yaj jñÄtvÄ na punar moham
evamÌ yÄsyasi pÄnÌ£dÌ£ava
yena bhÅ«tÄny aÅ›esÌ£ÄnÌ£i
draksÌ£yasy Ätmany atho mayii
yat—yang; jñÄtvÄ—mengetahui; na—tidak pernah; punaḥ—lagi; moham—kepada khayalan; evam—seperti ini; yÄsyasi—engkau akan pergi; pÄnÌ£dÌ£ava—wahai putera PÄnÌ£dÌ£u ; yena—yang memungkinkan; bhÅ«tÄni—para makhluk hidup; aÅ›esÌ£ÄnÌ£i—semua; draksÌ£yasi—engkau dapat melihat; Ätmani—dalam Roh Yang Utama; atha u—dengan kata lain; mayi—di dalam Diri-Ku.
Kalau seseorang sudah menerima pengetahuan dari orang yang sudah insaf akan diri, atau orang yang mengetahui tentang hal-hal menurut kedudukannya yang sebenarnya, maka hasilnya ialah bahwa dia mengetahui semua makhluk hidup adalah bagian dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, yang mempunyai sifat yang sama seperti Beliau. Rasa seolah-olah ada kehidupan yang terpisah dari Krishna disebut mayā (ma—tidak, yā—ini). Ada beberapa orang yang berpikir bahwa tidak ada hubungan antara diri kita dengan Krishna dan mereka menganggap bahwa Krishna hanya tokoh besar dalam sejarah, dan bahwa Yang Mutlak adalah Brahman yang tidak bersifat pribadi. Sebenarnya, sebagaimana dinyatakan dalam Bhagavad-gita, Brahman yang tidak bersifat pribadi tersebut adalah cahaya pribadi Krishna. Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, adalah sebab segala sesuatu. Dalam Brahma-samhita dinyatakan dengan jelas bahwa Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sebab segala sebab. Berjuta-juta titisan dari Tuhan hanyalah berbagai penjelmaan dari Beliau. Begitu pula, para makhluk hidup juga titisantitisan dari Krishna. Para filosof Mayāvadi mempunyai anggapan yang salah seolah-olah Krishna kehilangan kehidupan pribadi-Nya karena Beliau menjadi banyak dalam banyak penjelmaan-Nya. Anggapan tersebut bersifat material. Di dunia material kita mengalami bahwa apabila sesuatu diceraiberaikan, maka benda itu kehilangan identitasnya yang asli. Tetapi para filosof Mayāvadi tidak mengerti bahwa mutlak berarti satu ditambah satu sama dengan satu, dan satu dikurangi satu sama dengan satu. Inilah kenyataan di dunia mutlak.
Oleh karena kita kekurangan pengetahuan yang cukup di bidang ilmu pengetahuan yang mutlak, saat ini kita ditutupi dengan khayalan. Karena itu, kita berpikir bahwa diri kita berpisah dari Krishna. Walaupun kita bagian-bagian yang terpisah dari Krishna namun sifat kita tidak berbeda dari Krishna. Perbedaan jasmani para makhluk hidup adalah mayā , bukan kenyataan. Kita semua dimaksudkan untuk memuaskan Krishna. Hanya karena mayā belaka Arjuna berpikir bahwa hubungan jasmani yang bersifat sementara dengan sanak saudaranya lebih penting daripada hubungan rohaninya yang kekal dengan Krishna. Inilah sasaran seluruh ajaran Bhagavad-gita; yaitu bahwa makhluk hidup, sebagai hamba Krishna yang kekal, tidak dapat dipisahkan dari Krishna, dan apabila makhluk hidup merasakan Diri-Nya sebagai identitas yang tidak mempunyai hubungan dengan Krishna, maka itu disebut mayā. Para makhluk hidup, sebagai bagian-bagian dari Yang Mahakuasa, yang mempunyai sifat sama seperti Yang Mahakuasa, mempunyai tujuan yang harus dipenuhi. Oleh karena mereka melupakan tujuan itu sejak sebelum awal sejarah, mereka berada dalam berbagai jenis badan, sebagai manusia, binatang, dewa, dan berbagai jenis kehidupan lainnya. Perbedaan jasmani seperti itu timbul karena mereka lupa akan pengabdian rohani kepada Tuhan. Tetapi apabila seseorang menekuni pengabdian rohani melalui kesadaran Krishna, ia segera dibebaskan dari khayalan tersebut. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan seperti itu hanya dari seorang guru kerohanian yang dapat dipercaya, dan dengan demikian ia dapat menghindari khayalan bahwa makhluk hidup sejajar dengan Krishna. Pengetahuan sempurna ialah bahwa Roh Yang Utama, Krishna, adalah pelindung utama bagi semua makhluk hidup, dan setelah meninggalkan perlindungan itu, para makhluk hidup dikhayalkan oleh tenaga material dan membayangkan Diri-Nya sendiri mempunyai identitas tersendiri. Jadi, mereka lupa pada Krishna di bawah berbagai taraf identitas material. Akan tetapi, apabila makhluk-makhluk hidup yang berkhayal seperti itu menjadi mantap dalam kesadaran Krishna, dimengerti bahwa mereka sedang menempuh jalan menuju pembebasan, sebagaimana dibenarkan dalam Bhagavatam (2.10.6): muktir hitvanyatharupam svarupena vyavasthitiḥ . Pembebasan berarti menjadi mantap dalam kedudukan dasar sendiri sebagai hamba Krishna yang kekal (kesadaran Krishna).