asaḿyatātmanā yogo
duṣprāpa iti me matiḥ
vaśyātmanā tu yatatā
śakyo 'vāptum upāyataḥ
asaḿyata—tidak terkendalikan; ātmanā—oleh pikiran; yogaḥ—keinsafan diri; duṣprāpaḥ—sulit diperoleh; iti—demikian; me—milik-Ku; matiḥ—pendapat; vaśya—dikendalikan; ātmanā—oleh pikiran; tu—tetapi; yatatā—sambil berusaha; śakyaḥ—praktis; avāptum—mencapai; upāyataḥ—dengan cara yang cocok.
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa menyatakan bahwa orang yang tidak menerima pengobatan yang benar untuk melepaskan pikiran dari kesibukan material hampir tidak mungkin mencapai sukses dalam keinsafan diri. Berusaha berlatih yoga sambil membiarkan pikiran sibuk dalam kenikmatan material adalah seperti mencoba menyalakan api sambil menyiramkan air di atas api itu. Latihan yoga tanpa mengendalikan pikiran hanya memboroskan waktu saja. Pertunjukan yoga seperti itu barangkali menghasilkan keuntungan material, tetapi latihan itu tidak berguna untuk keinsafan rohani. Karena itu, seseorang harus mengendalikan pikiran dengan menjadikan pikiran senantiasa tekun di dalam cinta-bhakti rohani kepada Krishna. Kalau seseorang tidak sibuk dalam kesadaran Krishna, ia tidak dapat mengendalikan pikiran dengan mantap. Orang yang sadar akan Krishna dengan mudah mencapai hasil yoga tanpa usaha tersendiri, tetapi orang yang berlatih yoga tidak dapat mencapai sukses tanpa menjadi sadar akan Krishna.