tatra tamÌ buddhi-samÌyogamÌ
labhate paurva-dehikam
yatate ca tato bhūyaḥ
samÌsiddhau kuru-nandana
tatra—sesudah itu; tam—itu; buddhi-samÌyogam—menghidupkan kembali kesadaran; labhate—memperoleh kembali; paurva-dehikam—dari badan yang dimiliki dalam penjelmaan sebelumnya; yatate—dia berusaha; ca—juga; tataḥ—sesudah itu; bhÅ«yaḥ—lagi; samÌsiddhau—untuk kesempurnaan; kuru-nandana—wahai putera Kuru.
Maharājā Bhārata, yang dilahirkan untuk ketiga kalinya dalam keluarga seorang brahmaṇā yang baik, adalah contoh kelahiran yang baik untuk menghidupkan kembali kesadaran rohani dari penjelmaan yang lama. Maharājā Bhārata pernah menjadi maharājā yang menguasai seluruh bumi, dan semenjak masa beliau, planet ini dikenal dengan nama Bhārata varsa di kalangan para dewa. Sebelumnya planet ini bernama Ilavrtavarsa. Dalam usia muda, Maharājā Bhārata mengundurkan diri untuk mencapai kesempurnaan rohani, tetapi dia gagal mencapai sukses. Dalam penjelmaan berikutnya dia dilahirkan di dalam keluarga seorang brahmaṇā yang baik dan dia bernama Jada Bhārata, sebab dia selalu menyendiri dan tidak berbicara dengan siapapun. Kemudian, dia didapatkan sebagai seorang rohaniwan yang mulia oleh rājā Rahugana. Dari riwayat Maharājā Bhārata, dimengerti bahwa usaha-usaha rohani, atau latihan yoga, tidak pernah sia-sia. Atas berkat karunia Tuhan, seorang rohaniwan mendapatkan kesempatan berulang kali untuk mencapai kesempurnaan yang lengkap dalam kesadaran Krishna.