paritrāṇāya sādhūnāḿ
vināśāya ca duṣkṛtām
dharma-saḿsthāpanārthāya
sambhavāmi yuge yuge
paritrāṇāya—untuk menyelamatkan; sādhūnām—terhadap para penyembah; vināśāya—untuk membinasakan; ca—juga; duṣkṛtām—terhadap orang jahat;dharma—prinsip-prinsip dharma; saḿsthāpana-arthāya—untuk menegakkan kembali; sambhavāmi—Aku muncul; yuge—jaman; yuge—demi jaman.
Menurut Bhagavad-gita, seorang sadhu (orang suci) adalah orang yang sadar akan Krishna. Barangkali kelihatannya seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma, tetapi kalau dia mempunyai kwalifikasi kesadaran Krishna secara keseluruhan dan sepenuhnya, harus dimengerti bahwa dia seorang sadhu. Duskṛta m berarti orang yang tidak mempedulikan kesadaran Krishna. Orang jahat, atau duskṛta m, diuraikan sebagai orang bodoh dan manusia yang paling rendah, walaupun mungkin mereka menyandang pendidikan duniawi, sedangkan orang lain, yang seratus persen tekun dalam kesadaran Krishna diakui sebagai sadhu, meskipun mungkin ia belum berpengetahuan dan belum mempunyai kebudayaan yang tinggi. Tuhan Yang Maha Esa tidak perlu muncul dalam bentuk-Nya yang asli untuk membinasakan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, seperti tindakan Beliau terhadap raksasa-raksasa bernama Ravana dan Kamsa. Tuhan mempunyai banyak pesuruh yang sanggup menghancurkan raksasa-raksasa. Tetapi Krishna turun khususnya untuk melegakan hati para penyembah-Nya yang murni, yang selalu disiksa oleh orang jahat. Orang jahat menyiksa penyembah, walaupun kebetulan penyembah itu adalah anggota keluarganya. Prahlada Maharājā adalah putera Hiranyakasipu , namun Prahlada disiksa oleh ayahnya. Walaupun Devaki, ibu Krishna, adalah adik Kamsa, Devaki dan suaminya bernama Vasudeva disiksa hanya karena Krishna akan dilahirkan sebagai putera mereka. Jadi, Krishna muncul terutama untuk menyelamatkan Devaki, daripada untuk membunuh Kamsa, tetapi kedua maksud itu dilaksanakan sekaligus. Karena itu, dikatakan di sini bahwa untuk menyelamatkan seorang penyembah dan membinasakan orang jahat, Krishna muncul dalam berbagai penjelmaan.
Di dalam Caitanya-caritamrta hasil kārya Krishnadasa Kavirājā , ayat-ayat berikut (Madhya 20.263-264) meringkas prinsip-prinsip penjelmaan tersebut:
sṛṣṭi-hetu yei mūrti prapañce avatare
sei īśvara-mūrti 'avatāra' nāma dhare
māyātīta paravyome sabāra avasthāna
viśve avatari' dhare 'avatāra' nāma
Avatara, atau penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa, turun dari kerajaan Tuhan untuk perwujudan material. Bentuk khusus Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang turun seperti itu disebut penjelmaan, atau avatara. Penjelmaan penjelmaan seperti itu berada di dunia rohani, kerajaan Tuhan. Apabila mereka turun dalam ciptaan material, mereka diberi nama avatara.
Ada berbagai jenis avatara, misalnya purusa-vatara, guna-vatara, lila-vatara, saktyavesa-avatara, manvantaraavatara, dan yugavatara—semuanya muncul tepat pada jadwal di seluruh alam semesta. Tetapi Sri Krishna adalah Tuhan Yang Mahaabadi, sumber segala avatara. Sri Krishna turun dengan maksud khusus, yaitu untuk menghilangkan rasa cemas di dalam hati para penyembah-Nya yang murni. Para penyembah yang murni ingin sekali melihat Sri Krishna dalam kegiatan-Nya yang asli di Vrndavana. Karena itu, tujuan utama avatara Krishna ialah untuk memuaskan hati para penyembah-Nya yang murni.
Krishna menyatakan bahwa Beliau menjelma pada setiap jaman. Ini menunjukkan bahwa Krishna juga menjelma pada jaman Kali. Sebagaimana dinyatakan dalam Srimad-Bhagavatam, penjelmaan pada jaman Kali adalah Sri Caitanya Mahaprabhu yang telah menyebarkan cara sembahyang kepada Krishna melalui perkumpulan sankirtana (memuji nama-nama suci Krishna secara bersama-sama) dan menyebarkan kesadaran Krishna di seluruh India. Sri Caitanya Mahaprabhu meramalkan bahwa kebudayaan sankirtana tersebut akan disebarkan di setiap pelosok dunia, dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Sri Caitanya sebagai penjelmaan Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, diuraikan secara rahasia tetapi tidak langsung dalam bagian-bagian rahasia Kitab-kitab Suci, misalnya Upanisad-upanisad, Mahabhārata , dan Bhagavatam. Para penyembah Sri Krishna sangat tertarik pada gerakan sankirtana Sri Caitanya. Sri Caitanya Mahaprabhu sebagai avatara Tuhan Yang Maha Esa tidak membunuh orang jahat, melainkan menyelamatkan mereka atas karunia-Nya yang tiada sebabnya.