bÄhya-sparÅ›esÌ£v asaktÄtmÄ
vindaty Ätmani yat sukham
sa brahma-yoga-yuktÄtmÄ
sukham akṣayam aśnute
bÄhya-sparÅ›esÌ£u—dalam kesenangan indera-indera lahiriah; Äsakta-ÄtmÄ—orang yang tidak terikat; vindati—menikmati; Ätmani—dalam sang diri; yat—itu yang; sukham—kebahagiaan; saḥ—dia; brahma-yoga—dengan memusatkan dalam Brahman; yukta-ÄtmÄ—Diri-Nya dihubungkan; sukham—kebahagiaan; aksayam—tidak terhingga; aÅ›nute—menikmati.
Sri Yamunacarya, seorang penyembah yang mulia dalam kesadaran Krishna, telah berkata:
yad-avadhi mama cetaḥ kṛṣṇa-pādāravinde
nava-nava-rasa-dhāmany udyataḿ rantum āsīt
tad-avadhi bata nārī-sańgame smaryamāne
bhavati mukha-vikāraḥ suṣṭhu niṣṭhīvanaḿ ca
Semenjak saya menekuni cinta-bhakti rohani kepada Krishna, dan menginsafi kebahagiaan yang selalu baru pada Krishna, apabila saya memikirkan kesenangan hubungan kelamin, saya meludahi pikiran itu, saya mencibirkan bibir karena saya tidak senang." Orang yang berada dalam brahma-yoga, atau kesadaran Krishna, begitu tekun dalam cinta-bhakti kepada Tuhan sehingga dia sepenuhnya kehilangan minat terhadap kesenangan indera-indera material. Kesenangan material tertinggi ialah kesenangan hubungan suami isteri. Seluruh dunia bergerak di bawah pesona kesenangan itu, dan orang duniawi tidak dapat bekerja sama sekali tanpa motivasi itu. Tetapi orang yang tekun dalam kesadaran Krishna dapat bekerja dengan semangat yang lebih besar tanpa kesenangan hubungan suami isteri, hubungan demikian merupakan sesuatu yang dihindarinya. Itulah ujian keinsafan rohani. Keinsafan rohani dan kesenangan hubungan suami isteri kurang cocok satu sama lain. Orang yang sadar akan Krishna tidak tertarik pada jenis kesenangan indera-indera manapun, sebab dia sudah mencapai pembebasan.