jalan panjang menuju keinsafan diri. Karma-yoga, tanpa kegiatan untuk mendatangkan hasil atau pahala untuk dinikmati adalah awal jalan tersebut. Apabila karma-yoga ditingkatkan dalam pengetahuan dan pelepasan ikatan, maka tingkat itu disebut jñāna-yoga. Apabila jñāna-yoga ditingkatkan dalam semadi kepada Roh Yang Utama dengan berbagai proses jasmani, dan pikiran dipusatkan kepada Beliau, maka itu disebut astanga yoga. Dan apabila seseorang melampaui astanga-yoga dan mencapai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Krishna, maka itu disebut bhakti-yoga, atau puncak yoga. Sebenarnya, bhakti-yoga adalah tujuan tertinggi, tetapi untuk menganalisis bhakti-yoga secara terperinci, seseorang harus mengerti yoga-yoga lainnya. Karena itu, yogi yang maju sedang menempuh jalan yang benar menuju keuntungan baik yang kekal. Orang yang berhenti pada titik tertentu dan tidak maju lebih lanjut disebut dengan istilah khusus: karma-yogi, Jnānā-yogi, dhyana-yogi, rājā -yogi, hatha-yogi, dan sebagainya. Kalau seseorang cukup beruntung hingga ia mencapai bhakti-yoga, dimengerti bahwa dia sudah melampaui segala yoga lainnya. Karena itu, menjadi sadar akan Krishna adalah tingkat yoga tertinggi. Ini seperti kita membicarakan pegunungan Himalaya, kita menunjukkan pegunungan tertinggi di dunia dan gunung Everest, dianggap sebagai puncaknya.
Oleh karena kemujuran yang sangat besar seseorang mencapai kesadaran Krishna melalui jalan bhakti-yoga sehingga dia menjadi mantap sesuai dengan petunjuk Veda. Seorang yogi yang teladan memusatkan perhatiannya kepada Krishna, yang bernama Syamasundara. Warna Syamasundara seindah awan, wajahnya mirip bunga padma yang secemerlang matahari, pakaian Beliau berseri oleh hiasan permata-permata serta badan Beliau dihiasi dengan kalung dari rangkaian bunga. Cahaya Beliau yang sangat indah bernama brahmajyoti menerangi segala sisi. Beliau menjelma dalam berbagai bentuk seperti Rāma, Nrsimha, Varaha dan Krishna, sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Beliau turun seperti seorang manusia, menjadi putera ibu Yasoda. Beliau bernama Krishna, Govinda dan Vasudeva. Krishna adalah anak, suami, kawan dan atasan yang sempurna, dan Beliau penuh segala kehebatan dan sifat-sifat rohani. Kalau seseorang tetap menyadari sepenuhnya ciri-ciri Krishna yang tersebut di atas, dia disebut seorang yogi tertinggi.
Tingkat kesempurnaan tertinggi dalam yoga hanya dapat dicapai dengan bhakti-yoga sebagaimana dibenarkan dalam segala kesusasteraan Veda:
yasya deve parā bhaktir
yathā deve tathā gurau
tasyaite kathitā hy arthāḥ
prakāśante mahātmanaḥ
“Hanya kepada roh-roh yang mulia yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan guru kerohanian, segala arti pengetahuan Veda diperlihatkan dengan sendirinya." (svetasvatara Upanisad 6.23)
Bhaktir asya bhajanam tad ihamutropadhinairasyenanusmin manaḥ-kalpanam, etad eva naiskāryam. Bhakti berarti pengabdian dengan cinta-bhakti kepada Tuhan, bebas dari keinginan untuk keuntungan material, baik di dalam hidup ini maupun dalam penjelmaan yang akan datang. Seseorang harus menjadikan pikirannya khusuk sepenuhnya dalam Yang Mahakuasa, bebas dari segala kecenderungan seperti itu. Itulah maksud naiskarmya." (Gopala-tapani Upanisad 1.15)
Cara-cara tersebut merupakan beberapa di antara cara-cara untuk melaksanakan bhakti, atau kesadaran Krishna, tingkat kesempurnaan tertinggi dalam sistem yoga.
Demikianlah selesai penjelasan Bhaktivedanta mengenai Bab Enam Srimad Bhagavad-gita perihal Dhyana-yoga.