na kartrÌ£tvamÌ na karmanÌ£i
lokasya sṛjati prabhuḥ
na karma-phala-samÌyogamÌ
svabhÄvas tu prÄvartate
na—tidak pernah; kart‚tvÄm—hak milik; na—tidak juga; karmanÌ£i—kegiatan; lokasya—dari orang; srÌ£jati—menciptakan; prabhuḥ—penguasa badan yang diumpamakan sebagai kota; na—tidak juga; karma-phala—dengan hasil dari perbuatan; samÌyogam—hubungan; sva-bhÄvaḥ—sifat-sifat alam material; tu—tetapi; prÄvartate—bertindak.
Sebagaimana akan dijelaskan pada Bab Tujuh, makhluk hidup adalah salah satu di antara tenaga-tenaga atau sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi makhluk hidup berbeda dari alam. Alam merupakan sifat lain lagi dari Tuhan yang disebut sifat yang rendah. Entah bagaimana sifat utama, yaitu makhluk hidup, mengadakan hubungan dengan sifat material sejak sebelum awal sejarah. Badan sementara, atau tempat tinggal material, yang diperoleh makhluk hidup menyebabkan berbagai jenis kegiatan serta mengakibatkan reaksi. Seseorang yang hidup dalam lingkungan yang terikat seperti itu akan menderita akibat kegiatan badan yang mempersamakan diri (dalam kebodohan) dengan badan. Kebodohan yang diperoleh sejak sebelum awal sejarah menyebabkan penderitaan dan dukacita jasmani. Begitu makhluk hidup menyisihkan diri dari kegiatan badan, ia juga dibebaskan dari reaksi-reaksi. Selama dia berada di dalam kota badan, kelihatannya ia penguasa kota itu, padahal dia bukan pemilik maupun yang mengendalikan perbuatan dan reaksi-reaksinya. Dia hanya berada ditengah-tengah lautan material, dan ia sedang berjuang untuk hidup. Ombak-ombak di dalam lautan mengombang-ambingkannya, dan dia tidak dapat mengendalikan ombak-ombak itu. Penyelesaian yang paling baik bagi makhluk hidup ialah keluar dari lautan itu melalui cara kesadaran Krishna yang bersifat rohani. Hanya itulah yang dapat menyelamatkan Diri-Nya dari segala kesulitan.