Å›rÄ«-bhagavÄn uvÄca
sannyÄsahÌ£ karma-yogaÅ› ca
niḥśreyasa-karÄv ubhau
tayos tu karma-sannyÄsÄt
karma-yogo viśiṣyate
ÅšrÄ«-bhagavÄn uvÄca—Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; sannyÄsaḥ—melepaskan ikatan terhadap pekerjaan; karma-yogaḥ—pekerjaan dalam bhakti; ca—juga; niḥśreyasa-karau—menuju jalan pembebasan; ubhau—kedua-duanya; tayoḥ—dari kedua-duanya; tu—tetapi; karma-sannyÄsÄt—dibandingkan dengan melepaskan ikatan terhadap pekerjaan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala; karma-yogaḥ—pekerjaan dalam bhakti; viÅ›isÌ£yate—lebih baik.
Kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala (yang bertujuan untuk mencari kepuasan indera-indera) menyebabkan ikatan material. Selama seseorang masih sibuk dalam kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kesenangan jasmani, pasti ia berpindah-pindah ke dalam berbagai jenis badan, dan dengan demikian akan melanjutkan ikatan material untuk selamanya. Dalam Srimad-Bhagavatam (5.5.4-6) kenyataan ini dibenarkan sebagai berikut:
nūnaḿ pramattaḥ kurute vikarma
yad indriya-prītaya āpṛṇoti
na sādhu manye yata ātmano 'yam
asann api kleśa-da āsa dehaḥ
parābhavas tāvad abodha-jāto
yāvan na jijñāsata ātma-tattvām
yāvat kriyās tāvad idaḿ mano vai
karmatmakaḿ yena śarīra-bandhaḥ
evaḿ manaḥ karma-vaśaḿ prayuńkte
avidyayātmany upadhīyamāne
prītir na yāvan mayi vāsudeve
na mucyate deha-yogena tāvat
Orang gila mencari kepuasan untuk indera-indera, dan mereka tidak mengetahui bahwa badan yang dimilikinya sekarang, yang penuh kesengsaraan, adalah hasil kegiatan yang bertujuan untuk membuahkan hasil atau pahala yang dilakukan pada masa lampau. Walaupun badan ini bersifat sementara, badan selalu memberikan kesulitan kepada kita dengan berbagai cara. Karena itu, bertindak untuk kepuasan indera-indera adalah hal yang kurang baik. Seseorang dianggap gagal dalam kehidupan selama ia tidak bertanya tentang identitasnya yang sejati. Selama seseorang masih belum mengetahui identitasnya yang sejati, ia harus bekerja untuk hasil atau pahala demi kepuasan indera-indera, dan selama ia terikat dalam kesadaran kepuasan indera-indera ia harus berpindah-pindah dari satu badan ke dalam badan lain. Walaupun pikiran barangkali sibuk dalam kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil dan dipengaruhi oleh kebodohan, seseorang harus mengembangkan rasa cinta kasih dalam bhakti kepada Vasudeva. Hanya pada waktu itulah ia dapat memperoleh kesempatan untuk keluar dari ikatan kehidupan material.
Karena itu, jñāna (atau pengetahuan bahwa diri kita bukan badan jasmani ini, melainkan diri kita adalah sang roh) tidak cukup untuk mencapai pembebasan. Seorang harus bertindak dalam status sebagai sang roh; kalau tidak demikian, tidak mungkin ia luput dari ikatan material. Akan tetapi, perbuatan dalam kesadaran Krishna bukan perbuatan pada tingkat yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil. Kegiatan yang dilakukan dalam pengetahuan sepenuhnya memperkuat kemajuan seseorang dalam pengetahuan yang sejati. Tanpa kesadaran Krishna, hanya melepaskan ikatan terhadap kegiatan yang di maksudkan untuk membuahkan hasil tidak sungguh-sungguh menyucikan hati roh yang terikat. Selama hati belum disucikan, seseorang harus bekerja pada tingkat yang di maksudkan untuk membuahkan hasil. Tetapi perbuatan dalam kesadaran Krishna dengan sendirinya membantu seseorang untuk melepaskan diri dari akibat perbuatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil sehingga dia tidak perlu turun lagi ke tingkat kehidupan material. Karena itu, perbuatan dalam kesadaran Krishna selalu lebih baik daripada melepaskan ikatan, yang selalu membawa resiko seseorang akan jatuh. Melepaskan ikatan tanpa kesadaran Krishna kurang lengkap, sebagaimana dibenarkan oleh Srila Rupa Gosvami dalam bukunya yang berjudul Bhakti-rasamrta-sindhu (1.2.258):
prāpañcikatayā buddhyā
hari-sambandhi-vastunaḥ
mumukṣubhiḥ parityāgo
vairāgyaḿ phalgu kathyate
Apabila orang yang ingin mencapai pembebasan melepaskan ikatan terhadap hal yang ada hubungan dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa dengan berpikir bahwa hal-hal itu bersifat material, maka pelepasan ikatan mereka kurang lengkap." Pelepasan ikatan menjadi lengkap apabila dilakukan dengan pengetahuan bahwa segala sesuatu yang ada dimiliki oleh Krishna dan hendaknya tiada seorangpun yang mengatakan bahwa Diri-Nya memiliki sesuatu. Sebaiknya orang mengerti bahwa, pada hakekatnya, tiada sesuatu yang dapat dimiliki oleh siapapun. Kalau demikian, bagaimana mungkin seseorang, melepaskan ikatan? Orang yang mengetahui bahwa segala sesuatu adalah milik Krishna selalu mantap dalam ketidakterikatan. Oleh karena segala sesuatu adalah milik Krishna, hendaknya segala sesuatu digunakan untuk bhakti kepada Krishna. Bentuk perbuatan yang sempurna tersebut dalam kesadaran Krishna jauh lebih baik daripada banyak melepaskan ikatan dengan cara yang tidak wajar seperti yang dilakukan oleh seorang sannyāsī dari golongan Mayāvadi.